Skip to main content

Menerapkan First Things First dalam Beraktivitas

Dalam kehidupan, tentu masing-masing dari kita memiliki peran yang beragam, juga aktivitas yang beraneka rupa. Pernahkah teman-teman merasa bahwa waktu dua puluh empat jam sehari itu terasa kurang? Saya pernah, bahkan mungkin sering. Seorang pernah menyampaikan, bahwasanya kewajiban yang kita emban memang lebih banyak daripada waktu yang tersedia. Maka, tak heran jika sebagai muslim, kita kerap diingatkan untuk berhati-hati dalam memanfaatkan waktu. Bagaimana agar setiap detik yang Allah pinjamkan ke kita, bisa kita manfaatkan dengan efektif dan efisien.

Beberapa waktu belakangan, saya sedang belajar untuk mengelola waktu dalam kandang waktu pekanan. Saat melakukan evaluasi harian, saya merasa ada beberapa hal yang bisa dijadikan langkah perbaikan terkait manajemen diri dan manajemen waktu untuk diri saya sendiri. Bukankah di balik kesalahan yang terjadi, kita bisa mengambil pelajaran, jika kita mau? Karenanya, saya mencoba berikhtiar mengupayakannya.

Poin pertama, tentukan fokus utama harian. Saat melihat tugas sekolah yang berlembar-lembar, rumah yang berantakan, cucian kotor yang menumpuk, anak yang ingin dibacakan buku atau ditemani mengerjakan soal, bagaimana rasanya? Tentu ingin bisa mengerjakan semua hal, ya mengerjakan tugas, ya membereskan rumah, ya mencuci piring dan baju, ya menemani anak sehingga semuanya bisa beres. Namun apakah angan tersebut realistis untuk ditunaikan dalam waktu yang bersamaan? Alih-alih beres, perasaan yang datang berikutnya justru bingung, kesal, stress hingga burn out.

Karenanya, saya mencoba untuk menentukan fokus utama harian, hal apa yang menjadi prioritas utama untuk diselesaikan di hari tersebut. Seperti ini misalnya : hari Senin dan Selasa saya memiliki jadwal praktikum dari jam 08.00 hingga jam 17.00 CEST. Maka fokus utama harian saya di hari Senin dan Selasa adalah praktikum. Karena praktikum memerlukan energi fisik yang cukup besar, maka di kedua hari tersebut saya skip memikirkan dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga seperti membereskan rumah dan mencuci. Memasak pun cukup menu yang sederhana sehingga menghemat energi diri. Oh iya, Senin sore ada jadwal mengantar anak-anak kursus berenang. Ini diupayakan tetap diselipkan selagi kondisi badan cukup fit.

Kemudian, di hari Rabu dan Kamis adalah jadwal belajar di kelas pada jam 08.00-15.00 CEST. Nah, karena lebih banyak duduk di dalam kelas, maka relatif lebih ringan daripada hari Senin dan Selasa. Durasinya pun lebih singkat. Maka fokus di kedua hari ini adalah Ausbildung dan membersamai anak-anak. Di kedua hari ini saya berkesempatan untuk menjemput sekolah si sulung. Sebenarnya, sedang mengupayakan juga untuk mengulang materi pelajaran yang diberikan oleh pengajar dan mengerjakan tugas sesegera mungkin sehingga ingatan terhadap materi pun rasanya masih fresh.

Hari Jum‘at adalah hari rumah tangga. Waktunya mengerjakan pekerjaan rumah tangga, berbelanja kebutuhan dapur, dan mengunjungi perpustakaan bersama anak-anak. Ya, kami kerap mengikuti program yang diselenggarakan perpustakaan kota untuk anak-anak. Kalaupun sedang tidak ada program, kami juga ke perpustakaan untuk membaca buku. Oh iya, anak laki-laki punya jadwal spesial dengan Abiya, yaitu berangkat ke masjid As-Salam bersama-sama untuk menunaikan salat Jum‘at.

Tiba saatnya akhir pekan! Hari Sabtu, usai mengikuti kelas tahsin daring, biasanya kami gunakan untuk family time. Aktivitasnya bisa bermacam-macam, tapi sesuai kesepakatan bersama. Bisa jalan-jalan ke taman atau piknik sembari membawa bola atau perlengkapan bulu tangkis atau pingpong, janjian dengan teman untuk main bareng, beres-beres rumah bersama (terutama kalau mau ada tamu, nih! haha), bisa telfon-telfonan dengan keluarga di Indonesia atau bahkan tidur siang yang terasa amat mewah. Kami mencoba membangun pola pikir bahwa refreshing tidak melulu pergi ke tempat wisata, sehingga kalau tidak pergi ke sana membuat sempit dada dan pikiran menjadi keruh. Bahkan tidur siang pun merupakan bentuk refreshing yang menyegarkan fisik, hati dan pikiran saat kebutuhan istirahat memang sedang meminta haknya, bukan? Jadi yang jauh lebih penting adalah keterampilan untuk mengidentifikasi kebutuhan diri, baru kemudian bergerak memenuhinya sesuai takaran.

Hari Ahad, biasanya ada jadwal TPA rutin. Entah itu kajian anak muslim via Zoom, TPA kelompok bersama pengajar, atau playdate TPA balita. Jelang sore biasanya kami mengupayakan untuk sudah berada di rumah kembali atau selesai dengan aktivitas publik, sehingga ada waktu jeda untuk bersiap menyambut pekan berikutnya dengan kondisi yang prima.

Nah, dengan menetapkan fokus bidang pekerjaan setiap harinya, saya jadi lebih mudah memakai kacamata kuda saat pikiran ini terdistraksi, juga menempatkan rasa bersalah secukupnya, saat kondisi tak berjalan ideal. Misal, ada kalanya piring kotor menumpuk di wastafel dapur sedangkan badan rasanya sudah amat sangat lelah pasca praktikum di hari Senin atau Selasa. Maka saya mendahulukan istirahat terlebih dahulu, agar fisik dan pikiran kembali segar dan bisa menuntaskan pekerjaan dapur tanpa gemrungsung. Toh memang fokus utama di hari tersebut adalah praktikum.

Karena jadwal luring yang kini relatif jauh lebih padat, salah satu strategi yang saya terapkan adalah juga mengurangi aktivitas daring. Sementara waktu mengurangi aktivitas bermain di playground daring, sekarang fokus dulu di playground luring, minimal hingga selesai Prüfung atau ujian kelulusan. Karena setelah dirasa-rasa, ada banyak hal yang harus saya kejar terkait kelayakan berproses di Ausbildung ini. Mulai dari melancarkan keterampilan berbahasa Jerman baik lisan maupun tulisan, baik mendengarkan maupun berbicara, kemudian giat belajar materi yang didapatkan sekalipun sangat menantang karena full dalam bahasa Jerman, dan mengasah jam terbang praktik sehingga makin terampil memasak makanan yang sehat, enak dan penuh nutrisi. Semoga lulus dengan hasil terbaik dan ilmunya berkah dunia akhirat. Aamiin...

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Comments

Popular posts from this blog

Praktik Cooking Class : Bubur Sumsum Lembut

Apa yang pertama kali terbayang saat melihat bubur sumsum? Jika pertanyaan itu menghampiri saya, saya akan menjawab “kondisi sakit”. Saat sakit, biasanya nafsu makan kita berkurang, susah menelan dan lidah terasa pahit. Tak heran jika makanan ini seringkali menjadi asupan bagi orang sakit. Teksturnya yang lembut dan cita rasa optimal selagi hangat tentu memudahkan pemenuhan kebutuhan energi saat kondisi tubuh kurang prima. Saat sehatpun, mengonsumsi bubur ini terasa nikmat, apalagi jika di luar sedang diguyur hujan dan cuaca dingin menyelimuti. Dikutip dari Wikipedia , bubur sumsum adalah sejenis makanan berupa bubur berwarna putih yang dilengkapi dengan kuah air gula merah. Mengapa dinamakan bubur sumsum? Katanya, dinamakan demikian karena penampakannya yang putih menyerupai warna bagian luar sumsum tulang. Bahan utama bubur ini adalah tepung beras.  Tentu tepung beras dengan kualitas baik. Bagaimana kriterianya? Tentu mengikuti SNI, berikut informasi detilnya : N

Menulis Cerita Anak : Pengenalan Anggota Tubuh

CERITA TENTANG PENGENALAN ANGGOTA TUBUH Udara hangat, suara burung berkicau dan air bergemericik, menemani sang mentari menyingsing dari arah timur. “Assalamu’alaykum warahmatullah wabarakatuh…. Selamat pagi anak-anak… Bagaimana kabar hari ini?” ibu guru membuka ruang kelas batita dengan sapaan penuh semangat. Anak-anakpun menjawab dengan antusias, bahkan mereka berlomba-lomba mengeraskan suara, “Wa’alaykumsalam warahmatullah wabarakatuh… Selamat pagi ibu guru… Alhamdulillah….Luar biasa…Allahu Akbar!” Jawaban sapaan berlogat cedal khas anak-anak membahana di seluruh isi ruangan. Ibu guru tersenyum lebar. (Coba, siapa yang bisa peragakan, bagaimana senyum lebar itu?). Jawaban nyaring anak-anak tadi tak ubahnya pasokan energi yang membuat semangatnya menggebu sehari penuh. Pagi ini sang ibu guru akan mengenalkan pada anak-anak mengenai anggota tubuh. Sengaja beliau datang dengan tangan hampa. Tanpa buku, tanpa alat peraga. Rupanya beliau ingin tahu seberapa jauh anak-

Meneladani Visi dan Misi Keluarga Nabi Ibrahim bersama Ustadz Adriano Rusfi

Bagi keluarga kami, salah satu yang membuat betah tinggal di Bandung adalah fasilitas belajar ilmu parenting yang variatif dan ekonomis. Disinilah kami dipertemukan dengan komunitas belajar ilmu pendidikan anak, ragam acara peningkatan kualitas diri dan aneka playdate anak yang menyenangkan dan ramah kantong. Bahkan banyak kegiatan yang bisa diikuti tanpa dipungut biaya, cukup berbekal semangat belajar dan kemauan memperbaiki diri. Nah, di weekend  menjelang Idul Adha kemarin, kami berkesempatan menimba ilmu pendidikan berbasis keluarga dari Ustadz Adriano Rusfi di acara Kopdar Bulanan HebAT ( Home Education based on Akhlaq and Talents) Bandung. HebAT merupakan sebuah komunitas belajar berbasis grup WhatsApp yang mendampingi para orangtua menjalankan FbE (Fitrah based Education) dan CbE (Community based Education) dalam pendidikan anak-anaknya. Tak hanya kopdar bulanan, komunitas ini juga rutin mengadakan beragam aktivitas menarik untuk memfasilitasi kebutuhan belajar anak dan