Thursday, 14 September 2017

Bukan Beli Lagi, Tapi Ayo Kita Coba Perbaiki


Tantangan hari pertama ini, ummi dan kakak belajar mengenai memperbaiki barang sebagai wujud rasa syukur atas rezeki yang Allah titipkan.

“Lhooo…mainannya lepas, mi… Gimana dong? Nanti beli lagi ya mi?”
“Ummiii….buku kakak disobek adik… Nanti beli lagi ya mi?”

Belakangan ini ucapan tersebut terdengar akrab di telinga. Jika ada barang yang rusak, tidak utuh seperti semula, kakak minta untuk dibelikan kembali. Wajar, bahkan ummi pun saat mengetahui ada barang milik ummi yang tidak utuh, ingin barang tersebut utuh seperti semula.

Kali ini yang rusak adalah buku. Saat kakak sedang membaca buku, adik datang dan memegang buku dengan kuat. Kakak mempertahankan buku yang sedang dipegangnya sedangkan adik bersikukuh memegang salah satu halamannya.

“Brrrttttt….” Satu halaman tersobek. Lalu terdengar ekspresi kecewa dari kakak.
“Yaaaaaaah..bukunya sobek miiiiiii…beli lagi ya mi?”

Waaaah…AHA moment ini. Ummi mengajak kakak berdialog untuk meluruskan pemahaman kakak. Bahwa tidak semua barang yang rusak, bisa segera kita beli penggantinya. Barang yang rusak bisa kita lihat dahulu, memungkinkan untuk diperbaiki atau tidak? Jika ya, mengapa tidak kita coba perbaiki? Bagaimana kalau kita selotip saja buku ini? Yuuuuk…

Ajakan ummi disambut dengan antusias. Kakak mencari selotip dan gunting. Kami perbaiki buku 
tersebut bersama-sama. Dengan perlahan dan hati-hati, supaya bekas sobekan samar terlihat. Sembari memperbaiki buku, kami pun berdiskusi. Kebetulan yang sobek adalah buku yang kami pinjam dari sebuah taman baca. Karena milik orang lain, ummi perlu menanyakan dulu bagaimana prosedur pertanggungjawabannya. Apakah perlu kami ganti dengan buku baru, atau cukup dengan kami perbaiki?

Pengelola taman baca menjawab, cukup dengan memperbaiki saja. Karena pengunjung dan peminjam buku taman baca mayoritas anak-anak, maka buku koleksi taman baca sering sobek dan cukup diperbaiki saja. Ummi pun menyampaikan hal ini ke kakak. Kakak dengan sigap menyiapkan selotip yang akan ditempel. Konfirmasi ke pihak taman baca ini penting, karena terkait dengan ridho orang lain atas kita. Apakah pihak yang bersangkutan memaafkan dan ridho atas kesalahan kita? Sebagai orang yang bersalah, kita harus meminta maaf dan bersedia untuk bertanggungjawab. Sikap ksatria ini penting untuk diteladankan pada anak. Karena rezeki itu pasti, kemuliaan yang dicari.

Dari kejadian ini, ummi dan kakak belajar banyak hal. Dengan memperbaiki barang yang rusak, kita bisa belajar apa saja ya?
  • Berhemat
  • Bertanggungjawab atas kesalahan yang dilakukan (jika rusaknya barang disebabkan oleh diri kita)         
  • Bersyukur atas rezeki dari Allah, dengan cara menjaga barang tersebut supaya tetap berfungsi meski kondisinya sudah tidak sempurna
Rezeki Allah itu luas Nak… bersikap ksatria dan berinteraksi dengan orang-orang yang pemaaf juga merupakan rezeki dari Allah, yang tak berbentuk materi. 

0 comments:

Post a Comment