Skip to main content

Adventure Park Eis Greissler di Krumbach - Lower Austria, Pilihan Tepat untuk Berakhir Pekan Bersama Keluarga Saat Musim Panas

Bismillahhirrohmanirrohim...

Akhir pekan ini kami menggunakan Niederösterreich-Card untuk menjajal salah satu wahana bermain di kawasan Krumbach, yaitu Adventure Park Eis Greissler. Jika melihat dari situs resminya, wahana bermain tersebut memiliki wahana bermain air yang cukup luas dengan beragam permainan. Karenanya, akan optimal juga kami mengunjungi wahana ini saat masih berada di musim panas. Sekaliyan makan eskrim langsung di tempat produksinya. Terlebih ini adalah akhir pekan terakhir di masa libur musim panas, sebelum pekan depan mereka akan kembali menjalani hari-hari sekolah.

Untuk menuju ke sana, kami perlu menempuh perjalanan sekitar sembilan puluh menit. Dari Wina, perjalanan bermula dari stasiun Hauptbahnhof dengan kereta REX hingga stasiun Edlitz-Grimmenstein. Dari stasiun tersebut, kami berpindah naik Bus 930 hingga ke halte Krumbach in der Buckligen Welt Eis-Greissler. Halte tersebut persis berada di area parkir kendaraan di depan Eis Greissler Manufaktur. Tak sampai lima menit berjalan kaki, sampailah kami di lokasi tujuan.

 

Gambar 1. Stasiun tempat pergantian dari kereta REX ke bus 930

Sekalipun di aplikasi perkiraan cuaca disebutkan bahwa cuaca hari itu cukup dingin, sehingga kami membawa jaket dan payung, namun kenyataannya matahari menyapa cukup terik. Alhamdulillah, artinya cuaca cerah. Rerumputan hijau dikelilingi aneka wahana bermain terhampar di hadapan kami. Anak-anak sudah tak sabar menjelajah. Usai mampir sebentar ke kamar mandi, kami pun masuk ke loket tiket dan menunjukkan NÖ-Card yang kami miliki. Tersedia juga stempel (yang diperoleh secara mandiri) pertanda memiliki tiket masuk, sehingga bebas keluar masuk area cukup dengan menunjukkan stempel di tangan saja.  

Di hadapan kami terpampang denah wahana bermain. Kami membuat kesepakatan jalur petualangan yang akan kami tempuh. Kesepakatan ini penting dirembug di awal, biar ngga terjadi satu belok kanan satu belok kiri, atau pas main di wahana A sudah ada yang menarik-narik tangan karena kebelet main ke wahana C. Termasuk mendengarkan pendapat anak-anak mengenai wahana favorit mereka dimana kami akan mengalokasikan waktu lebih panjang di sana ketimbang di wahana lainnya.

Permainan pertama yang kami coba adalah Eiskugel werfen! Tugas kita adalah memasukkan bola ke dalam ember kayu yang membuka dan menutup secara berkala. Pemenangnya adalah yang bisa mengumpulkan skor terbanyak. Anak-anak jadi belajar bagaimana strategi memasukkan banyak bola. Dan ternyata, usai menjajal satu dua permainan dan mendaki beberapa meter saja, saya dan suami tergoda untuk menggelar tikar dan membuka perbekalan. Angin bertiup sepoi-sepoi dan hawa yang sejuk rupanya mengundang rasa lapar datang lebih cepat. Maka sembari anak-anak bermain, saya menyeduh mie kemasan gelas dengan air panas dari termos. Tak perlu menunggu lama, dua gelas mie tandas dalam waktu sekejap, hehe.

Gambar 2. Nge-mie dulu sekaligus promo produk Warung Salam

Perut sudah terisi, kami pun berjalan mendaki sambil mencoba permainan Kugelbahnen,yaitu dengan memasukkan bola kayu sebesar bola pingpong ke lintasan berliku yang amat panjang. Pengunjung perlu membeli bola kayu seharga dua Euro untuk permainan ini, bisa sekaliyan jadi souvenir kan ya? :)

Sesampainya di atas bukit, kami menikmati pemandangan sekeliling dan kerumunan sapi yang berada di hamparan rerumputan. Turun dari bukit, kami memutuskan untuk mencoba wahana Milchshaker, permainan Drop Tower tapi versi mini. Kami duduk lalu akan dinaikkan ke atas menara, kemudian diturunkan secara tiba-tiba sehingga membuat efek kaget. Dilakukan berulang. Seru sekali berempat mencoba bersama! Selanjutnya, kami mencoba permainan Schub, Kannen, Rennen. Dimana kami akan menginjak pedal dan dicari yang tercepat untuk keluar sebagai pemenang. Sebuah gamifikasi olahraga (lagi) ini. Seru!

Jam makan siang pun tiba. Kami kembali menggelar tikar, kali ini di atas bukit. Nasi dan ayam goreng tepung pun keluar dari wadah dan berpindah ke perut kami, alhamdulillah... Usai makan dan minum dengan cukup, kami menyusuri jalan turunan dan mencoba permainan lain, yaitu Auf die Kühe, fertig, los! Di permainan ini, si sulung berhasil menduduki peringkat satu dari rival seputarannya. Di sini anak-anak dibersamai oleh suami, sedangkan saya sibuk mencari tempat berteduh.

Sampai juga di wahana yang paling ditunggu-tunggu sejak pagi oleh anak-anak, Wasserwelt, wahana air! Kami alokasikan waktu sekitar dua jam untuk berada di wahana favorit anak-anak ini. Benar saja, mereka betah berlama-lama di sini. Mulai dari bermain air mancur, jalan di atas titian kayu, menggerakkan rakit hingga entah permainan air apalagi yang mereka cicipi. Saat jam menunjukkan pukul tiga sore, anak-anakpun berganti pakaian. Kami menuju ke Tiergehege, tempat dimana kambing dan domba berada. Lucunya, kami menemui kambing yang sangat jinak, yang betah berlama-lama dielus oleh anak-anak. Sisa waktu yang ada kami gunakan untuk membeli eskrim di kantin, penyuplai energi untuk menempuh perjalanan pulang ke Wina setelahnya.

 

Gambar 3. Serunya Menjelajah Erlebnis Park Eis Greissler

Kami tiba di Wina pukul 17.30 CEST, kami memutuskan untuk turun di satu stasiun sebelum stasiun tujuan akhir di rencana semula, agar punya cukup waktu untuk mampir ke toko guna membeli perlengkapan sekolah yang dibutuhkan si sulung saat masuk sekolah nanti. Saat ditanya feedback atas kegiatan hari tersebut, anak-anak menjawab senang. NÖ Card ternyata cukup layak diperhitungkan sebagai fasilitas yang bisa digunakan keluarga menjalankan kegiatan outdoor secara ekonomis. Apalagi di tengah kondisi keluarga kami saat ini yang mana antara hari  Senin hingga Jum'at mayoritas waktunya padat dengan kesibukan masing-masing, fasilitas seperti ini sangat membantu kami meningkatkan kualitas kelekatan di waktu-waktu family time saat akhir pekan. Alhamdulillah... 

Comments

Popular posts from this blog

Praktik Cooking Class : Bubur Sumsum Lembut

Apa yang pertama kali terbayang saat melihat bubur sumsum? Jika pertanyaan itu menghampiri saya, saya akan menjawab “kondisi sakit”. Saat sakit, biasanya nafsu makan kita berkurang, susah menelan dan lidah terasa pahit. Tak heran jika makanan ini seringkali menjadi asupan bagi orang sakit. Teksturnya yang lembut dan cita rasa optimal selagi hangat tentu memudahkan pemenuhan kebutuhan energi saat kondisi tubuh kurang prima. Saat sehatpun, mengonsumsi bubur ini terasa nikmat, apalagi jika di luar sedang diguyur hujan dan cuaca dingin menyelimuti. Dikutip dari Wikipedia , bubur sumsum adalah sejenis makanan berupa bubur berwarna putih yang dilengkapi dengan kuah air gula merah. Mengapa dinamakan bubur sumsum? Katanya, dinamakan demikian karena penampakannya yang putih menyerupai warna bagian luar sumsum tulang. Bahan utama bubur ini adalah tepung beras.  Tentu tepung beras dengan kualitas baik. Bagaimana kriterianya? Tentu mengikuti SNI, berikut informasi detilnya : N

Menulis Cerita Anak : Pengenalan Anggota Tubuh

CERITA TENTANG PENGENALAN ANGGOTA TUBUH Udara hangat, suara burung berkicau dan air bergemericik, menemani sang mentari menyingsing dari arah timur. “Assalamu’alaykum warahmatullah wabarakatuh…. Selamat pagi anak-anak… Bagaimana kabar hari ini?” ibu guru membuka ruang kelas batita dengan sapaan penuh semangat. Anak-anakpun menjawab dengan antusias, bahkan mereka berlomba-lomba mengeraskan suara, “Wa’alaykumsalam warahmatullah wabarakatuh… Selamat pagi ibu guru… Alhamdulillah….Luar biasa…Allahu Akbar!” Jawaban sapaan berlogat cedal khas anak-anak membahana di seluruh isi ruangan. Ibu guru tersenyum lebar. (Coba, siapa yang bisa peragakan, bagaimana senyum lebar itu?). Jawaban nyaring anak-anak tadi tak ubahnya pasokan energi yang membuat semangatnya menggebu sehari penuh. Pagi ini sang ibu guru akan mengenalkan pada anak-anak mengenai anggota tubuh. Sengaja beliau datang dengan tangan hampa. Tanpa buku, tanpa alat peraga. Rupanya beliau ingin tahu seberapa jauh anak-

Meneladani Visi dan Misi Keluarga Nabi Ibrahim bersama Ustadz Adriano Rusfi

Bagi keluarga kami, salah satu yang membuat betah tinggal di Bandung adalah fasilitas belajar ilmu parenting yang variatif dan ekonomis. Disinilah kami dipertemukan dengan komunitas belajar ilmu pendidikan anak, ragam acara peningkatan kualitas diri dan aneka playdate anak yang menyenangkan dan ramah kantong. Bahkan banyak kegiatan yang bisa diikuti tanpa dipungut biaya, cukup berbekal semangat belajar dan kemauan memperbaiki diri. Nah, di weekend  menjelang Idul Adha kemarin, kami berkesempatan menimba ilmu pendidikan berbasis keluarga dari Ustadz Adriano Rusfi di acara Kopdar Bulanan HebAT ( Home Education based on Akhlaq and Talents) Bandung. HebAT merupakan sebuah komunitas belajar berbasis grup WhatsApp yang mendampingi para orangtua menjalankan FbE (Fitrah based Education) dan CbE (Community based Education) dalam pendidikan anak-anaknya. Tak hanya kopdar bulanan, komunitas ini juga rutin mengadakan beragam aktivitas menarik untuk memfasilitasi kebutuhan belajar anak dan