Skip to main content

Empat Aksi Self-Care untuk Menjaga Kestabilan Diri

Bismillahirrohmanirrohim...

 


Satu jam yang lalu aku baru saja membersamai mba Nurul Afifah, rekan sesama member Himpunan Mahasiswa (HIMA) Institut Ibu Profesional regional Efrimenia (Eropa, Afrika, Amerika, dan Oseania) yang melakukan live streaming dalam rangka selebrasi Bunda Cekatan #3 untuk berbagi ilmu dengan mengambil topik self-care ala aku selama di rantau.

Aku bersyukur bisa memanfaatkan momen libur hari ini dengan turut berkontribusi di kegiatan Ibu Profesional Efrimenia. Mengapa? Karena belakangan aku sering skip mengikuti program karena jadwalnya bentrok dengan aktivitas Ausbildung yang sedang kujalani. Ada rasa ingin berkontribusi, namun perlu penyesuaian dengan ritme keseharian saat ini. Lalu saat mengikuti kegiatan di WAG dan menyadari bahwa saat ini sedang pekan selebrasi kelas bunda Cekatan, aku terpikir menawarkan diri untuk menjadi moderator mengingat teman-teman pengurus pasti sibuk di balik layar. Alhamdulillah bisa sedikit terlibat sekaligus memanfaatkan kesempatan untuk belajar kembali mengenai proses belajar di kelas Bunda Cekatan. Ah, jadi teringat kalimat pengingat dari seseorang, bahwa remedial terbaik adalah dengan memfasilitasi. Kali ini kesempatan remedial belajar, datang dengan cara mengambil peran sebagai moderator. Sebenarnya di tahun lalu pun aku mengambil peran sebagai moderator di program yang sama. Kala itu aku memoderatori mba Mia, yang sharing mengenai manajemen waktu dan pikiran ala mama rantau. Bedanya, dulu aku berperan sebagai ketua HIMA sehingga terlibat dalam kepengurusan dan keberjalanan program selebrasi juga menjadi tanggung jawabku, sedangkan saat ini aku merupakan member, sudah seleh dari amanah tersebut. Jadi sekarang lebih ke karena aku menawarkan diri secara spontan.

Apa yang kupelajari dari sesi sharing tadi?

Banyak sekali insight yang kudapatkan. Diskusi dengan sesama perempuan memang kerap membangkitkan asa dan semangat ya. MasyaAllah. Jadi sebenarnya mba Nurul itu mengambil topik belajar bahasa Jerman selama kelas Bunda Cekatan. Beliau pun melatih diri fokus di bidang tersebut dari mulai tahap telur, dimana peserta menggali hal-hal apa saja yang perlu dipelajari dalam hidup lalu dispesifikkan dengan menentukan mau belajar apa selama di kelas Bunda Cekatan ini. Kemudian ke tahap ulat yang  mencari dan mengumpulkan berbagai referensi belajar. Berlanjut ke tahap kepompong yang melatih kebiasaan baru, lalu ke tahap kupu-kupu yang menjalankan proses mentorship. Sharing ini semakin seru buatku, karena topik belajar yang kulatih selama kelas bunda Cekatan di tahun 2020 lalu adalah juga belajar bahasa Jerman. Jadi meresapi bagaimana lika-liku tantangan yang beliau alami. Sekaliyan aku jadi nostalgia, buka-buka lagi catatan perjalanan belajarku di kelas Bunda Cekatan yang kutulis di blog juga. Yang berkenan baca-baca juga, bisa klik di sini ya. 

Nah, di proses mentorship, beliau kesulitan untuk menemukan mentor bahasa Jerman. Mentor luring di Jerman tentunya lebih mumpuni juga ya,  langsung dari penutur asli. Jadilah di program mentorship beliau meminang mentor bidang Selfcare. AKu paham kondisi ini, karena dulu aku pun sempat beralih topik. Ya, mulanya aku juga mengalami kendala seperti beliau, tidak menemukan mentor utnuk belajar bahasa Jerman. Sehingga kemudian aku meminang mentor Skincare mengingat sat itu kulit wajahku sedang bermasalah di musim dingin. Dua pekan proses mentorship topik Skincare berjalan, aku menemukan topik belajar bahasa Jerman di list mentor. Aku kemballi berpikir ulang dan memantapkan diri beralih topik dengan beradab. Berpamitan dan memohon maaf pada mentor sebelumnya dan meminang mentor baru meskipun terlambat. Alhamdulillah aku cepat memprosesnya. Karena di pekan berikutnya, ada pengumuman bahwa sudah tidak diperbolehkan untuk berganti mentor.

Gambar 2. Sesi sharing yang seru dan mencerahkan bagiku


Nah, kembali lagi ke topik self-care. Terinspirasi dari sharing mba Nurul tadi, aku jadi ingin mendata bentuk-bentuk self-care ala aku. Supaya kelak kalau terlupa, tulisan ini bisa me-recall. Melansir dari situs https://www.everydayhealth.com/self-care/ bahwa basic self-care sendiri adalah tidur yang cukup dan berkualitas, makanan yang bernutrisi dan adekuat, berinteraksi dengan alam, menjalankan hobi dan membuat jurnal syukur. Aspek cakupan self-care sendiri ada lima, yaitu mental, spiritual, emosional, fisik dan relasi. Setelah mempelajari aspek-aspek tersebut dan menerapkan perlahan, aku menemukan beberapa toolkits yang aku banget, yaitu :

Olah nafas 4-7-8

Ini berfungsi banget kalau emosi sedang menggelegar, olah nafas dilanjutkan dengan dzikir dan mengubah posisi bisa cukup meregulasi emosi. Teknik 4-7-8 artinya empat detik ambil nafas, 7 detik menahannya, dan 8 detik menghembuskannya.

Baca Al Qur‘an

Pernah ngga sih, pikiran rasanya semrawut. Kayak ngga pengen ngapa-ngapain tapi ngga bisa berpikir juga. Nah, kalau terjebak di kondisi ini, membaca Al Qur‘an jadi salah satu obat jitu yang menentramkan. Seperti firman Allah dalam surat Ar-Ra‘d ayat 28 : (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah hanya dengan mengingat Allahlah hati menjadi tentram.

Makan Bakso

Sebagai ibu rantau di bumi Eropa, bakso bukanlah makanan yang bisa diakses dengan mudah jika sedang pengen. Memang ada sih, teman yang menjual frozen food dengan bakso sebagai salah satu produknya. Tapi kan harus pesan dulu, atau beli di masjid atau toko Indonesia yang jaraknya tidak dekat dari rumah. Karenanya, aku biasanya membuat stok bakso di rumah, untuk memenuhi kebutuhan self-care ini. Ada kalanya makan dua kali dalam sepekan, tapi ada kalanya juga jeda hingga tiga bulan lamanya. Sesuai kebutuhan dan kondisi. Sejujurnya, ada dua comfort food lagi buat aku, yaitu rujak cingur dan tahu campur, tapi keduanya tidak menjadi toolkits karena tidak ada yang jual dan membuatnya cukup sulit. Aku belum menemukan tekstur yang pas saat membuat lentho, dan kesulitan untuk menemukan cingur di penjual daging.

Menulis

Menulis memang kegiatan yang kusukai. Jadi aku kerap meluangkan waktu untuk hal ini meski waktuku tidak lagi seluang dulu. Dengan menulis, aku jadi bisa lebih menstrukturkan isi kepalaku dan membuat perasaan jadi lebih plong. Jika menulisnya sekaliyan dengan mengisi konten blog atau media sosial, aku merasa makin bahagia karena merasa ada yang bisa dibagikan ke orang lain, yang semoga bisa bermanfaat. Aamiin...

Hal penting yang mengikuti aksi self-care ini adalah self-control. Bagaimana agar apa yang kulakukan, tidak berlebih dan membuatku lupa waktu atau mengabaikan amanah lain yang harus kukerjakan. Apapun aktivitasnya, yang terpenting tetaplah menjaga keseimbangan diri.

Wallahu a‘lam bishshawab.

Wien, 4.August 2022

 

 

 

Comments

Popular posts from this blog

Praktik Cooking Class : Bubur Sumsum Lembut

Apa yang pertama kali terbayang saat melihat bubur sumsum? Jika pertanyaan itu menghampiri saya, saya akan menjawab “kondisi sakit”. Saat sakit, biasanya nafsu makan kita berkurang, susah menelan dan lidah terasa pahit. Tak heran jika makanan ini seringkali menjadi asupan bagi orang sakit. Teksturnya yang lembut dan cita rasa optimal selagi hangat tentu memudahkan pemenuhan kebutuhan energi saat kondisi tubuh kurang prima. Saat sehatpun, mengonsumsi bubur ini terasa nikmat, apalagi jika di luar sedang diguyur hujan dan cuaca dingin menyelimuti. Dikutip dari Wikipedia , bubur sumsum adalah sejenis makanan berupa bubur berwarna putih yang dilengkapi dengan kuah air gula merah. Mengapa dinamakan bubur sumsum? Katanya, dinamakan demikian karena penampakannya yang putih menyerupai warna bagian luar sumsum tulang. Bahan utama bubur ini adalah tepung beras.  Tentu tepung beras dengan kualitas baik. Bagaimana kriterianya? Tentu mengikuti SNI, berikut informasi detilnya : N

Menulis Cerita Anak : Pengenalan Anggota Tubuh

CERITA TENTANG PENGENALAN ANGGOTA TUBUH Udara hangat, suara burung berkicau dan air bergemericik, menemani sang mentari menyingsing dari arah timur. “Assalamu’alaykum warahmatullah wabarakatuh…. Selamat pagi anak-anak… Bagaimana kabar hari ini?” ibu guru membuka ruang kelas batita dengan sapaan penuh semangat. Anak-anakpun menjawab dengan antusias, bahkan mereka berlomba-lomba mengeraskan suara, “Wa’alaykumsalam warahmatullah wabarakatuh… Selamat pagi ibu guru… Alhamdulillah….Luar biasa…Allahu Akbar!” Jawaban sapaan berlogat cedal khas anak-anak membahana di seluruh isi ruangan. Ibu guru tersenyum lebar. (Coba, siapa yang bisa peragakan, bagaimana senyum lebar itu?). Jawaban nyaring anak-anak tadi tak ubahnya pasokan energi yang membuat semangatnya menggebu sehari penuh. Pagi ini sang ibu guru akan mengenalkan pada anak-anak mengenai anggota tubuh. Sengaja beliau datang dengan tangan hampa. Tanpa buku, tanpa alat peraga. Rupanya beliau ingin tahu seberapa jauh anak-

Meneladani Visi dan Misi Keluarga Nabi Ibrahim bersama Ustadz Adriano Rusfi

Bagi keluarga kami, salah satu yang membuat betah tinggal di Bandung adalah fasilitas belajar ilmu parenting yang variatif dan ekonomis. Disinilah kami dipertemukan dengan komunitas belajar ilmu pendidikan anak, ragam acara peningkatan kualitas diri dan aneka playdate anak yang menyenangkan dan ramah kantong. Bahkan banyak kegiatan yang bisa diikuti tanpa dipungut biaya, cukup berbekal semangat belajar dan kemauan memperbaiki diri. Nah, di weekend  menjelang Idul Adha kemarin, kami berkesempatan menimba ilmu pendidikan berbasis keluarga dari Ustadz Adriano Rusfi di acara Kopdar Bulanan HebAT ( Home Education based on Akhlaq and Talents) Bandung. HebAT merupakan sebuah komunitas belajar berbasis grup WhatsApp yang mendampingi para orangtua menjalankan FbE (Fitrah based Education) dan CbE (Community based Education) dalam pendidikan anak-anaknya. Tak hanya kopdar bulanan, komunitas ini juga rutin mengadakan beragam aktivitas menarik untuk memfasilitasi kebutuhan belajar anak dan