Monday, 26 September 2016

Ibu sebagai Agen Perubahan, Materi 8 Program Matrikulasi Ibu Profesional

Disampaikan pada hari Senin tanggal 1 Agustus 2016

MATRIKULASI IBU PROFESIONAL BATCH #1 SESI #8

IBU SEBAGAI AGEN PERUBAHAN

Perempuan khususnya seorang ibu adalah instrumen utama yang sangat berperan sebagai agen perubahan. Dari sisi individu untuk menjadi agen perubahan adalah hak semua orang tidak berbatas gender. Karena semua memiliki potensi dasar yang sama berupa akal, naluri dan kebutuhan fisik. Sedangkan dalam konteks masyarakat, keberadaan ibu merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan keluarga, dimana keduanya memiliki porsi prioritas yang sama. Keberadaan Ibu di masayarakat akan meningkatkan kualitas pendidikan keluarga di rumah, demikian juga pendidikan keluarga di rumah akan memberikan imbas positif pada peningkatan kualitas masyarakat.

Maka berkali-kali di Ibu Profesional kita selalu mengatakan betapa pentingnya mendidik seorang perempuan itu. Karena “mendidik 1 perempuan sama dengan mendidik 1 generasi”, Maka apabila ada 1 ibu membuat perubahan maka akan terbentuk perubahan 1 generasi. Luar biasa kan pengaruhnya.

Darimanakah mulainya?
Kembali lagi, kita harus memulai perubahan di ranah “MISI SPESIFIK HIDUP KITA”, Sehingga menemukan hal yang satu ini menjadi modal utama yang sangat penting. Kita harus paham “JALAN HIDUP” kita ada dimana. Setelah itu baru menggunakan berbagai “CARA MENUJU SUKSES”.

Setelah menemukan jalan hidup, segera lihat lingkaran 1 anda, yaitu keluarga. Perubahan-perubahan apa saja yang bisa kita lakukan untuk membuat keluarga kita menjadi CHANGEMAKER FAMILY”. Mulailah dengan perubahan-perubahan kecil yang selalu konsisten dijalankan. Hal ini untuk melatih keistiqomahan kita terhadap sebuah perubahan. Maka di keluarga kami tagline ini menjadi sangat penting.

GOOD is not enough anymore, WE must be DIFFERENT

Maka gunakan pola Kaizen ( Kai = perubahan , Zen = baik) Kaizen adalah suatu filosofi dari Jepang yang memfokuskan diri pada pengembangan dan penyempurnaan secara terus menerus dan berkesinambungan.

Setelah terjadi perubahan-perubahan di keluarga kita, mulailah masuk lingkaran 2 yaitu masyarakat/komunitas sekitar kita. Lihatlah sekeliling kita, pasti ada misi spesifik Allah menempatkan kita di RT ini, di kecamatan ini, di kota ini atau di negara ini. Lihatlah kemampuan anda, mampu di level mana. Maka jalankan perubahan-perubahan tersebut, dari hal  kecil yang kita bisa.

START FROM THE EMPHATY

Inilah kuncinya. Mulailah perubahan di masyarakat dengan membesarkan skala perubahan yang sudah kita lakukan di keluarga. Sehingga aktivitas kita di masyarakat tidak akan bertabrakan dengan kepentingan keluarga. Bahkan akan saling mendukung dan melengkapi.

Setelah EMPHATY maka tambahkan PASSION, hal ini akan membuat kita menemukan banyak sekali SOLUSI di masyarakat.

KELUARGA tetap no 1, ketika bunda aktif di masyarakat dan suami protes, maka itu peringatan lampu kuning untuk aktivitas kita, berarti ada yang tidak seimbang. Apabila anak yang sudah protes, maka itu warning keras, LAMPU MERAH. Artinya anda harus menata ulang tujuan utama kita aktif di masyarakat.

Inilah indikator bunda salihah, yaitu bunda yang keberadaannya bermanfaat bagi dirinya, keluarganya dan lingkungan sekitarnya. Sehingga sebagai makhluk ciptaan Allah, kita bisa berkontribusi kebermanfaatan peran kita di dunia ini dengan “rasa TENTERAM”.

Salam,
 /Septi Peni/

Pertanyaan 1. Novita – IIP Tangerang Selatan 
Makasih bunda Septi materinya. Saat aktif di masyarakat seperti di komunitas ini, suami kadang support kadang juga protes. Bagaimana menyeimbangkan peran dan waktu kita antara keluarga dan kiprah kita di masyarakat. Terutama saat bentrok waktu antara acara komunitas dengan acara keluarga dengan suami.

Jawaban :
Bunda Novita, ini pentingnya materi-materi di Bunda Cekatan, salah satunya adalah "Manajemen Waktu". Maka penting buat bunda memberikan terlebih dahulu agenda aktivitas kita di komunitas kita selama 1 minggu ke depan, 1 bulan kedepan dan obrolin ke suami, minta ridhonya. Kunci saya cuma satu, apabila pak Dodik ridho (dalam bentuk ACC), maka saya komit menjalankan. Apabila tidak ridho maka semenarik apapun, tidak akan saya jalankan. Saya berikan hal ini ke komunitas. Setelah disepakati suami, kemudian minta keikhlasan anak-anak, bunda akan sibuk di tanggal-tanggal ini, anak-anak bagaimana, memilih bersama bunda atau ingin aktivitas lain?.Ketika sudah disepakati jauh-jauh hari sebelumnya, dan mendadak ada acara keluarga yang non takziah, maka minta izin ke suami untuk menyelesaikan komitmen komunitas, baru menyusul ke acara keluarga. Karena kitapun akan melatih anak-anak soal komitmen ini. Begitu juga sebaliknya apabila acara mendadaknya adalah suami sakit/anak saki sehingga membuat ridho suami berkurang, maka kita harus mencari back up orang lain untuk komunitas. Skala prioritas menjadi sangat penting.

Pertanyaan 2. Farda – IIP Surabaya
Bagaimana kita mengelola resiko yang mungkin terjadi saat kita mencoba menjejak keluar rumah. Misal, hantaman lingkungan, dipandang sebelah mata, tuduhan-tuduhan miring bahkan ada yang saklek kita dianggap sebagai apa ya istilahnya kalau seperti kasusnya ustadzah Oki itu, disebut ustadzah-ustadzahan. Padahal maksud kita hanya ingin sekedar berbagi yang sudah dijalani, tidak lebih dari itu. Bukannya jika tahu satu ayat, maka sampaikanlah, apa memang kita harus benar-benar expert baru bisa tenang menjejak keluar? Terimakasih.

Jawaban :
Mbak Farda, selama ALLAH dan RASULnya TIDAK MURKA, maka lanjutkan. Karena orang yang menjalankan MISI HIDUP itu pasti akan datang ujian. dan keyakinan kita akan MISI SPESIFIK HIDUP, tidak membuat kita cepat putus asa. THERE is NO PROBLEM, CHALLENGE!

Pertanyaan 3. Lendy – IIP Bandung
Bunda Septi, saya terkadang menjadikan anak nomer kesekian (kalau ada yang dititipkan) dan saya bertholabul ilmi. Kalau begitu, bolehkah?

Jawaban :
Teh  Lendy, seorang ibu yang menuntut ilmu itu didasari oleh suatu niat baik yaitu proses "MEMANTASKAN DIRI" agar kita semakin layak di mata Allah, untuk mendapatkan anak-anak HEBAT. Maka ketika berproses thalabul 'ilmi, tetapi menempatkan anak ke nomor kesekian, maka lama-kelamaan akan muncul ketidakseimbangan hidup. Maka sesuatu yang tidak seimbang pasti akan mendatangkan guncangan untuk membuat sebuah keseimbangan baru. Hal inilah yang membuat kita kadang merasa tidak "TENTERAM" dalam menjalani aktivitas. Kalau berdasarkan pengalaman saya, selalu memakai rumus yang diucapkan pak Dodik :
"BERSUNGGUH-SUNGGUHLAH KAMU DI DALAM, MAKA KAMU AKAN KELUAR DENGAN KESUNGGUHAN ITU"
Ketika ada kesempatan thalabul 'ilmi, contoh lolos seleksi konferensi di luar negeri, pak Dodik selalu tanya, apa manfaatnya untuk anakmu? Baru ditanyakan apa manfaat untuk peran hidupmu di masyarakat? Apabila pertanyaan pertama tidak bisa dijawab, artinya exit permitt tidak keluar. Dan saya harus ikhlas menerima.

Pertanyaan 4. Niken – IIP Salatiga
Kenapa ibu menekankan kata tenteram, Bu? Adakah berkontribusi kebermanfaatan seseorang tapi ia tidak tenteram? Dlm konteks kasus positif maksud saya.

Jawaban :
Ada mbak Niken, ketika dasar mulainya kebermanfaatan ini bukan didasari sebuah niat kuat untuk memperbaiki keluarga kita. Contoh saya merasa sudah bermanfaat untuk banyak orang dengan membuka kelas untuk ibu-ibu. Namun selama menjalankan kebermanfaatan ini , anak-anak saya merasa terlantar, karena ibunya asyik sendiri dengan "kelas  yang rasanya sebagai program kebermanfaatan".  Lama-lama hati kecil kita pasti akan terusik, karena melihat kondisi anak-anak kita. Hal ini membuat kita TIDAK TENTERAM. Karena sebuah ketidakseimbangan.
Saya tambahkan sedikit, biasanya program kebermanfaatan yang membuat kita TIDAK TENTERAM itu bermula dari sebuah PELARIAN. Lari dari kenyataan hebohnya menjadi ibu, lari dari kenyataan kondisi penindasan di dalam rumah sendiri, lari dari kenyataan "tidak sukanya kita terhadap anak-anak. Lari dari kenyataan "Status seorang ibu rumah tangga” dll

Pertanyaan 5. Wening - IIP Bandung.
Ibu, anak-anak selalu ikut saya dalam berrbagai kesempatan. Mendengarkan saya membicarakan cashflow, sidak karyawan, berkeliling Bandung dengan berbagai dinamika kemacetannya. Yang membuat saya galau, tak jarang anak-anak terlihat bosan. Walaupun saya siapkan beribu amunisi penghilang bosan. Baiknya bagaimanakah Ibu?

Jawaban :
Teh, rentang konsentrasi anak adalah 1 menit x umurnya, maka teteh harus paham berapa lama anak kita libatkan dalam aktivitas kita? Maka berapa amunisi baru yang perlu disiapkan. Setelah tahap pertama  terpenuhi, keterlibatan anak-anak dalam proses aktivitas kita, akan  membuat rentang konsentrasinya naik. Misal membuat dokumentasi acara, mengambil peran sebagai asisten sorot kita dll sesuaikan dengan peran kita. Kalau selama berkeliling Bandung, maka anda harus menjadi tour guide anak yang menarik. Bermain peranlah, jangan terlalu kaku. "Selamat pagi Bapak dan Ibu, kita sekarang sampai di Taman Lansia, disini kita akan bisa melihat bla....bla...bla, Wow dan sekarang kita melewati bla...bla... Kalau sudah sampai maka ucapkan terimakasih sudah mengikuti program perjalanan kami dengan baik, sampai jumpa di acara berikutnya dll. Ini materi Bunda Sayang. Maka mengapa bunda shalehah itu harus melewati tahapan bunda sayang, bunda cekatan dan bunda produktif terlebih dahulu. BIAR TENTERAM.

Pertanyaan 6. Siti Anisa Maryam – IIP Bandung
Bu, bagaimana jika kontribusi kita di luar rumah diridhoi suami tapi kurang disukai orang tua?

Jawaban :
teh Anis, ajak ngobrol orangtua, atas dasar alasan apa tidak menyukai kontribusi kita di luar rumah. dan ajak ngobrol suami, atas dasar apa menyukai kontribusi kita di luar rumah. Kemudian cross check mana diantara dua alasan tersebut yang lebih dekat ke ridho ALLAH dan RASULNYA? maka ambil yang lebih mendekati ridhoNya.

Pertanyaan 7. Fauziah Zy - IIP Depok
Mohon maaf bu. Sy mau tanya yang masih berkaitan dengan materi sebelumnya. Ibu pernah katakan bahwa kalau kita menjalani aktivitas dengan passion yang kita senangi tidak mudah sakit. Tp koq saya sering sakit jika kelelahan beraktifitas ya bu.. padahal saya bahagia menjalankannya.. hehe..

Jawaban :
Mbak Zy, sakit itu sebenarnya adalah sebuah gejala adanya "ketidakseimbangan" penggunaan fungsi organ tubuh kita. Maka perlu keseimbangan ya mbak Zy.

Pertanyaan 8. Farda – IIP Surabaya
Bu, pernah tidak mengalami reset ulang kegiatan? Maksud saya misal ketika kita mencoba menjejak keluar, ada alarm tidak tenteram dari diri atau alarm dr suami dan anak. Lalu kita harus burning lagi dari awal untuk bisa mencoba kegiatan keluar lagi?

Jawaban :
Sering mbak, hal itu bisa kita ketahui dari seringnya kita ngobrol dengan keluarga baik "master mind" maupun "false celebration". Sehingga apabila ada yang kurang berkenan dengan aktivitas kita di luar cepat kita ketahui, tidak terpendam dan akhirnya menjadi "bom waktu" yang tinggal kita tunggu meledaknya.

Pertanyaan 9. Noni – IIP Tangerang
Bu Septi, apa prinsip-prinsip utama pola Kaizen?

Jawaban :
Ini prinsipnya mbak . Kaizen merupakan aktivitas harian yang pada prinsipnya memiliki dasar sebagai berikut:
1. Berorientasi pada proses dan hasil.
2. Berpikir secara sistematis pada seluruh proses.
3. Tidak menyalahkan, tetapi terus belajar dari kesalahan yang terjadi di lapangan.
 [Materi ini ada di Bunda Cekatan secara lengkapnya, saya ambil beberapa poin penting]
Beberapa point penting dalam proses penerapan KAIZEN yaitu :
Konsep 3M (Muda, Mura, dan Muri) dalam istilah Jepang. Konsep ini dibentuk untuk mengurangi kelelahan, meningkatkan mutu, mempersingkat waktu dan mengurangi atau efisiensi biaya. Muda diartikan sebagai mengurangi pemborosan, Mura diartikan sebagai mengurangi perbedaan dan Muri diartikan sebagai mengurangi ketegangan.
Gerakan 5S (Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu dan Shitsuke) atau 5R. Seiri artinya membereskan tempat kerja. Seiton berarti menyimpan dengan teratur. Seiso berarti memelihara tempat kerja supaya tetap bersih. Seiketsu berarti kebersihan pribadi. Shitsuke berarti disiplin, dengan selalu mentaati prosedur ditempat kerja. Di Indonesia 5S diterjemahkan menjadi 5R, yaitu Ringkas, Rapi, Resik, Rawat dan Rajin
Konsep PDCA dalam KAIZEN. Setiap aktivitas usaha yang kita lakukan perlu dilakukan dengan prosedur yang benar guna mencapai tujuan yang kita harapkan. Maka PDCA (Plan, Do, Check dan Action) harus dilakukan terus menerus.
Konsep 5W + 1H. Salah satu alat pola pikir untuk menjalankan roda PDCA dalam kegiatan KAIZEN adalah dengan teknik bertanya dengan pertanyaan dasar 5W + 1H (What, Who, Why, Where, When dan How).

Pertanyaan 10. Mesa – IIP Bandung
Ibu, saat ini saya sedang menguatkan diri untuk menjalankan misi hidup spesifik sebagai planner di bidang pendidikan anak usia dini, yang mana jam bermain dengan anak (usia 2 tahun), saya jadikan jam terbang.Terkait dengan peran di lingkaran kedua, apakah aktivitas bermain bersama anak-anak tetangga sekitar dengan rentang usia 3-11 tahun, bisa saya jadikan awalan? Karena saya melihat kesempatan untuk melakukan perubahan dari situ terkait pola pendidikan anak. Kemudian, mengingat latar pendidikan saya bukan dari pendidikan, dan sependek ini saya belajar parenting dari forum-forum belajar dan komunitas, jika ingin menjadi spesialis di bidang tersebut, suatu saat perlukah mengambil pendidikan formal atau sejenisnya untuk menguatkan pondasi? Terimakasih bu.

Jawaban :
Teh Mesa dan bunda semuanya yang senada pertanyaannya, inilah pentingnya program 7 to 7 di Ibu Profesional. Dimana aktivitas bermain kita bersama anak akan menjadi bagian dari jam terbang ranah produktivitas kita di bidang tersebut. Setelah itu merambah ke lingkungan terdekat, dengan tidak meninggalkan anak-anak kita sebagai fokus utamanya. Terus jalankan, selama Teteh dan bunda semuanya sedang menjalankan misi hidup, biasanya selalu ada jalan, meski memang tidak semuanya mudah. Kalau mau mengambil pendidikan formal silahkan, nggak juga nggak papa. Dulu saya pernah ada godaan untuk mengambil jalur formal dalam rangka menguatkan pengalaman praktisi saya di dunia pendidikan. Tetapi setelah saya pikir-pikir, untuk apa? Karena ternyata saya nyaman dengan dunia praktisi bukan akademisi. Sehingga Allah selalu mempertemukan orang-orang akademisi ketika saya seminar menyampaikan sesuatu. Apa yang sudah saya kerjakan selama ini di dunia pendidikan disebut sebagai teori bla....bla.... Bagaimana cara saya menguatkan kapasitas diri? dengan silaturahim ke ahli, ikut kuliah-kuliah online sesuai dengan bidang yang kita perlukan, praktik, praktik dan praktik, cari ilmu lagi, cari ilmu lagi....:)

Tambahan :
Makanya perlu tanya ke diri sendiri lebih detil ya mbak, saya waktu itu sudah nggak ada keinginan untuk menjadi dosen, professor dll. Saya hanya ingin menjadi Ibu rumah tangga yang manfaat. Dan kuliah saya di jalur formal tidak akan mempengaruhi "pendapatan finansial" yang biasanya diributkan banyak orang karena dilihat strata pendidikannya. Titel? sudah saya simpen jauh-jauh, sekarang hanya menginginkan cumlaude dg titel almarhumah, jadi mau apa lagi? Tapi kalau kondisi sebaliknya? bunda harus kejar dengan keseimabangan, biar TENTERAM.

Pemantapan praktik materi ini berlanjut dengan pemberian Nice Homework 8 yang terdapat pada postingan berikutnya. 

0 comments:

Post a Comment