Skip to main content

Mengurangi Dulu, Fokus Kemudian

Bismillahhirrohmanirrohim...

Alhamdulillah siang tadi kami sudah kembali ke Wina setelah satu pekan melipir di pinggiran salah satu desa Oberösterreich. Selama satu pekan lalu saya merasakan suasana tenang yang berbeda dari keseharian. Wajar saja, kondisi di Obertraun, tempat kami menginap, jauh berbeda dengan kota Wina, tempat sehari-hari kami tinggal. Dalam rentang waktu satu pekan tersebut, ada beberapa kondisi yang menjadi insight bagi diri saya pribadi, terkait mindfulness, ketenangan dan belajar menjaga fokus. Di tulisan ini saya mencoba merangkumnya agar tak keburu lepas dari ingatan.

Menentukan Prioritas

Di momen liburan musim panas tahun lalu, perdana kami mengikuti program Familienurlaub dari pemerintah kota Wina. Pasca program tersebut, si sulung mengungkapkan pendapatnya. Salah satunya, ia mengkritisi jadwal yang terlalu penuh sehingga ia merasa kurang bisa menikmati momen liburan dan terjebak dengan challenge-challenge yang perlu dikerjakan sehingga kebersamaan kami sekeluarga justru ia rasakan kurang intensif. Ini insight yang menjadi bahan koreksi kami selaku orangtua. Karena saat itu justru kami sempat merasa bahwa challenge-challenge yang kami kerjakan selama liburan, seperti misalnya challenge antar keluarga, atau challenge saat berada di museum terompet, itu membuat anak tertantang dan semakin bersemangat menjelajah isi museum dan menikmati liburan. Namun ternyata hal tersebut justru terkonfirmasi tidak tepat di pandangan anak-anak. Kami bersyukur anak-anak bisa dan berkenan berterus terang mengungkapkan perasaan tidak nyamannya pada kami, sehingga kami bisa melakukan tindakan korektif di tahun ini. Karenanya, sedari awal mendaftar Familienurlaub tahun ini, kami memutuskan untuk tidak ikut program grup kecuali Ausflug. Alokasi waktu tersebut kami alihkan dengan menggunakannya untuk Ausflug mandiri sekeluarga atau pun jalan santai dan bercengkerama. Alhamdulillah agenda liburan jadi terasa lebih rileks. Saya jadi teringat celetuk salah satu anak dari keluarga lain yang segrup dengan kami. Di hari kedua, ia bertanya pada Betreuerin, "Kapan kita punya waktu luang? Aku ingin bermain bola." Ah, ternyata ia sedang merasakan hal serupa dengan si sulung.

Larangan Menelefon Saat di Ruang Makan

Momen makan merupakan momen yang membuat masing-masing keluarga duduk bersama, berada di satu meja makan dan berhadap-hadapan. Artinya, itu merupakan momen emas untuk fokus menikmati makanan dan mengobrol santai. Waktu makan pun berbatas sekitar satu jam saja di setiap waktunya, seperti pagi jam 08.00-09.00, siang jam 12.00-13.00 dan malam 18.00-19.00. Ada larangan untuk menerima telefon saat berada di ruang makan. Jika mendesak, silakan keluar ruang makan terlebih dahulu. Jika saya amati, orang-orang makan juga tanpa gawai. Mereka fokus makan dengan lahap dan terkoneksi satu sama lain antar anggota keluarga. Ada yang tertawa terbahak bersama, ada anak yang menangis lalu orangtua segera menenangkan, ada yang menumpahkan air, ada yang sedang dimarahi ibunya. Semuanya berinteraksi dengan pihak di dekatnya. Sempat juga ada yang keluar untuk menerima telefon mendesak.

Momen Libur, Jadi Ada Alokasi Waktu untuk Kegiatan Daring

Di momen liburan ini juga saya jadi berkesempatan untuk menulis setoran KLIP dengan rutin. Saya merasa ada waktu yang bisa saya alokasikan untuk rutin menyetor tulisan, tidak seperti hari-hari biasanya. Alhamdulillah momen liburan tersebut juga bisa saya gunakan untuk menyimak tipis-tipis sharing teman-teman Ibu Profesional Efrimenia sebagai wujud selebrasi kelas bunda cekatan yang telah berhasil mereka lalui. Senangnya, bisa kembali hadir dan menyimak. Ada rasa rindu yang menyeruak dan terobati. Dan saya makin menyadari keterbatasan saya saat sedang tidak libur. Tidak nyaman ternyata saat kita yang terbiasa aktif di sebuah forum terpaksa mengurangi keaktifan karena ada hal lain yang sedang perlu fokus tinggi untuk diprioritaskan. Mencoba perlahan menerima ketidaknyamanan itu, dan saat datang kesempatan untuk terlibat aktif, mencoba total meski dalam waktu yang singkat.

Alhamdulillah, semoga bisa mengoptimalkan setiap kesempatan yang dimiliki dengan aksi produktif. Dan semakin menyadari, bahwa keterampilan untuk menjaga fokus bisa didapatkan jika sebelumnya kita sudah berani untuk melepaskan beberapa hal untuk mengerjakan hal yang benar-benar sedang menjadi prioritas.

Tinggal di Obertraun memang nyaman, tapi Wina tetap membuat hati merindu. Saya senang tinggal di tengah kota, yang menyajikan ragam kegiatan menarik dan fasilitas belajar yang lengkap. Namun tentu saja juga sekali waktu perlu melipir ke desa untuk relaksasi dan mengambil jeda memanfaatkan waktu libur. Kini, kami siap kembali ke ibu kota dan menjalankan aktivitas-aktivitas produktif kembali. 

Wien, 2. August 2022

 

 

 

 

 

 

 

 

Comments

Popular posts from this blog

Praktik Cooking Class : Bubur Sumsum Lembut

Apa yang pertama kali terbayang saat melihat bubur sumsum? Jika pertanyaan itu menghampiri saya, saya akan menjawab “kondisi sakit”. Saat sakit, biasanya nafsu makan kita berkurang, susah menelan dan lidah terasa pahit. Tak heran jika makanan ini seringkali menjadi asupan bagi orang sakit. Teksturnya yang lembut dan cita rasa optimal selagi hangat tentu memudahkan pemenuhan kebutuhan energi saat kondisi tubuh kurang prima. Saat sehatpun, mengonsumsi bubur ini terasa nikmat, apalagi jika di luar sedang diguyur hujan dan cuaca dingin menyelimuti. Dikutip dari Wikipedia , bubur sumsum adalah sejenis makanan berupa bubur berwarna putih yang dilengkapi dengan kuah air gula merah. Mengapa dinamakan bubur sumsum? Katanya, dinamakan demikian karena penampakannya yang putih menyerupai warna bagian luar sumsum tulang. Bahan utama bubur ini adalah tepung beras.  Tentu tepung beras dengan kualitas baik. Bagaimana kriterianya? Tentu mengikuti SNI, berikut informasi detilnya : N

Menulis Cerita Anak : Pengenalan Anggota Tubuh

CERITA TENTANG PENGENALAN ANGGOTA TUBUH Udara hangat, suara burung berkicau dan air bergemericik, menemani sang mentari menyingsing dari arah timur. “Assalamu’alaykum warahmatullah wabarakatuh…. Selamat pagi anak-anak… Bagaimana kabar hari ini?” ibu guru membuka ruang kelas batita dengan sapaan penuh semangat. Anak-anakpun menjawab dengan antusias, bahkan mereka berlomba-lomba mengeraskan suara, “Wa’alaykumsalam warahmatullah wabarakatuh… Selamat pagi ibu guru… Alhamdulillah….Luar biasa…Allahu Akbar!” Jawaban sapaan berlogat cedal khas anak-anak membahana di seluruh isi ruangan. Ibu guru tersenyum lebar. (Coba, siapa yang bisa peragakan, bagaimana senyum lebar itu?). Jawaban nyaring anak-anak tadi tak ubahnya pasokan energi yang membuat semangatnya menggebu sehari penuh. Pagi ini sang ibu guru akan mengenalkan pada anak-anak mengenai anggota tubuh. Sengaja beliau datang dengan tangan hampa. Tanpa buku, tanpa alat peraga. Rupanya beliau ingin tahu seberapa jauh anak-

Meneladani Visi dan Misi Keluarga Nabi Ibrahim bersama Ustadz Adriano Rusfi

Bagi keluarga kami, salah satu yang membuat betah tinggal di Bandung adalah fasilitas belajar ilmu parenting yang variatif dan ekonomis. Disinilah kami dipertemukan dengan komunitas belajar ilmu pendidikan anak, ragam acara peningkatan kualitas diri dan aneka playdate anak yang menyenangkan dan ramah kantong. Bahkan banyak kegiatan yang bisa diikuti tanpa dipungut biaya, cukup berbekal semangat belajar dan kemauan memperbaiki diri. Nah, di weekend  menjelang Idul Adha kemarin, kami berkesempatan menimba ilmu pendidikan berbasis keluarga dari Ustadz Adriano Rusfi di acara Kopdar Bulanan HebAT ( Home Education based on Akhlaq and Talents) Bandung. HebAT merupakan sebuah komunitas belajar berbasis grup WhatsApp yang mendampingi para orangtua menjalankan FbE (Fitrah based Education) dan CbE (Community based Education) dalam pendidikan anak-anaknya. Tak hanya kopdar bulanan, komunitas ini juga rutin mengadakan beragam aktivitas menarik untuk memfasilitasi kebutuhan belajar anak dan