Skip to main content

Mini Project : Persiapan Ramadan Berbagi Ceria

Mini Project
17 Juni 2016

Persiapan Ramadan Berbagi Ceria

Buku mengenai Panti Asuhan dan Celengan Koin Cinta MeGi

Sejak pengumuman akan diadakan acara Ramadan Berbagi Ceria oleh RB Playdate IIP Bandung, hati udah tergerak buat langsung daftar. Tapi agenda weekend belum pasti. Jadi belum bisa memastikan diri bisa atau tidaknya.  Urunglah mendaftar. Waktupun berlalu, harap-harap cemas antara masih bisa daftar atau tidak. Pasalnya, acara yang diadakan oleh RB Playdate hampir selalu over kuota. Ya sudah, pasrah saja. Beberapa hari menjelang hari H, jadwal weekend sudah terlihat, tanpa sengaja sempat chat via WhatsApp dengan sang ibu ketua panitia, membahas tumbang anak. Sekaliyan saja mendaftar acara RBC. Dalam hati, bismillah, kalau sudah penuh berarti memang belum jodoh. Alhamdulillah ternyata masih ada slot kursi dalam hitungan jari. Jadi insyaAllah si Mentari Pagi bisa ikutan acara Ramadan Berbagi Ceria di Panti Asuhan Bayi Sehat.
Nah, ada beberapa hari untuk sounding ke dia perihal Panti Asuhan, berbagi dengan sesama dan seputar kegiatan di acara nanti. Hari ini, kami membahas mengenai Panti Asuhan. Saat mendengar kata tersebut, ternyata dia teringat sebuah buku cerita anak miliknya, karangan mba Pipiet Senja yang berjudul Rinduku untuk Ayah. Buku tersebut menceritakan seorang anak bernama Izal yang rindu pada ayahnya yang bekerja nun jauh di negeri Taiwan. Untuk mengobati rasa rindu sang anak, atas inisiatif kakek-nenek, ibunya membawa Izal ke sebuah Panti Asuhan. Saat bermain bersama anak-anak Panti itulah, Izal tersadarkan bahwa dia jauh lebih beruntung dibanding anak-anak tersebut. Sepulang dari Panti, Izal menjadi lebih bersyukur, semakin giat belajar dan rutin bermain ke Panti. Saat dibacakan buku ini, si Mentari Pagi mengenal makna meninggal dunia. Dia mulai paham bahwa anak-anak yang tinggal di Panti Asuhan, sudah tidak memiliki orangtua.
Karena panitia juga memberikan woro-woro bahwa nanti saat acara bisa langsung memberikan koin sejuta cinta, MeGi pun mengambil celengannya dan mempersiapkannya untuk dibawa saat acara. Celengannya sudah dibuat sejak lama, dari kaleng bekas susu Mbah Uti, ditempel gambar pesawat hasil karya Abiya yang menjadi favorit MeGi dan dihias kertas kokoru di ujung-ujungnya.
Semoga persiapan sederhana ini menguatkan pemahamannya untuk senang berbagi dengan sesama. Terimakasih bubu Wiwik Wulansari, teh Ismi Fauziah, teh Wening dan teh Miranti yang sudah menginisiasi acara ini.

Semoga acara hari ini berjalan lancar dan dalam ridho Allah, aamiin…
#ramadanberbagiceria
#playdateiipbandung
#ODOPfor99days
#day15
#griyariset



Comments

Popular posts from this blog

Praktik Cooking Class : Bubur Sumsum Lembut

Apa yang pertama kali terbayang saat melihat bubur sumsum? Jika pertanyaan itu menghampiri saya, saya akan menjawab “kondisi sakit”. Saat sakit, biasanya nafsu makan kita berkurang, susah menelan dan lidah terasa pahit. Tak heran jika makanan ini seringkali menjadi asupan bagi orang sakit. Teksturnya yang lembut dan cita rasa optimal selagi hangat tentu memudahkan pemenuhan kebutuhan energi saat kondisi tubuh kurang prima. Saat sehatpun, mengonsumsi bubur ini terasa nikmat, apalagi jika di luar sedang diguyur hujan dan cuaca dingin menyelimuti. Dikutip dari Wikipedia , bubur sumsum adalah sejenis makanan berupa bubur berwarna putih yang dilengkapi dengan kuah air gula merah. Mengapa dinamakan bubur sumsum? Katanya, dinamakan demikian karena penampakannya yang putih menyerupai warna bagian luar sumsum tulang. Bahan utama bubur ini adalah tepung beras.  Tentu tepung beras dengan kualitas baik. Bagaimana kriterianya? Tentu mengikuti SNI, berikut informasi detilnya : N

Menulis Cerita Anak : Pengenalan Anggota Tubuh

CERITA TENTANG PENGENALAN ANGGOTA TUBUH Udara hangat, suara burung berkicau dan air bergemericik, menemani sang mentari menyingsing dari arah timur. “Assalamu’alaykum warahmatullah wabarakatuh…. Selamat pagi anak-anak… Bagaimana kabar hari ini?” ibu guru membuka ruang kelas batita dengan sapaan penuh semangat. Anak-anakpun menjawab dengan antusias, bahkan mereka berlomba-lomba mengeraskan suara, “Wa’alaykumsalam warahmatullah wabarakatuh… Selamat pagi ibu guru… Alhamdulillah….Luar biasa…Allahu Akbar!” Jawaban sapaan berlogat cedal khas anak-anak membahana di seluruh isi ruangan. Ibu guru tersenyum lebar. (Coba, siapa yang bisa peragakan, bagaimana senyum lebar itu?). Jawaban nyaring anak-anak tadi tak ubahnya pasokan energi yang membuat semangatnya menggebu sehari penuh. Pagi ini sang ibu guru akan mengenalkan pada anak-anak mengenai anggota tubuh. Sengaja beliau datang dengan tangan hampa. Tanpa buku, tanpa alat peraga. Rupanya beliau ingin tahu seberapa jauh anak-

Meneladani Visi dan Misi Keluarga Nabi Ibrahim bersama Ustadz Adriano Rusfi

Bagi keluarga kami, salah satu yang membuat betah tinggal di Bandung adalah fasilitas belajar ilmu parenting yang variatif dan ekonomis. Disinilah kami dipertemukan dengan komunitas belajar ilmu pendidikan anak, ragam acara peningkatan kualitas diri dan aneka playdate anak yang menyenangkan dan ramah kantong. Bahkan banyak kegiatan yang bisa diikuti tanpa dipungut biaya, cukup berbekal semangat belajar dan kemauan memperbaiki diri. Nah, di weekend  menjelang Idul Adha kemarin, kami berkesempatan menimba ilmu pendidikan berbasis keluarga dari Ustadz Adriano Rusfi di acara Kopdar Bulanan HebAT ( Home Education based on Akhlaq and Talents) Bandung. HebAT merupakan sebuah komunitas belajar berbasis grup WhatsApp yang mendampingi para orangtua menjalankan FbE (Fitrah based Education) dan CbE (Community based Education) dalam pendidikan anak-anaknya. Tak hanya kopdar bulanan, komunitas ini juga rutin mengadakan beragam aktivitas menarik untuk memfasilitasi kebutuhan belajar anak dan