Skip to main content

Mini Project : Membuat Donat dan Menempel Bulu Domba

Mini Project Mentari Pagi*
*Panggilan untuk putri sulung kami, dalam dunia online kami biasa menyingkatnya menjadi Megi
24 Mei 2016

Hari ini kita membuat donat dan menempel bulu domba.
Nduk, bikin-bikin yuk!
Bikin apa, Mi?
Bikin donat mau ga?
Mauuuuu!Ayok Mi, bikin donat!
Pertanyaan sederhana dari Ummi langsung disambut dengan antusias oleh si Megi. Bahan-bahanpun kami siapkan. Seperti biasa, mata Megi akan berbinar jika melihat tepung. Mulai dari membuka toples, mengambil tepung dengan sendok, hingga mengaduk tepung menjadi satu, dia lakukan dengan pengawasan Ummi. Setelah adonan selesai dibuat, kami berdua menutup baskom dengan plastik wrap. Supaya masa tunggu tidak terasa lama, kamipun beralih ke kegiatan lainnya. Beberapa jam kemudian, adonan siap digoreng. Si Megi tampak heran melihat adonan yang mengembang hampir memenuhi baskom. Kami segera membuat bulatan-bulatan donat untuk digoreng. Megi membuat bola-bola yang sangat kecil. Hmm…kira-kira seukuran kacang atom, hihi… Setelah minyak panas, Ummi bersiap memasukkan bulatan-bulatan donat ke penggorengan. Dan ternyata, Megi pun ingin berpartisipasi. Jadilah Ummi mengambil kursi lipat, dan meletakkannya di depan kompor, supaya Megi bisa ikut menggoreng. Awalnya Ummi jelaskan kalau minyak di wajan itu panas. Memasukkan bola-bola donat harus pelan-pelan, supaya minyak tidak terciprat di kulit. Megi mencoba mempraktikkan. Seringkali masih terlalu kencang seperti melempar batu ke sungai, dan panasnya minyakpun sedikit dia rasakan. Dia kaget namun sambil meringis tersenyum. Yap, itu resiko, Nak. Sesekali, dia gerakkan sutil untuk meratakan penetrasi minyak ke donat. Lalu, tiba-tiba dia menyeletuk, “Ummi…Ica suka bikin donat..”
Eeeaaaaa….alhamdulillah, semoga Abi dan Ummi dapat merawat fitrah belajarmu dengan baik, Nak J
Uleni - Bentuk Bulatan - Goreng - Makan 

Hari pun bergulir. Bikin donat udah, udah dimakan juga. Mau apa lagi kitaaaa?
Baca Mi, bacaaaa… (rengekan itu tiba-tiba terdengar dari ruang tamu)
Oke, baca apa kita?
(Beranjak ke rak, ambil 1 buku)
Ini Mi. Ayok baca…(Sembari menyodorkan sebuah buku)
Sesi baca pun dimulai.
Saat membacakan buku, Ummi melihat ada gambar domba. Terlintaslah dalam pikiran untuk bermain tempel bulu domba. Toh di lemari masih ada bola kapas sisa Megi saat masih bayi. Oke, nanti kita eksekusi.
Membacapun berlanjut dengan beberapa buku lainnya.  Dilanjut dengan istirahat sholat dhuhur dan makan siang.
Usai makan, kami siap bermain kembali.
Nduk, mau main ini? (Sembari menunjukkan sheep printable yang ada di layar HP)
Domba Mi? Sebentar, Ica tauuuu…. (Menghampiri rak bukunya, mengambil buku yang tadi dibaca dan mencari gambar domba)
Sama kaaaaan… (Bergantian menunjuk gambar domba di layar HP dan di buku)
Iyaaaa, betul. Sama. Yuk, bikin.
Ayok Mi!
Ummi bergegas mengambil bahan-bahan yang diperlukan. Meniru gambar domba-hasil mencari di google - di kertas A4. Setelah itu, menjelaskan cara bermainnya ke Mentari Pagi. Instruksi mengambil lem dapat dijalankannya dengan baik. Namun, dia belum begitu paham untuk mengoleskannya hanya di badan domba. Jadilah bagian di sekeliling domba juga dia olesi lem dan tempeli dengan kapas. Sependek ini, dia sudah bisa memahami urutan proses pengerjaan. Dari pengerjaan ini, tangannya juga menjadi semakin terbiasa berinteraksi dengan lem. Bahwa, adalah sebuah hal wajar jika saat menggunakan lem, tangan kita menjadi lengket, tak jarang jari satu dengan yang lain saling menempel. Dan lama-kelamaan, lem di tangan akan mengering dan membuat jari terasa agak kaku. Dulu, di awal dia mengenal lem, baru beberapa menit dia sudah meminta cuci tangan, lalu kembali lagi bermain lem, lalu minta dibersihkan lagi. Alhamdulillah sekarang sudah semakin terlihat tidak masalah dengan lengket-lengket lem.
Ya, terkadang untuk meraih hasil yang manis, kita perlu berada di kondisi yang kurang nyaman, Nak. Tugas kami adalah membiasakan padamu, untuk tetap bertahan dalam kondisi tersebut.  
Dan bukankah Allahpun menghendaki kita, untuk menempuh jalan yang mendaki lagi sukar? (QS. 90 ayat 10-20)
Menempel Sesuka Hati

Comments

Popular posts from this blog

Praktik Cooking Class : Bubur Sumsum Lembut

Apa yang pertama kali terbayang saat melihat bubur sumsum? Jika pertanyaan itu menghampiri saya, saya akan menjawab “kondisi sakit”. Saat sakit, biasanya nafsu makan kita berkurang, susah menelan dan lidah terasa pahit. Tak heran jika makanan ini seringkali menjadi asupan bagi orang sakit. Teksturnya yang lembut dan cita rasa optimal selagi hangat tentu memudahkan pemenuhan kebutuhan energi saat kondisi tubuh kurang prima. Saat sehatpun, mengonsumsi bubur ini terasa nikmat, apalagi jika di luar sedang diguyur hujan dan cuaca dingin menyelimuti. Dikutip dari Wikipedia , bubur sumsum adalah sejenis makanan berupa bubur berwarna putih yang dilengkapi dengan kuah air gula merah. Mengapa dinamakan bubur sumsum? Katanya, dinamakan demikian karena penampakannya yang putih menyerupai warna bagian luar sumsum tulang. Bahan utama bubur ini adalah tepung beras.  Tentu tepung beras dengan kualitas baik. Bagaimana kriterianya? Tentu mengikuti SNI, berikut informasi detilnya : N

Menulis Cerita Anak : Pengenalan Anggota Tubuh

CERITA TENTANG PENGENALAN ANGGOTA TUBUH Udara hangat, suara burung berkicau dan air bergemericik, menemani sang mentari menyingsing dari arah timur. “Assalamu’alaykum warahmatullah wabarakatuh…. Selamat pagi anak-anak… Bagaimana kabar hari ini?” ibu guru membuka ruang kelas batita dengan sapaan penuh semangat. Anak-anakpun menjawab dengan antusias, bahkan mereka berlomba-lomba mengeraskan suara, “Wa’alaykumsalam warahmatullah wabarakatuh… Selamat pagi ibu guru… Alhamdulillah….Luar biasa…Allahu Akbar!” Jawaban sapaan berlogat cedal khas anak-anak membahana di seluruh isi ruangan. Ibu guru tersenyum lebar. (Coba, siapa yang bisa peragakan, bagaimana senyum lebar itu?). Jawaban nyaring anak-anak tadi tak ubahnya pasokan energi yang membuat semangatnya menggebu sehari penuh. Pagi ini sang ibu guru akan mengenalkan pada anak-anak mengenai anggota tubuh. Sengaja beliau datang dengan tangan hampa. Tanpa buku, tanpa alat peraga. Rupanya beliau ingin tahu seberapa jauh anak-

Meneladani Visi dan Misi Keluarga Nabi Ibrahim bersama Ustadz Adriano Rusfi

Bagi keluarga kami, salah satu yang membuat betah tinggal di Bandung adalah fasilitas belajar ilmu parenting yang variatif dan ekonomis. Disinilah kami dipertemukan dengan komunitas belajar ilmu pendidikan anak, ragam acara peningkatan kualitas diri dan aneka playdate anak yang menyenangkan dan ramah kantong. Bahkan banyak kegiatan yang bisa diikuti tanpa dipungut biaya, cukup berbekal semangat belajar dan kemauan memperbaiki diri. Nah, di weekend  menjelang Idul Adha kemarin, kami berkesempatan menimba ilmu pendidikan berbasis keluarga dari Ustadz Adriano Rusfi di acara Kopdar Bulanan HebAT ( Home Education based on Akhlaq and Talents) Bandung. HebAT merupakan sebuah komunitas belajar berbasis grup WhatsApp yang mendampingi para orangtua menjalankan FbE (Fitrah based Education) dan CbE (Community based Education) dalam pendidikan anak-anaknya. Tak hanya kopdar bulanan, komunitas ini juga rutin mengadakan beragam aktivitas menarik untuk memfasilitasi kebutuhan belajar anak dan