Skip to main content

Zona Open Space Ketiga, Momentum untuk Mendalami Makna dari Kebutuhan

Hari ini adalah hari terakhir Hexagon City Virtual Conference. Di awal pembukaan zona Open Space saya membuat rencana tahapan belajar, yaitu di tahap pertama saya mengambil peran sebagai Bumble Bee yang menclok ­sana menclok sini yang selain untuk mendapatkan ilmu juga untuk membaca situasi jika mengambil peran sebagai Speaker itu seperti apa. Di tahap kedua saya mengambil peran sebagai Speaker dengan membawakan topik yang sesuai dengan kebutuhan saya banget saat itu, sebuah momen refleksi diri dalam proses bertumbuh menjadi seorang Ibu Profesional Diaspora. Dan di tahap ketiga, saya mengambil peran sebagai Butterfly. Apakah semua berjalan mulus? Tentu tidaaaak, hehehe…

Saat tahap pertama, gegap gempita Virtua Conference amat terasa. Peran saya sebagai Hexagonia sekaligus leader HIMA yang menyalurkan informasi jadwal Virtual Conference membuat saya perlu mengalokasikan jam daring ekstra agar bisa mengerjakan amanah. Ditambah dengan menyimak sesi live yang disajikan oleh teman-teman Speaker. Di saat bersamaan, saya juga berkontribusi di regional dalam rangkaian milad tiga tahun Efrimenia berupa aneka karya persembahan setiap benua dan lima Virtual Tour yang sangat menarik. Melaju ke tahap kedua, saya mengambil peran sebagai Speaker. Karena akhir pekan saya ada agenda amanah peran lain di komunitas lokal yang cukup padat sekaligus persiapan materi dan teknis live sebagai Speaker, fokus saya berpusat di dua kegiatan tersebut, sehingga di tahap kedua ini saya tidak terlalu larut dalam keriuhan Virtual Conference.

Masuk di tahap ketiga, ada lima tetangga Co-Housing yang akan mau sebagai Speaker, demikian halnya dengan teman-teman dekat. Maka saya bertekad untuk melakukan extra miles dengan duduk sebagai peserta dan menjadi support system teman-teman, meski ternyata jam saat live ternyata berbenturan dengan aktivitas kursus bahasa Jerman di sini yang tidak bisa saya tinggalkan atau masih dini hari waktu CET. Sedih rasanya, namun saya mencoba mendata sesi teman-teman dan menyimak rekamannya saat malam hari (kecuali untuk yang via ZOOM, karena tidak ada susulannya). Hingga saat ini saya sudah menjadi Bumble Bee di sesi mba Nurul Choiriyah, mba Endah, mba Sari, dan mba Wita. Seru dan bermanfaat semua, masyaAllah… Semua menyampaikan materi dari hati dan dengan performa terbaiknya. Sedangkan yang masuk wishlist untuk segera disimak saat ini adalah sesi mba Lia dan mba Nurul Fitriyah.

Dalam sesi Huddle bersama Founding Mother, ada sebuah kejutan yang dipaparkan. Bahwasanya ada 368 Speaker, penggunaan platform tersebar merata mulai dari Youtube, Facebook Fanspage, Instagram,WhatsApp Group, Telegram Group, hingga Zoom. Dan kejutan berikutnya, Co-Housing kami, Literasi dan Bahasa 3 masuk dalam presentasi karena andil yang cukup besar. Ya, 8 dari 11 anggota mengambil peran sebagai Speaker. Cluster yang menaungi kami, Cluster Meraki juga muncul dalam presentasi. Alhamdulillah… Video testimoni dari peserta umum juga mengundang haru dan rasa syukur. Dampak positif dari aksi berbagi ini sangat nyata dan testimoni yang digulirkan membuat hati menghangat. MasyaAllah tabarakallah...

Zona Open Space pekan ketiga ini semakin menyadarkan saya untuk menerima kondisi sebagai ibu diaspora sepaket dengan tantangan yang dijalankan. Ternyata, jika saya memaksakan diri melakukan extra miles dengan menyimak Virtual Conference secara live, maka selain saya tidak bisa menyimak dengan fokus, pun amanah offline-pun berjalan kurang optimal. Jam konferensi biasanya adalah jam 08.00-21.00 WIB yang mana jika dikonversi ke waktu Austria adalah jam 02.00-15.00 CET.  Yang mana pada jam tersebut agenda adalah masih terlelap tidur, kemudian bangun, beribadah, beraktivitas domestik, mengantar anak-anak ke sekolah, menjalankan kursus bahasa Jerman berdurasi tiga jam, dalam perjalanan, menjemput anak di sekolah, menyiapkan makan siang, membersamai anak-anak dan kembali menjemput anak di sekolah. Belum ada slot waktu untuk duduk manis menyimak ibarat peserta konferensi di dunia nyata. Pernah saya menyimak sembari beraktivitas domestik, namun justru pekerjaan domestik jadi lebih lambat tuntasnya dan poin penting dari materi pun tidak saya dapatkan karena tidak mindful. Pernah juga nyaris turun di halte yang salah saat menyimak live dalam perjalanan. Kocak dan bikin kapok, hihihi.

Saya memang mengalokasikan waktu satu jam per hari untuk berkomunitas secara daring. Setengah jam di dini hari saya gunakan untuk mengerjakan amanah kepengurusan HIMA dan menyalurkan informasi dari pusat ke regional. Setengah jam berikutnya saya alokasikan di sore hari waktu CET, untuk menyimak Virtual Conference juga rangkaian acara milad Ibu Profesional Efrimenia karena qodarullah momennya bertepatan. Maka saya perlu membuat strategi dalam aktivitas Virtual Conference ini, yaitu dengan membuat diagram alir keputusan terkait menentukan aksi diri dalam Virtual Conference. Berikut diagram alir sederhana, visualisasi dari isi pikiran saya selama membuat keputusan dalam melangkah di Hexagon City Virtual Conference. Bagaimana saya menentukan kapan join, tunda dan memasukkannya dalam wishlist atau skip.



Adalah hal yang wajar jika sepanjang perjalanan Virtual Conference, saya sebagai Hexagonia merasa tertarik dengan aneka sesi, karena memang para Hexagonia berbagi ilmu dan pengalaman dengan topik-topik yang sangat erat dengan tantangan yang dialami para ibu dalam menjalankan peran. Saya bahkan membayangkan betapa besar dampak forum ini untuk para ibu Indonesia yang menyimak. Yang mayoritas bisa diakses secara gratis dan terbuka untuk khalayak umum. Di sisi lain, saya belajar menyadari bahwa saya bisa mereguk ilmu dari Virtual Conference ini secukupnya, sesuai kebutuhan dan kesempatan yang ada. Jika ada topik penting, saya membuat wishlist dengan mencatat topik materi, pemateri dan platform apa yang digunakan sehingga bisa saya akses dan simak di kemudian hari di waktu yang tepat. Tak perlu terburu menyimak materinya padahal di saat bersamaan ada amanah daring lain yang juga harus saya selesaikan. Kondisi ini justru akan membuat saya gagal fokus, terlarut dalam rasa bersalah dan mangkir dari jadwal harian yang sudah saya jalankan seperti biasanya. Di titik ini saya pun belajar bagaimana melakukan kontrol diri terhadap suatu godaan di depan mata.

Perjalanan di kelas Bunda Produktif ini tentu tak lepas dari dukungan penuh dari suami dan anak-anak. Mereka mungkin tak menyampaikan dukungan secara lisan, namun sikap mereka sudah lebih dari sekadar dukungan. Suami adalah teman diskusi yang selalu memberikan pandangan berbeda yang seringkali luput dalam pandangan saya, saya juga menggunakan laptop beliau untuk live karena laptop milik saya kurang mendukung. Sedangkan anak-anak, mereka adalah pihak yang berbesar hati memberikan waktu untuk sang ummi melakukan me time lebih lama dari biasanya dengan mengikuti perjalanan zona Open Space ini. Maka tak heran jika Hexagon City pun akrab di telinga mereka. MasyaAllah tabarakallah...

Saat suami saya minta memberikan testimoni terkait Virtual Conference, beliau tidak bersedia, karena memang beliau tidak mengikuti Virtual Conference tersebut. Beliau memilih memberikan testimoni mengenai proses belajar kelas Bunda Produktif yang saya jalankan. Masukan dari beliau adalah, akan semakin baik jika peserta kelas Bunda Produktif mendapatkan informasi garis besar kelas bunda produktif secara umum sebelum proses belajar berjalan, sehingga peserta bisa melakukan sinkronisasi antara peta belajar diri dengan program-program di kelas Bunda Produktif.

Zona Open Space ini secara tidak langsung menjadi laboratorium percobaan bagaimana menjadi seorang Digital Mama. Allah berikan kesempatan untuk belajar mengoperasikan Streamyard, menemukan strategi yang saya banget untuk bisa berselancar di tengah gencarnya arus informasi dan kesempatan, bahkan meregulasi emosi agar tidak terjebak dalam rasa bersalah atau rasa sungkan, namun bisa tetap saling mendukung dan menguatkan. Terima kasih dan apresiasi mendalam saya sampaikan pada Founding Mother, segenap Tim Formula dan City Leader beserta jajarannya, termasuk para PIC platform dan seluruh Hexagonia. MasyaAllah tabarakallah, atas izin Allah, Hexagon City Virtual Conference terselenggara dengan apik dan sangat berkesan. Yuk, tepuk tangan bareng dan saling tepuk pundak, dengan izin-Nya, langkah kita semua luar biasa…

Wina, 22 Februari 2021

 

Comments

Popular posts from this blog

Menulis Cerita Anak : Pengenalan Anggota Tubuh

CERITA TENTANG PENGENALAN ANGGOTA TUBUH Udara hangat, suara burung berkicau dan air bergemericik, menemani sang mentari menyingsing dari arah timur. “Assalamu’alaykum warahmatullah wabarakatuh…. Selamat pagi anak-anak… Bagaimana kabar hari ini?” ibu guru membuka ruang kelas batita dengan sapaan penuh semangat. Anak-anakpun menjawab dengan antusias, bahkan mereka berlomba-lomba mengeraskan suara, “Wa’alaykumsalam warahmatullah wabarakatuh… Selamat pagi ibu guru… Alhamdulillah….Luar biasa…Allahu Akbar!” Jawaban sapaan berlogat cedal khas anak-anak membahana di seluruh isi ruangan. Ibu guru tersenyum lebar. (Coba, siapa yang bisa peragakan, bagaimana senyum lebar itu?). Jawaban nyaring anak-anak tadi tak ubahnya pasokan energi yang membuat semangatnya menggebu sehari penuh. Pagi ini sang ibu guru akan mengenalkan pada anak-anak mengenai anggota tubuh. Sengaja beliau datang dengan tangan hampa. Tanpa buku, tanpa alat peraga. Rupanya beliau ingin tahu seberapa jauh anak-

Mini Project : Belajar Siklus Air

Mini Project 20 Juli 2016 Belajar Siklus Air Beberapa sore belakangan, hujan selalu menyapa. Allahumma shoyyiban nafi’an Ya Allah, turunkanlah pada kami hujan yang bermanfaat. Salah satu kebiasaan yang Mentari Pagi lakukan saat hujan adalah melihat kamar belakang sambil melapor, “Ngga bocor koq Mi,alhamdulillah kering.” Hihihi..Atap kamar belakang memang ada yang bocor. Sehingga jika hujan turun, terlebih hujan besar, saya selalu mengeceknya, apakah bocor atau tidak. Dan kebiasaan inilah yang damati dan diduplikasi oleh MeGi. Dari sini jadi terpikir untuk mengenalkan siklus air padanya. Alhamdulillah, kemudahan dari Allah. Saat membuka facebook timeline , ada teman yang membagi album foto mba Amalia Kartika. Berisikan ilustrasi menarik mengenai informasi ayat-ayat yang berkaitan dengan air dan hujan. Jadilah ini sebagai salah satu referensi saya saat belajar bersama mengenai siklus air. Untuk aktivitas ini saya menggunakan ilustrasi siklus air untuk stimulasi m

Manajemen Prioritas dalam Berkomunitas

Membuat Skala Prioritas Beberapa pekan lalu, kami sebagai tim Training and Consulting Ibu Profesional Non ASIA mengundang mba Rima Melani (Divisi Research and Development – Resource Center Ibu Profesional, Leader Ibu Profesional Banyumas Raya sekaligus Praktisi Talents Mapping ) di WhatsApp Group Magang Internal. Bahasan yang disampaikan adalah mengenai Manajemen Prioritas dalam Berkomunitas.  Bahasan ini kami jadwalkan sebagai materi kedua dari rangkaian materi pembekalan untuk pengurus IP Non ASIA karena bermula dari kebutuhan pribadi sebagai pengurus komunitas. Masih berkaitan dengan materi sebelumnya, yang bisa disimak di tulisan sebelumnya . Di materi pertama lalu kami diajak uni Nesri untuk menelusuri peran diri sebagai individu, yang kemudian dipetakan dan dikaitkan dengan peran dalam keluarga sebagai lingkaran pertama, dilanjutkan dengan kondisi dan kebutuhan lingkungan sosial sekitar. Sehingga antara peran diri, peran dalam keluarga serta peran komunal dapat di