Friday, 19 March 2021

Inspirasi dari Lima Perempuan yang Bergabung dengan Program Komunitas Perempuan di Berbagai Negara

Bismilahhirrohmanirrohim...



Kali ini saya ingin menuliskan seputar acara yang baru saja Himpunan Mahasiswa (HIMA) Institut Ibu Profesional Efrimenia (Eropa, Afrika, Amerika dan Oseania) selenggarakan berkenaan dengan Hari Perempuan Internasional di tanggal 8 Maret 2021 lalu. Sebenarnya bukan baru saja ya, mengingat acaranya sudah sebelas hari yang lalu. Namun tak apa, karena memang baru sekarang saya bisa mendokumentasikannya. Mendokumentasikan proses belajar adalah hal penting bagi saya sebagai salah satu ikhtiar untuk mengikat ilmu.

Himpunan Mahasiswa (HIMA) Institut Ibu Profesional Efrimenia merupakan wadah berkumpul para member Ibu Profesional yang memilih belajar di komponen Institut dengan mengikuti kelas belajar berjenjang mulai dari kelas Matrikulasi, Bunda Sayang, Bunda Cekatan hingga Bunda Shalihah. Jadi, member HIMA adalah member aktif dari kelas belajar yang beragam. Nah, HIMA menyediakan beragam ruang berbagi dan aktualisasi diri bagi para member karena kami meyakini bahwasanya berbagi akan membuat kita semakin bahagia sekaligus juga mengantarkan kebahagian untuk orang lain. Di HIMA ini saya mengemban amanah sebagai leader sejak Januari 2020 lalu.

Acara ini sebenarnya acara dadakan, karena idenya baru muncul di tanggal 2 Maret 2021. Sebelumnya saya selaku leader dan mba Wafi selaku manajer Program HIMA Efrimenia memang sedang tektokan koordinasi seputar program HIMA di tahun 2021 ini. Saya mengajukan program baru sebagai ruang berbagi yang bisa diakses oleh pihak umum dengan tajuk BELGIA (Berbagi Ilmu dan Pengalaman dengan Bahagia). Lalu tercetus ide spontan,

Mengapa tidak, kita jadikan Hari Perempuan Internasional sebagai momen BELGIA perdana?

Jika demikian, apa topik yang akan diangkat?

Jujur, tantangan zona waktu dan sebaran wilayah yang luas memang sebuah tantangan yang luar biasa dalam regional kami. Untuk diskusi satu topik di WAG saja, kami perlu waktu sekitar satu pekan untuk memberi waktu yang cukup bagi semua member. Saat di Eropa pagi, di Amerika sedang menjelang tidur, di Oseania sedang siang jelang sore hari. Ada yang baru punya alokasi waktu untuk berkontribusi di akhir pekan karena bekerja di ranah publik, ada yang gadget off di akhir pekan. Saat di benua Eropa, Afrika dan Australia sudah hari Senin, di Amerika masih hari Minggu. Saat mayoritas akhir pekan itu adalah hari Sabtu dan Minggu, ada pengurus dan member yang tinggal di negara di mana hari liburnya adalah Jum’at dan Sabtu. Jika mencari titik temu jam untuk koordinasi live via Zoom Meeting, salah satu dari zona waktu ada yang di tengah malam,  sehingga perlu bicara sembari berbisik atau di tengah kegelapan. Hahaha. Sungguh keunikan ini amat menantang, memicu kami untuk senantiasa merumuskan solusi kreatif.

Berangkat dari kondisi tersebut, muncul ide dalam pikiran, untuk mengangkat topik yang tak membutuhkan banyak waktu untuk berkoordinasi dan sudah menjadi pengalaman belajar dari masing-masing member. Maka, topik yang diangkat adalah :

Inspirasi Komunitas Perempuan dari Berbagai Negara

Teringat obrolan bersama Pak Dodik dan Bu Septi saat acara BUANA bulan lalu bahwasanya para perantau adalah orang-orang yang terbiasa menaklukkan tantangan. Mereka sudah biasa beradaptasi dan keluar dari zona nyaman. 

Maka kali ini, kami mengajak member untuk berbagi pengalamannya dalam bergerak di negara domisilinya. Bagaimana mereka beradaptasi dengan lingkungan mutikultural dalam bahasa asing, menyerap ilmu dan manfaat hingga berkontribusi dalam komunitas tersebut.

Saat kami membuka kesempatan berbagi di WAG HIMA Efrimenia, ada lima orang member yang siap berbagi pengalaman, termasuk di dalamnya saya dan mba Wafy dimana kami juga mencakup sebagai pengurus.



Berikut rangkuman singkat sharing dari tiap member :

Mba Febby (California, AS) : komunitas Microwives (para ibu yang memasak dengan microwave)

Di komunitas ini, para ibu berbagi tutorial memasak makanan yang semuanya menggunakan microwave sehingga cukup praktis. Para anggota komunitas ini kemudian membuka PO makanan ke masyarakat umum. Komunitas ini juga mengadakan penggalangan dana untuk pembangunan masjid di California. MasyaAllah...

Mba Rohmah (Iowa, AS) : komunitas Homeschooling

Berawal dari perkenalan dengan ibu-ibu pelaku Homeschooling yang kemudian saling kenal dan menyelenggarakan playdate bersama untuk anak-anaknya. Interaksi multikultural ini membuka kesempatan bagi mba Rohmah untuk belajar menerapkan clear and clarify dengan sesama. Mengedepankan ketersampaikan informasi antara komunikator dengan komunikan ketimbang rasa sungkan.

Mba Mia (Hannover, Jerman) : komunitas Spokusa

Mba Mia yang sudah tinggal selama tujuh tahun di Jerman, sudah banyak bergabung di komunitas di Jerman. Salah satu kegiatan di komunitas ini adalah sarapan bersama. Dari kegiatan ini, mba Mia jadi berkesempatan mencicipi aneka menu sarapan ala Jerman dan Turki. Ada juga kegiatan jalan-jalan bersama menjelajah alam dan budaya Jerman. Bahkan kegiatan sosial seperti membantu orang-orang yang tidak memiliki tempat tinggal yang kemudian mengantarkan mba Mia untuk meningkatkan rasa syukur.

Mba Wafi (Kairo, Mesir): komunitas mahasiswa

Mba Wafi, yang merupakan moderator acara, juga kami minta untuk berbagi pengalaman beliau dalam berkomunitas di Mesir. Mba Wafi sudah tinggal di Mesir sejak beliau kuliah dan masih belum menikah. Dengan tinggal di asrama mahasiswa, beliau jadi banyak belajar budaya dari segala penjuru dunia. Dan pesan dari pihak kampus adalah

Kalian itu tamu kami dan kalian itu akan jadi duta kampus di negara masing-masing.

Sehingga sejak awal setiap mahasiswa sudah dipersiapkan untuk menjadi duta sekembalinya kelak ke tanah air. Pengingat yang sangat mengena dari Al Azhar yang dikutip oleh mba Wafy, 

Kita ini duta, selalu menjadi orang asing di dunia ini. Semua pasti akan kembali. 

MasyaAllah... 

Mesa (Wina, Austria) : program belajar di komunitas sosial

Saya sendiri baru tinggal di Wina sejak Mei 2018 tanpa menguasai kemampuan bahasa Jerman yang menjadi bahasa lokal warga setempat. Karenanya saya belum terpikir untuk bergabung komunitas lokal. Namun bergeraknya diri untuk belajar bahasa Jerman secara gratis dengan memanfaatkan fasilitas yang disediakan di sini, justru mengantarkan saya mengenal komunitas sosial. Ya, selama lima semester saya belajar bahasa Jerman di tiga komunitas sosial untuk perempuan imigran, yaitu di LEFÖ, Vereinigung für Frauenintegration dan Peregrina. Di tempat ini tersedia kursus bahasa Jerman secara gratis maupun berbayar dengan harga terjangkau dan dilengkapi fasilitas penitipan anak. Proses ini juga menjadi proses permulaan adaptasi anak kedua saya untuk bersosialisasi di lingkungan yang menggunakan bahasa Jerman, sebelum masuk di TK.

Bergabung di komunitas sosial dengan mengikuti program belajar bahasa Jerman membuat saya belajar bukan hanya bahasa baru saja namun juga memahami bagaimana kebiasaan orang dari negara lain menjalankan sebuah proses belajar. Dua diantaranya adalah bagaimana pengajar kursus menjaga privasi orang lain termasuk no.HP setiap peserta dan memberikan strategi belajar bahasa dengan memulai dari hal yang kita sukai. Perjalanan ini kemudian membuka kesempatan untuk saya mengikuti berbagai program pengembangan diri perempuan.

Alhamdulillah sesi perdana BELGIA berjalan cukup lancar. Tantangan di balik layar Alhamdulillah bisa dihadapi bersama. Ya, siapa sangka jika di tengah sesi live ada salah satu yang izin terlebih dahulu untuk menunaikan salat Shubuh karena di wilayahnya baru masuk waktu Shubuh. Ada yang baru bisa hadir menyusul setelah tiga puluh menit acara berlangsung sepulang kerja di ranah publik. Ada yang live sambil digelayuti oleh tiga orang buah hati. Ada yang perlu izin pamit terebih dahulu di rapat yang seharusnya beliau ikuti hingga tuntas. Dan ada yang begitu usai live bersegera memakai jaket dan keluar rumah untuk berlari menjemput putrinya di sekolah. Sekalipun demikian semuanya dilakukan dengan bahagia dan lillahi ta’ala.

Senang rasanya bisa berkontribusi melalui cerita pengalaman untuk teman-teman Ibu Profesional dan para perempuan di seluruh dunia. Saya menyimak bagaimana teman-teman bergerak di wilayahnya masing-masing bersama komunitas lokal, dalam sebuah lingkaran kebaikan. Dari sini saya menyadari bahwa komunitas lokal memiliki peranan untuk menjadi salah satu support system yang bisa membantu para ibu rantau untuk beradaptasi dengan lebih nyaman dan efektif. Semoga Allah tuntun langkah kita senantiasa, aamiin…

 

Wina, 20 Maret 2021

Mesa Dewi Puspita

 


0 comments:

Post a Comment