Skip to main content

Workshop A Home Team Pertemuan Kedua : Mengamati Keluarga Sendiri, Lebih Mirip Sebuah Tim atau Kerumunan?

Alhamdulillah pertemuan kedua workshop A Home Team sudah terselenggara pada hari Rabu, 11 Januari 2023 lalu. Pertemuan dimulai dengan check-in melalui pertanyaan...

Jika diibaratkan dengan musim, kondisi keluargamu saat ini seperti musim apa?

Saya butuh waktu beberapa saat untuk bisa mencerna dan memahami pertanyaan ini. Musim ini cakupannya seperti apa? Apa keterkaitan analogi musim ini dengan perjalanan keluarga menjadi sebuah A Home Team, ya? Karena kalau perjalanan untuk mencapai tujuan itu kan seperti pendakian ya, saat ini sudah ada di tahap apa. Sedangkan jika musim, tentu silih berganti sesuai masanya. Dan bagi saya, setiap musim itu cantik dan menarik, dan tentu sepaket dengan konsekuensinya. Seperti salju yang kami nantikan saat musim dingin, sepaket dengan suhu dingin dalam kegelapan yang menyelimuti hari-hari. Atau berdamai dengan teriknya sengat matahari saat menikmati jalan-jalan di musim panas.

Tapi kalau mencoba mengibaratkan, jika diibaratkan cuaca, kondisi keluarga saya saat ini adalah seperti musim duren, eh, ngga ding, musim panas. Karakteristik musim panas di negara empat musim itu bagaimana? Durasi siangnya panjang ya, sehingga enak digunakan untuk beraktivitas. Ada banyak ragam kegiatan belajar, baik indoor maupun outdoor. Mirip dengan kondisi keluarga kami yang saat ini kegiatannya sedang padat merayap. Benar-benar belajar untuk mengubah pola pikir, menjadikan masalah menjadi tantangan yang menarik untuk kami selesaikan. Kami perlu saling mengingatkan untuk terus menjaga fokus, agar tujuan bersama bisa kami gapai. Terlebih setelah melalui ritme setahun ke belakang, terutama saat saya menjalani Ausbildung dengan jam kerja/belajar 30 jam per pekan, kami jadi semakin menyadari bahwa kami bisa saling menjadi support system satu sama lain.

Poin berikutnya adalah terkait perkembangan komitmen. Komitmen yang sedang saya latihkan pada diri adalah on time, inside out, dan communicative. Perkembangannya dalam sepekan, alhamdulillah bisa membuka forum sesi kedua dengan tepat waktu, merancang rencana aksi hasil praktik dari workshop ini untuk pertumbuhan diri dan keluarga, kemudian aktif melayani kebutuhan fasilitator dan peserta sehingga semua merasa nyaman saat berada di workshop.

Diskusi forum pun berlanjut seputar persamaan dan perbedaan dari tim dan kerumunan. Untuk memudahkan peserta dalam berdiskusi, tim divisualisasikan dengan tim sepakbola sedangkan kerumunan divisualisasikan dengan pasar. Hasil diskusi di breakout rooms dipresentasikan di ruang utama, kemudian dirangkum. Hasilnya menakjubkan, menandakan bahwa hasil pemikiran peserta sangat luas, beragam, bahkan out of the box.

 

Saya rasa semua peserta bahkan setiap orang ingin membuat keluarga masing-masing menjadi sebuah tim. Dan setiap keluarga bisa jadi memiliki titik awalan yang berbeda, juga lintasan yang berbeda. Maka, tidak penting untuk saling mengetahui keluarga mana ada di tahap apa, atau berada di tahap mana dalam perjalanannya sebagai sebuah tim. Yang terpenting adalah :

1. Menerima dan menyadari bahwa keluarga kita adalah tim terbaik yang Allah pilihkan dan titipkan pada kita

2. Mengidentifikasi titik mula keluarga kita saat ini

3. Memperbanyak main bareng-ngobrol bareng-beraktivitas bareng sebagai langkah nyata komunikasi intensif antar anggota keluarga.

Mengamati diri dan keluarga ini ternyata menjadi aktivitas yang mengasyikkan ya.

 

 

Comments

Popular posts from this blog

Menulis Cerita Anak : Pengenalan Anggota Tubuh

CERITA TENTANG PENGENALAN ANGGOTA TUBUH Udara hangat, suara burung berkicau dan air bergemericik, menemani sang mentari menyingsing dari arah timur. “Assalamu’alaykum warahmatullah wabarakatuh…. Selamat pagi anak-anak… Bagaimana kabar hari ini?” ibu guru membuka ruang kelas batita dengan sapaan penuh semangat. Anak-anakpun menjawab dengan antusias, bahkan mereka berlomba-lomba mengeraskan suara, “Wa’alaykumsalam warahmatullah wabarakatuh… Selamat pagi ibu guru… Alhamdulillah….Luar biasa…Allahu Akbar!” Jawaban sapaan berlogat cedal khas anak-anak membahana di seluruh isi ruangan. Ibu guru tersenyum lebar. (Coba, siapa yang bisa peragakan, bagaimana senyum lebar itu?). Jawaban nyaring anak-anak tadi tak ubahnya pasokan energi yang membuat semangatnya menggebu sehari penuh. Pagi ini sang ibu guru akan mengenalkan pada anak-anak mengenai anggota tubuh. Sengaja beliau datang dengan tangan hampa. Tanpa buku, tanpa alat peraga. Rupanya beliau ingin tahu seberapa jauh anak-

Mini Project : Belajar Siklus Air

Mini Project 20 Juli 2016 Belajar Siklus Air Beberapa sore belakangan, hujan selalu menyapa. Allahumma shoyyiban nafi’an Ya Allah, turunkanlah pada kami hujan yang bermanfaat. Salah satu kebiasaan yang Mentari Pagi lakukan saat hujan adalah melihat kamar belakang sambil melapor, “Ngga bocor koq Mi,alhamdulillah kering.” Hihihi..Atap kamar belakang memang ada yang bocor. Sehingga jika hujan turun, terlebih hujan besar, saya selalu mengeceknya, apakah bocor atau tidak. Dan kebiasaan inilah yang damati dan diduplikasi oleh MeGi. Dari sini jadi terpikir untuk mengenalkan siklus air padanya. Alhamdulillah, kemudahan dari Allah. Saat membuka facebook timeline , ada teman yang membagi album foto mba Amalia Kartika. Berisikan ilustrasi menarik mengenai informasi ayat-ayat yang berkaitan dengan air dan hujan. Jadilah ini sebagai salah satu referensi saya saat belajar bersama mengenai siklus air. Untuk aktivitas ini saya menggunakan ilustrasi siklus air untuk stimulasi m

Manajemen Prioritas dalam Berkomunitas

Membuat Skala Prioritas Beberapa pekan lalu, kami sebagai tim Training and Consulting Ibu Profesional Non ASIA mengundang mba Rima Melani (Divisi Research and Development – Resource Center Ibu Profesional, Leader Ibu Profesional Banyumas Raya sekaligus Praktisi Talents Mapping ) di WhatsApp Group Magang Internal. Bahasan yang disampaikan adalah mengenai Manajemen Prioritas dalam Berkomunitas.  Bahasan ini kami jadwalkan sebagai materi kedua dari rangkaian materi pembekalan untuk pengurus IP Non ASIA karena bermula dari kebutuhan pribadi sebagai pengurus komunitas. Masih berkaitan dengan materi sebelumnya, yang bisa disimak di tulisan sebelumnya . Di materi pertama lalu kami diajak uni Nesri untuk menelusuri peran diri sebagai individu, yang kemudian dipetakan dan dikaitkan dengan peran dalam keluarga sebagai lingkaran pertama, dilanjutkan dengan kondisi dan kebutuhan lingkungan sosial sekitar. Sehingga antara peran diri, peran dalam keluarga serta peran komunal dapat di