Tuesday, 16 June 2020

Check In : Yuk, Mengecek Langkah Diri dan Pasangan di Perjalanan Program Mentorship



Bismillaahhirrohmanirrohiim…
Di pekan keempat program Mentorship ini, peserta diminta untuk mengecek perkembangan proses yang telah berjalan selama tiga pekan ke belakang. Bagi saya secara pribadi, yang baru memutuskan untuk berganti topik Mentorship, tugas pekan ini adalah suatu kemudahan yang Allah berikan bagi saya yang sedang dalam fase mengejar ketertinggalan.

Perjalanan bersama Mentee

Saya berpasangan dengan dua mentee. Qodarullah satu mentee belum ada kabar sejak pekan lalu. Saya sudah mencoba beberapa kali menghubungi via Facebook Messenger namun belum ada balasan. Semoga beliau sehat dan dilancarkan setiap urusanNya, aamiin. Khawatirkah saya pada beliau? Tentu, karenanya saya coba terus sapa beliau. Namun saya perlu mengerem diri untuk tidak terus-terusn menanyakan kabar atau bahkan kepo, saya harus ingat bahwa kapasitas saya adalah sebagai pasangan dalam program Mentorship. Saya fokus di situ. Kondisi ini saya refleksikan seperti halnya situasi dalam interaksi luring. Setiap orang tidaklah sama. Ada orang ekstrovert yang saat mengalami tantangan, dia cenderung berbagi cerita dan rasa, namun ada juga tipikal introvert yang cenderung membutuhkan waktu menyendiri untuk menyelesaikan tantangannya. Ada juga seorang ambivert yang ada masa dimana dia menyukai keramaian, namun ada masanya juga dia perlu waktu menyendiri. Poin pentingnya adalah saya perlu belajar bagaimana menyikapi orang lain dengan tepat, sesuai dengan karakteristik uniknya.
Berikutnya, cerita mengenai mentee kedua, mba Nurul. Komunikasi kami cukup intensif. Di program Mentorship Adaptif ala Ibu Rantau ini, beliau mengambil subtopik Manajemen Waktu untuk diasah selama program berlangsung mengingat tantangan ibu rantau itu cukup kompleks. Di pekan ketiga lalu, beliau sudah memberikan daftar tujuan, skala prioritas dan rencana aksi yang sudah beliau canangkan. Maka di pekan ini kami sepakat menjalankan proses check in dengan Video Call berdurasi sekitar satu jam.  

Bagaimana prosesi check in bersama mentee kedua, mba Nurul?

Kenyamanan sudah cukup tercapai, karena mentee bisa menjelaskan dengan jelas target spesifiknya dan apa yang ingin dipelajari dengan difasilitasi mentor, yaitu mengenai manajemen waktu ibu rantau.
Pengetahuan mentee seputar teknik manajemen waktu seperti ragam metode : heat map, pomodoro, kandang waktu, BigRocks sudah beliau dapatkan saat berada di keluarga Manajemen Waktu pada tahap Ulat dulu. Manajemen waktu sebenarnya adalah keterampilan yang berkaitan dan saling melengkapi dengan keterampilan manajemen lainnya, seperti manajemen diri dan manajemen emosi.
Sedangkan pola komunikasi yang paling beliau sukai dari ragam bentuk yang biasa kami lakukan adalah melalui Video Call karena berjalan efektif dua arah sehingga sekalipun singkat, bisa tepat sasaran. Sedangkan jika chat, karena hanya berupa teks dan seringkali terjeda, sehingga agak kesulitan mengikuti alurnya.  Saya pun sepakat, namun memang tantangannya adalah mengkondisikan lingkungan sekitar. Pun, jika Video Call selalu perlu direncanakan dulu poin bahasannya sehingga berjalan ontrack dan tepat sasaran.
Beliau merasa terbantu dengan adanya masukan dan saran saat pembuatan rencana aksi. Hal ini penting untuk tipikal beliau yang menerapkan learning by doing. Dapat ilmu, langsung praktik dan mengkonsultasikan hasil praktiknya. Saya ambil contoh, saat Video Call pekan kedua, saya memperlihatkan pengaturan jadwal pekanan dan harian yang saya tulis di buku agenda dan tempel di dinding rumah. Ini memberikan gambaran detail untuk beliau, bagaimana menurunkan konsep manajemen waktu ke ranah teknis praktis. Di Video Call untuk check in kemarin saya menunjukkan praktik manajemen waktu dikombinasikan dengan manajemen diri, pencatatan yang baik. Dimana selama proses check in, sembari kami berdiskusi saya mencatat poin-poin penting di laptop. Sehingga begitu selesai Video Call saya bisa membagikan catatan saya ke beliau dan segera beralih ke kegiatan saya berikutnya.
Kunci agar proses Mentorship berjalan efektif dan efisien adalah fokus ke prioritas bahasan. Dan untuk poin ini, saya sebagai mentor dan teman belajar, mengikuti kebutuhan belajar mentee. Mengingat proses ini adalah sebuah bentuk praktik merdeka belajar, yang menempatkan mentee sebagai pelaku aktif, bukan seorang pasif yang disuapi materi. Jadi mentee bergerak terlebih dahulu, kemudian kami bahas bersama mengenai pergerakan tersebut. Di bagian mana perlu diperbaiki, di bagian mana perlu ditajamkan. Saya pun berbagi berbekal pengalaman dan hal yang sudah saya kerjakan seputar manajemen waktu di rantau.
Kami sama-sama memprioritaskan program Mentorship ini, saya pun masih terus mengasah keterampilan manajemen waktu. Dan kami perlu saling mengingatkan untuk terus menjaga fokus agar bisa sampai tujuan bersama dengan alokasi waktu yang pas. Tidak kurang, tidak juga berlebihan hingga mengganggu keseimbangan peran.
Untuk proses, kami melakukan pengecekan pada action plan. Apakah sudah menggunakan indikator SMART dalam penyusunannya? Apakah realistis untuk dicapai dalam durasi waktu yang ditetapkan? Alhamdulillah penyusunan action plan oleh mentee sudah SMART, saya memberikan masukan untuk mendetailkan menjadi kandang waktu, dan ternyata sudah dijalankan namun tidak dituliskan di action plan. Tak masalah, karena ada faktor privasi juga di dalamnya. Maka, tak dituliskan pun tak apa, mentee cukup menceritakan hasil kontemplasinya untuk bahan diskusi bersama.
Strategi ke depan adalah BERAKSI! Menjalankan action plan yang sudah ditulis. Fokus pada capaian sesuai deadline. Mentorship akan berjalan interaktif sampai dengan Juli, sehingga perlu dioptimalkan dengan menggali informasi dan aktif bertanya dalam kurun waktu tersebut. Pun mentor terus menjalankan coaching dengan pertanyaan konstruktif. Sehingga waktu yang dialokasikan bisa termanfaatkan dengan optimal. Dear mba Nurul, terima kasih telah bersedia meluangkan waktu di hari Ahad atas kesepakatan kita bersama. Semoga proyek Manajemen Waktu bareng Al Qur’an ala Ibu Domestik bisa berjalan optimal dan saya bisa menjadi teman bertumbuh yang menguatkan ya.

Perjalanan bersama Mentor

Karena saya memutuskan putar balik dan berganti topik Mentorship di pekan ketiga lalu, maka Video Call bersama mentor adalah Video Call pertama kali kami, sehingga sekaliyan perkenalan lebih dekat, tanya-jawab mengenai strong why saya dan banyak pertanyaan lainnya. Di pekan lalu kami sudah bertukar profil, saya pun mengirimkan asesmen diri terkait topik bahasa Jerman dan deskripsi tujuan, skala prioritas serta rencana aksi yang saya canangkan di program ini.
Selama Video Call saya banyak menjawab pertanyaan dari mentor. Beliau aktif bertanya dan sudah menyiapkan banyak pertanyaan untuk saya. MasyaAllah.
Dimulai dari bahasan kenyamanan, beliau bertanya bagaimana pola belajar yang saya inginkan. Mengingat topik belajar kami adalah seputar bahasa, maka kemungkinan akan ada sesi dimana mentor akan menjelaskan suatu topik atau tema pada saya. Tentu saya menyambutnya dengan antusias. Agar berlangsung efektif efisien, saya mengajukan untuk membuat daftar tema yang sedang saya pelajari dan temui kesukaran di dalamnya, sebagai bahan ajar beliau pada saya.
Beliau secara terbuka menyampaikan bahwa prioritas beliau saat ini adalah beradaptasi dengan situasi pandemi COVID-19 sehingga perhatian terpusat pada hal tersebut. Saya sangat memahaminya. Tentu sangat tidak mudah, terlebih di Indonesia situasi masih belum stabil, tak seperti di Wina saat ini. Maka, saya mengajukan jadwal sepekan ada dua kali pertemuan. Di hari Jum’at saya mengkonsultasikan kesulitan yang saya temui selama belajar bahasa Jerman selama sepekan, dan di hari Senin saya megumpulkan kemajuan belajar saya selama sepekan. Hayo Mesa, sepekan ini kamu udah belajar apa aja untuk hal yang sedang kami prioritaskan saat ini? *bicara dengan diri sendiri. Hahaha
Beliau pun menanyakan, seberapa banyak waktu yang saya alokasikan dalam sehari untuk belajar bahasa Jerman. Saya bercerita bahwa saya kursus luring 4x dalam sepekan, daring 3x dalam sepekan dan mengikuti kelas percakapan 1x dalam sepekan. Kalau mau jujur, sebenarnya ya, dengan situasi saya yang tinggal di negara yang menggunakan bahasa Jerman dalam keseharian,  saya seharusnya bisa menguasai bahasa Jerman dengan cepat. Nah, tantangannya adalah, saya sering mengantuk jika membaca buku atau menyimak penjelasan video. Saya suka belajar dengan cara berinteraksi langsung dengan orang lain. Nah, saya minta tips trik dari beliau untuk menaklukkan keengganan dalam belajar melalui membaca buku.
Di akhir, beliau menanyakan apa tujuan akhir saya yang ingin saya capai di program Mentorship ini. Karena program ini berlangsung sampai dengan Juli, target realistis saya adalah lulus OeIF B1 Pruefung dengan nilai optimal dan pemahaman yang matang. Bismillah, semoga Allah ridai setiap jengkal langkah ini.
Ah iya, satu insight lagi. Teknis pengerjaan tugas pekan ini Allah juga berikan kesempatan pada saya untuk menata fokus dan menyiasati tantangan seputar waktu. Jadi, waktu yang saya dan mentor sepakati untuk melakukan video call adalah jam 14.00 CEST. Skenario awal, saya akan menjemput si sulung lebih awal, yaitu pada jam 13.00 CEST (biasanya jam 14.00 CEST) baru kemudian mengantar si sulung ke rumah dan berangkat untuk memenuhi termin dengan sebuah pihak di jam 14.45 CEST. Sehingga pada jam 14.00 CEST, saya bisa video call dengan mentor dengan kondisi duduk manis kondusif mencatat hingga 14.40 CEST, belajar menerapkan adab terhadap ilmu. Namun ternyata skenario tak berjalan mulus. Ada hal di rumah yang mengharuskan saya baru bisa berangkat menjemput si sulung jam 13.30 CEST. Sehingga video call dengan mentor dilakukan dalam perjalanan, di dalam bus, lanjut jalan kaki, berpindah naik kereta dan berjalan kaki kembali hingga tiba di tempat yang saya tuju. Diskusi dengan mentor pun berakhir tepat jam 14.45 CEST dan ternyata panduan awal yang diberikan tim Bunda Cekatan yang sudah saya tuliskan meski belepotan, sangat membantu untuk menjaga alur diskusi bersama mentor selama kurang lebih 35 menit. MasyaAllah, benar adanya, perencanaan memang sedemikian pentingnya. 
Alhamdulillah, prosesi check in ini sangat bermanfaat untuk belajar mendengarkan dan menyampaikan perasaan, menyamakan frekuensi dan siap mengayun langkah bersama di tahap berikutnya.

Wina, 16 Juni 2020

















0 comments:

Post a comment