Sunday, 31 January 2021

Mengambil Peran di Tengah Tantangan Diaspora, Ambil Posisi Apa?

 


Setelah pekan sebelumnya Bu Septi hadir menuntun kami seputar tema mengambil peran di tengah tantangan diaspora, saya kembali menilik peta belajar diri. Untuk catatan belajar di acara tersebut sudah saya tulis di sini. Saya, yang saat ini berada di tahun ketujuh belajar di Ibu Profesional, sedang bergerak dan berkontribusi melalui peran apa saat ini.

Memori perjalanan saya putar ulang. Pertemuan pertama di Januari 2014 dengan bu Septi Peni Wulandani, menghadirkan azzam dalam diri saya bahwasanya saya ingin belajar menjadi seorang Ibu Profesional. Seorang ibu yang senantiasa meningkatkan kualitas diri baik sebagai hamba Allah, perempuan, istri, dan ibu. Azzam itu memantapkan hati saya untuk bergabung di komunitas Ibu Profesional dan belajar bertumbuh di dalamnya dengan mengambi beragam peran hingga saat ini.

Sedikit flaschback,

Tahun 2014-2015 saya mengenal Ibu Profesional dalam sebuah Kuliah Umum. Mendaftarkan diri di Ibu Profesional Bandung dan mengambil peran sebagai tim admin WAG.

Tahun 2015-2017 saya mengasah kemampuan kesekretariatan dengan menjadi sekretaris IP Bandung.

Tahun 2016-2018 saya berada di Jombang dimana regional terdekat adalah regional Jatim Selatan. Menginisiasi pembentukan IP Jombang bersama teman-teman. IP Jombang launching di bulan Maret/April 2018, sesaat sebelum keberangkatan saya ke Wina, Austria.

Tahun 2018-2020 saya bergerak di IP Efrimenia, regional yang mencakup empat benua (Eropa, Afrika, Amerika dan Oseania). Saat itu saya ingin mengasah kompetensi dalam memahami dan memetakan potensi member berbekal training Talents Mapping Basics dan Dynamics yang sudah saya ikuti. Maka selama dua tahun, saya berkesempatan mengulik seputar bidang tersebut lebih dalam lagi.

Tahun 2020 hingga sekarang saya mengambil peran sebagai ketua HIMA. Saya belajar memimpin sebuah komponen untuk bisa bersama-sama mengikuti perkuliahan dengan lancar. Setiap peran menghadirkan tantangan yang berbeda-beda. Berkaca dari apa yang disampaikan bu Septi, bahwasanya setiap tantangan merupakan kesempatan untuk banyak belajar dan bertumbuh, dan saya merasakan hal tersebut dalam perjalanan tujuh tahun ini.

Dalam sesi bersama Uni Nesri, RCIP Efrimenia memiliki tujuan agar teman-teman member yang sedang tergerak untuk berkontribusi, tercerahkan dan semakin yakin akan pilihan peran yang akan diambil. Bidang atau posisi yang tepat dalam mengambil peran bagi saya pribadi adalah hal penting, karena itu merupakan salah satu strong why yang membuat kita bertahan saat menghadapi tantangan ke depan. Maka penting untuk mengetahui hal apa yang kita sukai dan ingin kita asah dalam perjalanan di kepengurusan agar terpenuhi juga anak tangga pembelajaran diri kita. Ke depan, kita bisa menggunakannya untuk pijakan langkah lebih tinggi lagi.

Uni Nesri juga memberikan pertanyaan umpan pada jamboard, yang pertama,

Saya bisa apa saja?

Saya menyukai pemikiran yang runut dan sistematis, dan sedang mengulik hal tersebut.

Ingin jadi apa?

Terkait dengan kesukaan atas pemikiran yang runut dan sistematis, saya ingin membentuk sebuah sistem belajar yang memudahkan para ibu diaspora untuk mengikuti perkuliahan di Institut Ibu Profesional dan bisa beradaptasi dengan ketentuan atau aturan main dari tim pusat.

Bagaimana caranya?

Dengan mengambil peran sebagai leader HIMA saya seperti mendapatkan playground untuk bergerak dan menggerakkan dengan teratur dan terancana. Karakter diri yang ingin saya latihkan di tahun 2021 untuk diri saya pribadi adalah disiplin. Bisa saya praktikkan dalam menjalankan jurnal kelas Bunda Produktif yang saat ini sedang saya jalankan, juga mengajak teman-teman HIMA untuk tepat waktu dalam mengerjakan tugas. Sistem di HIMA berupa pengadaan ketua kelas dan PJ per zona juga memudahkan mahasiswa untuk berkontribusi sesuai porsi dan saling memudahkan dalam hal rekapan setoran dalam setiap kelas belajar yang sedang berjalan.

Saya juga sempat bertanya seputar langkah apa yang bisa dijalankan pengurus untuk bisa menginspirasi member untuk turut serta mengambil peran dalam kepengurusan. Jawaban dari uni Nesri adalah pengurus perlu memancarkan energi bahagia lebih besar lagi sehingga member yang melihat bisa turut tergerak untuk berkontribusi. Hmm...sepertinya saya perlu mengoptimalkan materi-materi di kelas Institut Ibu Profesional maupun training kepengurusan untuk digunakan berkegiatan bersama pengurus lain dan member. Karena dari situ saya banyak belajar berorganisasi dengan efektif dan efisien. 

Demikian hikmah yang saya dapatkan dari sesi belajar bersama uni Nesri Baidani dengan tajuk „Mengambil Peran di Tengah Tantangan Diaspora“. Ibu Profesional merupakan komunitas belajar yang saya merasa cocok belajar dan bertumbuh di dalamnya. Karena sejatinya, berbagi dan berkontribusi dalam komunitas merupakan bagian dari sebuah proses belajar. Mari senantiasa meluruskan niat dan semoga Allah tuntun senantiasa. Aamiin.

 

 

 

0 comments:

Post a comment