Friday, 16 September 2016

Belajar Menulis Cerita Anak : Aku dan Keluargaku

Halo teman-teman, namaku Chika. Aku ingin mengajak kalian berkenalan dengan keluargaku. 
Yuk, aku perkenalkan satu persatu ya.
Hai, sebelum kuajak berkenalan dengan keluargaku, kita harus saling kenal dulu ya. Namaku Chika, umurku 3 tahun. Aku suka dibacakan cerita dan bermain air. Aku anak pertama, dan belum punya saudara. Eh, tapi kata ibuku, sebentar lagi aku akan punya teman bermain yang bisa kupanggil adik. Sekarang dia masih tumbuh di perut ibu. Aku rutin mengingatkan dan menyiapkan multivitamin untuk ibu loh! Geli rasanya melihat perut ibu bergoyang-goyang karena gerakan adik. Hmm…sepertinya di dalam perut ibu terasa hangat, tapi apa tidak sempit ya? Kata Ibu, aku kan dulu juga disana sebelum lahir ke dunia. Tapi, aku sudah lupa bagaimana rasanya, hihi… Nah, sekarang giliranmu berkenalan ya. Siapa namamu?
Karena aku tadi seringkali menyebut kata ibu, aku kenalkan dulu pada ibu ya. Nama ibuku Desi. Ibu sering bercerita kalau beliau yang melahirkan aku, makanya aku memanggilnya ibu. Tapi ternyata ada banyak panggilan nama serupa ibu. Ada ummi, mama, mami, bunda dan lainnya. Semuanya memiliki arti yang sama dengan panggilan ibu. Dulu aku sempat heran, mengapa Tasya memanggil ibunya dengan panggilan Bunda dan Luna memanggil ibunya dengan panggilan Ummi. Ternyata sama saja toh, hehe. Oya, setahu aku, baru aku yang dilahirkan oleh ibu. Tapi, pak tukang sayur, petugas bank, atau teman-teman ibu juga memanggil dengan panggilan Bu atau Ibu, ya? Bukankah anak ibu hanya aku? Huhu… Dengan wajah sedih, aku menanyakan ini pada ibu. Ternyata oh  ternyata, panggilan ibu itu juga diperuntukkan bagi wanita dewasa sebagai bentuk penghormatan. Jadi biasa digunakan dalam interaksi sehari-hari. Wajahku pun kembali sumringah sembari garuk-garuk kepala menutupi malu. Aku sempat berpikir kalau ibu berbohong padaku. Sekarang, siapa nama ibumu?
Selanjutnya, aku akan kenalkan pada kalian sosok pria berkacamata dan berjenggot di sebelahku. Ya, beliau ayahku. Ayahku bernama Andri. Kami mirip tidak? Banyak orang yang bilang bahwa kami punya banyak kemiripan. Tapi, akupun tak paham apa yang mirip dari kami. Lihatlah, bukankah aku tidak memiliki jenggot? Tidak berkumis? Berkacamata juga tidak. Apanya yang mirip? Hmmm.. Eh, tapi aku merasa bangga mirip dengan ayah. Bagaimana tidak, beliau jago menggambar dan bercerita. Sepulang beliau kerja, kami selalu bermain bersama hingga kantuk menyerang.  Beliau ayah yang menyenangkan. Jika mirip dengan beliau, itu artinya aku adalah anak yang menyenangkan, bukan? Kalau nama ayahmu, siapa?
Ibu sering menyebut kami sebagai keluarga inti. Yaitu, keluarga yang paling dekat denganku, atau lebih mudahnya yang tinggal satu rumah denganku. Yang sehari-hari selalu kutemui. Semoga kapan-kapan kita bisa saling berkenalan dengan keluarga besar masing-masing ya. Ada kakek, nenek, om dan tante yang selalu kurindukan. Mereka baru bisa kutemui kalau kami pulang ke Jawa Timur, hehe…
#griyariset
#ODOPfor99days

#day113

0 comments:

Post a Comment