Skip to main content

Tiga Hal yang Kami Sukai dari Kolam Renang Hallenbad Hütteldorferbad

Bismillahhirrohmanirrohim...

Melihat kalender belajar Kelas Literasi Ibu Profesional (KLIP) di grup media sosial membuatku tersadar. Nampaknya aku perlu mulai menyicil setoran yang nanti akan dijadikan skripsi KLIP. Skripsi ini merupakan salah satu syarat kelulusan dalam mengikuti program KLIP, artinya kalau ingin lulus, wajib mengerjakan skripsi, kan? Seru ya, jadi nostalgia masa kuliah.

Karenanya tulisan-tulisan yang kubuat sekarang, perlu dikerucutkan menjadi sebuah tema. Maka aku memutuskan untuk mengangkat tema „Jelajah Kota Wina dan Austria“ yang berisi dokumentasi perjalanan dan kegiatan kami dalam menjelajah kota Wina dan negara Austria. Saat nanti kembali ke tanah air, sepertinya catatan ini akan menjadi pelepas rindu kami akan kota indah dan bersih ini.

Nah, kali ini aku ingin berbagi cerita mengenai sebuah Hallenbad atau kolam renang semi indoor (dalam ruangan) yang sempat aku dan anak-anak kunjungi pekan lalu.

Gambar 1. Pintu masuk kolam renang


Sebenarnya jika sendang musim panas seperti saat ini, kolam renang outdoor lebih pas dikunjungi. Alasan utama tentu saja karena di kolam renang outdoor ada banyak wahana bermain air yang seru untuk anak-anak. Mulai dari ombak buatan, water slide atau seluncuran, hingga air mancur. Tapi qodarullah cuaca musim panas di belakangan ini cukup dingin, berkisar di suhu 20-25°C sehingga daripada kedinginan saat berenang (kalau sinar matahari tidak cukup terik, air kolam renang terasa amat dingin) kami memilih untuk mengunjungi kolam renang indoor yang ada kolam renang juga di bagian luarnya.

Untuk sampai ke Hallenbad Hütteldorferbad, kami perlu berjalan kami menanjak sekitar dua ratus meter. Cukup ngos-ngosan sih, tapi sebenarnya lumayan ya untuk membakar kalori badan. Alhamdulillah. Sesampainya di sana, kami disambut dengan tempat registrasi yang tertata rapi dan bersih. Ini jadi hal pertama yang membuat kami jatuh cinta dengan kolam renang ini. Tak ada antrian pengunjung sama sekali, sehingga kami bisa langsung membeli tiket dan mendapatkan kunci loker. Jika tidak memiliki uang tunai, pengunjung juga bisa membayar melalui kartu. Jika ingin lebih praktis untuk menghindari kemungkinan mengantri, tersedia juga pembelian tiket secara online melalui situs pemerintah kota Wina. Kalau tidak salah ingat, pembelian tiket terpusat melalui situs pemerintah daerah ini diinisiasi di masa pandemi, karena ada pembatasan jumlah pengunjung. Sehingga dari situs tersebut, sebelum pengunjung datang ke kolam renang, bisa mengecek status kuota setiap kolam renang, kemudian membeli tiket secara online sehingga mendapat kuota untuk berenang di kolam renang yang dituju. Sistem ini sangat membantu pengunjung, pun selepas pandemi sekalipun. Di situs tersebut kami juga bisa mengecek jam operasional dari setiap kolam renang, harga tiket masuk, informasi kursus berenang, hingga fasilitas yang disediakan di setiap kolam renang (bahkan hingga informasi ketersediaan akses untuk pengunjung difabel).

Gambar 2. Jalan menanjak menuju lokasi kolam renang


Untuk harga tiket masuk, harganya sangat bervariatif. Untuk kami bertiga kemarin dikenai biaya sebesar 6,9 Euro (1 Nachmittagskarte ab 13 Uhr 4,8 Euro + 1 Kind 2,1 Euro). Usai membayar dan mendapatkan kunci loker, kami menuju tempat ganti. Di sana banyak anak-anak yang baru saja mentas, atau selesai berenang. Mereka datang beramai-ramai dengan dua orang fasilitator yang mengenakan kaos bertuliskan Summer City Camps. Ah, rupanya mereka merupakan rombongan program libur musim panas yang sempat si sulung ikuti juga beberapa pekan belakangan.

Jika akan menuju ke kolam renang, pengunjung dilarang untuk mengenakan alas kaki yang digunakan di luar, untuk menjaga kebersihan area kolam renang. Artinya, selain berganti pakaian pakaian renang, pengunjung juga perlu menanggalkan alas kaki luar dan menggantinya dengan alas kaki khusus untuk berbasah-basahan, atau istilah simpelnya di sini, badeschuhe. Tas isi bekal dan handuk masih boleh lah dibawa ke area kolam renang. Eits, tapi makannya, tidak boleh di sekitar kolam renang dalam ruangan, harus keluar ruangan dulu dan makan di area terbuka.

Alasan kedua yang membuat kami menyukai kolam renang ini, adalah adanya aturan tidak boleh mengambil foto di area kolam renang indoor. Jarang loh ada aturan seperti ini, padahal ini krusial. Larangan mengambil foto ini menguntungkan dua belah pihak, sebenarnya. Dari pihak pengunjung, privasi lebih terjaga dan lebih bisa mindful dalam berenang, tidak khawatir ada yang jeprat-jepret tanpa izin (termasuk untuk anak-anak), juga tidak sibuk foto-foto sampai lupa esensi dan tujuan utama pergi ke kolam renang (untuk berenang dan bermain air kan tentu saja?). Wahana bermain untuk anak-anaknya juga cukup lengkap untuk sebuah Hallenbad. Ada Waterslide, kolam air hangat, air mancur juga seluncuran air hangat. Ini cukup nyaman untuk anak-anak yang kedinginan karena cuaca yang cukup dingin.  

Gambar 3. Pemandangan dari pinggir kolam renang


Alasan ketiga, ada hubungannya dengan jalan menanjak yang kami tempuh saat berangkat, yaitu pemandangan cantik di atas bukit. Baru kali ini rasanya kami berkunjung ke kolam renang dan disuguhi pemandangan cantik seperti itu. Rasa ngos-ngosan yang dirasakan saat berangkat, rasanya terbayar lunas, hehe. MasyaAllah.

 

 

Comments

Popular posts from this blog

Menulis Cerita Anak : Pengenalan Anggota Tubuh

CERITA TENTANG PENGENALAN ANGGOTA TUBUH Udara hangat, suara burung berkicau dan air bergemericik, menemani sang mentari menyingsing dari arah timur. “Assalamu’alaykum warahmatullah wabarakatuh…. Selamat pagi anak-anak… Bagaimana kabar hari ini?” ibu guru membuka ruang kelas batita dengan sapaan penuh semangat. Anak-anakpun menjawab dengan antusias, bahkan mereka berlomba-lomba mengeraskan suara, “Wa’alaykumsalam warahmatullah wabarakatuh… Selamat pagi ibu guru… Alhamdulillah….Luar biasa…Allahu Akbar!” Jawaban sapaan berlogat cedal khas anak-anak membahana di seluruh isi ruangan. Ibu guru tersenyum lebar. (Coba, siapa yang bisa peragakan, bagaimana senyum lebar itu?). Jawaban nyaring anak-anak tadi tak ubahnya pasokan energi yang membuat semangatnya menggebu sehari penuh. Pagi ini sang ibu guru akan mengenalkan pada anak-anak mengenai anggota tubuh. Sengaja beliau datang dengan tangan hampa. Tanpa buku, tanpa alat peraga. Rupanya beliau ingin tahu seberapa jauh anak-

Mini Project : Belajar Siklus Air

Mini Project 20 Juli 2016 Belajar Siklus Air Beberapa sore belakangan, hujan selalu menyapa. Allahumma shoyyiban nafi’an Ya Allah, turunkanlah pada kami hujan yang bermanfaat. Salah satu kebiasaan yang Mentari Pagi lakukan saat hujan adalah melihat kamar belakang sambil melapor, “Ngga bocor koq Mi,alhamdulillah kering.” Hihihi..Atap kamar belakang memang ada yang bocor. Sehingga jika hujan turun, terlebih hujan besar, saya selalu mengeceknya, apakah bocor atau tidak. Dan kebiasaan inilah yang damati dan diduplikasi oleh MeGi. Dari sini jadi terpikir untuk mengenalkan siklus air padanya. Alhamdulillah, kemudahan dari Allah. Saat membuka facebook timeline , ada teman yang membagi album foto mba Amalia Kartika. Berisikan ilustrasi menarik mengenai informasi ayat-ayat yang berkaitan dengan air dan hujan. Jadilah ini sebagai salah satu referensi saya saat belajar bersama mengenai siklus air. Untuk aktivitas ini saya menggunakan ilustrasi siklus air untuk stimulasi m

Manajemen Prioritas dalam Berkomunitas

Membuat Skala Prioritas Beberapa pekan lalu, kami sebagai tim Training and Consulting Ibu Profesional Non ASIA mengundang mba Rima Melani (Divisi Research and Development – Resource Center Ibu Profesional, Leader Ibu Profesional Banyumas Raya sekaligus Praktisi Talents Mapping ) di WhatsApp Group Magang Internal. Bahasan yang disampaikan adalah mengenai Manajemen Prioritas dalam Berkomunitas.  Bahasan ini kami jadwalkan sebagai materi kedua dari rangkaian materi pembekalan untuk pengurus IP Non ASIA karena bermula dari kebutuhan pribadi sebagai pengurus komunitas. Masih berkaitan dengan materi sebelumnya, yang bisa disimak di tulisan sebelumnya . Di materi pertama lalu kami diajak uni Nesri untuk menelusuri peran diri sebagai individu, yang kemudian dipetakan dan dikaitkan dengan peran dalam keluarga sebagai lingkaran pertama, dilanjutkan dengan kondisi dan kebutuhan lingkungan sosial sekitar. Sehingga antara peran diri, peran dalam keluarga serta peran komunal dapat di