Skip to main content

Catatan Buka Bersama Kedua : Tentang Masjid As-Salam Wapena dan Kisah yang Menyertainya

Alhamdulillah hari ini bisa merasakan kembali hangatnya buka bersama di masjid As-Salam WAPENA. Spesial hari ini, acaranya cukup unik, karena tidak ada narasumber khusus, melainkan peserta bergantian membagikan kesan Ramadan di Austria. Topik ini berjalan cukup interaktif sehingga hangatnya kebersamaan di masjid pun semakin terasa.

Gambar 1. Suasana buka bersama

Buka bersama edisi terakhir ini pun lebih ramai dari biasanya. Panitia mengumumkan bahwa ada sekitar 75 jamaah yang akan hadir. Dan benar saja, menjelang waktu berbuka masjid sudah penuh oleh peserta. Situasi ini membawaku ke memori Ramadan 2019 silam. Saat buka bersama -di masjid lama yang masih mengontrak- masih berlangsung rutin karena belum ada pandemi. Hangat, ramai, tersedia aneka makanan yang lezat pula. Suasananya benar-benar mengobati rasa rindu dengan tanah air. Dan kali ini, suasan itu hadir kembali setelah sekian lama.

Menyimak perjalanan Wapena dari tahun ke tahun oleh para sesepuh, membuat hati ini bergetar. Terasa sekali jika di rantau, ada medan dakwah yang sedang diperjuangkan bersama, dalam bentuk yang berbeda. Bu Dewi sebagai sesepuh Wapena yang paling sepuh, menceritakan awal-awal perjuangan Wapena. Dimana saat itu jika kedatangan ustadz, para ustadz menginap dari rumah ke rumah warga, secara bergantian, karena keterbatasan dana komunitas saat itu.

Pak Acha pun mengisahkan bahwa di balik keberhasilan Wapena memiliki masjid, ada perjuangan dan doa panjang yang terlantun. Bahwa tak setiap komunitas muslim memiliki masjid sendiri, sekali pun secara keuangan lebih stabil dibandingkan Wapena. Bahwa tak setiap komunitas muslim Indonesia bisa berkumpul dan berkegiatan di masjid. Kondisi-kondisi itu perlu senantiasa disyukuri, juga dioptimalkan dengan menghidupkan masjid bersama-sama.

Latar belakang warga pun amat beragam. Ada yang berstatus sebagai mahasiswa dan keluarga mahasiswa, ada yang sebagai pekerja dan keluarga pekerja, ada yang menikah dengan orang lokal sini dan lain sebagainya. Karenanya banyak kondisi dimana mereka ataupun keluarga mereka merupakan seorang mualaf. Dimana komunitas muslim pun memiliki peranan sebagai lingkungan kondusif yang membimbing dan memfasilitasi untuk belajar islam. Dan situasi-situasi seperti ini amat membuka pikiranku dan memperluas wawasanku. Mungkin jika tak merantau ke bumi Eropa dan merasakan secara langsung, pikiranku tak akan menjangkau sampai ke sana, ke aneka keragaman tersebut.

Aku juga diminta panitia untuk turut berbagi. Seputar perjalanan menjalankan Ramadan bersama anak-anak. Namun saat giliranku tiba, ketimbang berbicara seputar project Ramadan yang kami buat seperti RAMEN (Ramadan in Ferien), Kejutan Berkala untuk Anak, atau Kuis Cepat Tepat yang kami jalankan, aku justru lebih tertarik untuk menanggapi penuturan pak Acha seputar urgensi masjid sebagai lingkungan yang inklusif. Ya, aku sepakat sekali dengan hal tersebut. Perjalananku mengikuti Lehrgang seputar inklusi dan Ausbildung saat ini membuatku menyadari bahwa kita sebagai muslim yang merupakan minoritas di sini adalah cerminan Islam bagi sekeliling kita yang nonmuslim. Jadi bagi mereka, Islam itu apa dan muslim itu siapa, ya kita jawabannya. Artinya, kita memiliki tugas untuk mengejawantahkan Islam sebagai rahmatan lil‘alamiin dalam sebuah praktik nyata. Dan pemahaman itu pun secara perlahan juga perlu ditransfer ke anak-anak karena mereka lah pemegang tongkat estafet pembangun peradaban masa depan.

Gambar 2. Sebagian kudapan yang dibagikan

Usai sesi berbagi tersebut, panitia membagikan kudapan dan minuman. Jika di masjid lama dulu, makanan disiapkan di ruangan kecil yang juga merupakan ruangan TPA di hari biasanya, kini di masjid baru sudah ada ruangan dapur, tempat makanan disiapkan. Dan yang paling membuatku tercengang adalah saat bertemu dengan anak-anak, para santri TPA. Selama pandemi, kami jarang sekali bertemu. Dan kini, mereka sudah tumbuh besar, menjulang tinggi. Banyak yang sudah beranjak baligh, bukan lagi anak-anak. MasyaAllah tabarakallah...

Masjid akan terus berjalan dengan kegiatan-kegiatan penuh manfaat, akan terus diisi oleh orang-orang yang mengejar amal bekal akhirat. Pertanyaannya, mau berkiprah apa dan dimana aku ini? Sebuah renungan pribadi di penghujung Ramadan tahun ini. Semoga Allah menerima amal kita semua dan mempertemukan kita di Ramadan berikutnya. Aamiin...aamiin...aamiin ya Robbal‘alamiin...

 

 

Comments

Popular posts from this blog

Praktik Cooking Class : Bubur Sumsum Lembut

Apa yang pertama kali terbayang saat melihat bubur sumsum? Jika pertanyaan itu menghampiri saya, saya akan menjawab “kondisi sakit”. Saat sakit, biasanya nafsu makan kita berkurang, susah menelan dan lidah terasa pahit. Tak heran jika makanan ini seringkali menjadi asupan bagi orang sakit. Teksturnya yang lembut dan cita rasa optimal selagi hangat tentu memudahkan pemenuhan kebutuhan energi saat kondisi tubuh kurang prima. Saat sehatpun, mengonsumsi bubur ini terasa nikmat, apalagi jika di luar sedang diguyur hujan dan cuaca dingin menyelimuti. Dikutip dari Wikipedia , bubur sumsum adalah sejenis makanan berupa bubur berwarna putih yang dilengkapi dengan kuah air gula merah. Mengapa dinamakan bubur sumsum? Katanya, dinamakan demikian karena penampakannya yang putih menyerupai warna bagian luar sumsum tulang. Bahan utama bubur ini adalah tepung beras.  Tentu tepung beras dengan kualitas baik. Bagaimana kriterianya? Tentu mengikuti SNI, berikut informasi detilnya : N

Menulis Cerita Anak : Pengenalan Anggota Tubuh

CERITA TENTANG PENGENALAN ANGGOTA TUBUH Udara hangat, suara burung berkicau dan air bergemericik, menemani sang mentari menyingsing dari arah timur. “Assalamu’alaykum warahmatullah wabarakatuh…. Selamat pagi anak-anak… Bagaimana kabar hari ini?” ibu guru membuka ruang kelas batita dengan sapaan penuh semangat. Anak-anakpun menjawab dengan antusias, bahkan mereka berlomba-lomba mengeraskan suara, “Wa’alaykumsalam warahmatullah wabarakatuh… Selamat pagi ibu guru… Alhamdulillah….Luar biasa…Allahu Akbar!” Jawaban sapaan berlogat cedal khas anak-anak membahana di seluruh isi ruangan. Ibu guru tersenyum lebar. (Coba, siapa yang bisa peragakan, bagaimana senyum lebar itu?). Jawaban nyaring anak-anak tadi tak ubahnya pasokan energi yang membuat semangatnya menggebu sehari penuh. Pagi ini sang ibu guru akan mengenalkan pada anak-anak mengenai anggota tubuh. Sengaja beliau datang dengan tangan hampa. Tanpa buku, tanpa alat peraga. Rupanya beliau ingin tahu seberapa jauh anak-

Meneladani Visi dan Misi Keluarga Nabi Ibrahim bersama Ustadz Adriano Rusfi

Bagi keluarga kami, salah satu yang membuat betah tinggal di Bandung adalah fasilitas belajar ilmu parenting yang variatif dan ekonomis. Disinilah kami dipertemukan dengan komunitas belajar ilmu pendidikan anak, ragam acara peningkatan kualitas diri dan aneka playdate anak yang menyenangkan dan ramah kantong. Bahkan banyak kegiatan yang bisa diikuti tanpa dipungut biaya, cukup berbekal semangat belajar dan kemauan memperbaiki diri. Nah, di weekend  menjelang Idul Adha kemarin, kami berkesempatan menimba ilmu pendidikan berbasis keluarga dari Ustadz Adriano Rusfi di acara Kopdar Bulanan HebAT ( Home Education based on Akhlaq and Talents) Bandung. HebAT merupakan sebuah komunitas belajar berbasis grup WhatsApp yang mendampingi para orangtua menjalankan FbE (Fitrah based Education) dan CbE (Community based Education) dalam pendidikan anak-anaknya. Tak hanya kopdar bulanan, komunitas ini juga rutin mengadakan beragam aktivitas menarik untuk memfasilitasi kebutuhan belajar anak dan