Skip to main content

Eltern Abend, Sesi Mengasyikkan di Sekolah Seiring Mulainya Tahun Ajaran Baru




Bismillahhirrohmanirrohim...

Mumpung masih hangat - karena baru saja kulalui-, di tulisan kali ini aku ingin membagikan cerita seputar Eltern Abend (artinya „malam orangtua“ ?). Secara bahasa artinya memang „malam orangtua“ tapi artinya sebenarnya kurang lebih pertemuan wali murid. Karena dilakukan di sore menjelang malam hari, maka melekat kata Abend (malam) di belakang kata Eltern (orangtua). Sejak anak-anak bersekolah di sini empat tahun yang lalu, sesi Eltern Abend selalu menjadi sesi yang kunantikan. Karenanya, ketimbang suami, aku yang lebih sering hadir di sesi ini. Selain karena pertimbangan kefasihan dalam berbahasa Jerman, bagiku ini juga merupakan kesempatan berdiskusi dua arah dengan para guru anak-anak di sekolah sekaligus mendapatkan feedback tipis-tipis mengenai perkembangan anak-anak saat bertumbuh di sekolah.

Kapan dilaksanakan Eltern Abend?

Biasanya dilakukan sekali dalam satu tahun ajaran, di awal proses belajar dimulai. Tahun ajaran sekolah-sekolah di Wina, Austria biasanya dimulai di bulan September dan berakhir di bulan Juni setiap tahunnya. Bulan Juli dan Agustus biasanya merupakan momen libur musim panas, ini sudah menjadi kebiasaan dari tahun ke tahun. Sedangkan untuk universitas agak berbeda, tahun ajaran baru dan perkuliahan dimulai di bulan Oktober. Untuk si sulung yang duduk di bangku Volksschule atau Sekolah Dasar, Eltern Abend dilaksanakan di hari kedua pembelajaran berlangsung. Tentu saja di sore hari, yaitu pukul 18.00-19.00 CEST. Sedangkan untuk pemuda kecil, karena masih di Kindergarten, biasanya jadwal pelaksanaannya di pekan ketiga dari sejak hari pertama dimulainya tahun ajaran. Dengan dilaksanakan di pekan ketiga, wali murid bisa fokus terlebih dahulu untuk mendampingi anak-anak melalui proses adaptasi di Kindergarten di pekan-pekan awal keberadaan anak-anak di Kindergarten. Karena bagi sebagian besar anak, Kindergarten bisa jadi merupakan lingkungan luar pertama mereka untuk bersosialisasi selain dalam keluarga. Di pekan ketiga atau keempat biasanya anak-anak sudah cukup nyaman di lingkungan yang baru dan wali murid juga cukup lebih tenang ketimbang di pekan-pekan pertama. Eltern Abend di Kindergarten juga dilakukan di sore hari waktu musim gugur, sekitar jam 17.30 hingga jam 19.00 CEST.

Apa saja kegiatan di Eltern Abend?

Seiring dengan tingkat sekolah anak tentunya kegiatannya pun juga akan berbeda. Namun secara garis besar akan sama. Yaitu perkenalan dan briefing. Yang jelas, sesi ini berlangsung tepat waktu. Tidak kurang dan tidak lebih. Jam 18.00 tepat, berapa pun jumlah orangtua yang hadir (mayoritas orangtua hadir ontime juga, hanya 1-3 orang yang datang menyusul atau terlambat, karena ontime sudah menjadi kebiasaan sosial), guru akan memulai sesi.

Di Volksschule, sesi ini akan dilaksanakan di kelas masing-masing. Di kelas, orangtua akan duduk di kursi tempat sang anak. Sudah tertera nama anak di setiap sisi meja belajar. Juga sudah tersedia selembar kertas berisi informasi-informasi penting yang perlu diketahui dan ditindaklanjuti orangtua terkait proses belajar anak di kelas tersebut selama satu tahun ajaran ke depan. Kemudian guru pun mengajak untuk membahas poin demi poin yang tertera di kertas tersebut satu per satu. Ini juga memudahkan orangtua untuk menjaga fokus saat mengikuti penjelasan guru. Juga agar hal-hal penting terdokumentasikan dan bisa dibawa pulang ke rumah. Mulai dari berapa iuran yang perlu dibayarkan untuk kegiatan setahun seperti main ski, kunjungan ke tempat-tempat sarana belajar di Wina (karena sekolah di sini gratis difasilitasi pemerintah, termasuk buku dan sarana belajar di sekolah), juga diskusi untuk mendapatkan kesepakatan kelas apakah di kelas empat nanti (masih tahun ajaran depan) mau diadakan Projektwoche atau tidak. Mengapa dibicarakan sejak awal kelas tiga? Karena guru ingin memastikan bahwa program tersebut diikuti oleh sebagian besar atau kalau bisa seluruh anak di kelas. Kemudian mencari lokasi yang tepat dan melakukan pemesanan sehingga harga yang diperoleh pun masih terjangkau karena sudah memesan sejak jauh hari.

Sedangkan di Kindergarten, sesi dimulai dengan pengumuman aturan-aturan yang disampaikan oleh kepala sekolah. Selepas itu, guru akan mengambil alih kemudian orangtua akan bermain. Apa, bermain? Ya, pihak Kindergarten kerap menyampaikan bahwa mereka ingin orangtua merasakan atmosfer yang sama dengan yang anak-anak rasakan dalam keseharian mereka. Mulai dari briefing menyemprot tangan dengan cairan desinfektan, melepas sepatu dan jaket di tempat yang telah disediakan, hingga mencuci tangan di wastafel dan mengeringkannya dengan satu lembar tisu. Juga naik ke lantai atas melewati tangga dengan berjalan di sisi kanan sembari berpegangan.

Kemudian kami, guru dan para orangtua saling berkenalan sembari membangun sebuah menara dari mainan-mainan yang ada di sekeliling kami. Pihak guru di grup tempat pemuda kecil belajar terdiri dari tiga orang, dengan tugasnya masing-masing, satu sebagai guru utama penanggung jawab kelas, satu guru wakil yang mengurusi jadwal, satu lagi asisten yang mengurusi kebutuhan anak seputar makan. Kami berkenalan dengan menyebutkan nama, sembari menunjukkan foto anak masing-masing yang sudah berjejer rapi di hadapan kami juga menyampaikan bahasa apa yang biasa digunakan. Karena saking multikultural, anak-anak belajar bahasa Jerman dengan dibantu oleh anak lain yang juga menguasai bahasa yang sama. Dalam proses berkenalan berurutan itu, sesekali guru juga menyampaikan tingkah laku anak masing-masing. Senang rasanya, selain saling mengenal satu sama lain antar orangtua juga dengan guru kelas, aku juga bisa mengamati gaya parenting seperti apa yang berlaku di Kindergarten. Dan satu hal yang juga menjadi kunci, pihak sekolah membuka kesempatan bertanya untuk orangtua terkait hal apapun seputar anak di sekolah. Bahkan diingatkan untuk terus bertanya hingga paham dan mendapat jawaban yang dibutuhkan. Aku menangkap adanya keterbukaan, kesediaan untuk mendengarkan dengan empati dan saling bahu membahu untuk mewujudkan pendidikan terbaik untuk anak-anak, bersama mereka. Alhamdulillah.

Wien, 23. September 2022

 

 

 

 

 

 

Comments

Popular posts from this blog

Praktik Cooking Class : Bubur Sumsum Lembut

Apa yang pertama kali terbayang saat melihat bubur sumsum? Jika pertanyaan itu menghampiri saya, saya akan menjawab “kondisi sakit”. Saat sakit, biasanya nafsu makan kita berkurang, susah menelan dan lidah terasa pahit. Tak heran jika makanan ini seringkali menjadi asupan bagi orang sakit. Teksturnya yang lembut dan cita rasa optimal selagi hangat tentu memudahkan pemenuhan kebutuhan energi saat kondisi tubuh kurang prima. Saat sehatpun, mengonsumsi bubur ini terasa nikmat, apalagi jika di luar sedang diguyur hujan dan cuaca dingin menyelimuti. Dikutip dari Wikipedia , bubur sumsum adalah sejenis makanan berupa bubur berwarna putih yang dilengkapi dengan kuah air gula merah. Mengapa dinamakan bubur sumsum? Katanya, dinamakan demikian karena penampakannya yang putih menyerupai warna bagian luar sumsum tulang. Bahan utama bubur ini adalah tepung beras.  Tentu tepung beras dengan kualitas baik. Bagaimana kriterianya? Tentu mengikuti SNI, berikut informasi detilnya : N

Menulis Cerita Anak : Pengenalan Anggota Tubuh

CERITA TENTANG PENGENALAN ANGGOTA TUBUH Udara hangat, suara burung berkicau dan air bergemericik, menemani sang mentari menyingsing dari arah timur. “Assalamu’alaykum warahmatullah wabarakatuh…. Selamat pagi anak-anak… Bagaimana kabar hari ini?” ibu guru membuka ruang kelas batita dengan sapaan penuh semangat. Anak-anakpun menjawab dengan antusias, bahkan mereka berlomba-lomba mengeraskan suara, “Wa’alaykumsalam warahmatullah wabarakatuh… Selamat pagi ibu guru… Alhamdulillah….Luar biasa…Allahu Akbar!” Jawaban sapaan berlogat cedal khas anak-anak membahana di seluruh isi ruangan. Ibu guru tersenyum lebar. (Coba, siapa yang bisa peragakan, bagaimana senyum lebar itu?). Jawaban nyaring anak-anak tadi tak ubahnya pasokan energi yang membuat semangatnya menggebu sehari penuh. Pagi ini sang ibu guru akan mengenalkan pada anak-anak mengenai anggota tubuh. Sengaja beliau datang dengan tangan hampa. Tanpa buku, tanpa alat peraga. Rupanya beliau ingin tahu seberapa jauh anak-

Meneladani Visi dan Misi Keluarga Nabi Ibrahim bersama Ustadz Adriano Rusfi

Bagi keluarga kami, salah satu yang membuat betah tinggal di Bandung adalah fasilitas belajar ilmu parenting yang variatif dan ekonomis. Disinilah kami dipertemukan dengan komunitas belajar ilmu pendidikan anak, ragam acara peningkatan kualitas diri dan aneka playdate anak yang menyenangkan dan ramah kantong. Bahkan banyak kegiatan yang bisa diikuti tanpa dipungut biaya, cukup berbekal semangat belajar dan kemauan memperbaiki diri. Nah, di weekend  menjelang Idul Adha kemarin, kami berkesempatan menimba ilmu pendidikan berbasis keluarga dari Ustadz Adriano Rusfi di acara Kopdar Bulanan HebAT ( Home Education based on Akhlaq and Talents) Bandung. HebAT merupakan sebuah komunitas belajar berbasis grup WhatsApp yang mendampingi para orangtua menjalankan FbE (Fitrah based Education) dan CbE (Community based Education) dalam pendidikan anak-anaknya. Tak hanya kopdar bulanan, komunitas ini juga rutin mengadakan beragam aktivitas menarik untuk memfasilitasi kebutuhan belajar anak dan