Skip to main content

Menjaga Keseimbangan dan Memiliki Rasa Cukup



Judul di atas nampaknya merupakan insight yang saya tarik dari ragam aktivitas yang berjalan di pekan ini. Ya, pekan ini saya mengambil keputusan (yang menurut saya) cukup besar. Yaitu saya memilih mengajukan izin untuk tidak hadir ke sekolah Ausbildung di hari sekolah (hari Rabu dan Kamis). Mengapa? Karena sepanjang pekan ini (sejak hari Senin hingga Jum‘at) si sulung tidak mendapatkan kuota untuk mengikuti program Summercitycamps. Ditambah informasi dari Kindergarten pemuda kecil yang kami terima di pekan lalu, bahwa ternyata di hari Kamis dan Jum‘at pekan ini Kindergarten juga tutup karena ada konferensi guru di sekolah.

Padahal sebenarnya di sekolah Ausbildung sedang tidak dalam kondisi santai. Justru di hari Kamis dimana saya izin tidak masuk, di kelas kami diadakan Lernzielkontrolle untuk pelajaran pangan. Saat ada tes malah izin tidak masuk sekolah, siapa hayo yang memiliki pengalaman serupa? Hehe. Toh, kondisi tersebut memungkinkan dan legal untuk dilakukan. Sudah sejak awal bulan Juli, salah satu pengajar melakukan pendataan kira-kira di tanggal berapa saja masing-masing peserta tidak bisa hadir ke sekolah karena sekolah atau tempat penitipan anak yang tutup sementara selama liburan musim panas. Kondisi yang dimaklumi semua pihak dan lazim terjadi saat masa libur musim panas. Kondisi kami di pekan ini pun sudah saya komunikasikan saat itu ke pengajar yang mendata, juga secara lisan sudah minta izin ke pengajar yang akan mengadakan tes saat bertemu beliau di pertemuan pekan lalu. Beliau pun membolehkan saya mengikuti tes di pekan berikutnya. Saya perlu lebih banyak bersyukur atas fleksibilitas yang berlaku di pilihan sekolah yang saya jalani ini.

Mengapa saya memilih untuk izin tidak masuk?

Pertimbangan pertama dan utama tentu saja family first.

Pekan ini adalah pekan terakhir liburan musim panas. Saya ingin banyak mengalokasikan waktu untuk berkegiatan bersama anak-anak di pekan ini seoptimal mungkin. Karena tidak memungkinkan untuk izin praktikum, hari Senin dan Selasa saya tetap datang praktikum selama 16.5 jam. Di hari Senin saya menitipkan si sulung ke teman dekat untuk bermain bersama putrinya. Di hari Selasa, si sulung memilih untuk ikut suami bekerja di kantor. Pulang-pulang, dengan mata berbinar ia ceritakan keseruan ia beraktivitas seharian di kantor, mengamati dan menemani abinya bekerja. Nah, jadi pengalaman baru yang mengesankan ternyata untuknya.

Mendidik anak tentu saja identik dengan kelekatan, baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Sebaik apapun kualitas sebuah kebersamaan, kuantitas tidak bisa dianggap sebelah mata. Keduanya sama pentingnya dan perlu dijalankan dengan sinergis. Jika prioritas pertama saya adalah keluarga, maka porsi kebersamaan dengan anak-anak tentu perlu lebih banyak dibanding dengan aktivitas lainnya, termasuk Ausbildung yang merupakan ranah produktivitas diri. Pertimbangan ini yang mendorong saya untuk mengambil keputusan izin di pekan ini. Di titik ini saya belajar menikmati mengolah rasa, dari yang semula tidak nyaman menjadi rasa tidak apa-apa menjalani pilihan tidak masuk sekolah,, alih-alih menganggapnya sebagai bentuk ketidaksempurnaan bahkan kekurangan dalam menjalani proses Ausbildung.

Alhamdulillah, dengan kondisi tersebut saya jadi bisa berkegiatan bersama anak-anak juga mengikuti kegiatan bersama pihak lain, dengan anak-anak. Antara lain menghadiri liqo kelompok yang perdana dihelat secara luring (kembali), mengantar senior yang pindah ke Jepang, berkunjung ke rumah tiga orang teman sekaligus anak-anak bermain bersama dengan riang, hadir di soft opening Warung Salam (toko Masjid As-Salam WAPENA), juga berenang di Hallenbad bersama anak-anak.

Ada diskusi-diskusi menarik yang tercetus dalam kebersamaan kami, namun yang paling menarik adalah seputar menata mindset mengenai „liburan“. Diskusi panjang mengalir, kalimat demi kalimat saling bergulir. Ada kernyitan dahi tanda tidak sepakat, ada kalimat terbata yang mengalir dari bibir anak-anak, ada rasa bersalah yang menyeruak, juga ada kesepakatan yang kami buat dalam rangka mencari solusi. Aktivitas di luar rumah pekan ini ditutup dengan family time kami sekeluarga di hari Sabtu dengan berkunjung ke Erlebnis Park Eis Greissler yang berada di daerah Krumbach, Niederösterreich. Alhamdulillah, kegiatan pekan ini membuat hati saya penuh dan hangat. Ternyata menjaga keseimbangan itu bukanlah membagi rata bagian untuk semua peran, tapi bisa membagi dalam porsi-porsi yang sesuai dengan prioritas. Dan rasa cukup yang dihadirkan di hati, mereduksi sikap perfeksionis. Karena waktu kita terbatas dan kita tak perlu memastikan semua berjalan dengan baik sempurna, cukup pastikan bahwa fokus kita berada di hal-hal penting yang memang kita prioritaskan di atas yang lain.

Dan semoga refleksi ini bisa menguatkan langkah dalam meniti perjalanan belajar di pekan depan. Apalagi si sulung mengawali hari-harinya menjadi siswi Volksschule kelas tiga, pemuda kecil insyaAllah berada di tahun terakhirnya di Kindergarten, suami bekerja dan menulis disertasi serta saya menjalani hari-hari Ausbildung yang cukup hectic menjelang ujian akhir. Bismillah... Ya Allah, tuntunlah kami senantiasa, dalam setiap langkah kami. Aamiin...

 

 

 

 

 

 

Comments

Popular posts from this blog

Menulis Cerita Anak : Pengenalan Anggota Tubuh

CERITA TENTANG PENGENALAN ANGGOTA TUBUH Udara hangat, suara burung berkicau dan air bergemericik, menemani sang mentari menyingsing dari arah timur. “Assalamu’alaykum warahmatullah wabarakatuh…. Selamat pagi anak-anak… Bagaimana kabar hari ini?” ibu guru membuka ruang kelas batita dengan sapaan penuh semangat. Anak-anakpun menjawab dengan antusias, bahkan mereka berlomba-lomba mengeraskan suara, “Wa’alaykumsalam warahmatullah wabarakatuh… Selamat pagi ibu guru… Alhamdulillah….Luar biasa…Allahu Akbar!” Jawaban sapaan berlogat cedal khas anak-anak membahana di seluruh isi ruangan. Ibu guru tersenyum lebar. (Coba, siapa yang bisa peragakan, bagaimana senyum lebar itu?). Jawaban nyaring anak-anak tadi tak ubahnya pasokan energi yang membuat semangatnya menggebu sehari penuh. Pagi ini sang ibu guru akan mengenalkan pada anak-anak mengenai anggota tubuh. Sengaja beliau datang dengan tangan hampa. Tanpa buku, tanpa alat peraga. Rupanya beliau ingin tahu seberapa jauh anak-

Mini Project : Belajar Siklus Air

Mini Project 20 Juli 2016 Belajar Siklus Air Beberapa sore belakangan, hujan selalu menyapa. Allahumma shoyyiban nafi’an Ya Allah, turunkanlah pada kami hujan yang bermanfaat. Salah satu kebiasaan yang Mentari Pagi lakukan saat hujan adalah melihat kamar belakang sambil melapor, “Ngga bocor koq Mi,alhamdulillah kering.” Hihihi..Atap kamar belakang memang ada yang bocor. Sehingga jika hujan turun, terlebih hujan besar, saya selalu mengeceknya, apakah bocor atau tidak. Dan kebiasaan inilah yang damati dan diduplikasi oleh MeGi. Dari sini jadi terpikir untuk mengenalkan siklus air padanya. Alhamdulillah, kemudahan dari Allah. Saat membuka facebook timeline , ada teman yang membagi album foto mba Amalia Kartika. Berisikan ilustrasi menarik mengenai informasi ayat-ayat yang berkaitan dengan air dan hujan. Jadilah ini sebagai salah satu referensi saya saat belajar bersama mengenai siklus air. Untuk aktivitas ini saya menggunakan ilustrasi siklus air untuk stimulasi m

Manajemen Prioritas dalam Berkomunitas

Membuat Skala Prioritas Beberapa pekan lalu, kami sebagai tim Training and Consulting Ibu Profesional Non ASIA mengundang mba Rima Melani (Divisi Research and Development – Resource Center Ibu Profesional, Leader Ibu Profesional Banyumas Raya sekaligus Praktisi Talents Mapping ) di WhatsApp Group Magang Internal. Bahasan yang disampaikan adalah mengenai Manajemen Prioritas dalam Berkomunitas.  Bahasan ini kami jadwalkan sebagai materi kedua dari rangkaian materi pembekalan untuk pengurus IP Non ASIA karena bermula dari kebutuhan pribadi sebagai pengurus komunitas. Masih berkaitan dengan materi sebelumnya, yang bisa disimak di tulisan sebelumnya . Di materi pertama lalu kami diajak uni Nesri untuk menelusuri peran diri sebagai individu, yang kemudian dipetakan dan dikaitkan dengan peran dalam keluarga sebagai lingkaran pertama, dilanjutkan dengan kondisi dan kebutuhan lingkungan sosial sekitar. Sehingga antara peran diri, peran dalam keluarga serta peran komunal dapat di