Skip to main content

Ketika Jadwal Belajar di Kelas Mendadak Berubah


Pekan ini qodarullah ternyata kami kembali praktik memasak. Meski di pertemuan pekan lalu disampaikan bahwa Kamis pekan ini kami akan melanjutkan pembelajaran teori seputar daging, tapi ternyata ada rencana kejutan dari pengajar. Kali ini kami diminta untuk memasak dengan tema
Fingerfood. Jadwal belajar mengenai memasak (baik itu berupa teori maupun praktik) sebenarnya setiap hari Kamis. Namun di hari Rabu, di tengah-tengah mengkerutnya kening kami di siang hari akibat membahas soal PR Buchhaltung seputar Lohn, pengajar kelas memasak meminta waktu pasca makan siang pada pengajar kelas akuntansi untuk masuk ke kelas kami. Beliau berencana membahas rencana memasak di hari Kamis di Rabu siang tersebut, mengajak kami menggali ide menu apa saja yang akan kami eksekusi di keesokan hari beserta belanja kebutuhan memasak di supermarket terdekat. Dengan demikian, di hari Kamis kami tinggal memasaknya saja.

Antara bingung dan senang, kami menerima berita itu. Bingung karena kami tidak membawa buku memasak sama sekali karena memang di luar jadwal. Senang karena penatnya pikiran dan lelahnya jemari menari di tombol kalkulator bisa segera berakhir. Alhamdulillah, hihihi. Di jam makan siang kami memilih untuk keluar dari gedung training, menghirup udara segar sekalipun cuaca hari itu cukup terik. Mesin kopi yang biasa tersedia di gedung training, kesemuanya rusak. Sedangkan kami merasa perlu menyeruput kopi untuk menghilangkan kantuk siang itu. Maka mampir ke supermarket sebelah gedung sekadar membeli kopi dan roti pengganjal perut pun kami lakukan.

Usai istirahat, pengajar kelas memasak pun hadir. Beliau mengumumkan bahwa keesokan hari adalah hari Abschlussfest untuk peserta kelas memasak angkatan di atas kami. Dari hasil diskusi dan obrolan bersama, kami akan menyiapkan menu sebagai berikut :

1. Burger mini

2. Arancini atau bola nasi

3. Muffin buah

4. Salmon Wraps

5. Teh Buah

Karakteristik dari makanan Fingerfood adalah simpel, praktis, bisa dilahap dalam satu atau dua kali suapan. Serba mini nih ceritanya. Setelah melakukan perencanaan dan berbelanja kebutuhan, kami pun pulang. Sepulang dari sekolah, di grup WhatsApp ketua kelas menawarkan pembagian kelompok dengan bertanya, „Siapa mau memasak apa?“ Setelah menimbang dan menilik kembali, aku mengajukan diri untuk membuat Salmon Wraps, karena secara pribadi aku belum pernah membuat Tortilla sendiri. Nah, ini kesempatan untuk belajar membuat Tortilla nih. Apalagi si sulung kerap memilih Tortilla untuk bekal camilan di sekolah.

Hari Kamis pun tiba. Aku bersama satu orang teman bertanggungjawab untuk menyiapkan menu Salmon Wraps. Teman sekelompokku ini berasal dari Cina namun sudah tiga puluh tahun tinggal di Austria. Tangan lentiknya cekatan membuat aneka Teig atau adonan. Ia sudah pernah mengajarkanku membuat adonan kulit Gyoza sekaligus membentuknya dengan cantik dan rapi. Kami senang bisa bekerja bersama kembali.

Perubahan jadwal belajar tentu membuat kurang nyaman, namun karena kondisi mendadak atau spontan, perubahan itu bisa saja terjadi. Perlu adanya fleksibilitas dari sisi pengajar maupun peserta didik. Jika perubahan jadwal memang harus terjadi, dari sisi pengajar perlu menyiapkan alur belajar yang fleksibel, yang bisa tetap diikuti peserta meskipun tidak membawa buku materi ajar. Sedangkan dari sisi peserta, perlu berdamai dengan kekurangnyamanan dan berkreasi, bagaimana agar bisa tetap mengikuti alur belajar dengan keterbatasan media yang dimiliki. Bisa dengan membuat buku materi ajar versi digital melalui website Digischool, maupun mencari resep di situs-situs yang kredibel.

Hmm... membuat kulit Tortilla ternyata gampang-gampang susah. Aku juga berharap di sesi Abschlussfest nanti bisa banyak mendapatkan input informasi dari teman-teman yang sudah berhasil menuntaskan ujian. Meski pun kata salah satu pengajar, hanya ada empat atau lima orang peserta yang berhasil lulus langsung dalam rangkaian tes tersebut. Sedangkan lainnya, belum lulus atau perlu mengulang di salah satu bagian.  

Comments

Popular posts from this blog

Praktik Cooking Class : Bubur Sumsum Lembut

Apa yang pertama kali terbayang saat melihat bubur sumsum? Jika pertanyaan itu menghampiri saya, saya akan menjawab “kondisi sakit”. Saat sakit, biasanya nafsu makan kita berkurang, susah menelan dan lidah terasa pahit. Tak heran jika makanan ini seringkali menjadi asupan bagi orang sakit. Teksturnya yang lembut dan cita rasa optimal selagi hangat tentu memudahkan pemenuhan kebutuhan energi saat kondisi tubuh kurang prima. Saat sehatpun, mengonsumsi bubur ini terasa nikmat, apalagi jika di luar sedang diguyur hujan dan cuaca dingin menyelimuti. Dikutip dari Wikipedia , bubur sumsum adalah sejenis makanan berupa bubur berwarna putih yang dilengkapi dengan kuah air gula merah. Mengapa dinamakan bubur sumsum? Katanya, dinamakan demikian karena penampakannya yang putih menyerupai warna bagian luar sumsum tulang. Bahan utama bubur ini adalah tepung beras.  Tentu tepung beras dengan kualitas baik. Bagaimana kriterianya? Tentu mengikuti SNI, berikut informasi detilnya : N

Menulis Cerita Anak : Pengenalan Anggota Tubuh

CERITA TENTANG PENGENALAN ANGGOTA TUBUH Udara hangat, suara burung berkicau dan air bergemericik, menemani sang mentari menyingsing dari arah timur. “Assalamu’alaykum warahmatullah wabarakatuh…. Selamat pagi anak-anak… Bagaimana kabar hari ini?” ibu guru membuka ruang kelas batita dengan sapaan penuh semangat. Anak-anakpun menjawab dengan antusias, bahkan mereka berlomba-lomba mengeraskan suara, “Wa’alaykumsalam warahmatullah wabarakatuh… Selamat pagi ibu guru… Alhamdulillah….Luar biasa…Allahu Akbar!” Jawaban sapaan berlogat cedal khas anak-anak membahana di seluruh isi ruangan. Ibu guru tersenyum lebar. (Coba, siapa yang bisa peragakan, bagaimana senyum lebar itu?). Jawaban nyaring anak-anak tadi tak ubahnya pasokan energi yang membuat semangatnya menggebu sehari penuh. Pagi ini sang ibu guru akan mengenalkan pada anak-anak mengenai anggota tubuh. Sengaja beliau datang dengan tangan hampa. Tanpa buku, tanpa alat peraga. Rupanya beliau ingin tahu seberapa jauh anak-

Meneladani Visi dan Misi Keluarga Nabi Ibrahim bersama Ustadz Adriano Rusfi

Bagi keluarga kami, salah satu yang membuat betah tinggal di Bandung adalah fasilitas belajar ilmu parenting yang variatif dan ekonomis. Disinilah kami dipertemukan dengan komunitas belajar ilmu pendidikan anak, ragam acara peningkatan kualitas diri dan aneka playdate anak yang menyenangkan dan ramah kantong. Bahkan banyak kegiatan yang bisa diikuti tanpa dipungut biaya, cukup berbekal semangat belajar dan kemauan memperbaiki diri. Nah, di weekend  menjelang Idul Adha kemarin, kami berkesempatan menimba ilmu pendidikan berbasis keluarga dari Ustadz Adriano Rusfi di acara Kopdar Bulanan HebAT ( Home Education based on Akhlaq and Talents) Bandung. HebAT merupakan sebuah komunitas belajar berbasis grup WhatsApp yang mendampingi para orangtua menjalankan FbE (Fitrah based Education) dan CbE (Community based Education) dalam pendidikan anak-anaknya. Tak hanya kopdar bulanan, komunitas ini juga rutin mengadakan beragam aktivitas menarik untuk memfasilitasi kebutuhan belajar anak dan