Skip to main content

Libur Telah Tiba, Saatnya Mengambil Jeda bersama Keluarga

Bismillahhirrohmanirrohim...



Mulai kemarin, tanggal 25 Juli 2022, saya mendapat jatah libur Ausbildung selama dua pekan. Di sela padatnya kesibukan dalam menjalani Ausbildung, masa liburan seolah menjadi hal yang teramat saya tunggu-tunggu. Rutinitas Ausbildung ini seakan membuat saya lebih memahami situasi ibu bekerja di ranah publik. Dulu, saat belum menjalani Ausbildung dan full berkarya di ranah domestik, saya relatif bisa mengelola waktu saya dengan lebih fleksibel sekalipun tetap saja tidak santai. Target-target yang saya canangkan, berkejaran dengan waktu secara berimbang.

Ausbildung yang saya ikuti merupakan pendidikan yang bertujuan agar para lulusannya memiliki kompetensi dan keterampilan khusus yang bisa digunakan untuk bekal produktivitas dalam bentuk bekerja di ranah publik. Artinya, ada kompetisi dengan pihak lain yang kelak akan dijalani seperti meniti karier pada umumnya. Untuk bisa berkompetisi, tentu peserta dituntut untuk bisa memenuhi standar kelulusan, baik itu saat ujian harian (Lernzielkontrolle), praktikum di tempat magang, maupun saat ujian akhir nanti.

Nah, sedangkan saya, adalah seorang ibu rumah tangga yang memutuskan secara sadar untuk berhenti bekerja di ranah publik sejak mengandung anak pertama. Dalam rentang waktu delapan tahun ke belakang, saya tidak lagi bekerja di ranah publik, melainkan memilih untuk fokus bekerja dari dalam rumah, membersamai tumbuh kembang anak-anak, mengelola rumah tangga dan mengasah produktivitas diri dengan menulis buku, mengisi blog, belajar ilmu parenting, dan berkomunitas baik luring maupun daring. Ritme tersebut sudah nyaman saya kerjakan dalam keseharian.

Sebelum mengikuti Ausbildung, memang sudah ada ritme pemanasan yang saya jalani, yaitu kursus bahasa Jerman. Dimulai dari yang dua hari per pekan, berganti dengan empat hari per pekan namun dengan masa libur yang panjang di liburan musim panas dan musim dingin, berlanjut dengan kursus bahasa Jerman untuk para pencari kerja yang relatif lebih ketat aturan mainnya, dijalankan selama empat jam per hari dari Senin hingga Jum'at, kemudian setelah program berakhir, berlanjut dengan kursus beberapa mata pelajaran di program FiT (Frauen in Hadwerk und Technik). Meski jumlah jamnya per pekan masih relatif setengah dari durasi Ausbildung, namun ini cukup membantu saya beradaptasi.

Tantangan terberat dalam menjalani Ausbildung tentu saja adalah manajemen waktu dan energi. Sepulang dari praktikum atau kelas di sore hari, saya menjemput anak-anak. Sesampainya di rumah, badan sudah terasa lelah. Tapi urusan domestik menanti karena tidak mungkin kami delegasikan ke pihak ketiga. Tidak ada go food atau warung makan, go clean juga jasa laundry namun kami tetap memerlukan makanan untuk disantap, pakaian bersih yang siap digunakan juga rumah yang nyaman untuk dihuni.

Maka kami menyepakati bahwa Ausbildung yang saya ambil ini juga merupakan sebuah proyek keluarga. Bahwa akan ada porsi pekerjaan yang biasanya saya kerjakan sepenuhnya dan sekarang berpindah menjadi dikerjakan bersama. Ada pernyataan kesediaan dari suami dan anak-anak untuk menyantap makanan yang simpel dan lebih mengarah ke gaya Eropa ketimbang masakan Indonesia sehingga bisa mempersingkat waktu preparasi. Ada porsi bidang produktivitas diri pribadi yang saya kurangi frekuensinya, ada juga yang saya coret karena karena Ausbildung mengganti dan mengambil porsi bagian di dalamnya. Ya, ada banyak hal yang kami kompromikan bersama keluarga terkait langkah besar ini.

Begitu ada libur dua pekan, saya ingin menggunakan sebagian waktunya untuk bertadabbur alam, berlibur bersama keluarga. Kami perlu waktu untuk beristirahat sebelum mulai berkegiatan produktif kembali. Mengambil jeda untuk menguatkan ikatan, untuk melekatkan interaksi, untuk introspeksi, untuk saling menautkan hati, juga untuk mensyukuri keindahan ciptaan lukisan alam dari Sang Maha. Semoga mengisi tangki energi cinta kami untuk senantiasa bergandengan tangan dan bertumbuh bersama, dalam rangka mengejar rida-Nya dan mengejar cita berkumpul bersama di Jannah-Nya kelak. Aamiin...aamiin...ya Robbal‘alamiin.


Mari berlibur untuk aksi yang lebih produktif :)

Wien, 26. July 2022

Mesa

 

Comments

Popular posts from this blog

Praktik Cooking Class : Bubur Sumsum Lembut

Apa yang pertama kali terbayang saat melihat bubur sumsum? Jika pertanyaan itu menghampiri saya, saya akan menjawab “kondisi sakit”. Saat sakit, biasanya nafsu makan kita berkurang, susah menelan dan lidah terasa pahit. Tak heran jika makanan ini seringkali menjadi asupan bagi orang sakit. Teksturnya yang lembut dan cita rasa optimal selagi hangat tentu memudahkan pemenuhan kebutuhan energi saat kondisi tubuh kurang prima. Saat sehatpun, mengonsumsi bubur ini terasa nikmat, apalagi jika di luar sedang diguyur hujan dan cuaca dingin menyelimuti. Dikutip dari Wikipedia , bubur sumsum adalah sejenis makanan berupa bubur berwarna putih yang dilengkapi dengan kuah air gula merah. Mengapa dinamakan bubur sumsum? Katanya, dinamakan demikian karena penampakannya yang putih menyerupai warna bagian luar sumsum tulang. Bahan utama bubur ini adalah tepung beras.  Tentu tepung beras dengan kualitas baik. Bagaimana kriterianya? Tentu mengikuti SNI, berikut informasi detilnya : N

Menulis Cerita Anak : Pengenalan Anggota Tubuh

CERITA TENTANG PENGENALAN ANGGOTA TUBUH Udara hangat, suara burung berkicau dan air bergemericik, menemani sang mentari menyingsing dari arah timur. “Assalamu’alaykum warahmatullah wabarakatuh…. Selamat pagi anak-anak… Bagaimana kabar hari ini?” ibu guru membuka ruang kelas batita dengan sapaan penuh semangat. Anak-anakpun menjawab dengan antusias, bahkan mereka berlomba-lomba mengeraskan suara, “Wa’alaykumsalam warahmatullah wabarakatuh… Selamat pagi ibu guru… Alhamdulillah….Luar biasa…Allahu Akbar!” Jawaban sapaan berlogat cedal khas anak-anak membahana di seluruh isi ruangan. Ibu guru tersenyum lebar. (Coba, siapa yang bisa peragakan, bagaimana senyum lebar itu?). Jawaban nyaring anak-anak tadi tak ubahnya pasokan energi yang membuat semangatnya menggebu sehari penuh. Pagi ini sang ibu guru akan mengenalkan pada anak-anak mengenai anggota tubuh. Sengaja beliau datang dengan tangan hampa. Tanpa buku, tanpa alat peraga. Rupanya beliau ingin tahu seberapa jauh anak-

Meneladani Visi dan Misi Keluarga Nabi Ibrahim bersama Ustadz Adriano Rusfi

Bagi keluarga kami, salah satu yang membuat betah tinggal di Bandung adalah fasilitas belajar ilmu parenting yang variatif dan ekonomis. Disinilah kami dipertemukan dengan komunitas belajar ilmu pendidikan anak, ragam acara peningkatan kualitas diri dan aneka playdate anak yang menyenangkan dan ramah kantong. Bahkan banyak kegiatan yang bisa diikuti tanpa dipungut biaya, cukup berbekal semangat belajar dan kemauan memperbaiki diri. Nah, di weekend  menjelang Idul Adha kemarin, kami berkesempatan menimba ilmu pendidikan berbasis keluarga dari Ustadz Adriano Rusfi di acara Kopdar Bulanan HebAT ( Home Education based on Akhlaq and Talents) Bandung. HebAT merupakan sebuah komunitas belajar berbasis grup WhatsApp yang mendampingi para orangtua menjalankan FbE (Fitrah based Education) dan CbE (Community based Education) dalam pendidikan anak-anaknya. Tak hanya kopdar bulanan, komunitas ini juga rutin mengadakan beragam aktivitas menarik untuk memfasilitasi kebutuhan belajar anak dan