Tuesday, 9 June 2020

Sempat Salah Prioritas, Kali Ini Saya Kembali On-Track dengan Proyek Mama lernt Deutsch di Program Mentorship


Saya sama sekali tak menyangka bahwa di pekan ketiga ini justru saya memutuskan untuk beralih topik Mentorship dan melaju mundur ke tahap awal program Mentorship. Namun keputusan ini lah yang akhirnya saya ambil sebagai upaya menjalankan tahap Kupu-Kupu dengan optimal, agar dapat terbang dengan sayap yang kuat.

Mengapa bisa demikian?
Di awal program Mentorship, saya bingung. Apa penyebabnya? Karena saya menyadari topik yang saya canangkan di peta belajar sangatlah spesifik, yaitu belajar Bahasa Jerman. Mengapa saya memutuskan untuk menjadikan belajar bahasa Jerman sebagai prioritas utama? Karena memang hal tersebut yang menjadi kebutuhan belajar mendesak saya saat ini. Alokasi waktu untuk belajar atau pengembangan diri pun banyak berfokus pada proses belajar bahasa Jerman.
Saya mengambil kursus intensif sejak Maret 2019. Empat kali dalam sepekan, dengan durasi 3.5 jam per hari, selama sekitar 3 bulan. Jika kursus intensif libur, saya mengikuti kelas Speaking atau Konversationsstunde  di perpustakaan atau Nachbarschaftszentrum. Meskipun riweuh, saya menjalani proses belajar bahasa Jerman ini dengan bahagia. Menguasai bahasa Jerman membuat saya bisa berkomunikasi dan membangun relasi, bagi orang dengan bakat relator kuat seperti saya, ini menjadi modal penting. Saya juga bisa lebih yakin dan percaya diri untuk mengurus dokumen maupun hal-hal penting lainnya karena tidak harus bergantung sepenuhnya dengan bantuan orang lain.
Saat masuk program Mentorship, saya mengamati pergerakan teman-teman yang juga saya ketahui sedang belajar bahasa Jerman juga. Ternyata beberapa teman tersebut tidak mengambil topik bahasa Jerman sebagai topik Mentorship beliau. Saya tak bisa meminang beliau-beliau sebagai mentor. Saya pun mulai berpikir untuk melaju di tahap Kupu-Kupu ini dengan topik di prioritas kedua, seputar Selfcare. Saat mencari mentor, Allah pertemukan saya dengan mba Setio Rini yang menawarkan topik Beauty Care. Aha, ini topik yang saya cari!
Pekan pertama saya dan mba Rini berkenalan. Pribadi beliau yang hangat menjadikan saya nyaman untuk berkonsultasi dan kerap bertanya. Dilanjutkan di pekan kedua kami mengobrol melalui Video Call. Beliau yang sudah lama berkecimpung di dunia Beauty Care pun menjawab kebingungan-kebingungan saya dengan tangkas. Sungguh beruntung saya mendapatkan mentor seperti beliau. Selama libur Ramadan dan Idul Fitri, saya berinisiatif membuat logbook belajar topik Beauty Care untuk mendokumentasikan perjalanan belajar saya. Topik ini topik yang amat baru bagi saya, namun saya sangat excited mempelajarinya.

Lalu bagaimana perjalanan belajar bahasa Jerman saya?
Ausbeschraengkung atau karantina COVID-19 mengharuskan kursus intensif bahasa Jerman tak bisa berjalan melalui tatap muka seperti biasanya. Saya bersyukur sebelum Ausbeschraengkung sudah sempat meminjam beberapa buku dari perpustakaan. Namun konsistensi pun teruji di situasi luar biasa ini. Kursus beralih via daring dimana didominasi oleh pemberian tugas oleh guru untuk kemudian saya kerjakan dan kumpulkan. Alhamdulillah, saya bersyukur guru saya bersedia mengoreksi dan menyerahkannya kembali pada saya sehingga saya paham dimana saja letak kesalahan pemahaman saya. Tapi saya kesulitan untuk memahami grammatik. Penjelasan di Youtube pun saya coba akses. Untuk menjaga konsistensi diri, saya memutuskan untuk rutin mengikuti kursus online via ZOOM yang diadakan oleh Integrationsfonds setiap hari Senin s.d Jum’at jam 12.00-13.30 CEST. Konsekuensi tentu menyertai, saya perlu mengkondisikan anak-anak dan rumah untuk kegiatan rutin ini. Syukur alhamdulillah, suami dan anak-anak mendukung dan bersikap kooperatif.
Akhir Mei, seiring dengan mulai berakhirnya Ausbeschraengkung, si sulung mulai masuk sekolah, disusul dengan pemberitaan bahwa kursus intensif tatap muka pun kembali berjalan. Ah, saya bahagia membacanya. Beberapa diantara teman sekelas berharap diadakannya pengulangan kelas di semester depan, namun ternyata hal tersebut tidak mungkin terjadi mengingat lembaga kursus kami dibiayai oleh pemerintah dan perlu adanya perkembangan progresif. Kesempatan untuk ujian B1 OeIF pun diupayakan untuk kami, dengan prediksi waktu pelaksanaan bulan Juli. Apa? Bulan depan? Ya! Idealnya saya sudah mempersiapkannya sejak awal kursus, yaitu di bulan Maret. Namun perlu saya akui bahwasanya durasi belajar saya selama pandemi tak seintensif jika saat kursus berlangsung via tatap muka. Jujur, saya senang belajar bahasa Jerman dan bersemangat menyambut ujian. Namun saya menyadari bahwa saat ini saya perlu mengejar ketertinggalan agar siap menghadapi ujian dan lulus dengan peningkatan pemahaman, bukan sekadar lulus secara angka.
Pasca liburan selama dua pekan, kelas Bunda Cekatan kembali aktif dan melanjutkan program Mentorship. Bu Septi memberikan materi seputar pembuatan tujuan, skala prioritas dan rencana. Ah, galau pun melanda. Bukan perihal proses Mentorship-nya, namun justru hal yang paling mendasar, yaitu pemilihan topik yang berpijak pada prioritas utama. Terutama saat mendengar kalimat, „Momentum akan datang pada orang yang konsisten menjalankannya, orang yang siap karena ia telah belajar terus menerus“. Ya Allah, langkah apa yang sebaiknya saya lakukan? Mungkin ini bawaan bakat maximizer yang memang cukup dominan dalam diri, yang membuat diri selalu berupaya mengerjakan sesuatu dengan totalitas. Sekali lagi saya membuka forum mentor, saya cari dengan kata kunci bahasa Jerman dan Deutsch. Ada satu orang yang menawarkan diri menjadi mentor bahasa Jerman. Y a Allah...saya lemas. Apa yang sebaiknya saya lakukan? Semalaman saya berpikir dan berkonsultasi dengan suami. Suami pun mengingatkan bahwa setiap langkah selalu diiringi dengan konsekuensi. Terutama mengingat di program Mentorship ini langkah saya pun berkaitan dengan kepentingan orang lain, bukan hanya kepentingan diri saya semata. Masih terasa ada yang mengganjal dan di sesi diskusi dengan bu Septi, saya memberanikan diri untuk mengkonsultasikan hal tersebut pada beliau. Beliau mengarahkan untuk kembali ke prioritas utama, lebih baik mengulang dari pekan pertama program Mentorship daripada mengubah peta belajar. Hmm…karena prioritas utama saya masih sama dengan di tahap Telur, maka saya pun tak bisa mengubah peta belajar.
Keesokan harinya, saya berdiskusi kembali dengan suami. Alhamdulillah beliau memberikan banyak insight dan sudut pandang yang berbeda. Saya memberanikan diri untuk berkomunikasi dengan mentor dan mengutarakan kegalauan saya. Bagaimana pun rida guru mengantarkan keberkahan pada ilmu yang sedang saya pelajari. Hasil komunikasi hari pertama, saya tetap lanjut Mentorship dengan beliau, tidak jadi beralih topik. Setelah berkomunikasi dengan beliau, saya merasa jauh lebih tenang, sekalipun tidak jadi berganti topik.
Di hari berikutnya, mentor menyampaikan hal yang tak saya duga sama sekali. Beliau menyatakan dukungan pada saya, apapun langkah yang saya ambil. Baik melanjutkan Mentorship dengan beliau maupun berganti topik dan beralih ke mentor lain. Ya Allah, sungguh saya merasa, terselip maksud Allah pada pesan yang beliau sampaikan pada saya, bahwa ada kesempatan untuk bergerak pada prioritas utama. Maka kesempatan untuk perbaikan ini, janganlah disia-siakan. Kemudian kami pun kembali berdiskusi hingga kemudian bismillah, atas rida beliau, saya beralih topik Mentorship menjadi bahasa Jerman. Terima kasih mbaaaa :”))
Saya pun bersegera mengejar ketertinggalan dengan mentor bahasa Jerman dan meminta izin untuk memulai langkah dari awal, namun setelah batas waktu pengumpulan jurnal pekan ketiga ini.
Dan berikut adalah tujuan, skala prioritas dan rencana saya terkait dengan proses belajar bahasa Jerman.

Tujuan belajar Bahasa Jerman

Prioritas utama sejak pembuatan Peta Belajar di tahap Telur


Rencana Aksi untuk mencapai tujuan

Bismillah, tujuan sudah ditetapkan, prioritas sudah dibuat dan Allah beri jalan untuk kembali on track, rencana aksi sudah dibuat. Maka, saatnya melepaskan, melakukan sebaik-baik ikhtiar dan tawakkal padaNya.
Wina, 9 Juni 2020








0 comments:

Post a comment