Skip to main content

Dari Mana Kita Bisa Memperoleh Informasi yang Terpercaya?

Bismillahhirrohmanirrohim...

Jumuah Mubarak! Alhamdulillah, bersyukur sekali di hari menjelang akhir pekan ini, bisa kembali menyapa pembaca blog Griya Riset dengan sebuah tulisan baru. Di tulisan kali ini saya ingin bercerita mengenai kontemplasi diri saya terkait arus informasi yang saat ini berseliweran di hadapan.


Dimulai dari suatu waktu, saat saya mengobrol sebuah topik bersama anak-anak, si sulung menyeletuk, „Ummi, informasi-informasi yang kita dapat dari internet ngga semuanya benar, bukan?“

Sekejap saya kaget dengan kata-kata yang terlontar darinya itu, tapi kemudian saya segera mengangguk. Saya tersadar, di usia si sulung yang sudah genap delapan tahun, dengan hobi membaca yang ia tekuni, dengan aneka aktivitas yang ia lakukan baik di sekolah maupun luar sekolah, dengan interaksinya dengan banyak kalangan, dengan jatah screentime yang anak-anak miliki khusus di hari Jum‘at, tentu mengantarkannya untuk mendapatkan banyak input. Sehingga penting untuk membangun kebiasaan untuk bersikap skeptis dan memahami literasi digital.

Insight seputar topik ini pun saya dapatkan di kelas Ausbildung. Saat itu kami sedang belajar topik Fisch atau ikan bersama Herr Thomas. Ada beberapa materi, seperti salah satu bagian ikan atau masakan olahan dari ikan yang masih asing di telinga kami, para peserta. Maka kemudian Herr Thomas mencari di mesin pencari di PC beliau, kemudian membagikan layarnya di papan sehingga bisa kami simak bersama. Nah, poin yang menarik, beliau juga mengingatkan bahwa tidak semua hasil yang ditunjukkan oleh mesin pencari, adalah informasi yang benar. Dan akan sangat riskan untuk diri kita sendiri jika kita mencari sebuah informasi di mesin pencari di internet, kemudian mempercayainya dan menelannya mentah-mentah sehingga menjadi pemahaman baru di pikiran kita. Apalagi jika kemudian informasi yang salah tersebut terus kita pegang, menjadi pijakan ilmu kita dan bahkan kita sampaikan juga ke orang lain.

Dua kejadian diatas merupakan segelintir studi kasus yang membuat kita menjadi terus berpikir dan berhati-hati dalam menerima informasi. Lalu, bagaimana kita bisa memperoleh informasi yang terpercaya?

1. Dari Jurnal Ilmiah

Masih ingat kan, saat kita membuat laporan praktikum di masa kuliah, atau membuat skripsi? Ada kalanya kita menyitir informasi dari sebuah sumber informasi. Nah, sumber informasi yang kita pakai seringkali jurnal. Karena jurnal adalah publikasi dari sebuah hasil riset yang isinya bisa dipertanggungjawabkan oleh penulis. Tapi tantangan untuk membaca jurnal ilmiah ini memang besar, karena memang berat ya. Baik karena cara mengaksesnya yang terbatas maupun juga karena bahasa yang digunakan kerap bahasa asing.

2. Dari Buku

Buku memang menjadi andalan kita dalam mencari sebuah informasi. Seorang yang gemar membaca biasanya seringkali rutin mengalokasikan waktu untuk membaca buku. Isi buku yang menarik, penuh warna, visualisasi dan ilustrasi yang memanjakan mata tentu membuat manusia betah berlama-lama tenggelam memahami isi sebuah buku. Buku bisa kita dapatkan dengan mudah. Bisa dengan membeli buku fisik di toko buku, meminjam buku di perpustakaan, maupun mengakses versi digitalnya dan membacanya di gawai. Ada juga audio-book, dimana kita bisa menyimak isi buku melalui suara orang lain yang membacanya. Kemudian, perhatikan juga genre buku yang dibaca. Seiring dengan perkembangan media, terbuka banyak kesempatan untuk menerbitkan buku indie sehingga siapapun bisa menerbitkan buku. Konsekuensinya, tulisan isi buku bisa juga berupa opini yang kebenarannya pun perlu pembaca cek lagi.

3. Dari Situs Resmi

Tak bisa dipungkiri, internet menawarkan banyak kemudahan dalam mengakses sebuah informasi. Jika kita ingin mengetahui suatu topik, kita tinggal mengetik kata kunci di mesin pencari dan dalam sekejap mata, ada banyak informasi yang tersedia untuk kita. Tak perlu berlama-lama mencari dengan membuka buku halaman demi halaman dan tak perlu susah-susah mencari akses untuk membuka sebuah jurnal. Tapi di balik kemudahan tersebut, ada hal yang perlu kita waspadai. Yaitu, kebenaran isi informasi. Nah, untuk meminimalkan risiko tersebut, kita bisa memilih untuk mencari informasi dari situs-situs resmi badan, perusahaan atau pihak-pihak yang memang berkecimpung di bidang tersebut dan kita ketahui sepak terjangnya di dunia nyata. Dan akan lebih baik lagi jika informasi yang kita dapatkan, kita coba cek kebenarannya dengan mencarinya dari sumber yang berbeda.

Jika ada poin yang ingin teman-teman pembaca tambahkan, silakan tulis di kolom komentar ya. Vielen herzlichen Dank!

Wien, 22.July 2022

12:40

Comments

Popular posts from this blog

Praktik Cooking Class : Bubur Sumsum Lembut

Apa yang pertama kali terbayang saat melihat bubur sumsum? Jika pertanyaan itu menghampiri saya, saya akan menjawab “kondisi sakit”. Saat sakit, biasanya nafsu makan kita berkurang, susah menelan dan lidah terasa pahit. Tak heran jika makanan ini seringkali menjadi asupan bagi orang sakit. Teksturnya yang lembut dan cita rasa optimal selagi hangat tentu memudahkan pemenuhan kebutuhan energi saat kondisi tubuh kurang prima. Saat sehatpun, mengonsumsi bubur ini terasa nikmat, apalagi jika di luar sedang diguyur hujan dan cuaca dingin menyelimuti. Dikutip dari Wikipedia , bubur sumsum adalah sejenis makanan berupa bubur berwarna putih yang dilengkapi dengan kuah air gula merah. Mengapa dinamakan bubur sumsum? Katanya, dinamakan demikian karena penampakannya yang putih menyerupai warna bagian luar sumsum tulang. Bahan utama bubur ini adalah tepung beras.  Tentu tepung beras dengan kualitas baik. Bagaimana kriterianya? Tentu mengikuti SNI, berikut informasi detilnya : N

Menulis Cerita Anak : Pengenalan Anggota Tubuh

CERITA TENTANG PENGENALAN ANGGOTA TUBUH Udara hangat, suara burung berkicau dan air bergemericik, menemani sang mentari menyingsing dari arah timur. “Assalamu’alaykum warahmatullah wabarakatuh…. Selamat pagi anak-anak… Bagaimana kabar hari ini?” ibu guru membuka ruang kelas batita dengan sapaan penuh semangat. Anak-anakpun menjawab dengan antusias, bahkan mereka berlomba-lomba mengeraskan suara, “Wa’alaykumsalam warahmatullah wabarakatuh… Selamat pagi ibu guru… Alhamdulillah….Luar biasa…Allahu Akbar!” Jawaban sapaan berlogat cedal khas anak-anak membahana di seluruh isi ruangan. Ibu guru tersenyum lebar. (Coba, siapa yang bisa peragakan, bagaimana senyum lebar itu?). Jawaban nyaring anak-anak tadi tak ubahnya pasokan energi yang membuat semangatnya menggebu sehari penuh. Pagi ini sang ibu guru akan mengenalkan pada anak-anak mengenai anggota tubuh. Sengaja beliau datang dengan tangan hampa. Tanpa buku, tanpa alat peraga. Rupanya beliau ingin tahu seberapa jauh anak-

Meneladani Visi dan Misi Keluarga Nabi Ibrahim bersama Ustadz Adriano Rusfi

Bagi keluarga kami, salah satu yang membuat betah tinggal di Bandung adalah fasilitas belajar ilmu parenting yang variatif dan ekonomis. Disinilah kami dipertemukan dengan komunitas belajar ilmu pendidikan anak, ragam acara peningkatan kualitas diri dan aneka playdate anak yang menyenangkan dan ramah kantong. Bahkan banyak kegiatan yang bisa diikuti tanpa dipungut biaya, cukup berbekal semangat belajar dan kemauan memperbaiki diri. Nah, di weekend  menjelang Idul Adha kemarin, kami berkesempatan menimba ilmu pendidikan berbasis keluarga dari Ustadz Adriano Rusfi di acara Kopdar Bulanan HebAT ( Home Education based on Akhlaq and Talents) Bandung. HebAT merupakan sebuah komunitas belajar berbasis grup WhatsApp yang mendampingi para orangtua menjalankan FbE (Fitrah based Education) dan CbE (Community based Education) dalam pendidikan anak-anaknya. Tak hanya kopdar bulanan, komunitas ini juga rutin mengadakan beragam aktivitas menarik untuk memfasilitasi kebutuhan belajar anak dan