Skip to main content

Sabar Sejenak, Ada Makanan di Rumah

Hari ini hari Jum’at. Seperti biasa, yangkung menitipkan pada ummi laporan keuangan masjid yang nantinya perlu disampaikan saat sholat Jum’at. Ummi perlu menyerahkannya pada petugas takmir masjid. Di rumah hanya ada ummi, kakak dan adik. Maka usai aktivitas pagi, ummi mengajak kakak dan adik ke rumah pak Hardi untuk menyerahkan titipan yangkung.

Rumah pak Hardi tidak terlalu jauh, hanya berjarak beberapa blok dari tempat tinggal kami. Sepulang dari rumah pak Hardi, matahari sudah mulai terik. Kami melewati beberapa warung yang menjual makanan. Tiba-tiba,
Kakak : Ummiiii..kakak lapar Mi…
Ummi : Kakak lapar? Kan kakak baru saja makan kue tadi di rumah.
Kakak : Iya, tapi kakak lapar lagi sekarang, Mi…

Hmm…kakak paham, bahwa kita keluar rumah adalah untuk pergi ke rumah pak Hardi. Tidak ada tujuan berikutnya termasuk mampir ke warung dan membeli makanan. Maka, kalau kakak langsung meminta untuk beli kue, dia paham kalau hal tersebut akan ummi jawab dengan, “Tadi rencananya kita pergi ini mau kemana?  Ngga sesuai dengan rencana, kan?”  Dan kalau dia meminta dengan memaksa, dia paham ummi tidak akan bergeming. Apa ini yang disebut strategi anak? :D

Ummi : Oh gitu ya. Yuk, segera pulang, di rumah ada bubur kacang ijo yang siap disantap.
Kakak : Tapi kakak ngga kuat menahan lapar, Mi…
Ah, kakak….di saat yang sama ummi juga ngga kuat menahan ketawa. Hihi

Sebenarnya ummi tidak membawa uang saat itu, Tapi jika alasan itu ummi keluarkan, kakak akan langsung terdiam karena itu adalah sebuah alasan yang tidak bisa diutak-utik lagi. Namun ummi menahan diri untuk tidak beralasan demikian. Ummi mengamati sejauh apa kakak akan menahan keinginannya itu.
Ummi : Ya udah, kalau begitu, kita capet-cepat pulang ke rumah. Kita lomba lari yuk, siapa dulu yang sampai rumah dan makan bubur kacang ijo. Mau?
Kakak :  Mauuuu….
Dan kami pun berlari kecil menyusuri masjid kompleks untuk segera sampai di rumah.

Membeli makanan di warung adalah sebuah keinginan. Sedangkan kebutuhan kita adalah makan untuk menghilangkan rasa lapar. Mendidik diri untuk cerdas finansial adalah bermula dari kemampuan membedakan keinginan dan kebutuhan.



Comments

Popular posts from this blog

Praktik Cooking Class : Bubur Sumsum Lembut

Apa yang pertama kali terbayang saat melihat bubur sumsum? Jika pertanyaan itu menghampiri saya, saya akan menjawab “kondisi sakit”. Saat sakit, biasanya nafsu makan kita berkurang, susah menelan dan lidah terasa pahit. Tak heran jika makanan ini seringkali menjadi asupan bagi orang sakit. Teksturnya yang lembut dan cita rasa optimal selagi hangat tentu memudahkan pemenuhan kebutuhan energi saat kondisi tubuh kurang prima. Saat sehatpun, mengonsumsi bubur ini terasa nikmat, apalagi jika di luar sedang diguyur hujan dan cuaca dingin menyelimuti. Dikutip dari Wikipedia , bubur sumsum adalah sejenis makanan berupa bubur berwarna putih yang dilengkapi dengan kuah air gula merah. Mengapa dinamakan bubur sumsum? Katanya, dinamakan demikian karena penampakannya yang putih menyerupai warna bagian luar sumsum tulang. Bahan utama bubur ini adalah tepung beras.  Tentu tepung beras dengan kualitas baik. Bagaimana kriterianya? Tentu mengikuti SNI, berikut informasi detilnya : N

Materi 1 Program Matrikulasi Ibu Profesional : Menjadi Ibu Profesional Kebanggaan Keluarga

Tahapan Belajar di Institut Ibu Profesional Setelah hampir tiga tahun belajar di Institut Ibu Profesional dan belum saja lulus. alhamdulillah Allah beri kesempatan untuk semakin memperdalam ilmu untuk menjadi seorang ibu profesional dengan mengikuti program matrikulasi. Program matrikulasi Ibu Profesional batch #1 ini masih khusus diperuntukkan bagi para koordinator, fasilitator dan pengurus rumah belajar yang tersebar di setiap wilayah. Jika batch #1 selesai dijalankan, akan diadakan batch-batch selanjutnya untuk para member Institut Ibu Profesional. Tujuan diadakan program matrikulasi Ibu Profesional adalah agar setiap member memiliki kompetensi ilmu-ilmu dasar menjadi seorang "Ibu Profesional" yang menjadi kebanggan keluarga dan komunitas.  Program matrikulasi ini mulai berlangsung tadi malam, 9 Mei 2016 pukul 20.00-21.00 via WhatsApp dengan materi pembuka [Overview Ibu Profesional] Menjadi Ibu Profesional Kebanggaan Keluarga. Sebelum materi disampaikan, bu Septi

Meneladani Visi dan Misi Keluarga Nabi Ibrahim bersama Ustadz Adriano Rusfi

Bagi keluarga kami, salah satu yang membuat betah tinggal di Bandung adalah fasilitas belajar ilmu parenting yang variatif dan ekonomis. Disinilah kami dipertemukan dengan komunitas belajar ilmu pendidikan anak, ragam acara peningkatan kualitas diri dan aneka playdate anak yang menyenangkan dan ramah kantong. Bahkan banyak kegiatan yang bisa diikuti tanpa dipungut biaya, cukup berbekal semangat belajar dan kemauan memperbaiki diri. Nah, di weekend  menjelang Idul Adha kemarin, kami berkesempatan menimba ilmu pendidikan berbasis keluarga dari Ustadz Adriano Rusfi di acara Kopdar Bulanan HebAT ( Home Education based on Akhlaq and Talents) Bandung. HebAT merupakan sebuah komunitas belajar berbasis grup WhatsApp yang mendampingi para orangtua menjalankan FbE (Fitrah based Education) dan CbE (Community based Education) dalam pendidikan anak-anaknya. Tak hanya kopdar bulanan, komunitas ini juga rutin mengadakan beragam aktivitas menarik untuk memfasilitasi kebutuhan belajar anak dan