Skip to main content

Semangat Memperbaiki Diri dan Mengajak pada Kebaikan

Menjadi fasilitator dalam sebuah kelas belajar sesama ibu, bagi saya bukanlah hal yang mudah. Dari segi pengalaman menjadi ibu, tentu ibu yang memiliki anak yang sudah berusia aqil baligh jauh lebih berpengalaman daripada saya. Dari segi keilmuan, ibu dengan latar belakang pendidikan, humaniora maupun psikologi tentu jauh lebih mumpuni daripada saya. Lalu, mengapa saya menjadi fasilitator?

Institut Ibu Profesional sudah saya ikuti sejak akhir tahun 2013, sejak kehamilan anak pertama. Hingga saat ini, saya merasakan banyak perbaikan yang terjadi dalam keluarga kami, melalui materi-materi dari Institut Ibu Profesional yang perlahan kami aplikasikan dalam kehidupan keluarga kami. Saya membayangkan, akan sangat baik jika banyak ibu mengetahui dan mempelajari hal ini. Alhamdulillah, pembelajaran di Institut Ibu Profesional saat ini tersusun secara runtut dan sistematis. Untuk dapat menjangkau banyak ibu, tentu perlu banyak kelas belajar yang dibuka dan keterlibatan banyak pihak perantara. Salah satunya, fasilitator. Fasilitator bukanlah guru. Layaknya sebuah kelas belajar mandiri di sekolah, fasilitator akan memfasilitasi peserta kelas untuk menggagas banyak ide, mengumpulkan dan menelaah berbagai referensi maupun menyusun solusi dari tantangan yang dihadapi. Fasilitator adalah teman belajar yang membersamai proses belajar peserta. Berjalan beriringan dan bertumbuh bersama.



Dengan menyampaikan apa yang sudah tersampaikan, saya berharap lebih memahami ilmu-ilmu Ibu Profesional. Terlebih, Ibu Profesional tidak memperbolehkan untuk menyampaikan hal-hal yang belum pernah dilakukan. Maka, dengan menjadi fasilitator, saya memecut diri saya untuk terus mempraktikkan ilmu yang telah didapatkan sembari berbagi cerita dengan peserta kelas.

(bersambung) 

Comments

Popular posts from this blog

Praktik Cooking Class : Bubur Sumsum Lembut

Apa yang pertama kali terbayang saat melihat bubur sumsum? Jika pertanyaan itu menghampiri saya, saya akan menjawab “kondisi sakit”. Saat sakit, biasanya nafsu makan kita berkurang, susah menelan dan lidah terasa pahit. Tak heran jika makanan ini seringkali menjadi asupan bagi orang sakit. Teksturnya yang lembut dan cita rasa optimal selagi hangat tentu memudahkan pemenuhan kebutuhan energi saat kondisi tubuh kurang prima. Saat sehatpun, mengonsumsi bubur ini terasa nikmat, apalagi jika di luar sedang diguyur hujan dan cuaca dingin menyelimuti. Dikutip dari Wikipedia , bubur sumsum adalah sejenis makanan berupa bubur berwarna putih yang dilengkapi dengan kuah air gula merah. Mengapa dinamakan bubur sumsum? Katanya, dinamakan demikian karena penampakannya yang putih menyerupai warna bagian luar sumsum tulang. Bahan utama bubur ini adalah tepung beras.  Tentu tepung beras dengan kualitas baik. Bagaimana kriterianya? Tentu mengikuti SNI, berikut informasi detilnya : N

Menulis Cerita Anak : Pengenalan Anggota Tubuh

CERITA TENTANG PENGENALAN ANGGOTA TUBUH Udara hangat, suara burung berkicau dan air bergemericik, menemani sang mentari menyingsing dari arah timur. “Assalamu’alaykum warahmatullah wabarakatuh…. Selamat pagi anak-anak… Bagaimana kabar hari ini?” ibu guru membuka ruang kelas batita dengan sapaan penuh semangat. Anak-anakpun menjawab dengan antusias, bahkan mereka berlomba-lomba mengeraskan suara, “Wa’alaykumsalam warahmatullah wabarakatuh… Selamat pagi ibu guru… Alhamdulillah….Luar biasa…Allahu Akbar!” Jawaban sapaan berlogat cedal khas anak-anak membahana di seluruh isi ruangan. Ibu guru tersenyum lebar. (Coba, siapa yang bisa peragakan, bagaimana senyum lebar itu?). Jawaban nyaring anak-anak tadi tak ubahnya pasokan energi yang membuat semangatnya menggebu sehari penuh. Pagi ini sang ibu guru akan mengenalkan pada anak-anak mengenai anggota tubuh. Sengaja beliau datang dengan tangan hampa. Tanpa buku, tanpa alat peraga. Rupanya beliau ingin tahu seberapa jauh anak-

Meneladani Visi dan Misi Keluarga Nabi Ibrahim bersama Ustadz Adriano Rusfi

Bagi keluarga kami, salah satu yang membuat betah tinggal di Bandung adalah fasilitas belajar ilmu parenting yang variatif dan ekonomis. Disinilah kami dipertemukan dengan komunitas belajar ilmu pendidikan anak, ragam acara peningkatan kualitas diri dan aneka playdate anak yang menyenangkan dan ramah kantong. Bahkan banyak kegiatan yang bisa diikuti tanpa dipungut biaya, cukup berbekal semangat belajar dan kemauan memperbaiki diri. Nah, di weekend  menjelang Idul Adha kemarin, kami berkesempatan menimba ilmu pendidikan berbasis keluarga dari Ustadz Adriano Rusfi di acara Kopdar Bulanan HebAT ( Home Education based on Akhlaq and Talents) Bandung. HebAT merupakan sebuah komunitas belajar berbasis grup WhatsApp yang mendampingi para orangtua menjalankan FbE (Fitrah based Education) dan CbE (Community based Education) dalam pendidikan anak-anaknya. Tak hanya kopdar bulanan, komunitas ini juga rutin mengadakan beragam aktivitas menarik untuk memfasilitasi kebutuhan belajar anak dan