Proses ini berlangsung di tahun lalu, namun baru sekarang sempat dituliskan, setelah darderdor kehebohan perkuliahan semester dua terlampaui, atas pertolongan Allah (dan masih deg-degan menunggu penilaian akhir). Tulisan terakhir saya sebelumnya adalah mengenai dimulainya perkuliahan semester kedua. Artinya, hampir enam bulan saya jeda menulis di blog ini. Yang memang alasan paling utama adalah keterbatasan waktu. Semester dua yang ternyata sangat padat, deadline tugas research paper yang susul menyusul antara research paper pertama, kedua dan ketiga, ditambah dengan materi perkuliahan live session yang diberikan dosen kampus bahasa jauh berbeda dengan materi yang ada di situs kampus yang diampu dosen kampus global, memberi warna tersendiri dalam kehebohan menjelang Ujian Akhir Semester (UAS) awal bulan lalu. Alhamdulillah, sudah terlewati, meski hingga saat ini masih deg-degan menunggu hasil penilaian akhir. Semoga mendapat nilai terbaik menurut Allah, aamiin...
Presentasi ini berlangsung di bulan-bulan jelang akhir tahun lalu. Saat tugas-tugas semester dua sedang dicicil dikerjakan namun belum bertemu dengan malam-malam yang mengharuskan diri untuk lembur begadang. Alhamdulillah Allah izinkan untuk terlibat menjadi presenter di dua forum ilmiah, dimana penelitian yang saya presentasikan adalah tugas research paper mata kuliah semester satu. Kedua presentasi berlangsung secara daring. Yang mana sangat memudahkan saya yang juga sedang mengemban peran sebagai ibu yang sedang mengasuh baduta. Forum pertama saya presentasi secara langsung di ruang break out room yang disediakan panitia global. Sedangkan di forum kedua, panitia mengarahkan peserta untuk mengirim video presentasi yang diputar saat forum berlangsung. Jika diminta memilih, saya lebih nyaman melakukan presentasi melalui video yang kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab secara langsung. Hal tersebut meminimalisasi hal-hal kurang kondusif yang bisa terjadi secara spontan. Dari segi alokasi waktu presentasi pun, rekaman video lebih akurat ketimbang live.
Melanjutkan studi magister non linier adalah hal yang tidak terlintas dalam benak, karena saya pernah memiliki fixed mindset begini : saya merasa bahwa cara belajar saya adalah melalui praktik, mengaplikasikan ilmu yang didapatkan dalam kehidupan, bukan dengan studi lanjut dan menulis paper. Hingga kemudian perjalanan belajar diri mendorong saya untuk mendalami mengenai adaptabilitas dan mempertemukan diri dengan program psikologi Islam IOU yang berlangsung secara daring. Di titik tersebut saya merasa butuh untuk merapikan struktur berpikir dan membangun fondasi pemahaman yang kokoh dan ilmiah.
Tugas-tugas perkuliahan magister ini adalah membuat research paper. Mudah? Tidak. Mengantuk? Iya. Tapi saya sadar bahwa saya perlu keluar dari zona nyaman. Sekalipun daring, perkuliahan ini kurikulumnya internasional dan tugasnya ngga main-main. Menulis sebuah research paper mengajak saya untuk membaca banyak buku, catch up ilmu psikologi, berkenalan dengan ilmu psikologi Islam, membuka google scholar hingga menyusuri lorong-lorong perpustakaan dekat tempat tinggal. Saya beradaptasi dengan ritme baru ini. Menyusun ulang skala prioritas dan belajar lebih menghargai waktu. Seringkali, terutama menjelang deadline, begadang pun tak terelakkan meski merasa sudah menyicil sejak jauh hari.
Ini baru presentasi, belum publikasi. Masih jauh perjalanannya. Banyak keterampilan yang masih perlu diasah, banyak ilmu yang masih harus digali, banyak keterbatasan yang jika diakui akan semakin melegakan. Tapi saya tak bisa berlari, dan memang tak ingin berlari. Saya tetap ingin meneguk ilmu sedikit demi sedikit, kemudian mengimplementasikannya dalam peran-peran kehidupan sekemampuan saya. Meresapi ilmu, memikirkannya secara mendalam dan mengaitkannya dengan tantangan yang saya rasakan maupun kondisi sekitar. Sekalipun demikian, saya sadar penuh bahwa sebagai mahasiswa saya harus menjalankan kewajiban dengan optimal. Peran-peran selain mahasiswa yang teremban diri, bukanlah sebuah kondisi yang kemudian dijadikan pemakluman ketidaktuntasan dalam pengerjaan tugas. Kesempatan belajar tetap perlu dimanfaatkan dengan optimal.
Berjalan perlahan itu tak mengapa, terlihat lebih lambat itu baik-baik saja, lelah dan mengambil jeda juga hal yang lumrah. Yang penting, tetap bergerak merajut asa. Saat diri sedang berlari kencang, saat diri sedang jalan di tempat, atau bahkan saat diri sedang perlu menepi sejenak untuk beristirahat, diri tetaplah perempuan yang utuh. Di setiap fase tersebut, selalu ada pembelajaran yang membuat diri bertumbuh. Karena saat diri merasa sedang jalan di tempat dalam satu peran, bisa jadi itu adalah langkah diri menjaga keseimbangan, karena tengah berlari kencang di peran yang lain.
Di setiap ayunan langkah, goresan pena di secarik kertas, jemari yang menari di atas keyboard maupun kedipan mata yang membaca paper satu demi satu, terselip doa, semoga ilmu yang dipelajari ini mengantarkan pada kemaslahatan dan kebermanfaatan untuk umat Islam. Aamiin.

Comments
Post a Comment