Skip to main content

Jurnal Kongres Ibu Pembaharu, Kolaborasi antar Leader dalam Merumuskan Aksi untuk Solusi

Bismillahhirrohmanirrohim...

Dua jam menjelang batas pengumpulan jurnal Kongres Ibu Pembaharu, saya baru memulai perjalanan penulisan jurnalnya. Alhamdulillah masih Allah karuniai kesempatan untuk mengerjakan setiap tahapannya juga mendokumentasikannya melalui jurnal yang juga ada template khususnya. Ini juga karena tadi siang saya lebih memilih untuk membuat bakso terlebih dahulu karena stok makanan di freezer sudah mulai kosong. 

Kongres Ibu Pembaharu 2 ini berlangsung pada tanggal 28 sampai dengan 30 Oktober 2023, berlatar belakang momen Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober. Kongres ini merupakan dua dari tiga event besar yang harus diikuti oleh mahasiswi kelas Bunda Salihah sebagai salah satu persyaratan kelulusan. Event pertama yang kami ikuti adalah questival kemerdekaan, yang saya ikuti di momen hari kemerdekaan Indonesia bulan Agustus lalu. Dengan demikian, event ini terhitung sebagai event kedua yang kami ikuti. Sejak awal saya memang bertekad untuk mengikuti setiap event yang diadakan selama masa perkuliahan kelas Bunda Salihah untuk mendapatkan pengalaman belajar yang utuh dan menyeluruh.

Qadarullah momen kali ini berlangsung di akhir pekan, 28 Oktober 2023 jatuh pada hari Sabtu, sehingga event ini berlangsung di hari Sabtu, Minggu dan Senin. Karena jatuh di akhir pekan, maka dalam mengikutinya pun saya perlu menyesuaikan dengan ritme aktivitas saya dan keluarga di mode akhir pekan. Tantangan yang kedua adalah, momentum pembukaannya berlangsung jam 10 WIB, yang artinya di waktu setempat adalah jam 5 CEST, sedangkan waktu Shubuh saja baru sekitar jam 6 CEST. Karena jadwalnya berlangsung di jam sebelum Shubuh waktu sini, maka saya izin untuk tidak hadir live dan baru menyimak rekamannya jam 10 CEST.

Mengutip dari materi yang bu Septi sampaikan pada acara penutupan Kongres Ibu Pembaharu 2 pada tanggal 31 Oktober 2023 mengenai strategi untuk menjaga semangat dalam menjalankan sebuah gerakan, bahwa dimana kata kuncinya adalah jika akar gerakan kita adalah keluarga, maka langkah apapun yang kita jalankan dalam gerakan, sejatinya juga harus membuat keluarga kita semakin bertumbuh progresif. Saya pun berefleksi, agar pertumbuhan diri, keluarga dan gerakan yang sedang kita inisiasi bisa berjalan beriringan tanpa ada yang dikorbankan, maka saya perlu disiplin pada jadwal kegiatan. Mengerjakan semuanya sesuai porsinya masing-masing, saklek pada jadwal dan say no untuk serondolan. Apalagi kondisi di rantau yang minim bantuan dari go food, jasa laundry atau pun keberadaan keluarga besar.

Maka yang saya praktikkan adalah usai menyimak sesi pembukaan, saya merespon pesan dari mba Ayu yang menghubungi saya terlebih dahulu terkait rencana aksi grup 11 lalu berkenalan di grup. Setelah itu saya kembali berkegiatan luring sesuai agenda yang sudah dijadwalkan, yaitu pergi wandern atau hiking bersama anak-anak di Am Himmel sembari melihat momen Kürbisfest hingga sore hari. Bagi saya yang sedang hidup di rantau bersama anak-anak yang sedang berada di fase tujuh tahun pertama dan kedua, dengan kondisi LDM dengan suami yang sedang bekerja di benua lain, perlu mengalokasikan waktu untuk berkegiatan di alam sebagai salah satu bentuk ikhtiar menjaga kesehatan mental.

Di hari Minggu, grup kami kembali berkoordinasi mengenai narasi yang akan kami angkat. Apresiasi untuk mba Ayu yang berinisiatif untuk membuat narasi sekaligus pembagian tugas. Karena di hari tersebut saya juga ada agenda luring di rumah teman, maka saya baru bisa menyetorkan video bagian saya di sore hari waktu CET, yang mana artinya sudah jam malam waktu Indonesia. Hiks...hiks... perbedaan waktu enam jam lebih lambat ketimbang Indonesia ini memang kerap menjadi tantangan dalam berkoordinasi dan menjalankan tugas kelompok, terutama yang batas waktunya cukup singkat seperti kegiatan Kongres ini. Ya sudah, mari lakukan yang terbaik di sisa waktu yang tersedia. Prinsip lain yang tak kalah penting adalah, lebih baik selesai tapi tidak sempurna ketimbang tidak kunjung selesai karena ingin memberikan yang sempurna. Penting banget ini supaya terhindar dari overwhelmed.

Alhamdulillah hari Senin dini hari video sudah selesai disatukan oleh mba Ayu dan bisa kami setorkan di waktu pagi hari. Salut dengan kinerja para leader-leader  dari grup 11 ini. Ada mba Ayu leader Sahabat Pulih Ibu, ada mba Yuni leader Yf Project, ada mba Reni leader Temara Digital juga mba Afriza leader Peduli Speech Delay. Dengan demikian di tanggal 30 Oktober tugas grup kami pun sudah selesai dikumpulkan. Berikut pembagian tugas secara detail :

 


Kerja bersama antar leader dalam pembuatan video Aksi untuk Solusi ini bagi diri saya pribadi mengingatkan beberapa value yang harus dipegang kuat bagi seorang leader. Yang pertama, berinisiatif - tak perlu takut untuk mengawali sebuah langkah dan membukakan jalan bagi yang lain. Yang kedua, realistis - untuk sebuah kerja bersama yang waktunya mepet, yang terpenting adalah semua bisa berkontribusi dan tugas selesai tepat waktu. Yang ketiga, singkirkan baper dan fokus pada solusi karena tak semua pihak merespon ajakan kita dengan cepat dan positif. Di tantangan tugas grup ini saya belajar banyak dari mba Ayu, leader Sahabat Pulih Ibu.

Di waktu yang bersamaan tim Puan Adaptif pun sedang berkoordinasi intensif perihal pengerjaan konten blog dan media sosial juga jadwal penayangannya. Tugas Kongres Ibu Pembaharu pun beranjak ke pengerjaan tugas individu. Saya mengerjakan tugas mengganti twibbon media sosial pribadi dan gerakan, menayangkan video grup 11 di media sosial juga membuat reels  dengan filter yang sudah ditentukan oleh tim perumus. Alhamdulillah hari ini selesai dan bisa menuliskan jurnal.

Berikut bukti penayangannya :



Alhamdulillah jurnal Kongres Ibu Pembaharu bisa terselesaikan. Saya bahagia, bisa bergerak menghadapi tantangan diri sekaligus turut berkontribusi untuk perempuan Indonesia sekalipun sedang berada di bumi Eropa. Semoga keikutsertaan saya dan gerakan Puan Adaptif di event ini memantik ragam ide kegiatan yang Allah ridai dan kolaborasi antar gerakan yang menghasilkan dampak lebih luas dan nyata. Aamiin.

Di tengah syahdunya musim gugur,

Wina, 1 November 2023


 

 

 

Comments

Popular posts from this blog

Menulis Cerita Anak : Pengenalan Anggota Tubuh

CERITA TENTANG PENGENALAN ANGGOTA TUBUH Udara hangat, suara burung berkicau dan air bergemericik, menemani sang mentari menyingsing dari arah timur. “Assalamu’alaykum warahmatullah wabarakatuh…. Selamat pagi anak-anak… Bagaimana kabar hari ini?” ibu guru membuka ruang kelas batita dengan sapaan penuh semangat. Anak-anakpun menjawab dengan antusias, bahkan mereka berlomba-lomba mengeraskan suara, “Wa’alaykumsalam warahmatullah wabarakatuh… Selamat pagi ibu guru… Alhamdulillah….Luar biasa…Allahu Akbar!” Jawaban sapaan berlogat cedal khas anak-anak membahana di seluruh isi ruangan. Ibu guru tersenyum lebar. (Coba, siapa yang bisa peragakan, bagaimana senyum lebar itu?). Jawaban nyaring anak-anak tadi tak ubahnya pasokan energi yang membuat semangatnya menggebu sehari penuh. Pagi ini sang ibu guru akan mengenalkan pada anak-anak mengenai anggota tubuh. Sengaja beliau datang dengan tangan hampa. Tanpa buku, tanpa alat peraga. Rupanya beliau ingin tahu seberapa jauh anak-

Mini Project : Belajar Siklus Air

Mini Project 20 Juli 2016 Belajar Siklus Air Beberapa sore belakangan, hujan selalu menyapa. Allahumma shoyyiban nafi’an Ya Allah, turunkanlah pada kami hujan yang bermanfaat. Salah satu kebiasaan yang Mentari Pagi lakukan saat hujan adalah melihat kamar belakang sambil melapor, “Ngga bocor koq Mi,alhamdulillah kering.” Hihihi..Atap kamar belakang memang ada yang bocor. Sehingga jika hujan turun, terlebih hujan besar, saya selalu mengeceknya, apakah bocor atau tidak. Dan kebiasaan inilah yang damati dan diduplikasi oleh MeGi. Dari sini jadi terpikir untuk mengenalkan siklus air padanya. Alhamdulillah, kemudahan dari Allah. Saat membuka facebook timeline , ada teman yang membagi album foto mba Amalia Kartika. Berisikan ilustrasi menarik mengenai informasi ayat-ayat yang berkaitan dengan air dan hujan. Jadilah ini sebagai salah satu referensi saya saat belajar bersama mengenai siklus air. Untuk aktivitas ini saya menggunakan ilustrasi siklus air untuk stimulasi m

Manajemen Prioritas dalam Berkomunitas

Membuat Skala Prioritas Beberapa pekan lalu, kami sebagai tim Training and Consulting Ibu Profesional Non ASIA mengundang mba Rima Melani (Divisi Research and Development – Resource Center Ibu Profesional, Leader Ibu Profesional Banyumas Raya sekaligus Praktisi Talents Mapping ) di WhatsApp Group Magang Internal. Bahasan yang disampaikan adalah mengenai Manajemen Prioritas dalam Berkomunitas.  Bahasan ini kami jadwalkan sebagai materi kedua dari rangkaian materi pembekalan untuk pengurus IP Non ASIA karena bermula dari kebutuhan pribadi sebagai pengurus komunitas. Masih berkaitan dengan materi sebelumnya, yang bisa disimak di tulisan sebelumnya . Di materi pertama lalu kami diajak uni Nesri untuk menelusuri peran diri sebagai individu, yang kemudian dipetakan dan dikaitkan dengan peran dalam keluarga sebagai lingkaran pertama, dilanjutkan dengan kondisi dan kebutuhan lingkungan sosial sekitar. Sehingga antara peran diri, peran dalam keluarga serta peran komunal dapat di