Friday, 22 September 2017

Sabar Sejenak, Ada Makanan di Rumah

Hari ini hari Jum’at. Seperti biasa, yangkung menitipkan pada ummi laporan keuangan masjid yang nantinya perlu disampaikan saat sholat Jum’at. Ummi perlu menyerahkannya pada petugas takmir masjid. Di rumah hanya ada ummi, kakak dan adik. Maka usai aktivitas pagi, ummi mengajak kakak dan adik ke rumah pak Hardi untuk menyerahkan titipan yangkung.

Rumah pak Hardi tidak terlalu jauh, hanya berjarak beberapa blok dari tempat tinggal kami. Sepulang dari rumah pak Hardi, matahari sudah mulai terik. Kami melewati beberapa warung yang menjual makanan. Tiba-tiba,
Kakak : Ummiiii..kakak lapar Mi…
Ummi : Kakak lapar? Kan kakak baru saja makan kue tadi di rumah.
Kakak : Iya, tapi kakak lapar lagi sekarang, Mi…

Hmm…kakak paham, bahwa kita keluar rumah adalah untuk pergi ke rumah pak Hardi. Tidak ada tujuan berikutnya termasuk mampir ke warung dan membeli makanan. Maka, kalau kakak langsung meminta untuk beli kue, dia paham kalau hal tersebut akan ummi jawab dengan, “Tadi rencananya kita pergi ini mau kemana?  Ngga sesuai dengan rencana, kan?”  Dan kalau dia meminta dengan memaksa, dia paham ummi tidak akan bergeming. Apa ini yang disebut strategi anak? :D

Ummi : Oh gitu ya. Yuk, segera pulang, di rumah ada bubur kacang ijo yang siap disantap.
Kakak : Tapi kakak ngga kuat menahan lapar, Mi…
Ah, kakak….di saat yang sama ummi juga ngga kuat menahan ketawa. Hihi

Sebenarnya ummi tidak membawa uang saat itu, Tapi jika alasan itu ummi keluarkan, kakak akan langsung terdiam karena itu adalah sebuah alasan yang tidak bisa diutak-utik lagi. Namun ummi menahan diri untuk tidak beralasan demikian. Ummi mengamati sejauh apa kakak akan menahan keinginannya itu.
Ummi : Ya udah, kalau begitu, kita capet-cepat pulang ke rumah. Kita lomba lari yuk, siapa dulu yang sampai rumah dan makan bubur kacang ijo. Mau?
Kakak :  Mauuuu….
Dan kami pun berlari kecil menyusuri masjid kompleks untuk segera sampai di rumah.

Membeli makanan di warung adalah sebuah keinginan. Sedangkan kebutuhan kita adalah makan untuk menghilangkan rasa lapar. Mendidik diri untuk cerdas finansial adalah bermula dari kemampuan membedakan keinginan dan kebutuhan.



0 comments:

Post a Comment