Monday, 23 December 2019

Meningkatkan Indeks Kebahagiaan dengan Mengasah Keterampilan Diri


Materi kedua di kelas Bunda Cekatan ini menjadi salah satu jawaban atas gejolak yang sempat saya rasakan. Menjadi seorang ibu merupakan peran yang diambil secara sadar oleh seorang perempuan, yang membuatnya berkesempatan menjadi madrasah pertama dan utama untuk anak-anaknya. Sebuah peran istimewa yang berpotensi membuka ragam jalan kebajikan untuk dirinya. Lalu, apakah karena peran mulia tersebut, adalah wajar jika seorang ibu mengorbankan kebahagiaannya? Namun jika tidak, bagaimana beliau bisa menjalankan beragam peran diri beriringan dengan menjalankan aktivitas yang beliau suka dan bisa?
Kata kuncinya adalah,
Temukan aktivitas suka dan bahagia, kemudian asah keterampilan sehingga indeks kebahagiaan akan naik.
Mengasah keterampilan di sini, bukan hanya keterampilan yang berkaitan dengan aktivitas di ranah bisa dan suka. Namun juga keterampilan menyelesaikan faktor tambahan yang berpotensi mengganggu keseimbangan peran dan kebahagiaan dalam mengerjakan aktivitas bisa dan suka.
Mengapa perlu mengasah keterampilan?
Karena keterampilan akan meningkatkan kompetensi seorang ibu, termasuk dalam hal mengatasi konflik antara aktivitas yang ibu suka dan bisa dengan kondisi yang harus dihadapi. Ibu terampil juga akan menghadirkan kebahagiaan bagi diri dan para customer utama.
Berpijak pada lima aktivitas suka dan bisa yang pekan lalu saya temukan, saya membuat kuadran keterampilan sebagai berikut :


Keterampilan di kuadran penting dan mendesak juga penting dan tidak mendesak dirumuskan dengan mengacu pada lima aktivitas suka dan bisa di telur hijau yang sudah ada di tulisan sebelumnya. Sedangkan keterampilan di kuadran tidak penting dan mendesak merupakan keterampilan yang perlu saya kuasai sebagai faktor pendukung sehingga saya memiliki alokasi waktu untuk semakin mengasah keterampilan penting dan mendesak. Bagaimana di kuadran tidak penting dan tidak mendesak? Bagi saya, keterampilan di kuadran tidak penting dan tidak mendesak adalah keterampilan yang berkaitan dengan aktivitas di kuadran tidak suka dan tidak bisa. Saya tidak perlu mengasah keterampilan untuk aktivitas di kuadran tersebut namun saya perlu menguatkan diri untuk terampil menahan diri saat melihat sebuah peluang belajar. Bagi orang lain mungkin mudah,namun bagi saya yang memiliki kombinasi kekuatan diri empathy, maximizer dan significance, ingin rasanya tak membiarkan kesempatan berlalu begitu saja. Padahal kemudian saat saya mengambilnya, saya belum memiliki keterampilan manajemen pikiran dan alokasi waktu pengerjaan yang cukup memadai, sehingga terjadi ketidakseimbangan peran. Apakah hal itu pernah terjadi? Pernah, dan memang ketidakseimbangan itu tidak sehat. Tidak apa-apa, sebuah pengalaman yang sangat berharga. Untuk menjaga keseimbangan ini, saya meminta bantuan suami yang memiliki kekuatan focus untuk senantiasa mengingatkan.
Setelah menimbang dan memilah, saya menemukan lima keterampilan yang penting dan mendesak untuk segera saya latihkan pada diri saya sehingga meningkatkan kompetensi diri dalam menjalankan aktivitas bisa suka. Kelima keterampilan yang saya letakkan di telur merah yaitu :




Berikut penjelasan setiap keterampilannya :

Manajemen Pikiran
Saya berada di era keramaian, masa yang penuh dengan distraksi. Distraksi berdatangan tanpa jeda dan tanpa diminta, bahkan saya seringkali mendatangkan distraksi di saat saya tak menghendakinya. Seperti apa bentuknya? Bagi saya, membuka media sosial berupa Facebook, Instagram atau WhatsApp sudah merupakan aktivitas mendatangkan distraksi pikiran. Di sisi lain, untuk bisa menghasilkan sesuatu dengan optimal, saya perlu mindfulness dalam menjalankan aktivitas. Maka saya merasa perlu untuk membentuk beberapa gerbang pertahanan untuk beragam informasi yang mendesak masuk ke pikiran.
Gerbang pertama adalah dengan menjalankan manajemen gawai dan jam online dengan disiplin. Bagaimana kalau gagal? Coba kembali, berulang kali. Saya merasakan penerapan jam online membuat saya memiliki catatan singkat mengenai siapa saja yang perlu saya hubungi, diskusi apa saja yang harus dijalankan dengan efektif dan tugas apa saja yang harus dikerjakan saat jam online tiba sehingga jam online bisa termanfaatkan dengan optimal.
Gerbang kedua adalah dengan membuat ruang-ruang imajiner di pikiran. Ruang imajiner yang dibuat menyesuaikan amanah yang saat ini sedang diemban, seperti ruang tugas domestik, ruang home educator, ruang koordinator TPA, ruang Ibu Profesional, ruang Deutschkurs dan sebagainya. Ruang imajiner ini mencegah sesuatu dipikirkan dengan berlarut-larut. Misalnya, saya memiliki waktu luang satu jam yang ingin saya gunakan untuk diskusi pengurus inti Ibu Profesional regional Efrimenia dan mengerjakan PR Deutschkurs. Maka saat setengah jam pertama berlalu, saya perlu berpamitan dari diskusi, menyimpan tantangan yang belum terselesaikan dan menutup ruang  Ibu Profesional. Segera beralih fokus membuka ruang imajiner Deutschkurs lalu mengerjakan PR.
Keterampilan manajemen pikiran yang masih ingin saya tajamkan adalah kecepatan untuk switch dan menjaga fokus saat sedang mengerjakan suatu hal.

Komunikasi Asertif
Dalam berkomunitas dan mengemban peran sentral seperti leader, ada kebutuhan menyampaikan gagasan, mendengarkan pendapat orang lain, merespon pesan dengan bijak , bersikap tegas dan terbuka namun tanpa menyakiti orang lain. Saya ingin meningkatkan keterampilan saya dalam berkomunikasi dengan menguasai keterampilan komunikasi asertif.
Bertanya
Belajar mengenai cara belajar identik dengan proses pembelajaran yang merdeka. Bukan lagi duduk manis dan bersiap menerima materi, namun saya pribadi memiliki peta belajar yang sudah dipelajari selama ini, sudah memiliki tujuan belajar yang jelas dan bisa mengidentifikasi kebutuhan belajar diri. Nah, keterampilan bertanya perlu saya miliki untuk bisa bertanya dengan benar sebagai upaya memfasilitasi intellectual curiosity atau rasa ingin tahu diri.  

Membuat jurnal kegiatan
Saat menyimak pemaparan mas Pandu mengenai Metakognisi kemarin, hal yang paling mengena pada diri saya adalah dokumentasi proses belajar. Selama ini, perencanaan dan proses pembelajaran bisa saya rasakan sudah berjalan cukup baik, namun saya sering menunda untuk menuliskan jurnal kegiatannya hingga kemudian tak terlaksana karena sudah tertimpa oleh kegiatan-kegiatan berikutnya. Padahal poin dokumentasi ini sangat penting untuk menelusuri jejak pembeajaran yang sudah saya jalani. Maka, keterampilan pembuatan jurnal penting untuk saya latihkan pada diri. Saya mulai menggali apa yang membuat saya sering menundanya. Tidak sempatnya mengapa? Karena merasa terlalu berat dan ribet? Jika iya, mari sederhanakan dengan cukup menuliskan poin-poin pentingnya saja. Lebih baik sederhana, sembari perlahan melengkapi ketimbang sekadar wacana saja.

Bahasa Jerman
Aha, ini menarik! Sejak lulus dari bangku kuliah, saya mengikuti banyak kelas belajar, namun mayoritas dilakukan online dengan jam belajar yang fleksibel. Kelas bahasa Jerman yang saya ikuti belakangan ini merupakan kelas belajar intensif pertama yang saya lakukan secara offline dengan penuh kesungguhan dan mata berbinar dalam mengerjakannya. Saya mengambilnya karena saya menyukainya dan saya membutuhkannya. Saya jelas membutuhkannya karena saya hidup di negara dengan bahasa Jerman sebagai bahasa pengantarnya. Kefasihan dalam berbahasa tentu sangat bermanfaat untuk mengurus dokumen, mengakses fasilitas publik dan memahami surat-surat yang kita terima. Tapi mengapa saya menyukainya? Tak lain karena lingkungan yang kondusif. Lembaga kursus bahasa Jerman  saya di setahun belakangan ini memiliki tempat penitipan anak sehingga saya bisa membawa serta Ahsan setiap harinya. Lembaga kursus ini memiliki sistem pembelajaran yang profesional, guru yang berpengalaman dan teman-teman sekelas dengan semangat belajar yang tinggi. Lingkungan positif ini menjadi sebuah support system yang sungguh menyenangkan. Karenanya, saya belajar dengan penuh kesungguhan dan mengerjakan tugas dengan seoptimal mungkin. Saat ini kelas bahasa sedang jeda sekitar dua bulan. Di masa liburan ini saya berencana untuk belajar mandiri dengan meminjam buku-buku dari perpustakaan dan mengikuti kelas diskusi yang diadakan di perpustakaan maupun di Nachbarschaftszentrum.

Demikian lima keterampilan yang saya prioritaskan untuk segera saya kuasai dalam waktu dekat. Saya merasa perlu untuk menggali kebutuhan diri akan keterampilan-keterampilan dari setiap aktivitas suka dan bisa. Saya juga merasa perlu membuat peta belajar untuk melihat jejak perjalanan belajar selama ini juga sebagai bentuk praktik dari materi yang sudah saya terima dari mas Pandu. Perlahan dan bertahap insyaAllah mencoba dikerjakan. Semoga Allah mudahkan, aamiin...

Wina, 23 Desember 2019



0 comments:

Post a comment