Wednesday, 28 March 2018

Munculnya Inisiatif di Sesi Makan


Mentari Pagi berusia 4 tahun, Langit berusia 1 tahun 4 bulan. Mengamati aktivitas mereka, ummi menjadi sadar bahwa sejatinya fitrah belajar memang sudah Allah installkan pada setiap diri manusia. Justru larangan dari orangtua dan lingkungan yang tanpa sadar mencederai fitrah tersebut sehingga anak-anak tumbuh menjadi pemuda pemudi yang apatis dan kurang peka pada lingkungan. Pemuda pemudi ini pernah peka, pernah berinisiatif, namun lingkungan menekan dan menghambat fitrah tersebut. Aah…ini menjadi bahan kontemplasi ummi…

Hari ini kami belajar di sesi makan. Terinspirasi dari buku Totto Chan, pagi ini ummi menghadirkan sarapan dengan menu “makanan yang berasal dari laut dan pegunungan.” Ya, cah kangkung untuk makanan yang berasal dari pegunungan dan cumi-cumi untuk makanan yang berasal dari laut. Dan ini berhasil menggugah rasa penasaran Mentari Pagi dan membantu mereka makan dengan lahap. 

Kejadian apa saja yang ummi temui di sesi makan ini? 

  1. Mentari Pagi dan Langit akan mulai makan bersama. Mereka duduk di kursinya masing-masing menghadap piringnya masing-masing. Ummi izin ke dapur sebentar, kemudian Mentari Pagi berinisiatif menyuapi Langit
  2. Langit teramat suka dengan air. Kali ini dia merasa haus. Dia dekati tempat air, diambilnya gelas dan berkata, “eh..eh..eh…” artinya, dia meminta tolong untuk dibukakan kran air supaya air mengalir ke gelasnya. Setelah dirasa cukup, dia berjalan kembali ke tempat duduknya, kemudian meminum air tersebut.
  3. Jika hausnya telah hilang dan air di gelas masih ada, langit tak akan menyia-nyiakannya. Dengan senyum kecil dan melirik kiri kanan dia jungkirkan gelas ke bawah. Airnya tumpah? Tentu. Tikar jadi basah? Iya. Maka dia beranjak ke ruang tengah, mengambil beberapa lembar tisu dan mengelap tikar. Kiri-kanan, maju-mundur, persis seperti apa yang dilihat dari sang kakak saat mengelap sesuatu.
  4. Saat makan, sesi duduk manis di kursi tentu bertahan hanya beberapa menit. Untuk Mentari Pagi, dia bisa tahan cukup lama, bisa sampai dia merasa kenyang. Untuk langit, di menit pertama duduk manis, di menit kedua dia mengeksplorasi alam sekitar, haha. Kali ini Langit naik ke meja makan. Mengambil mangkok yang ada sendoknya dan mencoba mengambilnya. Apa yang dia lakukan? Ternyata dia berupaya mengambil beberapa potong cumi dari mangkok, dan memindahkannya ke piring miliknya. Persis seperti yang ummi lakukan. Kemudian, dia gunakan sendok tersebut untuk menyuapkan cumi ke mulutnya. Berantakan? Iya. Namun Langit belajar banyak hal, bukan?

Apa yang ummi bisa amati, catat dan pelajari dari kejadian-kejadian diatas?

  • Naluri kakak beradik anak-anak Allah semaikan dengan indah. Inisiatif Mentari Pagi sebagai seorang kakak, muncul secara naluriah saat ummi tidak ada. Dia merasa adiknya butuh disuapi saat makan dan dia lakukan itu seperti yang biasa ummi lakukan pada adik. Ummi terkaget saat datang dari dapur dan mendengar Mentari Pagi berucap, “Aaa dulu dek…Nah, pinter... Lhooo..ada nasi yang jatuh, sebentar…sebentar…kakak ambil dulu.”. Muncul inisiatif disitu, muncul rasa tanggungjawab diri sebagai seorang kakak, muncul ketelatenan, yang semuanya dibalut oleh rasa kasih sayang. Alih-alih berkata, “Kakaaaaaak….itu makanannya jadi padha tumpah…tikarnya jadi kotor, baju adik juga kotor. Kenapa ngga nunggu ummi ajaaa? Ummi kan Cuma sebentar ke dapurnya. Jadi nga karu-karuan beginiiii…semuanya kotor.” Ummi lebih memilih untuk terharu, tersenyum bangga dan mengapresiasi inisiatif kakak. Menjadi saksi yang menyakinkan Mentari Pagi bahwa sang adik senang disuapi oleh kakaknya. Apresiasi akan membuat anak semakin percaya diri dalam mengambil keputusan dan berinisiatif atas sebuah kondisi. Di usianya saat ini, perkembangan emosi Mentari Pagi ada di fase Initiative vs Guilt. Di fase ini, anak menunjukkan sikap mulai lepas dari ikatan orangtua, bahwa dia dapat bergerak bebas dan berinteraksi dengan lingkungannya. Maka, ummi mencoba memfasilitasi dengan memberi ruang dan kepercayaan serta apresiasi penuh setelahnya. Coba kita bayangkan jika yang terjadi adalah sebaliknya, mengoreksi dan menyalahkan. Apa yang terjadi? Timbul rasa bersalah pada dirinya dan memudarkan kepercayaan diri sang anak. Lambat laun, anak tersebut akan sulit untuk bergerak jika tidak didikte orang lain.
  • Kejadian Langit menumpahkan air dari gelas, bisa saja ummi respon dengan kekesalan. Ummi gendong Langit dan mengelap tikar yang basah sambil bersungut-sungut. Lebih cepat beres memang. Namun ummi akan kehilangan momen munculnya inisiatif Langit untuk memecahkan masalah dengan mengambil tisu dan mengelap tikar. Saat Langit bosan di kursi dan beranjak naik ke meja kemudian menyendok cumi dari mangkok ke piring, ummi bisa segera menggendongnya dan mengelap kuah yang tumpah di meja. Namun ummi kehilangan momen menyaksikan motorik kasar dan halus Langit terstimulasi saat merangkak dan menyendok juga semai fitrah belajar Langit saat memindahkan cumi dan menyuapkan ke mulut. Bukankah itu salah satu tanda yang menunjukkan kemandirian bahwa Langit siap makan sendiri? Usia 0-2 tahun adalah fase basic trust vs mistrust dalam tahapan perkembangan emosi anak. Dengan memberinya ruang kepercayaan, anak akan mendapat pengalaman yang menyenangkan sehingga tumbuh rasa percaya diri. Kotornya meja makan, basahnya tikar dan lantai, terasa sebanding dengan terpuaskannya rasa ingin tahu anak dan bertambahnya rasa percaya diri padanya.
  • Bagaimana dengan air yang sengaja Langit tumpahkan? Apa yang membuat Langit melakukannya? Untuk menjawab ini, ummi mencoba menarik ingatan ke belakang, memposisikan diri menjadi anak-anak. Ooh…bisa jadi Langit menumpahkan air karena sedang senang mengamati air yang mengalir. Disini ada faktor ketidaksengajaan dari anak. Namun kalau mengingat dia menumpahkan sembari melirik-lirik dan menyimpan senyum, nampaknya Langit melakukannya juga untuk mencari perhatian dan melihat respon ummi. Salah satu fitrah emosi balita adalah, suka mencari perhatian dan menyengaja. Langit bisa jadi paham resiko menumpahkan air adalah membuat tempat duduk dan pakaian menjadi basah, dan Langit ingin melihat bagaimana reaksi ummi atas kondisi tersebut. “Toh, tikar yang basah bisa kulap dengan tisu...namun dengan ini, tentu ummi akan memusatkan perhatiannya padaku. Hihihi…”
Kurang lebih demikian pengamatan dan pencatatan ummi hari ini. Memahami setiap aksi laku Mentari Pagi dan Langit, kemudian mengaitkannya dengan tahapan perkembangan emosi balita dan fitrah anak, membuat ummi bisa merilis emosi dengan lebih baik. Mengedepankan nalar dan logika dengan mendudukkan pemikiran ummi sejajar dengan pemikiran kalian, anak-anak.


#ChallengeHEbATKediriRaya
#day2
#ChallengePortofolioAnak


0 comments:

Post a Comment