Monday, 23 May 2016

Materi 2 Program Matrikulasi Ibu Profesional : Membangun Peradaban dari Dalam Rumah

Saat ini sudah masuk minggu ketiga pembelajaran di Program Matrikulasi Ibu Profesional. Tapi saya belum sempat meresume materi minggu kedua. Alhamdulillah mba Ike selaku Sekretaris Umum batch 1 ini, sudah meresume dan membagikannya di grup Facebook. Jadilah saya izin untuk mengambil dan menyimpannya disini sebagai catatan belajar. Kelak, jika ada kesempatan, saya berencana merapikannya, terutama beberapa ejaan dna singkatan-singkatan yang tertera di sesi tanya jawab. Sekarang, melakukan yang prioritas dulu. Mengejar setoran ODOP, hehe
Berikut resumenya :

MEMBANGUN PERADABAN DARI DALAM RUMAH 
Oleh : Septi Peni Wulandani 
“Rumah adalah taman dan gerbang peradaban yang mengantarkan anggota keluarganya menuju peran peradabannya” 
Bunda, rumah kita adalah miniatur peradaban, dimana kita berdua bersama suami, diberi amanah sebagai pelaku peradaban melalui pendidikan anak-anak kita. Oleh karena itu sebagai orang yang terpilih dan dipercaya oleh yang Maha Memberi Amanah, sudah selayaknya kita jalankan dengan sungguh-sungguh. Maka tugas utama kita sebagai pelaku peradaban adalah mendidik anak-anak sesuai dengan kehendakNya, bukan mencetaknya sesuai keinginan kita. 
Allah s.w.t menghadirkan kita di muka bumi ini sudah dilengkapi dengan “misi spesifik’nya, tugas kita memahami kehendakNya. Kemudian ketika kita dipertemukan dengan pasangan hidup kita untuk membentuk sebuah keluarga, tidak hanya sekedar untuk melanjutkan keturunan, atau hanya sekedar untuk menyempurnakan agama kita. 
Lebih dari itu, kita bertemu dengan suami dan melahirkan anak-anak, adalah untuk lebih memahami apa sebenarnya “peran spesifik keluarga” kita di muka bumi ini. Hal ini yang kadang kita lupakan, meski sudah bertahun-tahun menikah. Darimana kita harus memulainya? 
Pertama temukan potensi unik kita dan suami, coba ingat-ingat mengapa dulu anda memilih “dia” menjadi suami anda? Apa yang membuat anda jatuh cinta padanya? Dan apakah sampai hari ini anda masih bangga terhadap suami anda? 
Kedua, lihat diri kita, apa keunikan positif yang kita miliki? Mengapa Allah menciptakan kita di muka bumi ini? Sampai kita berjodoh dengan laki-laki yang sekarang menjadi suami kita? Apa pesan rahasia Allah terhadap diri kita di muka bumi ini? Potensi unik produktif apa yang kelak menjadi panggilan hidup atau alasan kehadiran di muka bumi yang menebar rahmat dan manfaat bagi alam dan kehidupan. 
Ketiga, lihat anak-anak kita, mereka anak-anak luar biasa. Mengapa rahim kita yang dipilih untuk tempat bertumbuhnya janin anak-anak hebat yang sekarang ada bersama kita? Mengapa kita yang dipercaya untuk menerima amanah anak-anak ini? Punya misi spesifik apa Allah kepada keluarga kita, sehingga menghadirkan anak-anak ini di dalam rumah kita?
Keempat, lihat lingkungan dimana kita hidup saat ini. Mengapa kita bisa bertahan hidup dengan kondisi alam dimana tempat kita tinggal saat ini? Mengapa Allah menempatkan keluarga kita disini? Mengapa keluarga kita didekatkan dengan komunitas-komunitas yang berada di sekeliling kita saat ini? 
Empat pertanyaan di atas, apabila terjawab akan membuat anda dan suami memiliki “misi pernikahan” sehingga membuat kita layak mempertahankan keberadaan keluarga kita di muka bumi ini. 
Berawal dari memahami peran spesifik keluarga kita dalam membangun peradaban, kita akan makin paham apa potensi unik produktif keluarga kita, sehingga kita bisa senantiasa berjalan di jalanNya. Karena orang yang sudah berjalan di jalanNya, peluanglah yang akan datang menghampiri kita, bukan justru sebaliknya, kita yang terus menerus mengejar uang dan peluang. 
Selanjutnya kita akan makin paham program dan kurikulum pendidikan semacam apa yang paling cocok untuk anak-anak kita, diselaraskan dengan bakat tiap anak, potensi unik alam sekitar, kearifan lokal dan potensi komunitas di sekitar kita. 
Kelak, anda akan membuktikan bahwa antara pekerjaan, berkarya dan mendidik anak, bukanlah sesuatu yang terpisahkan, sehingga harus ada yang dikorbankan. Semuanya akan berjalan beriring selaras dengan harmoni irama kehidupan. 
TANYA & JAWAB
1. Berdasarkan pengalaman ibu, apa saja yg mempengaruhi berapa lama bukti itu datang bu? Apakah saat kolaborasi jawaban 4 pertanyaan dasar ttg misi hidup tsb atau ada faktor lain yg menjadi katalisnya? ➡ Mbak Niken, menurut pengalaman saya dan pak Dodik, ternyata kuncinya adalah di no satu, penerimaan kita terhadap pasangan. Ketika secara lahir dan batin kami berdua sudah saling menghargai kehebatan masing-masing, mensiasati kekurangan-kekurangan yang ada pada kami. hal tersebut memudahkan jalan kami untuk menemukan misi spesifik keluarga.
2. Bu Septi, bagaimana tahapannya kita bisa tahu dan menemukan misi spesifik keluarga kita? Apakah berawal dari memetakan kelebihan kita sebagai orang dulu, lalu bila telah hadir anak, usia brp kita bisa mengikutsertakan anak dalam pemetaan misi spesifik keluarga➡ Betul mbak Nia, dimulai dari pemetaan diri kita berdua sebagai pasangan suami istri, kemudian setelah itu berdua memahami anak-anak yang dihadirkan dalam keluarga ini, selanjutnya potensi unik alam, tempat kita tinggal, komunitas sekeliling kita dll. Disanalah kita bakal paham, mengapa Allah menjadikan keluarga kita seperti ini.
3. Bagaimana kita tahu dan yakin bhw sesuatu itu ada misi spesifik kita?➡ Mbak Nonong, ada gejala-gejalanya, anatara lain, ketika kita melakukan hal tersebut, Mata kita selalu berbinar-binar, Energi tidak pernah habis, serasa ada energi yang terbarukan, tidak pantang menyerah, setiap kali ada ujian, selalu makin bersemangat. (Itu versi saya). Kalau versi Abah Rama, ada 4 E (Enjoy, Easy, Excellent, Earn). Nah untuk itu perlu dicoba satu persatu, ketika menemukan sesuatu yang "gue banget" segera tekuni dan jangan berganti-ganti (mengingat faktor U- umur) disitulah kita akan semakin memahami mengapa Allah menciptakan kita di muka bumi ini.
4. Bagaimana menemukan misi spesifik klrga bu? Apakah learning by doing atau hrs berupaya dg mmbuat poin2 penting dan dievaluasi? Brngkt dr 2 org yg mnikah tnpa visi misi, hnya krn cinta dan mrasa sama2 baik...➡ Mbak Laila di Aceh, cara menemukan misi spesifik sudah saya jawab di atas ya. Kerentanan sebuah rumah tangga itu biasanya disebabkan karena keluarga tersebut tidak memiliki "misi pernikahan" dan "tidak ada kegiatan mendidik" didalamnya. Hanya sekedar cinta dan merasa sama-sama baik. Good is not enough anymore, we have to be different. Harus ada yang membedakan keluarga anda dengan keluarga yang lainnya. Karena keluarga anda adalah unik. Maka tidak bisa keluarga itu asal jalan saja, harus disepakati bersama ke arah mana perjalanan menuju DIA. Dari situlah kita akan paham perjalanan keluarga ini setelah beberapa tahun menikah ON TRACK atau OFF track. Bicarakan dengan suami, dan evaluasi setiap tahun perjalanan hidup.
5. Andita, Blh tau bund misi pernikahan bunda septi & pak dodik?➡ Dari awal menikah, pak Dodik sudah punya misi "membangun peradaban dari dalam rumah", sehingga meminta saya sebagai calon istrinya untuk melepas SK Pegawai Negeri saya, dan full menjadi ibu bagi anak-anaknya. 
6. Pada usia brp tahun bunda septi dan pak dodik menemukan misi spesifik hidup? Kalau saya baru menemukan misi spesifik hidup setelah dikaruniai Enes dan Ara. Perlu proses panjang. Kalau pak Dodik kayaknya sebelum menikah sudah punya. Saya banyak belajar dari beliau. 
7. Boleh tau apa misi spesifik hidup ibu septi & pak dodik? Misi spesifik hidup saya "INSPIRATOR" tugas saya di muka bumi ini ternyata ingin menginspirasi banyak orang, semua pekerjaan yang berhubungan dengan "inspirasi" selalu membuat saya berbinar-binar. Dan lebih spesifik lagi khusus untuk pendidikan anak dan keluarga. Kalau pak Dodik " Developer dan Educator" beliau selalu berbinar ketika menjalankan peran membangun hal baru yang berhubungan dengan pendidikan. Saat ini kami sedang mengamati 3 peran hidup anak-anak, sedang kita lihat konsistensinya. Terimakasih bu🏻.
8. Darimana kita tahu kurikulum yang cocok untuk anak2? Membeli ide dimana biasanya pa dodik dan bu septi? Saya ibu dari 4 anak, jadi kadang bingung jika ketika mereka belajar bersama. Bahasa yang disampaikan harus ikut bahasa usia anak yg mana ➡ personalized curriculum untuk setiap anak itu muncul bersamaan dengan penemuan misi spesifik masing-masing anak. Sehingga kami tidak pernah memakai kurikulum baku yang sudah dibuat oleh manusia. Seiring berjalannya waktu kita amati perkembangan anak-anak, kami diskusikan berdua, buka dasar Alqur'an dan Hadist, kemudian bersilaturahim dengan para ahli, setelah itu kita susun bersama dengan anak-anak. mengenai konsep belajar, bunda nanti bisa belajar di materi "manajemen kelas" biasanya saya mempraktekkan bagaiman mengajar dengan berbagai usia di rumah. Ikuti terus ya.
9. Saya suka bingung kalo ngomongin misi. terakhir kali waktu merumuskan misi keluarga. langkahnya seperti ini : 1. saya buat draft misi keluarga dalam bentuk mind map. draft dibuat.berdasarkan hasil ngobrol ngalor ngidul yang saya simpulkan. 2. mengajukan mind map pada suami 3. mendiskusikan mind map (seringnya sih suami udah setuju aja) 4. kesimpulan misi keluarga. Sudah benar belum ya bu prosesnya? nesri-bogor➡ ikalau melihat langkah mbak nesri, terlihat mbak nesri yang lebih sistematis, lebih proaktif dibandingkan suami. kalau memang kondisinya semacam itu, maka langkah mbak nesri sudah tepat untuk saat ini. ke depan akan lebih baik lagi kalau mindmap itu muncul dari kedua belah pihak, banyakin ngobrol dan libatkan anak-anak. Belajar menjadi fasilitator handal untuk keluarga, sampai kita akhirnya banyak mendengarkan daripada berbicara. Setelah itu sistemasikan.
10. Bu Septi, dulu sama pak dodik di awal pernikahan apa pernah terjadi perubahan visi misi yg sblmnya sudah di gagas di sblm menikah? jika iya,bagaimana caranya bs kembali ke visi misi awal atau malah merubah bersama2 visi misi sesuai keadaan?➡ Mbak Lisa di Banjarmasin, kalau misi pernikahan dari awal selalu ON Track di membangun peradaban. Yang mengganggu biasanya kerikil-kerikil tajam kehidupan yang disebabkan karena kesalahan methodenya bukan MISI nya yang salah. Methode itu bisa komunikasi yang tidak produktif, cara menyelesaikan masalah yang kurang biajasana, kekreativitasan dalam mengelola rumah tangga yang berhenti dll. Jadi yang diperbaiki adalah hal tersebut. Kami berdua selalu menguatkan pada core value sebagai jalan kami yaitu IMAN dan KEHORMATAN. Apakah yang kami lakukan ini menguatkan iman dan kehormatan? kalau ya lanjut, kalau tidak stop. itu yang menjadi indikator perjalanan.
11. Aslm. Bu Septi...sy ingin bertanya ttg NHW2 poin B terkait kekuatan potensi dan kelemahan anak. Bolehkah Ibu memberi batasan kekuatan potensi dan kelemahan anak menggunakan parameter apa? Krn jk tdk dibatasi...mohon maaf jawaban akan sangat luas. Bagi kami dg latbel psikologi...u melihat kekuatan potensi dan kelemahan bisa dilihat dalam byk aspek, meski dalam bahasa kami u anak lebih tepat menggunakan kata matang dan belum matang. Sedangkan istilah kekuatan dan kelemahan lebih cocok digunakan u remaja yg sdh terukur bakatnya. Dg uraian d atas, sy mohon diberi pencerahan dlm menganalisa kekuatan potensi dan kelemahan anak. Apakah berdasarkan; - milestone, yg dijabarkan melalui aspek *kognitif, *emosi, *sosial, *dorongan/motivasi, *fisik & motorik; - tipe temperamen anak yg sdh dibawa sejak lahir; - perkembangan kognitif oleh Piaget; - tahapan psikoseksual oleh Sigmund Freud; - tahapan psikososial oleh erikson; -dsb. Selain itu dalam melihat kekuatan dan kelemahan anak tdk bisa dilihat sepotong2 berdasarkan milestone, tp jg perlu dilihat usia dan pola asuh ortu. Izinkan sy u memberi contoh: Anak umur 4 tahun dibilang kelemahannya agresif & pembangkang. Bagi yg memiliki pemahaman psikologi ttg teori perkembangan anak, mungkin lebih mengerti bhw anak umur 4 tahun secara umum blm bs mengendalikan emosi dan masih berada dalam tahap negativistik, shg tidak akan menganggap hal tsb. kelemahan. Namun orang awam mungkin bilang itu kelemahan.. - Misalnya ortu sangat academic oriented. Sejak bayi, anaknya sudah diperlihatkan flash card berisi huruf alfabet, kata2 & angka2. Sering diberikan games2 edukasi. Yg semuanya dilakukan sambil duduk. Ortunya kurang menstimulasi anaknya untuk melompat, memanjat, menaiki/menuruni tangga, dsb. Lalu saat berusia 3 tahun, si anak sudah bs membaca kata. Tp dia blm bisa naik/turun tangga dengan kaki bergantian, blm bs jalan mundur, belum bs melompat. Apakah kita bs mengambil kesimpulan bahwa kekuatan anak itu adalah membaca (persepsi visual, daya ingat) dan kelemahannya adalah motorik kasar? Pdhl jika dianalisa lebih jauh ketidakmatangan anak dlm aspek motorik kasar lebih disebabkan oleh treatment dr ortunya. Demikian Bu Septi, mohon konfirmasi dan pencerahan --> Bu Zakiyah, di point B kita akan khusus mengamati potensi kekuatan anak kita, tidak perlu menuliskan kelemahannya. Karena dengan mengenal potensi kekuatan kita akan bisa mensiasati kelemahan anak. Prinsip : "pahami kekuatan diri, siasati kelemahan" . "Apabila engkau melihat anakmu berbuat baik, puji dan catatlah, namun ketika anakmu berbuat buruk, tegur, dan jangan pernah kau mencatatnya" (-Umar bin Khattab). Indikator apa yang dipakai? Bergantung pada masing-masing keluarga, mau mengambil milestone berdasarkan teori yg sdh dibuat orang lain atau berdasarkan value keluarga yg disepakati. Untuk hal ini semua keluarga tidak bisa seragam. Karena kita beragam. Sepakati dengan suami, mana track yg akan dipakai. Shg berdua akan mengatakan ON Track atau OFF track. Contoh kalau di keluarga kami sepakat melihat kekuatan anak dengan indikator kefitrahannya; a. Fitrah Ilahiyah dg 4 indikator: iman-akhlak-adab-bicara; b. Fitrah Belajar dg 4 indikator : Intellectual curiosity- creative imagination-art of discovery and invention - noble attitude; c. Fitrah Bakat dg 4 indikator : Enjoy-Easy-Excellent-Earn; d. Fitrah perkembangan : Saya pakai buku KIA nya Jica sejak anak-anak ada dlm kandungan. Silakan buat sesimple mungkin dan semudah mungkin, shg bekerja untuk kita dan anak-anak. Prinsip terakhir "Semua boleh, kecuali yang tidak boleh". Semua teori yg diyakini keluarga boleh dipakai, yg tidak boleh cuma satu " mencari kelemahan anak-anak kita".
12. Maksudnya mensiasati kelemahan Bagaimana ya bu.. Masih bingung. Kita tidak Boleh mencari kelemahan Tapi mensiasati. Kalau Mau disiasati bukannya harus tau dulu? Maaf Belum mengerti --> bener mbak kelemahan itu terdeteksi oleh kita tapi tidak perlu diungkapkan apalagi ditulis gede2 dan ditempel, yg perlu ditulis gede dan dimasukkan alam bawah sadar kita adalah kekuatan anak-anak. Misal : anak kita dalam fitrah bakat terdeteksi lemah di bidang art, maka kita akan siasati kelemahan ini ke depannya dg tidak memaksa anak belajar art melainkan berkolaborasi dg anak-anak yg kuat di bidang art.⁠⁠⁠⁠
13. Indikator kefitrahan Bisa dibaca dimana ya bu Septi. Saya search potential anak baru liat Yg 9 dasar potensi kecerdasan anak dr Prof Dr Howard Gardner. Pengen tau Yg sesuai Yg manaπŸ˜… masih meraba.➡ baru sadar ya mbak skrg, kl selama ini kita mendidik anak, masih mengalir saja tanpa pegangan, dan pakai indikator kekuatan dr nilai di sekolah saja biasanya. Indikator fitrah yg saya pakai ini ala pak Dodik Mariyanto, yg dr awal menetapkan tujuan mendidik anaknya belajar di rumah itu apa saja. kami singkat jadi ICAN ( intelectual curoisity - noble attitude). Ada juga indikator fitrah bedasarkan buku fitrah based education yg ditulis pak Harry dkk. Kl di fitrah bakat saya sdg mengembangkan indikator yg disebut "pandu 45" based on talents mappingnya Abah Rama. Cari ilmunya mbak, dan segera buat formula ala keluarga anda.⁠⁠⁠⁠
14. Bu septi utk poin B kalo anak masih bayi gmna ya caranya?usia 7 bulan..cara melihat potensinya? Sy msh bingung utk bag itu. --> mbak lisa kalau masih bayi, pakai fitrah perkembangan ya, ada banyak indikator disana bisa pakai KIA, ada juga yg dikeluarkan direktorat PAUD dll silakan cari.😁
15. Sy agak kesulitan menentukan misi spesifik bu, bgaimana caranya mungkin bs dijabarkan sedikit?➡ Di materi kedua ini dan materi-materi selanjutnya Bunda akan semakin menemukan misi spesifik hidup masing-masing, untuk itu terus belajar ya. Tp yg saya inginkan, apapun cita2 anak2... mereka tetap hrs hafidz/ hafidzoh. Yg seperti itu terlalu memaksakan tidak ya bu, karena sy menganggap semua anak pasti mampu utk itu➡Pahami masing-masing anak, kuncinya hanya satu TIDAK MEMAKSAKAN/MENITIPKAN mimpi orangtua di kehidupan anak-anak. Anak mau menghafal Al Qur'an karena muncul internal motivation dari dalam dirinya. ✅
16. Salah satu alasan pernikahan kami adalah karena visi misi yang sudah merasa sejalan. Namun ternyata setelah baca materi ke-2 Visi misi kami belum spesifik. Pertanyaannya, apakah Visi Misi itu harus dibuat se detil mungkin sampai langkah terkecil bu?➡ Bunda kadang kita cuma "merasa' sejalan setelah diobrolin bener-bener dan ditulis, baru ketahuan deh sejalannya itu dimana saja. Maka bersungguh-sungguhlah untuk memperbanyak ngobrol dan family forum agar bener-bener paham. Mulai dari cara sampai jangka waktu pencapaian setiap langkah? Lalu dalam setiap langkah tersebut apakah harus mempersiapkan plan A,B,C? karena satu langkah saja bisa saja Error. Mohon pencerahan bu... ➡Setiap perencanaan itu selalu ada plan A, Plan B. Maka kalau di dalam perjalanan keluarga tidak ada istilah "gagal" yang ada adalah hasil yang tidak sesuai harapan, sehingga kita mesti ubah strategy, disitulah perlu Plan A-Z. There is NO FAILURE, only WRONG RESULT, so we have to CHANGE our strategy.
17. Wiliyanti - IIP Lampung. Dari 4 pertanyaan materi tersebut, bagaimana proses mencari jawabannya? Apakah dengan perenungan mendalam? mengobrol dengan suami? Atau bagaimana bu septi ?➡ Dua-duanya ya mbak ngobrol dan perenungan, flash back perjalanan hidup kita selama ini bagaimana. Teman-teman sudah praktek kan seminggu ini, pasti banyak ragam dan kisah untuk menjawab ke empat pertanyaan tsb✅
18. Misi spesifik itu apa bs jg berkaitan dg hobi yg sudah digeluti sejak lama? Krn menekuni hobi ini ga pernah padam semangatnya➡ Bisa jadi bunda, Allah memberikan petunjuk misi spesifik kita ini lewat berbagai cara mulai dari hobi, bisa juga lewat tantangan hidup, dll.✅
19. Bagaimana menentukan dan mengukur visi misi yg spesifik jika mengalami hubungan long distance marriage spt saya? Mengenai pertanyaan ke empat, yg lingkungan. Sy juga bingung krn memiliki ' 2 rumah ' saya menetap di makassar dan suami di kendari. Sejujurnya saya merasa tidak bisa menjalankan visi misi rumah tangga jika berada di kondisi seperti ini.➡ Bunda, pasti Allah punya misi tertentu untuk keluarga bunda, ketika dikondisikan LDM dengan kondisi 2 lingkungan yang berbeda. Karena misi spesifik itu baik ranah individu maupun keluarga tidak berbatas oleh jarak geografis. Seperti yang kita lakukan saat ini contohnya. Saya di Salatiga , teman-teman ada di berbagai kota bahkan LN, meski jauh kita merasa sehati, karena satu tujuan/satu visi yaitu sama-sama ingin membangun generasi yang tangguh. Dengan misi yang berbeda-beda di setiap individu. Misi saya yg di Salatiga, mungkin berbeda dengan teman-teman yang di tempatkan di kota-kota besar. Tapi kita satu arah yang ingin dituju, shg milestone nya jelas. Nah sekarang lihat keluarga kita, apakah komunikasinya sudah makin clear meski berjauhan?✅
20. Apakah dimulai dengan pembicaraan khusus dengan suami? Di tempat khusus tanpa anak-anak? Dan apakah pembicaraan ini di selesaikan saat itu juga? Atau di buat catatan kalau masih ada PR tentang visi misi keluarga yang belum selesai dibicaran?➡ Bila bunda satu rumah, sering-seringlah "pillow talk" ngobrol sebelum tidur, saat ada anak-anak ngobrollah di meja makan bareng, saat di mobil dalam perjalanan, mulailah ngobrol. Tidak akan selesai dalam satu waktu, tapi terus berproseslah, pasti akan sampai juga. Yang pasti saat ngobrol break dari gadget ya. Kecuali gadget sbg alat bantu anda menerjemahkan obrolan dengan membuat mind mapping misalkan, Bagaimana bila pemimpin rumah tangga juga tidak memiliki visi misi dan ga terbayang juga akan mau bagaimana ?➡ Terima ya Bund, karena pasti tidak bisa kita tukar kan? πŸ˜€ setelah itu ambil peran, kalau memang bunda termasuk yang visioner, proaktif, ambillah peran itu, dan obrolin dengan suami sampai terjadi kesepakatan. Tidak ada yang tabu, ketika istri memimpin obrolan ttg visi misi kelaurga, daripada hanya diam dan tidak terjadi apa-apa, lebih baik take action✅
21. Fitrah - IIP Bogor : Antara pekerjaan, berkarya, dan mendidik anak bukanlah sesuatu yg terpisahkan, sehingga harus ada yg dikorbankan. usia brp kah anak2 bunda septi pada saat ibu mulai aktif berbagi ilmu seperti sekarang ini?➡ Bunda di awal ketika kondisi keluarga krismon dan pak Dodik resign dari pekerjaan, maka prioritas kami dulu adalah urusan finansial, asal dapur bisa ngepul. Maka kami buat kesepakatan kita akan berusaha semaksimal mungkin selama tidak meninggalkan anak-anak. maka sejak Enes ara usia 1-2 th saya dan pak dodik selalu bergantian bawa anak-anak. Kami dulu jualan baju muslim, beli di tanah Abang, pak Dodik menyiapkan proses pembelian saya menyiapkan tema pembelajaran apa yang bisa kami lakukan di Tanah Abang dan sekitarnya. Dari situlah kami merasakan dari hari ke hari bahwa "bukan kerja apa" melainkan "peran hidup apa yang kita lakukan terus menerus dengan segala kondisi yang ada. Kemudian ketika Elan Lahir, sudah mulai saya ajak kemana-mana sejak 14 hari. Pertanyaannya adalah mengapa bisa tidak terpisahkan antara bekerja, berkarya dan mendidik anak? karena kita tidak pernah meninggalkan peran utama sebagai Penerima amanah. Maka Allah pasti akan memberikan bonus kemudahan jalan kita dengan berbagai usaha.✅
22. Terkait yg keempat, lingkungan tempat hidup kita saat ini. Bagaimana meyakinkan diri bahwa inilah lingkungan pilihan Allah yg terbaik untuk saat ini, sementara hati kurang menginginkannya karena memiliki impian hidup di tempat lain yang berbeda?➡ Bunda, pagi ini tadi saat sarapan baru kami diskusikan dengan pak Dodik. Memang ada di setiap perjalanan hidup kita ini bukan kehendakNya. Bunda ditempatkan di lingkungan yang sekarang ini atas kehendak dan ridhoNya, maka pasti Allah sedang memiliki rencana untuk kita. Bersihkan hati untuk bisa menerima rencana Allah untuk diri kita ini, kemudian jalankan. Anda dibutuhkan oleh lingkungan dimana kita tinggal. Maka jangan pernah lari dari lingkungan, Tapi buatlah lingkungan agar sesuai dengan kehendakNya.✅
23. Melyantina - IIP Bogor : Pertama temukan potensi unik kita dan suami, coba ingat-ingat mengapa dulu anda memilih “dia” menjadi suami anda? Apa yang membuat anda jatuh cinta padanya? Dan apakah sampai hari ini anda masih bangga terhadap suami anda?➡ Setelah menemukan dan menyadarinya, Bagaimana cara mempertahankannya bu?➡ Bunda, memang mempertahankan itu tidak semudah mendapatkannya, untuk itu ijinkan hati anda "jatuh cinta" setiap saat terhadap suami. Ketika salah satu tidak sesuai harapan, jangan saling menyalahkan, itu tandanya kualitas kita juga sedang berkurang di hadapan Allah, maka teruslah memantaskan diri menjadi istri yang baik, Allah Maha membolak balikkan hati, maka hanya Allah yang bisa membolak balikkan hati pasangan kita, BUKAN kita.✅⁠⁠⁠⁠
24. M Farda Itsnita Its IIP Surabaya. Adakah referensi istilah peran spesifik dlm hidup yg bisa dipelajari mandiri? Sprti ibu inspirator dan pak dodik yg developer n educator. Sy melihat merujuk pd hasil passion/streght personal/hasil psikotest minat bakat? ➡ ada banyak teori yang dibuat oleh manusia mbak, search aja seputar talents, personal strenght dll. Tapi yang lebih kuat dari itu adalah Al Qur'an. Rumusan di keluarga kami, "Kalau kamu ingin berbincang-bincang ke Allah, maka sholatlah. Tetapi apabila kamu ingin mendengar Allah berbicara, memahami apa kehendak Allah padamu, maka baca Al Qur'an, itulah surat cinta Allah untuk kita"✅
25. Niken TFAlimah IIP. Istilah misi hidup ada berapa bu? Ibu td menyebut ada inspirator, developer, educator.. istilah2 tsb bisa dijumpai di manakah? Apakah di temubakat?➡ di temu bakat ada banyak mbak, tapi itu bukan satu-satunya, pelajari saja banyak hal yang ada. Misi itu berkaitan dengan kata kerja. Misal aktivitas yang saya suka adalah belajar dan mengajar, misi hidup saya adalah memberikan inspirasi ke banyak orang, maka peran hidup saya di muka bumi ini adalah sbg INSPIRATOR. Baru kemudian saya cari bidangnya yang lebih spesifik. Apakah saya ingin mnginspirasi di semua bidang? Dulu saya coba bidangnya satu persatu. Pertama jualan baju, di jualan baju itu yang membuat laku ternyata adalah banyak ibu yang ingin tahu pola mendidik saya thd enes dan ara. Jadi kadang mereka banyak sekali berkumpul di depan baju saya, tapi tidak beli baju, hanya pengin denger cerita saya. Saya bahagia banget, artinya jalan saya bukan di baju, melainkan di proses mendidik anaknya. Sehingga baju tidak saya lanjutkan, saya beralih ke aktivitas pendidikan anak dan keluarga. Sampai hari ini, kalau ada aktivitas di luar pendidikan anak dan keluarga. Meski menggiurkan dengan iming-iming finansial besar, saya selalu bilang "Menarik, tapi TIDAK TERTARIK", karena itu tidak menambah jam terbang saya untuk menjalankan misi hidup

Sumber resume : https://web.facebook.com/notes/kelas-matrikulasi-ibu-profesional-batch-1/resume-materi-miip-batch-1-2/1711297905777384

#ODOPfor99days
#day69

0 comments:

Post a Comment