Skip to main content

Revisi Tugas 1 Program Matrikulasi Ibu Profesional : Checklist Indikator Perempuan Profesional

Seusai tugas dikumpulkan, ada sedikit review dari bu Septi, sebelum masuk ke materi berikutnya. Berikut reviewnya :
Pertama yang akan saya katakan adalah SALUUUT untuk para bunda, yang berhasil mengalahkan "rasa" berat untuk mengerjakan nice homework ini. Kalau di Jawa ada pepatah keren yang mengatakan "Ojo kalah karo wegah" (jangan mau kalah dengan rasa tidak mau). eh tepatnya jangan mau kalah dengan rasa malas.  Karena sebenarnya kalau urusan membuat checklist profesionalisme ini bukan MAMPU atau TIDAK MAMPU melainkan MAU atau TIDAK MAU. Terbukti bunda bisa melakukannya di tengah kesibukan.
PR ini bukan untuk saya, tetapi justru untuk teman-teman agar lebih bisa memanage diri dari hari ke hari, dan sebagai bekal teman-teman untuk memasuki bulan Ramadhan. Saya berharap dengan checklist ini Ramadhan teman-teman tahun ini akan berbeda dengan Ramadhan tahun lalu.
Tolong lihat kembali nice homework 1 ini, coba cek :
Apakah kalimat-kalimat di checklist itu sudah spesifik? misal kalimat "akan mengurangi aktivitas gadget selama di rumah" akan lebih baik Anda ganti dengan, setiap hari akan menentukan gadget hours selama 2 jam.
Apakah kalimat-kalimat di checklist yang Anda buat sudah terukur? misal "Menyelenggarakan aktivitas ngobrol di keluarga", akan lebih baik kalau Anda ganti dengan " Sehari minimal menyelenggarakan 1 x family forum (ngobrol) di rumah bersama keluarga"
Apakah checklist yang anda tulis mudah dikerjakan dengan tambahan sedikit usaha? Misal sehari akan membaca 2 buah buku tentang pendidikan. Ukur diri kita apakah mungkin? karena selama ini sehari-harinya kita hanya bisa membaca paling banyak 10 halaman. Maka akan lebih baik kalau Anda ganti. Membaca 15 lembar buku parenting setiap harinya. Sesuatu yang terlalu susah diraih itu akan membuat kita stress dan akhirnya tidak mengejakan apa-apa, tetapi sesuatu yang sangat mudah diraih itu akan membuat kita menyepelekan. Kembali ke istilah jawa ini namanya "gayuk...gayuk tuna" (contoh kasus, kita mau ambil mangga di pohon yang posisinya tidak terlalu tinggi, tetapi cukup berusaha dengan satu lompatan, mangga itu akan bisa teraih. Tidak juga terlalu pendek, sambil jalan aja kita bisa memetik mangga tersebut. Biasanya jadi tidak menghargai hasil).
Apakah tantangan yang anda tulis di checklist ini merupakan permasalahan-permasalahan yang Anda hadapi sehari-hari? misal Anda adalah orang yang susah disiplin selama ini. maka sangat pas kalau di checklist Anda tulis, akan berusaha tepat waktu di setiap mendatangi acara IIP. Jadi jelas memang akan menyelesaikan permasalahan yang ada selama ini.
Berikan batas waktu pada proses latihan ini di checklist. Misal akan membaca satu buku satu minggu selama bulan ramadhan. Akan belajar tepat waktu selama 3 bulan pertama mulai Juni-Agustus 2016 dari kelima hal tersebut di atas akan memudahkan kita pada proses evaluasi. 

Oke itu tambahan dari saya, silakan dilihat kembali checklist Anda masing-masing. Kita akan mulai melihat seberapa bekerjanya checklist itu untuk perkembangan diri teman-teman. maka silakan diprint, dan ditempel di tempat yang Anda lihat setiap hari. Ijinkan suami dan anak-anak memberikan penilaian sesuai dengan yang Anda tentukan. Andaikata tidak ada yang mau menilai, maka diri Andalah yang paling berhak menilai perkembangan kita. Berusaha JUJUR kepada diri sendiri.

Dari review diatas, alhamdulillah saya merasa cukup tepat dalam membuat checklist kemarin. Namun ada beberapa poin yang perlu dispesifikkan supaya lebih jelas dan terukur. Beberapa poin yang perlu diperbaiki antara lain :
1. Menspesifikkan target mempraktekkan dan mendalami materi komunikasi produktif menjadi praktikum the power of question (Salah satu subbab dari komunikasi produktif)
2. Mendetilkan target menulis dan mengejar setoran ODOPfor99days menjadi menulis 1 catatan atau artikel per hari.
3. Menurunkan target kuantitas pencapaian berdasar kemampuan dan kapasitas diri saat ini, bukan berdasar idealisme dan rasa perfeksionis diri.



Revisi checklist saya tampilkan dalam tabel di bawah ini :

Update Checklist Perempuan Profesional versi Diri Sendiri
Update Checklist Perempuan Profesional versi Suami dan Anak
Semoga Allah mudahkan, aamiin..

#ODOPfor99days
#day68

Comments

Popular posts from this blog

Praktik Cooking Class : Bubur Sumsum Lembut

Apa yang pertama kali terbayang saat melihat bubur sumsum? Jika pertanyaan itu menghampiri saya, saya akan menjawab “kondisi sakit”. Saat sakit, biasanya nafsu makan kita berkurang, susah menelan dan lidah terasa pahit. Tak heran jika makanan ini seringkali menjadi asupan bagi orang sakit. Teksturnya yang lembut dan cita rasa optimal selagi hangat tentu memudahkan pemenuhan kebutuhan energi saat kondisi tubuh kurang prima. Saat sehatpun, mengonsumsi bubur ini terasa nikmat, apalagi jika di luar sedang diguyur hujan dan cuaca dingin menyelimuti. Dikutip dari Wikipedia , bubur sumsum adalah sejenis makanan berupa bubur berwarna putih yang dilengkapi dengan kuah air gula merah. Mengapa dinamakan bubur sumsum? Katanya, dinamakan demikian karena penampakannya yang putih menyerupai warna bagian luar sumsum tulang. Bahan utama bubur ini adalah tepung beras.  Tentu tepung beras dengan kualitas baik. Bagaimana kriterianya? Tentu mengikuti SNI, berikut informasi detilnya : N

Menulis Cerita Anak : Pengenalan Anggota Tubuh

CERITA TENTANG PENGENALAN ANGGOTA TUBUH Udara hangat, suara burung berkicau dan air bergemericik, menemani sang mentari menyingsing dari arah timur. “Assalamu’alaykum warahmatullah wabarakatuh…. Selamat pagi anak-anak… Bagaimana kabar hari ini?” ibu guru membuka ruang kelas batita dengan sapaan penuh semangat. Anak-anakpun menjawab dengan antusias, bahkan mereka berlomba-lomba mengeraskan suara, “Wa’alaykumsalam warahmatullah wabarakatuh… Selamat pagi ibu guru… Alhamdulillah….Luar biasa…Allahu Akbar!” Jawaban sapaan berlogat cedal khas anak-anak membahana di seluruh isi ruangan. Ibu guru tersenyum lebar. (Coba, siapa yang bisa peragakan, bagaimana senyum lebar itu?). Jawaban nyaring anak-anak tadi tak ubahnya pasokan energi yang membuat semangatnya menggebu sehari penuh. Pagi ini sang ibu guru akan mengenalkan pada anak-anak mengenai anggota tubuh. Sengaja beliau datang dengan tangan hampa. Tanpa buku, tanpa alat peraga. Rupanya beliau ingin tahu seberapa jauh anak-

Meneladani Visi dan Misi Keluarga Nabi Ibrahim bersama Ustadz Adriano Rusfi

Bagi keluarga kami, salah satu yang membuat betah tinggal di Bandung adalah fasilitas belajar ilmu parenting yang variatif dan ekonomis. Disinilah kami dipertemukan dengan komunitas belajar ilmu pendidikan anak, ragam acara peningkatan kualitas diri dan aneka playdate anak yang menyenangkan dan ramah kantong. Bahkan banyak kegiatan yang bisa diikuti tanpa dipungut biaya, cukup berbekal semangat belajar dan kemauan memperbaiki diri. Nah, di weekend  menjelang Idul Adha kemarin, kami berkesempatan menimba ilmu pendidikan berbasis keluarga dari Ustadz Adriano Rusfi di acara Kopdar Bulanan HebAT ( Home Education based on Akhlaq and Talents) Bandung. HebAT merupakan sebuah komunitas belajar berbasis grup WhatsApp yang mendampingi para orangtua menjalankan FbE (Fitrah based Education) dan CbE (Community based Education) dalam pendidikan anak-anaknya. Tak hanya kopdar bulanan, komunitas ini juga rutin mengadakan beragam aktivitas menarik untuk memfasilitasi kebutuhan belajar anak dan