Skip to main content

Kejutan saat Lernzielkontrolle (Ujian Harian) Ausbildung



Alhamdulillah, akhirnya saya bisa kembali mengisi blog lagi dengan tulisan :). Rindu rasanya untuk bisa menulis seperti biasa, tapi kegiatan akhir-akhir ini membuat saya kesulitan untuk membuka laptop dan menyempatkan diri untuk menulis. Sibuk banget, nih? Ada apa gerangan? 

Jadi ceritanya tengah pekan ini saya baru saja mengerjakan Lernzielkontrolle (LZK) atau semacam ujian, untuk pelajaran Buchhaltung atau akuntansi. Sebelum bercerita lebih lanjut, saya akan memaparkan dulu maksud dari Lernzielkontrolle atau yang biasa disingkat LZK. Jika diterjemahkan bebas ke dalam bahasa Indonesia, kurang lebih artinya adalah pengontrolan ketercapaian tujuan belajar. Bahan yang diujikan di dalam LZK biasanya mencakup bab-bab dari suatu mata pelajaran yang sudah dipelajari di kelas.

Sebenarnya pengumuman mengenai  Lernzielkontrolle ini sudah dipaparkan sejak bulan lalu, tapi saat itu pengajar menyampaikan bahwa bahan ujiannya adalah satu tema saja yaitu seputar gaji. Materi tema ini memang baru saja tuntas dibahas di kelas. Meskipun hanya satu tema, cakupan materinya banyak, hitung-hitungannya juga njlimet karena menghitung pajak dan semua aspek yang terkait mempengaruhi perolehan gaji akhir. Hingga kemudian di pertengahan bulan lalu, pengajar mengadakan tes teori secara lisan semua materi dari Ausbildung ini dimulai. Hasilnya? Ternyata banyak pertanyaan yang tidak terjawab. Rupanya kami lupa materi-materi awal. Jadilah pengajar membuat keputusan mengejutkan. Beliau menulis di papan bahwasanya jadwal Lernzielkontrolle yang semula akhir bulan lalu, mundur menjadi pertengahan bulan ini dengan cakupan materi tak lagi hanya tema gaji, melainkan semua tema dari awal. Alamak!

Alhasil belakangan ini saya (harusnya) mencicil belajar, meski (kenyataannya) banyak prokrastinasi dan distraksi juga. Menjalani ritme persekolahan saat sudah menjadi seorang ibu dengan kondisi pasangan sedang menempuh studi doktoral nyambi kerja ternyata tidak mudah. Memang benar saya mencicil, tapi cara mencicilnya dengan membawa buku keman-mana dan membaca satu dua lembar saja. Sedangkan saya baru benar-benar belajar beberapa hari menjelang  Lernzielkontrolle. Namun dari awal saya sudah menguatkan tekad untuk menjalaninya dengan tenang. Tidak risau menjelang ujian meski persiapan belum matang, tentu sangat sulit, bukan? Bukankah rasa tenang dan percaya diri menjelang ujian itu hadir jika kita tahu persiapan kita sudah matang? Ikhtiar optimal dan doa yang mengiringi kerap menjadi andalan seorang muslim kala menghadapi ujian. 

Tapi, jika belajar untuk persiapannya saja belum kelar, bukankah ibarat kalah sebelum berperang? Ya memang, tapi kali ini saya belajar untuk menggeser sudut pandang dan membangun paradigma baru. Menerima keterbatasan kondisi dan berdamai dengan ketidaksempurnaan. Bahwasanya ikhtiar yang belum sempurna itu adalah karena mengerjakan amanah lainnya yang juga diemban diri yang memang lebih penting dan genting, semisal mengurus anak yang sedang sakit atau menjalankan pekerjaan rumah tangga.

Hari ujian pun akhirnya datang juga. Saya jelas belum siap. Ada banyak teori yang belum saya baca juga perhitungan yang saya lupa urutan pengerjaannya. Tapi kali ini saya mencoba untuk lebih tenang. Bahkan pemikiran sederhananya adalah, „Kalau belum memenuhi batas minimal nilai kelulusan, opsi mengulang juga ngga masalah.“ Ya bagaimana lagi. Siap ngga siap, LZK tetap harus dijalani, bukan? Mengubah cara pandang dan berdamai dengan ketidaksempurnaan ternyata hal penting yang tidak mudah dilakukan oleh orang yang cenderung perfeksionis seperti saya.

Uniknya, di hari tersebut saya justru datang lebih awal dari biasanya. Saya keluar rumah sekitar sepuluh menit lebih awal dari biasanya dan sampai di sekolah sekitar pukul 7.51 CEST, sembilan menit sebelum jam masuk kelas. Pengajar belum datang, teman-teman pun belum ada satu pun yang datang. Saya memutuskan untuk menunggu di ruangan istirahat, tempat terletaknya beberapa mesin jual otomatis (vending machine) sembari membuka lembar demi lembar buku. Tak berselang lama, pengajar pun datang dan memberitahukan kelas tempat kami belajar hari itu.

Satu demi satu teman sekelas berdatangan. Pengajar memberikan toleransi keterlambatan sepuluh menit. Kelas dibuka dengan pertanyaan, „Apa kalian sudah siap untuk LZK?“ Tanpa dikomando, kami semua kompak menjawab belum. Beberapa dari kami pun diberi pertanyaan, „Sudah belajar?“ termasuk saya. Jawaban „belum“ pun meluncur otomatis dari bibir. Pengajar meminta semua buku dimasukkan ke dalam tas dan disingkirkan dari meja. Kalkulator yang biasanya selalu dibutuhkan, kali ini juga diminta untuk turut disimpan. Badan lemas, bayangan remedial sudah di depan mata. Bagaimana bisa, ujian akuntansi tanpa kalkulator? Alamat teori nih! Dan merangkai jawaban berupa kata demi kata menjadi sebuah kalimat jawaban dalam bahasa Jerman, jauh lebih sulit bagiku ketimbang hitung-hitungan. Pasrah.

Kertas soal pun dibagikan. Taraaa.... soal demi soal saya eja. Kejutaaaan! Alhamdulillah, ada kejutan kemudahan dari Allah. Soal LZK kali ini memang teori, dan cakupan materinya pun dari awal sampai akhir. Namun jawaban yang dibutuhkan cukup familier di pikiran saya, tidak semenakutkan yang saya bayangkan. Saya mencoba menjawab sebisa saya, meski saya tahu, memberikan jawaban berupa deskripsi, dalam bahasa Jerman adalah salah satu kelemahan saya. Durasi pengerjaan LZK sekitar 60-90 menit. Setelah itu langsung dikoreksi. Alhamdulillah nilai 78 saya kantongi. Pas-pasan memang, tapi cukup untuk lolos tanpa remedial. Bersyukur bisa melampaui soal-soal teori yang cukup menyeramkan bagi saya.

Usai ujian, kami membahas soal bersama-sama agar semua peserta tahu jawaban yang benar dan paham letak kesalahan jawaban mereka. Kesempatan koreksi nilai pun terbuka semisal ada kesalahan dalam penilaian. Satu hingga dua jam berikutnya diisi dengan melanjutkan pembelajaran seperti biasa. Jam 11.30 kami istirahat makan siang dan menentukan tempat tujuan lokasi untuk relaksasi. Ya, sudah sejak beberapa waktu sebelumnya, pengajar mengajak untuk relaksasi bersama dan dijadwalkan usai mengerjakan LZK. Saat musim panas di sini, memang ada kebiasaan tak tertulis untuk santai bersamaan dengan membangun kelekatan dalam sebuah tim. Mulai dari teman sekelas seperti yang kami lakukan, di tempat kerja, bahkan di sekolah anak-anak pun ada sesi makan eskrim bersama. Lucu ya, tapi mungkin ini merupakan sebuah ungkapan syukur atas hadirnya musim panas yang hangat dan cerah (juga terik!). Dari sekolah, kami berjalan kaki menuju stasiun U-Bahn Rennbahnweg untuk naik kereta U1 menuju stasiun Kaiserm├╝hlen-VIC(Vienna International Center). Lanjut jalan kaki sekitar satu kilometer menuju Trento Bortolotti untuk makan eskrim sembari mengobrol. Kami bernostalgia masa awal Ausbildung ini berjalan, termasuk membahas saya yang masuk di tengah-tengah dan mengejar ketertinggalan. Menantang, tidak mudah, tapi alhamdulillah menyenangkan. Apalagi teman-teman pun suportif dan tak enggan berbagi pemahaman satu sama lain.

Alhamdulillah tsumma alhamdulillah. Proses di sekolah selama satu hari itu memberikan banyak pembelajaran bagi diri saya. Allah selalu bersama hamba-Nya. Benar saja, lalui dan jalani saja prosesnya, sekalipun terlihat menakutkan. Ketidaksempurnaan akan membuat diri ini terpecut untuk terus melakukan perbaikan. Belajar lebih gigih lagi, melakukan persiapan lebih optimal lagi, dan semakin menyadari bahwa setiap kesempatan begitu berharga. Jangan terkungkung oleh kekhawatiran yang menari-nari di pikiran. Dan jangan lupa, terus perbarui niat bahwa proses belajar ini pun merupakan bentuk ibadah pada Allah. Yuk, semangat lillah menyambut awal pekan!

Wina, 19 Juni 2022

1050 kata

 

 

 

 

 

 

 

Comments

Popular posts from this blog

Praktik Cooking Class : Bubur Sumsum Lembut

Apa yang pertama kali terbayang saat melihat bubur sumsum? Jika pertanyaan itu menghampiri saya, saya akan menjawab “kondisi sakit”. Saat sakit, biasanya nafsu makan kita berkurang, susah menelan dan lidah terasa pahit. Tak heran jika makanan ini seringkali menjadi asupan bagi orang sakit. Teksturnya yang lembut dan cita rasa optimal selagi hangat tentu memudahkan pemenuhan kebutuhan energi saat kondisi tubuh kurang prima. Saat sehatpun, mengonsumsi bubur ini terasa nikmat, apalagi jika di luar sedang diguyur hujan dan cuaca dingin menyelimuti. Dikutip dari Wikipedia , bubur sumsum adalah sejenis makanan berupa bubur berwarna putih yang dilengkapi dengan kuah air gula merah. Mengapa dinamakan bubur sumsum? Katanya, dinamakan demikian karena penampakannya yang putih menyerupai warna bagian luar sumsum tulang. Bahan utama bubur ini adalah tepung beras.  Tentu tepung beras dengan kualitas baik. Bagaimana kriterianya? Tentu mengikuti SNI, berikut informasi detilnya : N

Menulis Cerita Anak : Pengenalan Anggota Tubuh

CERITA TENTANG PENGENALAN ANGGOTA TUBUH Udara hangat, suara burung berkicau dan air bergemericik, menemani sang mentari menyingsing dari arah timur. “Assalamu’alaykum warahmatullah wabarakatuh…. Selamat pagi anak-anak… Bagaimana kabar hari ini?” ibu guru membuka ruang kelas batita dengan sapaan penuh semangat. Anak-anakpun menjawab dengan antusias, bahkan mereka berlomba-lomba mengeraskan suara, “Wa’alaykumsalam warahmatullah wabarakatuh… Selamat pagi ibu guru… Alhamdulillah….Luar biasa…Allahu Akbar!” Jawaban sapaan berlogat cedal khas anak-anak membahana di seluruh isi ruangan. Ibu guru tersenyum lebar. (Coba, siapa yang bisa peragakan, bagaimana senyum lebar itu?). Jawaban nyaring anak-anak tadi tak ubahnya pasokan energi yang membuat semangatnya menggebu sehari penuh. Pagi ini sang ibu guru akan mengenalkan pada anak-anak mengenai anggota tubuh. Sengaja beliau datang dengan tangan hampa. Tanpa buku, tanpa alat peraga. Rupanya beliau ingin tahu seberapa jauh anak-

Meneladani Visi dan Misi Keluarga Nabi Ibrahim bersama Ustadz Adriano Rusfi

Bagi keluarga kami, salah satu yang membuat betah tinggal di Bandung adalah fasilitas belajar ilmu parenting yang variatif dan ekonomis. Disinilah kami dipertemukan dengan komunitas belajar ilmu pendidikan anak, ragam acara peningkatan kualitas diri dan aneka playdate anak yang menyenangkan dan ramah kantong. Bahkan banyak kegiatan yang bisa diikuti tanpa dipungut biaya, cukup berbekal semangat belajar dan kemauan memperbaiki diri. Nah, di weekend  menjelang Idul Adha kemarin, kami berkesempatan menimba ilmu pendidikan berbasis keluarga dari Ustadz Adriano Rusfi di acara Kopdar Bulanan HebAT ( Home Education based on Akhlaq and Talents) Bandung. HebAT merupakan sebuah komunitas belajar berbasis grup WhatsApp yang mendampingi para orangtua menjalankan FbE (Fitrah based Education) dan CbE (Community based Education) dalam pendidikan anak-anaknya. Tak hanya kopdar bulanan, komunitas ini juga rutin mengadakan beragam aktivitas menarik untuk memfasilitasi kebutuhan belajar anak dan