Skip to main content

Catatan Kontemplasi setelah Puasa Facebook dan Instagram selama Sepekan

 Sejak malam satu Ramadan lalu, tepatnya tanggal 1 April 2022, saya memutuskan untuk mengambil jeda untuk tidak terkoneksi dengan media sosial Instagram dan Facebook selama bulan Ramadan ini.

 


Mengapa? Apa alasan yang mendasarinya?

Karena saya ingin mengurangi distraksi. Ya, ada banyak informasi yang berlalu-lalang dalam kehidupan. Salah satu konsekuensi memiliki bakat input dan relator yang tinggi, adalah derasnya informasi yang masuk dari segala arah. Beragam informasi muncul dari lingkungan, baik lingkaran terdekat maupun jauh sekalipun. Ada yang datang dari dunia luring maupun dunia daring. Nah, mengambil jeda dengan off dari media sosial dalam kurun waktu tertentu adalah cara saya memilah informasi dan mengurangi distraksi di bulan Ramadan ini. Saya merasa, banyak informasi-informasi di luar sana yang masuk ke pikiran saya namun sebenarnya tidak perlu saya ketahui. Memang tidak mudah, bakat input yang ada dalam diri saya pun meronta. Tapi saya yakin ini merupakan langkah yang tepat untuk fokus pada beberapa hal yang saat ini menjadi prioritas dan target.

Bagaimana keberjalanannya?

Di hari pertama dan kedua, saat ada waktu senggang, semisal di perjalanan menuju atau sepulang dari Ausbildung (pendidikan yang sedang saya tempuh saat ini), saat sendirian menunggu sarana transportasi, seringkali jemari tangan refleks membuka gawai dan memencet aplikasi media sosial, sekadar mencari informasi akan sesuatu hal. Nah, untuk mengurangi otomatisasi ini dan memperbaiki kesadaran diri, saya mengaktifkan layanan yang tersedia di gawai yang saya pakai (Xiaomi). Klik pengaturan, dan muncullah opsi layanan tersebut.

 


Di layanan ini, kita bisa menyetel mode fokus. Setelah mode fokus disetel, kita bisa memilih aplikasi-aplikasi apa saja yang menurut kita mengganggu fokus kita dan ingin kita non aktifkan sementara waktu. Jika ingin membuka aplikasi tersebut sejenakpun boleh, namun berbatas waktu seperti lima atau sepuluh menit, lalu kemudian aplikasi tersebut akan tertutup otomatis.

 


Aplikasi yang sedang kita non aktifkan sementara waktu, akan berwarna abu-abu seperti aplikasi Instagram dan Facebook yang tertera di gambar di atas. Visualisasi yang demikian membuat kesadaran saya lebih terjaga, agar ingat bahwa saya sedang off dua aplikasi tersebut. Jika jemari masih auto klik, maka akan muncul peringatan seperti di bawah ini. Berasa dibisikin, "Oy, kamu lagi ada program off dari aplikasi ini sebulan loh. Serius nih mau digagalin sekarang?". Huehehehe. Cukup membantu juga, bukan?

 


Terlewat sesuatukah?

Selama Ramadan ini saya masih mengikuti beberapa kelas belajar, namun saya memilih yang koordinasinya dilakukan via WhatsApp dengan mode lambat sehingga tetap bisa saya ikuti dengan jadwal online saya saat iniTentu saja ada banyak informasi yang saya lewatkan, namun saya memang memilih demikian. Bahkan kemarin saat di grup WhatsApp salah satu komunitas yang saya aktif di dalamnya, terdapat pengumuman bahwa ada salah satu rekan yang mencalonkan diri sebagai pengurus pusat dan kami diajak untuk mendukungnya bersama-sama, saya tidak bisa mengakses informasi lengkapnya karena informasi tersebut didapatkan melalui grup Facebook. Kemudian saat saya mengungkapkan keterbatasan saya yang sedang off media sosial, salah satu teman berbaik hati membawa informasi tersebut pada saya sehingga saya tetap bisa memberi dukungan via google form. Alhamdulillah.

Bagaimana rasanya?

Ada rasa gemas yang muncul, saat ada suatu hal yang saya cari namun kemudian perlu akses ke media sosial untuk mendapatkannya. Misalnya saat saya mencari Al Qur‘an ukuran B5 untuk si sulung yang akan dipakai di Ramadan ini dan saya ingin melihat stok sebuah toko buku islam yang hanya melayani via online via akun instagramnya. Namun keterbatasan kondisi ini membuat saya memutar otak dan mencari alternatif cara, hingga kemudian saya menelusuri lamannya dan menghubungi toko tersebut melalui e-mail yang tertera di lama tersebut. Alhamdulillah kami terhubung via e-mail. Al Qur‘an berukuran B5 memang tidak tersedia di katalog laman mereka, namun mereka bersedia mencarikan stoknya, menemukannya, dan mengirimkan beberapa foto tampilannya. Setelah saya menyetujui, barang dikirim dan kemarin sudah saya terima di rumah.

Ada sensasi berbeda, karena informasi yang masuk ke otak saya lebih sedikit dari biasanya. Sehingga terasa lebih longgar. Monkey mind bisa jauh lebih terkendali. Ada banyak informasi penting, namun tidak semua informasi penting itu perlu saya ketahui. Cukup informasi penting yang berhubungan dengan saya dan lingkungan terdekat saya, yang masih dalam kontrol kendali diri saya dimana saya bisa melakukan sesuatu yang berdampak untuk hal tersebut. Saya mulai mempretheli satu per satu tugas-tugas yang selama ini terbengkalai, PR-PR yang selama ini tertunda. Saya bertekad menyelesaikannya satu demi satu di bulan Ramadan ini.

Saya ingin sejenak menepi dari hiruk-pikuk keramaian dan mengejar ketertinggalan diri saya dalam berproses atas hal-hal yang menjadi prioritas utama saat ini. Karena kalau gemrungsung, saya mudah tersulut emosi. Dan itu tidak baik untuk saya, juga lingkaran terdekat saya. Suami dan anak-anak yang kecipratan dampaknya. Ramadan menjadi momen perbaikan diri bagi saya, menata kembali yang berantakan karena ritme baru. Saya ingin menjalankan ibadah di bulan Ramadan, dengan sebaik-baik ikhtiar, seperti harapan semua muslim di seluruh  penjuru dunia. Semoga Allah kabulkan doa kita ya teman-teman semua. :)


Wina, 8 April 2022

 

 

 

Comments

Popular posts from this blog

Praktik Cooking Class : Bubur Sumsum Lembut

Apa yang pertama kali terbayang saat melihat bubur sumsum? Jika pertanyaan itu menghampiri saya, saya akan menjawab “kondisi sakit”. Saat sakit, biasanya nafsu makan kita berkurang, susah menelan dan lidah terasa pahit. Tak heran jika makanan ini seringkali menjadi asupan bagi orang sakit. Teksturnya yang lembut dan cita rasa optimal selagi hangat tentu memudahkan pemenuhan kebutuhan energi saat kondisi tubuh kurang prima. Saat sehatpun, mengonsumsi bubur ini terasa nikmat, apalagi jika di luar sedang diguyur hujan dan cuaca dingin menyelimuti. Dikutip dari Wikipedia , bubur sumsum adalah sejenis makanan berupa bubur berwarna putih yang dilengkapi dengan kuah air gula merah. Mengapa dinamakan bubur sumsum? Katanya, dinamakan demikian karena penampakannya yang putih menyerupai warna bagian luar sumsum tulang. Bahan utama bubur ini adalah tepung beras.  Tentu tepung beras dengan kualitas baik. Bagaimana kriterianya? Tentu mengikuti SNI, berikut informasi detilnya : N

Menulis Cerita Anak : Pengenalan Anggota Tubuh

CERITA TENTANG PENGENALAN ANGGOTA TUBUH Udara hangat, suara burung berkicau dan air bergemericik, menemani sang mentari menyingsing dari arah timur. “Assalamu’alaykum warahmatullah wabarakatuh…. Selamat pagi anak-anak… Bagaimana kabar hari ini?” ibu guru membuka ruang kelas batita dengan sapaan penuh semangat. Anak-anakpun menjawab dengan antusias, bahkan mereka berlomba-lomba mengeraskan suara, “Wa’alaykumsalam warahmatullah wabarakatuh… Selamat pagi ibu guru… Alhamdulillah….Luar biasa…Allahu Akbar!” Jawaban sapaan berlogat cedal khas anak-anak membahana di seluruh isi ruangan. Ibu guru tersenyum lebar. (Coba, siapa yang bisa peragakan, bagaimana senyum lebar itu?). Jawaban nyaring anak-anak tadi tak ubahnya pasokan energi yang membuat semangatnya menggebu sehari penuh. Pagi ini sang ibu guru akan mengenalkan pada anak-anak mengenai anggota tubuh. Sengaja beliau datang dengan tangan hampa. Tanpa buku, tanpa alat peraga. Rupanya beliau ingin tahu seberapa jauh anak-

Meneladani Visi dan Misi Keluarga Nabi Ibrahim bersama Ustadz Adriano Rusfi

Bagi keluarga kami, salah satu yang membuat betah tinggal di Bandung adalah fasilitas belajar ilmu parenting yang variatif dan ekonomis. Disinilah kami dipertemukan dengan komunitas belajar ilmu pendidikan anak, ragam acara peningkatan kualitas diri dan aneka playdate anak yang menyenangkan dan ramah kantong. Bahkan banyak kegiatan yang bisa diikuti tanpa dipungut biaya, cukup berbekal semangat belajar dan kemauan memperbaiki diri. Nah, di weekend  menjelang Idul Adha kemarin, kami berkesempatan menimba ilmu pendidikan berbasis keluarga dari Ustadz Adriano Rusfi di acara Kopdar Bulanan HebAT ( Home Education based on Akhlaq and Talents) Bandung. HebAT merupakan sebuah komunitas belajar berbasis grup WhatsApp yang mendampingi para orangtua menjalankan FbE (Fitrah based Education) dan CbE (Community based Education) dalam pendidikan anak-anaknya. Tak hanya kopdar bulanan, komunitas ini juga rutin mengadakan beragam aktivitas menarik untuk memfasilitasi kebutuhan belajar anak dan