Skip to main content

Zona Growth Ketiga, Menyelesaikan Tantangan Tim menggunakan Metode Six Thinking Hats

Kelas-kelas di Ibu Profesional senantiasa mengajak untuk learning by doing. Di era arus informasi yang begitu deras saat ini, tantangan yang seringkali dialami pembelajar adalah ilmu yang sudah didapatkan menguap begitu saja karena tidak sempat dilanjutkan dengan praktik dan menuliskan resume. Adanya tugas tim pasca menyimak materi yang kemudian dituliskan dalam bentuk jurnal, efektif untuk memahami dan mendalami materi yang dipaparkan.

Materi yang disampaikan dalam Huddle kali ini dari founding mother, Bu Septi Peni Wulandani adalah seputar alur berpikir, mengacu pada metode Six Thinking Hats yang ditulis oleh Edward de Bono. Salah satu ciri khas pembelajaran yang saya sukai dari kelas Ibu Profesional adalah senantiasa melatih para ibu untuk berpikir logis, menyeimbangkan intuisi perasaan dengan kemampuan logika berpikir. Namun jika boleh mengajukan masukan, saya ingin mengajukan perpanjangan waktu durasi dalam setiap tahapnya, yang tadinya sepekan jadi dua pekan. Sehingga pekan pertama bisa fokus mengulik materi yang diberikan dengan membaca referensi-referensi terkait, yang kemudian bisa menjadi pijakan pemahaman dalam praktik di diskusi tim yng dijalankan di pekan kedua. Dengan porsi jam daring yang cukup, tidak terlalu banyak sehingga harus mengurangi jam tidur atau mengambil porsi di peran lainnya.

Metode Six Thinking Hats dirancang oleh Edward de Bono pada tahun 1984. Saat bukunya ditulis, metode tersebut banyak digunakan oleh sekolah-sekolah untuk anak usia empat tahun dan eksekutif perusahaan besar dunia. Menarik! Artinya metode ini bisa digunakan dengan cara yang sangat sederhana sehingga bisa dipahami oleh anak-anak, namun juga efektif untuk membantu para eksekutif bisnis dalam menyelesaikan tantangan perusahaan skala dunia.

Dalam buku Think! Disebutkan bahwa tidak diperlukan urutan yang tetap, topi mana yang lebih dulu dipakai. Hanya saja ditekankan bahwa beberapa tahapan yang lebih bermanfaat akan didahuluan pengerjaannya. Namun urutan yang sudah founding mothers sampaikan saat Huddle bagi saya sudah cocok untuk menyelesaikan tantangan di zona Growth kelas Bunda Produktif kali ini.



Terimakasih kelas Bunda Produktif, mengantarkan saya mengenal banyak metode keren dan mencari buku-buku tersebut di perpustakaan. Karena keberadaan buku-buku tersebut mayoritas berbahasa Jerman, menjadi extra miles bagi diri saya secara pribadi untuk belajar bahasa Jerman lebih serius lagi. Kali ini buku yang saya gunakan sebagai bahan referensi jurnal adalah buku Think! Denken, bevor es zu spaet ist yang ditulis Edward de Bono. Ada beberapa halaman di buku tersebut yang mengupas tentang Six Thinking Hats.

Bagaimana praktik Six Thinking Hats ini dalam kerja tim?

Materi founding mother yang diberikan di hari Rabu malam baru saya simak di hari Jum’at, sedangkan program Walikota Menyapa baru saya simak di hari Sabtu. Bukan karena mau menunda, namun di hari Rabu dan Kamis ada agenda lain juga yang membutuhkan fokus cukup tinggi. Menyadari Koordinasi CH yang berjalan kurang lancar, kami bersepakat untuk mengadakan kembali pertemuan via Zoom agar situasi kembali lekat dan hangat.

Dalam sesi Zoom kami mengalirkan rasa satu per satu kecuali yang hadir di pertengahan acara dan yang berhalangan hadir. Kemudian saling memaparkan kerikil-kerikil hambatan yang terjadi dalam koordinasi tim. Leader pun mengingatkan beberapa poin penting namun luput dari proses pengerjaan project passion. Usai sesi Huddle via Zoom, sense of belonging kami terhadap project passion meningkat. Masih ada waktu untuk mengejar target, meskipun memang perlu mengayun langkah lebih ekstra. Tak menutup kemungkinan perlu strategi khusus, baik itu berupa mengurangi porsi tidur atau pelan dulu dalam mengerjakan hal lain di luar Hexagon City. Kami menyepakati timeline baru dan siap untuk saling mengingatkan satu sama lain.

Selesai Zoom, kami membuat enam topi berpikir versi pribadi yang dikumpulkan keesokan harinya. Berikut Six Thinking Hats versi pribadi saya,


Kemudian leader merekapnya menjadi enam topi berpikir tim dan memilahnya ke beberapa action. Berikut Six Thinking Hats versi tim CH,


Dilanjutkan dengan action items berikut,


Ada juga Six Thinking Hats versi tim Suporter Cluster, yang dibuat oleh mba Saras dan dibagikan oleh leader CH kami di WAG CH. Terkait poin ini, untuk diskusinya sendiri memang tidak berjalan. Saya sendiri pun kesulitan untuk membagi porsi waktu jika ada diskusi mengenai hal ini juga di cluster dalam keberjalanan proses selama sepekan. Sehingga yang baru terlaksana bagi diri saya adalah menelaah materi, berdiskusi aktif di CH, kontak personal dengan anggota CH untuk koordinasi dan saling memahamkan dan mengerjakan tugas terkait PP.




Masih terus menjaga keseimbangan peran antara di dalam kelas Bunda Produktif dan di luar kelas Bunda Produktif.
Apalagi per Senin, 1 Februari 2021 kemarin saya juga memulai kembali kursus intensif bahasa Jerman di setiap weekdays. Jam mengerjakan jurnal ternyata molor, melebihi waktu yang dialokasikan. Saatnya melaju ke todolist harian berikutnya, mempersiapkan anak berangkat ke TK. Semoga semua langkah membuat diri ini mendekat, menggapai rahmat dan ridaNya, aamiin.

Salam Ibu Profesional kebanggaan keluarga,

Wina, 2 Februari 2021

Sumber referensi :

Bono, Edward De. 2010. Think! Denken, bevor es zu spaet ist.  Muenchen : MVG Verlag

 

 


Comments

Popular posts from this blog

Praktik Cooking Class : Bubur Sumsum Lembut

Apa yang pertama kali terbayang saat melihat bubur sumsum? Jika pertanyaan itu menghampiri saya, saya akan menjawab “kondisi sakit”. Saat sakit, biasanya nafsu makan kita berkurang, susah menelan dan lidah terasa pahit. Tak heran jika makanan ini seringkali menjadi asupan bagi orang sakit. Teksturnya yang lembut dan cita rasa optimal selagi hangat tentu memudahkan pemenuhan kebutuhan energi saat kondisi tubuh kurang prima. Saat sehatpun, mengonsumsi bubur ini terasa nikmat, apalagi jika di luar sedang diguyur hujan dan cuaca dingin menyelimuti. Dikutip dari Wikipedia , bubur sumsum adalah sejenis makanan berupa bubur berwarna putih yang dilengkapi dengan kuah air gula merah. Mengapa dinamakan bubur sumsum? Katanya, dinamakan demikian karena penampakannya yang putih menyerupai warna bagian luar sumsum tulang. Bahan utama bubur ini adalah tepung beras.  Tentu tepung beras dengan kualitas baik. Bagaimana kriterianya? Tentu mengikuti SNI, berikut informasi detilnya : N

Menulis Cerita Anak : Pengenalan Anggota Tubuh

CERITA TENTANG PENGENALAN ANGGOTA TUBUH Udara hangat, suara burung berkicau dan air bergemericik, menemani sang mentari menyingsing dari arah timur. “Assalamu’alaykum warahmatullah wabarakatuh…. Selamat pagi anak-anak… Bagaimana kabar hari ini?” ibu guru membuka ruang kelas batita dengan sapaan penuh semangat. Anak-anakpun menjawab dengan antusias, bahkan mereka berlomba-lomba mengeraskan suara, “Wa’alaykumsalam warahmatullah wabarakatuh… Selamat pagi ibu guru… Alhamdulillah….Luar biasa…Allahu Akbar!” Jawaban sapaan berlogat cedal khas anak-anak membahana di seluruh isi ruangan. Ibu guru tersenyum lebar. (Coba, siapa yang bisa peragakan, bagaimana senyum lebar itu?). Jawaban nyaring anak-anak tadi tak ubahnya pasokan energi yang membuat semangatnya menggebu sehari penuh. Pagi ini sang ibu guru akan mengenalkan pada anak-anak mengenai anggota tubuh. Sengaja beliau datang dengan tangan hampa. Tanpa buku, tanpa alat peraga. Rupanya beliau ingin tahu seberapa jauh anak-

Meneladani Visi dan Misi Keluarga Nabi Ibrahim bersama Ustadz Adriano Rusfi

Bagi keluarga kami, salah satu yang membuat betah tinggal di Bandung adalah fasilitas belajar ilmu parenting yang variatif dan ekonomis. Disinilah kami dipertemukan dengan komunitas belajar ilmu pendidikan anak, ragam acara peningkatan kualitas diri dan aneka playdate anak yang menyenangkan dan ramah kantong. Bahkan banyak kegiatan yang bisa diikuti tanpa dipungut biaya, cukup berbekal semangat belajar dan kemauan memperbaiki diri. Nah, di weekend  menjelang Idul Adha kemarin, kami berkesempatan menimba ilmu pendidikan berbasis keluarga dari Ustadz Adriano Rusfi di acara Kopdar Bulanan HebAT ( Home Education based on Akhlaq and Talents) Bandung. HebAT merupakan sebuah komunitas belajar berbasis grup WhatsApp yang mendampingi para orangtua menjalankan FbE (Fitrah based Education) dan CbE (Community based Education) dalam pendidikan anak-anaknya. Tak hanya kopdar bulanan, komunitas ini juga rutin mengadakan beragam aktivitas menarik untuk memfasilitasi kebutuhan belajar anak dan