Skip to main content

Catatan Belajar mengenai Urgensi Membangun Kepribadian Islami

Bismillahirrohmanirrohim…

Pekan lalu saya mengikuti kajian Islam dengan topik “Urgensi Membangun Kepribadian Islami”

Judul tersebut membuat saya merenungi diri. Sebenarnya, untuk apa kita membangun kepribadian Islami? Bukankah segala langkah yang diupayakan menuju ke arah tersebut adalah untuk keselamatan diri saya sendiri?

Banyak hal yang disampaikan oleh Ustadzah membuat saya tertunduk malu. Forum-forum kajian seperti ini bagi saya merupakan salah satu kenikmatan fasilitas luar biasa yang Allah berikan pada kami yang saat ini tinggal di bumi Eropa, dimana agama Islam menjadi agama minoritas. Tak terdengar kumandang Adzan dalam keseharian, tak ada yang menganggap aneh jika kita makan dengan tangan kiri maupun dalam posisi berdiri, bahkan tak ada yang peduli saat kita berbuat maksiat. Maka saya sangat mensyukuri adanya kajian rutin ini yang bisa dijalankan di sini.

Ustadzah menyampaikan bahwasanya ada tiga aspek yang perlu dibangun oleh seorang muslim, antara lain :

1.       Ruhiyah/ Maknawiyah

QS. Asy Syams ayat 7-10

“Demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)nya, maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya, sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu), dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.”

QS. Al Hadid 16

Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk secara khusyuk mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang telah diwahyukan (kepada mereka), dan janganlah mereka (berlaku) seperti orang-orang yang telah menerima kitab sebelum itu, kemudian mereka melalui masa yang panjang sehingga hati mereka menjadi keras. Dan banyak diantara mereka menjadi orang-orang fasik.

Ruhiyah yang baik akan menghadirkan aqidah yang kokoh dan lurus. Akhlak yang baik, juga merupakan tolok ukur keimanan seseorang. Rasulullah diutus pun untuk menyempurnakan akhlak manusia. Ada masa di mana kita merasa dekat dengan Allah, namun ada juga masa di mana kita merasa futur, jauh dengan Allah, merasa kering dan rapuh. Alhamdulillah wa syukurillah, Allah mengaruniai kita rasa itu, agar kita memahami bahwa ada hal yang tak beres dalam diri. Kemudian bersegera memperbaiki diri dan mendekat padaNya. Melantunkan doa “Wahai Yang Membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu dan di atas ketaatan kepada-Mu.”

2.       Fikriyah.

Kejernihan fikroh. Di mana kreativitas seseorang akan dirasakan manfaatnya oleh orang lain. Apakah ada tidak adanya kita, situasi di sekeliling kita akan sama?

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” HR Ahmad. Aksi nyata terkait hal ini banyak saya rasakan saat belajar dan bertumbuh di komunitas. Di mana saat kita paham kebutuhan diri kita, kemudian kita mengamati sekeliling, apakah lingkungan sekitar kita juga memiliki kebutuhan yang sama? Jika ya, kita bisa bergerak untuk memenuhi kebutuhan diri kita sembari mengajak orang lain untuk turut bergerak sehingga terpenuhilah kebutuhan bersama. Bergerak dan menggerakkan. Bagaimana langkah kita dirasakan manfaatnya tidak hanya oleh diri kita dan keluarga kita namun juga orang-orang di lingkungan sekitar kita. Sebuah langkah yang meluas dampak dan kebermanfaatannya.

Poin yang kedua adalah menghasilkan wawasan dan pola pikir Islami. Rasulullah bersabda, “Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim.” HR Ibnu Majah. Menuntut ilmu baik terkait Islam maupun ilmu yang berkaitan dalam peran atau profesi yang dijalankan dalam kehidupan. Karena setiap amal perlu dijalani dengan dibekali ilmu. Selanjutnya poin yang ketiga adalah sikap disiplin. Bagaimana agar langkah yang kita lakukan, ilmu yang kita pelajari menjadi sebuah amal dan karakter? Tentu diiringi dengan disiplin diri yang tinggi.  

3.       Amaliyah

QS. At Taubah 105

Dan katakanlah, “Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.”

Amaliyah adalah satu diantara tiga tuntutan. Bekerja adalah perintah untuk setiap mukmin. Bergerak, dan menjalankan peran yang diemban sebagai bentuk beribadah pada Allah. Tak pandang peran apapun yang dijalankan, sepanjang dalam kebenaran dan di jalan Allah, maka menjadi sebuah lahan juang dan amal yang kelak dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Semoga Allah tuntun langkah kita senantiasa. Aamiin...

Wina, 25 Februari 2021

 

 

 

 


Comments

Popular posts from this blog

Praktik Cooking Class : Bubur Sumsum Lembut

Apa yang pertama kali terbayang saat melihat bubur sumsum? Jika pertanyaan itu menghampiri saya, saya akan menjawab “kondisi sakit”. Saat sakit, biasanya nafsu makan kita berkurang, susah menelan dan lidah terasa pahit. Tak heran jika makanan ini seringkali menjadi asupan bagi orang sakit. Teksturnya yang lembut dan cita rasa optimal selagi hangat tentu memudahkan pemenuhan kebutuhan energi saat kondisi tubuh kurang prima. Saat sehatpun, mengonsumsi bubur ini terasa nikmat, apalagi jika di luar sedang diguyur hujan dan cuaca dingin menyelimuti. Dikutip dari Wikipedia , bubur sumsum adalah sejenis makanan berupa bubur berwarna putih yang dilengkapi dengan kuah air gula merah. Mengapa dinamakan bubur sumsum? Katanya, dinamakan demikian karena penampakannya yang putih menyerupai warna bagian luar sumsum tulang. Bahan utama bubur ini adalah tepung beras.  Tentu tepung beras dengan kualitas baik. Bagaimana kriterianya? Tentu mengikuti SNI, berikut informasi detilnya : N

Menulis Cerita Anak : Pengenalan Anggota Tubuh

CERITA TENTANG PENGENALAN ANGGOTA TUBUH Udara hangat, suara burung berkicau dan air bergemericik, menemani sang mentari menyingsing dari arah timur. “Assalamu’alaykum warahmatullah wabarakatuh…. Selamat pagi anak-anak… Bagaimana kabar hari ini?” ibu guru membuka ruang kelas batita dengan sapaan penuh semangat. Anak-anakpun menjawab dengan antusias, bahkan mereka berlomba-lomba mengeraskan suara, “Wa’alaykumsalam warahmatullah wabarakatuh… Selamat pagi ibu guru… Alhamdulillah….Luar biasa…Allahu Akbar!” Jawaban sapaan berlogat cedal khas anak-anak membahana di seluruh isi ruangan. Ibu guru tersenyum lebar. (Coba, siapa yang bisa peragakan, bagaimana senyum lebar itu?). Jawaban nyaring anak-anak tadi tak ubahnya pasokan energi yang membuat semangatnya menggebu sehari penuh. Pagi ini sang ibu guru akan mengenalkan pada anak-anak mengenai anggota tubuh. Sengaja beliau datang dengan tangan hampa. Tanpa buku, tanpa alat peraga. Rupanya beliau ingin tahu seberapa jauh anak-

Meneladani Visi dan Misi Keluarga Nabi Ibrahim bersama Ustadz Adriano Rusfi

Bagi keluarga kami, salah satu yang membuat betah tinggal di Bandung adalah fasilitas belajar ilmu parenting yang variatif dan ekonomis. Disinilah kami dipertemukan dengan komunitas belajar ilmu pendidikan anak, ragam acara peningkatan kualitas diri dan aneka playdate anak yang menyenangkan dan ramah kantong. Bahkan banyak kegiatan yang bisa diikuti tanpa dipungut biaya, cukup berbekal semangat belajar dan kemauan memperbaiki diri. Nah, di weekend  menjelang Idul Adha kemarin, kami berkesempatan menimba ilmu pendidikan berbasis keluarga dari Ustadz Adriano Rusfi di acara Kopdar Bulanan HebAT ( Home Education based on Akhlaq and Talents) Bandung. HebAT merupakan sebuah komunitas belajar berbasis grup WhatsApp yang mendampingi para orangtua menjalankan FbE (Fitrah based Education) dan CbE (Community based Education) dalam pendidikan anak-anaknya. Tak hanya kopdar bulanan, komunitas ini juga rutin mengadakan beragam aktivitas menarik untuk memfasilitasi kebutuhan belajar anak dan