Skip to main content

Refleksi Keberjalanan Hometeam saat Suami Istri Berkarya di Ranah Publik

Mengawali tulisan di bulan Juni 2022 ini, aku ingin melakukan refleksi diri terkait pelaksanaan peran di rumah seiring dengan bergantinya ritme di dua pekan terakhir

Hal apa yang perlu diperbaiki?

Manajemen waktu harian

Rasanya agak kagok  saat kini kembali menyiapkan bekal makan siang untuk suami, setelah selama dua tahun lamanya vakum menyiapkan karena beliau bekerja dari rumah. Artinya, aku perlu bangun lebih pagi dari biasanya untuk mengerjakan rutinitas pagi termasuk menyiapkan sarapan dan makan siang di dalamnya.

Kemudian, sekarang pulang dari sekolah, kurang memungkinkan lagi untuk belanja karena perlu segera menjemput anak-anak dari sekolah masing-masing. Jadi jadwal belanja perlu dimampatkan ke hari Senin dan Selasa, atau Jum‘at. Sebisa mungkin ngga dilakukan di hari Sabtu agar tidak mengurangi jatah family time yang udah minimalis itu, haha.

Penyelesaian pekerjaan rumah tangga

Nah, ini dia. Seiring dengan bertambahnya amanah pekerjaan suami, karena beliau harus mengerjakan disertasi, hal-hal terkait studi doktoralnya dan juga bekerja, maka beliau meminta pengertian untuk melepas pekerjaan rumah tangga yang biasanya beliau kerjakan di weekdays, seperti mencuci piring. Auto pengen request disediakan dishwasher ih. Eh,jangan sampai kufur nikmat, Mesa! Baiklah, mari alokasikan slot waktu untuk mencuci piring. Alhamdulillah, untuk poin buang sampah sesuai kriteria, suami insyaAllah masih menyanggupi mengerjakannya.

Sepertinya kalau aku bisa memasukkan menu-menu khas Eropa seperti yang aku pelajari di Ausbildung di daftar menu pekanan keluarga, maka aku bisa menghemat waktu memasak juga karena masakan lokal sini cenderung ngga membutuhkan banyak ragam bumbu dan proses yang beraneka rupa.

Ah iya, satu lagi PR-ku. Aku perlu menaikkan level kemandirian anak agar memudahkan kinerjaku di rumah juga. Ada beberapa hal yang sudah bisa mulai kudelegasikan ke anak-anak. Dengan catatan, aku perlu menyiapkan support system-nya dulu alias peralatan yang dibutuhkan dan tempat yang memadai dengan cara membereskan beberapa area.

Konsisten dalam menjaga fokus diri

Sudah bikin jadwal dan rencana kerja, tapi lalu buka media sosial yang membuatku teralihkan fokusnya. Nah, bahaya nih! Terlena yang bikin ambyar! Cara buat ngga ambyar yang efektif buatku ternyata memang menyusun jadwal yang padat hingga tak ada waktu lengah. Jadi si jadwalnya perlu dibuat per jam sehingga kelihatan kandang waktu dari satu kegiatan ke kegiatan lainnya. Usai terlaksana, langsung dicoret sehingga hasilnya terpampang nyata. Ngetik yang paling ampuh masih di notes HP karena gampang ngecek-nya plus bisa auto lihat jam.  

Hal apa yang sudah baik?

Komunikasi dengan pasangan dan anak-anak

Alhamdulillah, sebelum dan selama adaptasi ritme baru ini, kami terus berkomunikasi. Terbuka satu sama lain. Saling mengungkapkan harapan dan batas kemampuan. Seorang teman pernah berkata, hidup di rantau memang kadangkala suami dan istri berperan bergantian. Karena tidak ada pihak lain yang bisa terlibat selain keluarga inti. Maka saling menopang adalah jalan satu-satunya, sebagai bagian dari cara kerja sebuah tim. Karena semua tidak bisa kami kerjakan, maka pemakluman yang kami sepakati adalah rumah yang berantakan untuk sementara waktu. Yang penting tidak mudah untuk saling tersinggung dan menuntut. Ya, pola komunikasi yang terbangun dalam keluarga sangat membantu kami menjalankan ritme baru bersama.

Pencatatan materi selama magang

Sejak sebulan belakangan, aku memutuskan untuk membawa buku kecil dan pulpen selama magang. Aku simpan di saku, dan kugunakan untuk mencatat poin-poin penting selama magang. Dan ini sangat membantu, alhamdulillah. Cukup mencatat kata kunci saja, kemudian dilengkapi saat sudah di rumah.

Dengan mencatat, aku jadi lebih bersemangat untuk mengulang materi yang kudapatkan. Aku juga meminta izin untuk mendokumentasikan beberapa menu atau bahan pangan yang belum familier untukku agar memudahkan untuk bisa kupelajari kembali.

Satu lagi, dengan mencatat, aku jadi lebih ingat, poin penjelasan apa saja yang luput kuingat sehingga perlu kutanyakan lagi di kesempatan berikutnya. Nah, ini membuka kesempatanku untuk membuka diskusi saat istirahat makan siang bersama. Mengobrol tapi yang berfaedah untukku, karena berkaitan dengan bagian yang sedang kupelajari.

Pemahaman terhadap aneka menu baru

Seiring berjalannya waktu, alhamdulillah aku mulai familier dengan aneka menu khas Eropa. Belum semuanya, bahkan masih jauh dari kategori „banyak“. Tapi jika dibandingkan dengan di awal aku masuk Ausbildung ini, tentu sudah jauh berkembang. Di saat bersamaan, sungguh aku menyadari bahwa ada banyak hal yang belum kuketahui dan pahami. Wong ngerjain soal atau diminta pertolongan juga kadang masih salah tangkap koq. Tapi alhamdulillah sekarang jauh lebih selow, lebih santai, bisa geleng-geleng kepala ngga paham sambil meringis. Ngga kayak dulu yang rasanya bingung banget.

Penutup

Tadi aku menyempatkan diri untuk mampir ke perpustakaan, ada banyak buku yang kupinjam nih terkait Ausbildung. Semoga semangat belajarnya ngga putus di pinjam buku saja, tapi juga sampai membaca, memahami dan mengaplikasikannya sehingga bisa makin paham teori, makin luwes praktik dan makin enak-sehat-variatif masakan-masakan yang dihasilkan dari dapur Griya Riset. Aamiin.

Lalu, hari ini aku launching akun instagram @risetdapur yang rencananya akan merekam jejak perjalanan belajarku seputar pangan. Semoga Allah mudahkan. Aamiin.

 

Wina, 1 Juni 2022. 19:04 CEST

 

 

Comments

Popular posts from this blog

Praktik Cooking Class : Bubur Sumsum Lembut

Apa yang pertama kali terbayang saat melihat bubur sumsum? Jika pertanyaan itu menghampiri saya, saya akan menjawab “kondisi sakit”. Saat sakit, biasanya nafsu makan kita berkurang, susah menelan dan lidah terasa pahit. Tak heran jika makanan ini seringkali menjadi asupan bagi orang sakit. Teksturnya yang lembut dan cita rasa optimal selagi hangat tentu memudahkan pemenuhan kebutuhan energi saat kondisi tubuh kurang prima. Saat sehatpun, mengonsumsi bubur ini terasa nikmat, apalagi jika di luar sedang diguyur hujan dan cuaca dingin menyelimuti. Dikutip dari Wikipedia , bubur sumsum adalah sejenis makanan berupa bubur berwarna putih yang dilengkapi dengan kuah air gula merah. Mengapa dinamakan bubur sumsum? Katanya, dinamakan demikian karena penampakannya yang putih menyerupai warna bagian luar sumsum tulang. Bahan utama bubur ini adalah tepung beras.  Tentu tepung beras dengan kualitas baik. Bagaimana kriterianya? Tentu mengikuti SNI, berikut informasi detilnya : N

Menulis Cerita Anak : Pengenalan Anggota Tubuh

CERITA TENTANG PENGENALAN ANGGOTA TUBUH Udara hangat, suara burung berkicau dan air bergemericik, menemani sang mentari menyingsing dari arah timur. “Assalamu’alaykum warahmatullah wabarakatuh…. Selamat pagi anak-anak… Bagaimana kabar hari ini?” ibu guru membuka ruang kelas batita dengan sapaan penuh semangat. Anak-anakpun menjawab dengan antusias, bahkan mereka berlomba-lomba mengeraskan suara, “Wa’alaykumsalam warahmatullah wabarakatuh… Selamat pagi ibu guru… Alhamdulillah….Luar biasa…Allahu Akbar!” Jawaban sapaan berlogat cedal khas anak-anak membahana di seluruh isi ruangan. Ibu guru tersenyum lebar. (Coba, siapa yang bisa peragakan, bagaimana senyum lebar itu?). Jawaban nyaring anak-anak tadi tak ubahnya pasokan energi yang membuat semangatnya menggebu sehari penuh. Pagi ini sang ibu guru akan mengenalkan pada anak-anak mengenai anggota tubuh. Sengaja beliau datang dengan tangan hampa. Tanpa buku, tanpa alat peraga. Rupanya beliau ingin tahu seberapa jauh anak-

Meneladani Visi dan Misi Keluarga Nabi Ibrahim bersama Ustadz Adriano Rusfi

Bagi keluarga kami, salah satu yang membuat betah tinggal di Bandung adalah fasilitas belajar ilmu parenting yang variatif dan ekonomis. Disinilah kami dipertemukan dengan komunitas belajar ilmu pendidikan anak, ragam acara peningkatan kualitas diri dan aneka playdate anak yang menyenangkan dan ramah kantong. Bahkan banyak kegiatan yang bisa diikuti tanpa dipungut biaya, cukup berbekal semangat belajar dan kemauan memperbaiki diri. Nah, di weekend  menjelang Idul Adha kemarin, kami berkesempatan menimba ilmu pendidikan berbasis keluarga dari Ustadz Adriano Rusfi di acara Kopdar Bulanan HebAT ( Home Education based on Akhlaq and Talents) Bandung. HebAT merupakan sebuah komunitas belajar berbasis grup WhatsApp yang mendampingi para orangtua menjalankan FbE (Fitrah based Education) dan CbE (Community based Education) dalam pendidikan anak-anaknya. Tak hanya kopdar bulanan, komunitas ini juga rutin mengadakan beragam aktivitas menarik untuk memfasilitasi kebutuhan belajar anak dan