Tuesday, 7 January 2020

Temukan Tujuan dan Cara Belajarmu, Belajarlah dengan Merdeka


Perjalanan penulisan jurnal telur oranye ini cukup panjang. Pertama, saya menyimak materi dan diskusi live bersama bu Septi dan mencatat beberapa poin penting. Kedua, saya tergelitik untuk menggali pemahaman mengenai ilmu dan keterampilan. Saya bertanya-tanya, mengapa ilmu-ilmu yang dibutuhkan (telur oranye), digali dari keterampilan – keterampilan (telur merah) yang ingin dikuasai? Bagaimana menentukan sesuatu sebagai keterampilan atau ilmu? Bukankah ilmu-ilmu yang saling berkaitan berkumpul dalam sebuah rumpun ilmu? Semisal saat kuliah S1 saya mengambil jurusan Teknologi Pangan, maka saya mempelajari ilmu Mikrobiologi, Bioteknologi, Kimia dan setiap ilmu tersebut ada spesifikasinya lagi seperti untuk Mikrobiologi ada mata kuliah Mikrobiologi Umum dan Mikrobiologi Pangan.
Lalu apa makna ilmu dan keterampilan di sini? Apakah sebuah ilmu itu memang merupakan bagian dari sebuah keterampilan? Pencarian makna ini berkutat di kepala selama beberapa hari. Di sini saya sedang mempelajari hal baru dalam sebuah pembelajaran baru. Maka pemaknaan yang digunakan bisa jadi berbeda dari makna yang sudah saya pahami sebelumnya. Perlu ada proses adaptasi dalam pola berpikir saya, maka saya menggali kembali, mencari pemaknaan di proses belajar kali ini. Pemaknaan ini bagi saya merupakan sebuah hal yang krusial, karena menjadi dasar daam sebuah alur berpikir. Maka merujuklah saya pada KBBI. Menurut KBBI, ilmu adalah pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode tertentu, yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala tertentu di bidang (pengetahuan) itu. Sedangkan keterampilan adalah kecakapan dalam menyelesaikan tugas, mampu dan cekatan.
Definisi yang saya dapatkan di atas, nampaknya cukup dapat menjawab makna dan hubungan antara keterampilan dan ilmu di kelas bunda cekatan ini. Sebuah ilmu tentu bersinggungan dengan ilmu lainnya, pun memiliki turunan ilmu yang kompleks. Seorang yang terampil bukan hanya seorang yang menguasai ilmu tertentu, namun ilmu-ilmu yang dimiliki dapat saling terintegrasi dan teraplikasikan dalam sebuah aksi nyata yang memukau. Artinya, saya sedang mendeteksi kebutuhan ilmu-ilmu yang saya perlukan untuk dapat cakap menjalankan peran hidup diri saya.
Proses belajar secara merdeka sangat saya rasakan di sini. Saya tidak disuapi dengan materi-materi (outside in) namun diajak untuk mengenal diri dan menggali kebutuhan belajar diri, hingga diberi keleluasaan untuk meracik menu belajar ala diri sendiri. Bingung? Pasti. Bongkar pasang? Jelas. Trial Error? Tentu. Learning by doing. Proses ini mengasah kepekaan rasa dan membuat pembelajaran menjadi sebuah proses yang dijalankan dengan bahagia dan mata berbinar, karena berasal dari kebutuhan diri. Dan sepertinya ini memang ciri khas pembelajaran ala Institut Ibu Profesional.
Pemahaman alur proses antara pembuatan telur hijau, telur merah dan telur oranye cukup jelas, dan saya menjadi merasa perlu menggali dan mendaftar keterampilan apa saja yang saya butuhkan juga ilmu-ilmu apa saja yang diperlukan di setiap keterampilan baru kemudian membuat urutan berdasar skala prioritas. Ya, saya perlu membuat sebuah peta belajar untuk merekam jejak pembelajaran selama ini dan merencanakan menu belajar ke depan.
AHA! Membuat peta belajar adalah sebuah perjalanan panjang, bisa dicicil namun tak perlu segera tuntas sekarang. Mungkin perlahan akan saya buat, tapi tidak untuk memenuhi tugas telur oranye ini karena terlalu kompleks. Tak perlu terburu-buru, saya perlu lakukan setahap demi setahap. Dalam pekan ini saya perlu mengarahkan fokus pada tahap menemukan cara belajar. Saya membaca kembali jurnal yang saya kerjakan terkait aktivitas di telur hijau (disini) dan keterampilan di telur merah (disini).

Ilmu yang Berkaitan dengan Keterampilan Prioritas

Dari setiap lima telur hijau dan telur merah, ada satu yang berada di urutan paling prioritas. Yaitu yang terletak di ujung daun. Ya, aktivitas prioritas bagi saya adalah Home Education dan keterampilan yang berada di prioritas utama adalah manajemen pikiran (Mind Management). Ilmu-ilmu yang perlu saya kuasai dalam lima bulan berada di kelas Bunda Cekatan ini saya turunkan satu keterampilan terlebih dahulu, yaitu yang paling prioritas, manajemen pikiran. Berikut lima ilmu yang saya prioritaskan untuk dipelajari selama berada di kelas Bunda Cekatan.
Berikut penjabarannya :

Fokus

Ilmu fokus perlu saya pelajari karena saya menyadari bahwa saya masih sering terdistraksi oleh suatu hal yang tak menjadi prioritas saat itu. Saya perlu belajar strategi menjaga fokus untuk orang yang mudah hilang fokus, bagaimana cara meningkatkan fokus, dan cara menghindar dari godaan distraksi.

Prokrastinasi

Saat sedang mengerjakan sesuatu, merasa ada bahan referensi yang kurang, merasa perlu mencari tahu terlebih dahulu, merasa ada poin penting yang  terlupa. Padahal jadwal untuk mengumpulkan tugas adalah hari ini. Daripada kurang optimal, maka saya tunda pengerjaannya untuk bisa melengkapi hal yang kurang. Namun ternyata, saya tak cukup waktu untuk mengulik dalam hal tersebut saat ini. Ada yang merasakan pola serupa? Kita sama ya. Karenanya, saya merasa perlu mempelajari mengenai prokrastinasi. Apa penyebabnya (agar saya bisa lebih waspada), bagaimana cara pencegahannya, dan strategi untuk berhenti melakukan prokrastinasi atau penundaan. Saya perlu menguatkan prinsip, “Tuntaskan sekarang meski dirasa kurang sempurna. Kau masih punya kesempatan untuk terus memperbaikinya. Sekarang saatnya menyelesaikannya dan beralih mengerjakan tugas berikutnya.”

Cipta Positif

Saat setiap janjian dengan orang lain, kita selalu tepat waktu sedangkan yang lainnya tidak, apakah kita kesal? Alih-alh menggerutu, saya berlatih untuk menepuk pundak sendiri sembari berkata, “Gut gemacht, Mesa! Kamu sudah menjaga konsistensi untuk datang tepat waktu.”
Saat donat yang sedang digoreng menjadi coklat karena api agak besar dan sempat ditinggal karena membantu anak yang sedang di WC, saya merasa kesal. Namun si sulung datang dan berkata, “Donatnya kakak taburi gula ya Mi.” Dan ternyata saat dimakan, rasanya tidak pahit. Ternyata pikiran saya menuju ke arah negatif yang hanya kekhawatiran semata. Bukankah sebenarnya saya tidak perlu kesal, karena ternyata donatnya tetap layak dikonsumsi?
Saya perlu belajar bagaimana melatih diri untuk menjadi pribadi yang senantiasa berpikir positif? Apa penyebab datangnya pikiran negatif? Dimana saja bisa saya dapatkan atmosfer positif? Ini penting bagi saya. Bukankah laku dan ucap kita mencerminkan bagaimana pola pikir diri kita?

Batas Waktu (Cut off Time)

Yaaa…ngga sempat memasak, karena pengerjaan tugas yang saya estimasikan cukup dua jam ternyata perlu waktu empat jam.
Yaaa…telat masuk diskusi Bunda Cekatan, karena durasi beberes rumah ternyata perlu waktu tiga jam. Saya kira dua jam cukup.
Saya perlu mendalami ilmu seputar Cut off Time atau teknik menentukan batas waktu. Apakah durasi aktivitas yang saya jadwalkan sudah realistis? Bagaimana strategi mengatur kandang waktu agar sesuai antara jumlah pekerjaan dan alokasi waktu? Apakah perlu disediakan jeda waktu di setiap pergantian kandang waktu? Bagaimana bersikap tegas dan disiplin pada diri?

Berpikir Bertindak

Tak bisa saya pungkiri, bahwa di setiap amanah perlu alokasi waktu yang saya sediakan tidak hanya untuk bertindak (menulis jurnal, mengikuti perkuliahan, mengajar santri, datang ke Deutschkurs, mengerjakan PR) namun juga berpikir (merencanakan jadwal, merancang kegiatan, menemukan pola). Nah, seringkali ada ide-ide menarik yang terlintas, yang kemudian saya catat. Namun sebenarnya, alokasi waktu untuk mengerjakannya belum saya perhitungkan. Sehingga kemampuan dan kesempatan (alokasi tenaga dan waktu) tidak berbanding lurus dengan keinginan yang terpikirkan. Nah, saya perlu belajar untuk membedakan antara berpikir dan bertindak. Apa yang membedakan berpikir dan bertindak? Mana yang lebih penting, berpikir atau bertindak? Bagaimana mengeksekusi ide hingga tuntas sampai menjadi sebuah aksi?  


Tujuan Belajar

Apa alasan terkuat sehingga saya harus menguasai keterampilan manajemen pikiran?
Karena saya ingin bahagia dalam berproses. Mengatasi faktor penghambat, belajar dengan merdeka dan menemukan misi hidup.

Sumber Ilmu

Tuliskan berbagai sumber ilmu yang bisa saya pelajari untuk menata puzzle ilmu yang saya perlukan.
  • Mempelajari Al Qur’an dan Sunnah.
  • Mendatangi sumber ilmu (ulama dan guru).
  • Mengikuti seminar dan pelatihan.
  • Membaca kitab dan buku.
  • Bergabung dalam kelas belajar baik daring maupun luring.
  • Forum keluarga.


Cara Belajar

Bagaimana cara belajar yang “Mesa banget” sehingga mempercepat proses belajar saya?
Menuntut ilmu secara luring tentu lebih saya utamakan daripada daring. Mendatangi majelis ilmu secara langsung tentu juga merupakan sebuah upaya menjemput keberkahan. Cara belajar yang paling saya sukai adalah belajar intensif dengan guru secara privat atau kelompok kecil yang memungkinkan terjadinya interaksi dua arah. Dengan cara ini, saya bisa menyimak detail setiap materi yang disampaikan guru. Selain itu, saya juga memiliki kesempatan untuk mendapatkan feedback dari beliau, masukan mengenai pemahaman atau praktik yang saya jalankan setelah mendapatkan ilmu dari beliau tersebut, juga koreksi jika ada yang kurang tepat dan saran bagian mana saja yang perlu diperbaiki. Saat ini proses belajar demikian berjalan di Deutschkurs (kursus bahasa) yang sedang saya ikuti.
Kalau cara diatas tidak bisa terpenuhi, maka tingkatan cara belajar kedua adalah dengan bertemu langsung dengan guru melalui seminar atau pelatihan. Saat mendatangi seminar dan pelatihan luring, saya merasakan hawa dan semangat belajar yang sangat kuat yang terpancar di dalam ruangan. Menyimak pemaparan narasumber dengan seksama, menghadirkan transfer energi yang nyata, terlebih jika kesempatan bertanya menghampiri. Jawaban yang narasumber sampaikan akan terpatri kuat di ingatan.
Karena saat ini sedang merantau, maka akses untuk mengikuti majelis ilmu secara luring dari para pakar Indonesia tentu terbatas. Teknologi menjawab keterbatasan ini, kesempatan belajar secara daring terbuka luas. Sekalipun daring tentu berbeda dan tidak seoptimal luring namun hal itu jauh lebih baik daripada tidak ada akses.
Untuk daring, saya menyukai cara belajar yang menghadirkan narasumber secara live, seperti cara belajar di kelas Bunda Cekatan saat ini. Memperhatikan gesture, mimik muka adalah hal penting bagi saya, karena dengan demikian saya mengetahui penekanan ada di bagian mana saja. Kesempatan mengajukan pertanyaan dan berdiskusi juga memancing saya untuk mengoptimalkan diri dalam menyerap dan mengolah informasi. Karena untuk bisa mengajukan pertanyaan yang berbobot dan aktif berdiskusi, saya perlu memiiki pemahaman yang baik akan materi tersebut.
Bagaimana jika menggunakan teks? Untuk belajar melalui teks, saya memilih untuk belajar melalui buku. Saat belajar melalui teks, saya membutuhkan informasi yang lengkap dan mendetail untuk mendapatkan ilmu yang utuh, tidak terpotong-potong.
Saat menyimak pemaparan dari guru, akan optimal bagi saya jika saya membuat catatan-catatan penting. Biasanya jika menyimak materi dan diskusi kelas Bunda Cekatan, HP saya gunakan untuk menyimak Facebook live sedangkan jemari saya mengetik di laptop atau menulis di buku catatan. Hal-hal yang terkait penggalian diri, misal bu Septi mencotohkan kebiasaan beliau mengikuti kuliah umum di UI, saat itu juga saya menuliskan pengalaman serupa supaya tidak terlupa seperti misalnya mengikuti workshop guru TK bersama Ayah Edy dengan membawa dua anak, mengikuti kuliah umum mahasiswa Psikologi Universitas Darul Ulum bertema Permainan juga bersama anak-anak. Kemudian saya juga mencatat praktik baik apa yang bisa langsung saya mulai begitu sesi belajar selesai.
Jika materi berlanjut dengan tugas,maka saya mencatat poin-poin penting yang harus saya kerjakan di buku catatan kecil, yang kemudian menjadi kata kunci untuk menemukan ide. Seperti misalnya di telur oranye ini, saya memikirkan perihal ilmu vs keterampilan. Setelah terjawab, beralih ke ilmu-ilmu mana saja yang diprioritaskan untuk dikuasai untuk keterampilan manajemen pikiran. Menggali-gali, tantangan apa saja yang sering saya temui? Apa pencetusnya? Bagaimana strategi ke depan?
Jika belajar dengan cara membaca buku, biasanya saya menyiapkan post it (jika bukunya pinjam dari perpustakaan atau teman) atau spidol warna untuk menandai bagian penting. Kemudian menyalin poin-poin itu ke buku yang saya beri judul jurnal belajar dengan bahasa sendiri. Pada intinya saya perlu mengulang-ulang materi yang sudah tersampaikan untuk semakin meningkatkan pemahaman akan materi tersebut.

Demikian releksi diri saya mengenai cara belajar di telur oranye ini. Semoga Alah tuntun senantiasa pada pemahaman yan benar dan lurus. Aamiin…

Wina, 7 Januari 2020



0 comments:

Post a comment