![]() |
| dokumen pribadi |
Ada hari-hari ketika suara yang paling sering kudengar adalah bunyi mesin pendingin ruangan, tangisan bayi hingga langkah kakiku sendiri. Padahal sebelumnya, nyaris setiap hari aku berkegiatan di luar rumah dan bertemu dengan banyak orang.
Aku sempat merasa sepi, tapi apakah aku benar-benar kesepian?
Kami sekeluarga berpindah dari Austria ke Abu Dhabi saat kehamilanku memasuki usia empat bulan. Kala itu baik di Austria maupun Abu Dhabi sedang berada di musim dingin. Meskipun sama-sama musim dingin, perubahan cuacanya tetap saja terasa ekstrem. Dari yang 7-10 derajat celcius ke 20-25 derajat celcius. Musim dingin tapi gerah? Selamat datang di Timur Tengah! :)
Layaknya orang kebanyakan, kepindahan domisili berlanjut dengan fase adaptasi di lingkungan baru. Mulai dari mengurus dokumen-dokumen pribadi, kesehatan, barang-barang hingga urusan sekolah anak-anak. Kami juga segera mencari dokter kandungan untuk memeriksa kondisi kehamilan. Aku pun mengikuti prenatal class di rumah sakit setempat.
Lambat laun, musim dingin mulai bergeser. Cuaca semakin terik. Panas matahari terasa menyengat. Tak sanggup rasanya berkegiatan di luar ruangan meski sebentar. Alhamdulillah belanja kebutuhan rumah tangga bisa dilakukan secara daring. Tinggal buka aplikasi, pilih bahan pangan yang diperlukan, lalu melakukan pembayaran. Beberapa saat kemudian, pesananpun tiba di depan pintu kamar. Secara pribadi, aku merasa sangat terbantu dengan kehadiran layanan ini. Tak pelak semenjak pindah ke Abu Dhabi, kurir pesan antar menjadi pihak yang paling sering kujumpai.
Saat tinggal di Austria, seusai anak-anak berangkat sekolah dan suami berangkat bekerja, hampir setiap hari aku berkegiatan di luar rumah. Baik untuk kursus bahasa Jerman, mengikuti sebuah workshop, bertemu dengan teman, pergi ke sebuah tempat baru maupun berbelanja kebutuhan harian. Bahkan aku sempat mengikuti Training for Trainer yang diselenggarakan pemerintah daerah. Tinggal di Eropa memang membuat diri terbiasa jalan kaki. Klop dengan kegemaranku mencoba hal baru dan berjejaring.
Setibanya di Abu Dhabi, kegiatanku berubah drastis. Nyaris seharian penuh waktu kuhabiskan di rumah. Saat masih musim dingin, setiap pagi seusai mengantar anak-anak sekolah, aku menyempatkan diri untuk jalan pagi sekitar satu jam. Terkadang berlanjut dengan mampir belanja ke supermarket atau melipir ke kampus untuk berkunjung ke perpustakaannya. Hal yang kemudian menjadi rutinitas menyenangkan yang mengisi tangki energiku menuju persalinan.
Kelahiran buah hati ketiga ini beriringan dengan datangnya musim panas. Tak pelak, pasca bersalin aku tak lagi jalan pagi. Fokus ke pemulihan diri dan cuaca yang tak lagi mendukung untuk berkegiatan di luar ruangan menjadi alasan utamanya. Aku kembali menjadi seorang ibu yang berada di flamingo era. Kembali menyusui, mengganti popok, merawat dan menidurkan bayi sembari tetap menjalankan kegiatan rumah tangga seperti biasa. Kembali menggendong dan merawat bayi adalah hal yang membuat mataku berbinar. Untuk urusan domestik, kami menjalankannya bersama-sama sekeluarga. Jadi meskipun tidak ada keluarga dari Indonesia yang datang membantu, pekerjaan domestik tetap tertangani dengan teamwork yang berjalan. Tentunya, sekemampuan kami. Standarnya pun disesuaikan dengan kapasitas yang menjalankan.
Ada masa dimana hari-hari terasa sepi. Ya, hari-hariku memang disibukkan oleh merawat bayi, menjalankan home based education, pekerjaan domestik dan kuliah daring. Tapi ada satu hal yang kurindukan, bersosialisasi. Aku merindukan masa-masa berdiskusi membahas sebuah project bersama. Aku sadar, aku perlu meluangkan waktu untuk melakukannya, sekalipun hanya sebentar saja. Mengalokasikan waktu untuk hal-hal yang memberikan energi positif adalah langkah yang kuupayakan untuk menjaga well-being.
Langkah pertama yang kulakukan adalah aku mencoba mengidentifikasi kebutuhan secara realistis. Oke, kebutuhanku adalah bersosialisasi. Pertanyaan berikutnya, dengan cara apa aku bersosialisasi? Apakah dengan mengikuti kegiatan atau forum luring seperti acara pertemuan ibu-ibu di KBRI? Untuk saat ini sepertinya belum memungkinkan. Bayi yang jam tidurnya masih panjang dan cuaca yang sedang panas menyengat menjadi alasan utama. Lalu bagaimana agar kebutuhan sosialisasi bisa terpenuhi? Aku membuat janji bertemu dengan beberapa teman. Jarang, sebentar, namun cukup untuk mengisi daya. Lalu, bagaimana jika dialihkan dalam bentuk daring? Ya, berjejaring secara daring menjadi solusi yang paling realistis bagiku selama berada dalam fase flamingo era ini.
Langkah kedua, belajar untuk menemukan ritme. Kata kunci yang kuperlukan sebagai ibu menyusui adalah fleksibilitas. Aku menyusun jadwal dengan mengikuti ritme tidur bayi di pangkuan. Online meeting kulakukan saat bayi sudah tidur atau dalam kondisi ia segar bugar, bukan saat ia sedang mengantuk atau lapar. Jika kondisi ternyata tidak kondusif, aku menyiapkan mental untuk berbesar hati membatalkan meeting atau menurunkan standar.
Langkah ketiga, menyadari bahwa kesendirian berbeda dengan kesepian. Dalam kesendirianku, ada masa dimana aku menangis karena merasakan kesepian. Pada titik ini, journaling menjadi langkah efektif untuk mengurai emosi dan isi pikiran. Pelan-pelan aku mengidentifikasi jenis-jenis emosi yang kurasakan. Lalu perlahan, aku menyadari bahwa kesendirian ini justru mendatangkan kesempatan menyelami diri lebih dalam, menemukan keautentikan diri. Kondisi ini ternyata mengantarkanku pada pemahaman mengenai perbedaan antara loneliness dengan solitude. Menarik, bukan?
Loneliness (kesepian) adalah perasaan hampa dan terasing secara emosional, yang bisa dirasakan bahkan di tengah keramaian. Sebaliknya, solitude (kesendirian) adalah kondisi fisik dan mental menikmati waktu sendiri dengan tenang dan penuh kedamaian, biasanya untuk refleksi diri. Kondisi sendiri, bisa diarahkan ke solitude saat diri kita menyadari dan menerima kesendirian tersebut, dan menggunakannya sebagai momentum untuk memahami diri secara utuh.
Perjalanan belajar secara daring di fase flamingo era ini aku fokuskan untuk membangun sebuah gerakan perempuan yang mengulik adaptability atau kemampuan adaptasi. Sebuah problem statement yang dinamika tantangannya amat kurasakan dalam kehidupan. Sebuah langkah yang kuayunkan bersama tujuh perempuan yang tersebar di empat negara berbeda dan empat kota berbeda ini bernama Puan Adaptif, sebuah gerakan menuju perempuan adaptif terhadap perubahan yang sempat diliput juga sebagai sebuah Berita Baik di program Kabar Sahabat Ipedia Berita Baik pada hari Kamis, 12 Desember 2024 lalu.
Aku percaya bahwa dalam setiap fase kehidupan yang sedang dijalani, seorang perempuan tetap dapat bertumbuh. Saat Perempuan Bicara Rasa, setiap untaian kata terasa menguatkan raga. Pembaca, aku ingin menyapa lembut, menepuk pundakmu, sembari berkata,
Puan-puan, mungkin hari ini engkau sedang merasa bahwa duniamu sempit, langkahmu tertahan, dan perjalananmu sepi. Tak apa. Mari ayunkan langkah dan resapi perlahan. Bisa jadi dari sepi itu, engkau akhirnya mendengar suara yang selama ini tenggelam dalam keramaian sekitar, yaitu suara dirimu sendiri.
Kesendirian memang tidak selalu nyaman. Namun jika kita berani tinggal lebih lama dan menyelami makna di dalamnya, ternyata ia berubah menjadi ruang paling jujur bagi diri untuk bertumbuh.
Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Blog “Perempuan Bicara Rasa” sebagai bagian dari Rangkaian Milad Ipedia ke-6 tahun 2026. Kunjungi situs Ipedia juga ya.

Comments
Post a Comment