Skip to main content

Project Ramadan Griya Riset : RAMEN (Ramadan in den Ferien)

Bismillahhirrohmanirrohim...

Di pertengahan Ramadan sekaligus pertengahan Osterferien ini, aku ingin merefleksikan catatan belajar bersama anak-anak di beberapa hari belakangan. Jadi ceritanya kami bertiga (aku dan anak-anak) sedang libur sepekan dalam rangka Osterferien atau libur Paskah. Mayoritas penduduk Austria menganut agama Katolik, sehingga libur sekolah pun kerap didasari oleh hari besar-hari besar agama tersebut. Alhamdulillah Ausbildung yang sedang kujalani ikut libur seperti halnya libur sekolah anak-anak. Jadi kami bertiga bisa sama-sama senggang dan memanfaatkan waktu bersama-sama.

Kalau anak-anak ditanya, "Pengen ngapain aja selama liburan?" Jawaban dasarnya satu, "Main sama ummi." Mau aktivitas di dalam rumah, mau berkegiatan di luar rumah, apa pun itu, pokoknya sama ummi. Jawaban mereka  senada dengan refleksi saya belakangan ini, dimana sejak mengikuti Ausbildung, waktu kebersamaan saya dengan anak-anak memang berkurang drastis. Padahal untuk kelekatan anak dan orangtua, di samping kualitas, mereka juga butuh kuantitas. Meskipun tak dipungkiri juga saat dulu saya masih berada di rumah secara fulltime, mungkin banyak kesempatan yang berlalu begitu saja. Hadir namun tidak membersamai, fisik ada tapi pikiran memikirkan hal lainnya sehingga kebersamaan pun kurang optimal. Puk...puk...gapapa, namanya juga proses. Dijadikan bahan evaluasi boleh, disesali jangan. Nah, momen liburan ini ingin saya optimalkan untuk meningkatkan kuantitas sekaligus kualitas bonding dengan mereka. Sip, bungkus! Pertanyaan yang muncul berikutnya di pikiran, "Jadi, mau ngapain?"

Pertama, menyusun jadwal kegiatan. Ada termin apa saja yang kami miliki di pekan ini? Tempat-tempat mana saja yang ingin sekali kami kunjungi? Kegiatan apa saja yang anak-anak ingin lakukan? Siapa saja orang yang ingin kami temui atau ajak main bersama? Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi umpan pancingan bagi kami dalam menyusun jadwal kegiatan. Kemudian catatan susunan jadwal tersebut aku sampaikan pada suami dan anak-anak untuk diketahui dan dilengkapi bersama.

Kedua, melakukan BRP (Briefing and Role Playing) - meminjam istilah bu Okina di Enlightening Parenting pada anak-anak. Untuk kegiatan yang dilakukan bersama dengan pihak lain, BRP akan membantu kita mentransfer gambaran skenario rangkaian kegiatan yang akan dijalani, sehingga anak tidak terlalu terkaget-kaget dan situasi bisa lebih kondusif. Terutama di kegiatan yang bersifat agak serius seperti forum pengajian di masjid.

Gambar 1. RAMEN, nama salah satu project Ramadan ini

Untuk memudahkan rencana ini untuk diingat bersama, maka kami menjadikan ini sebagai sebuah project keluarga di bulan Ramadan, berbatas waktu dari 10 hingga 19 April 2022 saja. Project ini kami beri tajuk RAMEN yang merupakan singkatan dari Ramadan in den Ferien. Manusia adalah homo ludens, makhluk yang suka bermain. Di sisi lain, salah satu misi project ini juga belajar pengetahuan Islam dengan menyenangkan, di sela-sela aktivitas bermain. Muncul ide spontan untuk menyelipkan games tebak-tebakan di tengah kegiatan outdoor untuk dikerjakan oleh anak-anak.

Sekarang sudah hari Kamis, sudah ada beberapa kegiatan yan telah kami jalankan bersama. Apa saja?

Mengikuti acara tadarus Al Qur‘an di Masjid As-Salam Wapena

Gambar 2. Anak-anak saat berada di masjid

Setiap Selasa Wapena mengadakan acara tadarus ibu-ibu. Selama ini belum bisa ikut, karena bentrok dengan jadwal Ausbildung. Sekarang kesempatan itu datang, di bulan Ramadan lagi. Maka kami berangkat ke masjid bertiga. Peserta tadarus mayoritas ibu-ibu yang berusia empat puluh tahun ke atas, sehingga ini juga merupakan kesempatan anak-anak untuk belajar adab terhadap orangtua dan adab berada di masjid. Masjid ini merupakan masjid yang gedungnya baru saja dibeli oleh Wapena sehingga kini masjid Indonesia sudah menempati ruangan dengan kepemilikan sendiri, bukan lagi menyewa seperti sebelumnya. Selama sesi tadarus, si sulung menyimak dengan Al Qur‘an yang dipegangnya sedangkan adik membaca Iqro‘ dengan disimak sesekali oleh bu Nia. Sebagian waktu juga mereka gunakan dengan bermain berdua.

Tadabbur alam di Stadtpark

Gambar 3. Di depan kolam Stadtpark

Sepulang dari masjid, giliran anak-anak yang dipenuhi kebutuhannya untuk didampingi. Maka kami mampir di taman Stadtpark. Bermain di pinggir kolam, membuat perahu-perahuan sembari menikmati pemandangan alam dan burung-burung dara yang beterbangan. Cuaca sore yang cukup hangat membuat taman cukup penuh. Banyak orang yang bersantai bersama dengan mengobrol, bermain bola maupun menikmati segelas kopi. Nah, melihat orang yang asyik makan dan minum, menghirup harum semerbak aroma kopi, menghadirkan tantangan bagi anak-anak yang sedang berlatih berpuasa juga. Membuat mereka belajar makin menahan diri dan bersabar.  

Main bareng di Blumengärten Hirschstetten

Gambar 4. Kelinci, salah satu dari aneka hewan yang bisa dijumpai di Blumengärten Hirschstetten

Ini adalah pertama kalinya kami berkunjung ke taman ini. Jaraknya yang jauh dari rumah membuat kami kerap menunda rencana berkunjung ke taman ini. Alhamdulillah kali ini berhasil tereksekusi. Berangkat bersama teman yang suka dan rutin menjelajah taman di Wina, membuat perjalanan panjang tak terasa membosankan. Di taman ini anak-anak menikmati mini zoo dan bermain di Spielplatz. Ada kucing hutan, kura-kura, ayam, kelinci, domba, dan kambing yang bisa dilihat anak-anak dan cukup membuat mereka senang. Mereka juga bermain pasir, juga mengasah motorik kasar di trampolin dan tiang gelantung. Agar tetap lancar berpuasa, kami memilih strategi untuk mengambil jeda saat bermain sehingga tidak terlampau capek dan menjadi haus dan lapar. Si sulung berhasil melampaui tantangan itu sedangkan adik berbuka dengan air dan donat. Hehe.

Kegiatan masih berlanjut, semoga berjalan lancar dan senantiasa dalam naungan rida Allah. Aamiin.

 

 

 

Comments

Popular posts from this blog

Praktik Cooking Class : Bubur Sumsum Lembut

Apa yang pertama kali terbayang saat melihat bubur sumsum? Jika pertanyaan itu menghampiri saya, saya akan menjawab “kondisi sakit”. Saat sakit, biasanya nafsu makan kita berkurang, susah menelan dan lidah terasa pahit. Tak heran jika makanan ini seringkali menjadi asupan bagi orang sakit. Teksturnya yang lembut dan cita rasa optimal selagi hangat tentu memudahkan pemenuhan kebutuhan energi saat kondisi tubuh kurang prima. Saat sehatpun, mengonsumsi bubur ini terasa nikmat, apalagi jika di luar sedang diguyur hujan dan cuaca dingin menyelimuti. Dikutip dari Wikipedia , bubur sumsum adalah sejenis makanan berupa bubur berwarna putih yang dilengkapi dengan kuah air gula merah. Mengapa dinamakan bubur sumsum? Katanya, dinamakan demikian karena penampakannya yang putih menyerupai warna bagian luar sumsum tulang. Bahan utama bubur ini adalah tepung beras.  Tentu tepung beras dengan kualitas baik. Bagaimana kriterianya? Tentu mengikuti SNI, berikut informasi detilnya : N

Menulis Cerita Anak : Pengenalan Anggota Tubuh

CERITA TENTANG PENGENALAN ANGGOTA TUBUH Udara hangat, suara burung berkicau dan air bergemericik, menemani sang mentari menyingsing dari arah timur. “Assalamu’alaykum warahmatullah wabarakatuh…. Selamat pagi anak-anak… Bagaimana kabar hari ini?” ibu guru membuka ruang kelas batita dengan sapaan penuh semangat. Anak-anakpun menjawab dengan antusias, bahkan mereka berlomba-lomba mengeraskan suara, “Wa’alaykumsalam warahmatullah wabarakatuh… Selamat pagi ibu guru… Alhamdulillah….Luar biasa…Allahu Akbar!” Jawaban sapaan berlogat cedal khas anak-anak membahana di seluruh isi ruangan. Ibu guru tersenyum lebar. (Coba, siapa yang bisa peragakan, bagaimana senyum lebar itu?). Jawaban nyaring anak-anak tadi tak ubahnya pasokan energi yang membuat semangatnya menggebu sehari penuh. Pagi ini sang ibu guru akan mengenalkan pada anak-anak mengenai anggota tubuh. Sengaja beliau datang dengan tangan hampa. Tanpa buku, tanpa alat peraga. Rupanya beliau ingin tahu seberapa jauh anak-

Meneladani Visi dan Misi Keluarga Nabi Ibrahim bersama Ustadz Adriano Rusfi

Bagi keluarga kami, salah satu yang membuat betah tinggal di Bandung adalah fasilitas belajar ilmu parenting yang variatif dan ekonomis. Disinilah kami dipertemukan dengan komunitas belajar ilmu pendidikan anak, ragam acara peningkatan kualitas diri dan aneka playdate anak yang menyenangkan dan ramah kantong. Bahkan banyak kegiatan yang bisa diikuti tanpa dipungut biaya, cukup berbekal semangat belajar dan kemauan memperbaiki diri. Nah, di weekend  menjelang Idul Adha kemarin, kami berkesempatan menimba ilmu pendidikan berbasis keluarga dari Ustadz Adriano Rusfi di acara Kopdar Bulanan HebAT ( Home Education based on Akhlaq and Talents) Bandung. HebAT merupakan sebuah komunitas belajar berbasis grup WhatsApp yang mendampingi para orangtua menjalankan FbE (Fitrah based Education) dan CbE (Community based Education) dalam pendidikan anak-anaknya. Tak hanya kopdar bulanan, komunitas ini juga rutin mengadakan beragam aktivitas menarik untuk memfasilitasi kebutuhan belajar anak dan