Skip to main content

Petik Stroberi di Ladang, Tanpa Harus Keluar Kota Wina

Salah satu aktivitas yang belum pernah kami lakukan selama tinggal di Wina adalah memetik stroberi di ladang. Beberapa waktu lalu sebelum pandemi, seorang teman pernah menceritakan pengalamannya memetik stroberi di ladang, yang lokasinya di luar kota Wina. Maka saat tiba musim stroberi dan kondisi sudah mulai berangsur-angsur membaik, saya kembali teringat alternatif kegiatan tersebut.

Kapan musim stroberi berlangsung?

Biasanya di bulan Mei hingga Juli. Namun untuk kesempatan petik sendiri di ladang, hanya dibuka di bulan Mei hingga pertengahan Juni saja.  

Anak-anak suka buah beri-berian, terutama si sulung. Alhamdulillah jadi ramah kantong, karena buah-buahan tersebut merupakan buah lokal di sini. Yang harganya jauh lebih murah (apalagi pas promo ya :D) dibanding buah tropis seperti mangga, pepaya atau jambu biji. Jadi,

• Mengapa tidak kita coba berkunjung ke ladang stroberi?


Ide ini disambut baik oleh anak-anak. Maka, pertanyaan berikutnya adalah :

• Apakah ada ladang stroberi di kota Wina yang terbuka untuk umum?

 

Pencarian dimulai. Ada beberapa ladang stroberi yang terbuka untuk umum. Rata-rata dari mereka memiliki beberapa lokasi ladang. Pencarian kami mengerucut ke lokasi ladang yang berada di dalam kota Wina agar jaraknya cukup dekat dan bisa diakses dengan moda transportasi lokal. Masing-masing dari mereka memiliki situs web yang memuat informasi tanggal dan jam buka, biaya tiket masuk hingga rute perjalanan menuju ke lokasi. Ternyata selain ladang, mereka juga membuka lapak jualan stroberi di beberapa titik. Lokasi dan rute perjalanannya juga mereka informasikan di situs web. Setelah membaca informasi demi informasi, maka arah tujuan pun semakin spesifik, antara ke Bio Erdbeerfeld atau Biohof Radl. 

Bio Erdbeerfeld memiliki dua lokasi ladang, yaitu di Wina dan di Haslau. Di situs web terus diperbarui juga, di lokasi mana mereka buka di hari tersebut. Sedangkan lokasi Biohof Radl tersebar di tiga tempat, di Strebersdorf, Süßenbrunner Straße/Oberfeldgasse (dekat Blumengärten) atau Süßenbrunner Straße (dekat Motorikpark). Karena ternyata di Bio Erdbeerfeld untuk ladang yang di Wina pada pekan tersebut tutup (hanya di Haslau yang dibuka), maka kami memutuskan ke Biohof Radl yang berlokasi di Süßenbrunner Straße/Oberfeldgasse.

Turun dari halte bus, kami cukup berjalan kaki menuju ke lokasi. Biaya tiket masuk ladang sebesar 5 Euro per orang dewasa, sedangkan untuk anak gratis. Oiya, biaya tiket masuk per orang sudah termasuk bisa membawa stroberi sebanyak satu kg. Bagi yang tidak membawa wadah, disediakan juga wadah seharga 2 Euro yang bisa memuat sekitar 2.5 kg stroberi.

Cuaca saat itu cukup sejuk, tidak ada terik matahari yang menyengat namun turun hujan rintik. Jadilah kami mencari dan memetik stroberi ditemani rintik air hujan :). Bonusnya, ada banyak hewan yang juga kami temui di ladang. Sepanjang terdengar celoteh:

• Ooo...ternyata ngga semua stroberi itu besar dan bagus seperti yang di toko ya.

• Eh, stroberi ini kecil tapi manis banget!

• Whaaa...ada lintah nih...

• Ooo...jadi gitu cara mengairi ladang ini

• Kenapa ada banyak bekicot ya?

AHA! moment yang menyadarkan kami sebagai orangtua, pentingnya sesi belajar bersama alam. Mengamati dan merasakan langsung hingga menemukan sendiri jawaban dari pertanyaan yang muncul dari pikiran mereka. Bahkan kemudian memantik aneka pertanyaan berikutnya.

Comments

Popular posts from this blog

Praktik Cooking Class : Bubur Sumsum Lembut

Apa yang pertama kali terbayang saat melihat bubur sumsum? Jika pertanyaan itu menghampiri saya, saya akan menjawab “kondisi sakit”. Saat sakit, biasanya nafsu makan kita berkurang, susah menelan dan lidah terasa pahit. Tak heran jika makanan ini seringkali menjadi asupan bagi orang sakit. Teksturnya yang lembut dan cita rasa optimal selagi hangat tentu memudahkan pemenuhan kebutuhan energi saat kondisi tubuh kurang prima. Saat sehatpun, mengonsumsi bubur ini terasa nikmat, apalagi jika di luar sedang diguyur hujan dan cuaca dingin menyelimuti. Dikutip dari Wikipedia , bubur sumsum adalah sejenis makanan berupa bubur berwarna putih yang dilengkapi dengan kuah air gula merah. Mengapa dinamakan bubur sumsum? Katanya, dinamakan demikian karena penampakannya yang putih menyerupai warna bagian luar sumsum tulang. Bahan utama bubur ini adalah tepung beras.  Tentu tepung beras dengan kualitas baik. Bagaimana kriterianya? Tentu mengikuti SNI, berikut informasi detilnya : N

Menulis Cerita Anak : Pengenalan Anggota Tubuh

CERITA TENTANG PENGENALAN ANGGOTA TUBUH Udara hangat, suara burung berkicau dan air bergemericik, menemani sang mentari menyingsing dari arah timur. “Assalamu’alaykum warahmatullah wabarakatuh…. Selamat pagi anak-anak… Bagaimana kabar hari ini?” ibu guru membuka ruang kelas batita dengan sapaan penuh semangat. Anak-anakpun menjawab dengan antusias, bahkan mereka berlomba-lomba mengeraskan suara, “Wa’alaykumsalam warahmatullah wabarakatuh… Selamat pagi ibu guru… Alhamdulillah….Luar biasa…Allahu Akbar!” Jawaban sapaan berlogat cedal khas anak-anak membahana di seluruh isi ruangan. Ibu guru tersenyum lebar. (Coba, siapa yang bisa peragakan, bagaimana senyum lebar itu?). Jawaban nyaring anak-anak tadi tak ubahnya pasokan energi yang membuat semangatnya menggebu sehari penuh. Pagi ini sang ibu guru akan mengenalkan pada anak-anak mengenai anggota tubuh. Sengaja beliau datang dengan tangan hampa. Tanpa buku, tanpa alat peraga. Rupanya beliau ingin tahu seberapa jauh anak-

Meneladani Visi dan Misi Keluarga Nabi Ibrahim bersama Ustadz Adriano Rusfi

Bagi keluarga kami, salah satu yang membuat betah tinggal di Bandung adalah fasilitas belajar ilmu parenting yang variatif dan ekonomis. Disinilah kami dipertemukan dengan komunitas belajar ilmu pendidikan anak, ragam acara peningkatan kualitas diri dan aneka playdate anak yang menyenangkan dan ramah kantong. Bahkan banyak kegiatan yang bisa diikuti tanpa dipungut biaya, cukup berbekal semangat belajar dan kemauan memperbaiki diri. Nah, di weekend  menjelang Idul Adha kemarin, kami berkesempatan menimba ilmu pendidikan berbasis keluarga dari Ustadz Adriano Rusfi di acara Kopdar Bulanan HebAT ( Home Education based on Akhlaq and Talents) Bandung. HebAT merupakan sebuah komunitas belajar berbasis grup WhatsApp yang mendampingi para orangtua menjalankan FbE (Fitrah based Education) dan CbE (Community based Education) dalam pendidikan anak-anaknya. Tak hanya kopdar bulanan, komunitas ini juga rutin mengadakan beragam aktivitas menarik untuk memfasilitasi kebutuhan belajar anak dan