Skip to main content

Berkenalan dengan Suasana Sekolah Sebelum Terdaftar sebagai Murid

Di suatu pagi, pemuda kecil bangun lebih awal dari biasanya. Sejurus kemudian, ia berkata,

Heute besuchen wir die Schule von R, oder? Ich werde anschauen

Saya pun mengangguk, membenarkan ucapannya. Benar memang, hari itu kami memiliki jadwal pertemuan dengan kepala sekolah Volksschule atau sekolah dasar. Satu hari sebelumnya saya menghubungi sekolah untuk membuat termin pertemuan dengan kepala sekolah agar pemuda kecil bisa melihat langsung setiap ruangan di Volksschule juga ragam kegiatan yang berjalan di dalamnya.  Saya mengira akan mendapatkan jadwal pertemuan sekitar bulan November. Tapi ternyata kami bisa datang langsung di keesokan harinya. Kontan pemuda kecil menyambut dengan riang dan mengawali pagi dengan penuh semangat, karena paham akan mengunjungi calon sekolah tempat ia belajar selepas dari Kindergarten tahun depan. InsyaAllah.

Gambar 1. Menuju Volksschule tempat si sulung bersekolah


Pagi itu, kami memiliki termin dengan kepala sekolah jam 8.00 CEST. Karena si sulung juga harus sudah berada di sekolah sebelum jam 8.00, maka kami bisa sekaliyan berangkat bersama si sulung. Setibanya di sekolah, si sulung naik ke lantai atas tempat kelasnya berada, sedangkan kami menemui Frau Direktorin atau ibu kepala sekolah di lantai dasar. Saat itu, beliau sudah sedang bersama dengan sekitar lima atau enam orang anak Kindergarten yang ditemani satu guru Kindergarten. Maka kami langsung saja bertegur sapa dan bergabung.

Idealnya, kami mengunjungi sekolah di jadwal Tag der offenen Tür (Open House) di tanggal spesifik tiap sekolah. Seperti tiga tahun lalu saat mencari Volksschule untuk si sulung, kami mendatangi tiga sekolah di jadwal Open House-nya untuk melihat dan menggali informasi, bertanya banyak hal, sebelum memilih di sekolah mana hati kami berlabuh. Di kota Wina sendiri, kesempatan untuk menggali informasi mengenai sekolah, langsung dengan mengunjungi sekolahnya langsung, normalnya ada dua kali. Yaitu saat Tag der Wiener Schulen, yang mana di tanggal ini semua sekolah akan membuka pintunya lebar-lebar dan memberi kesempatan untuk para calon murid dan orangtua yang ingin menggali informasi lebih dalam terkait sekolah itu untuk datang dan berkeliling lingkungan sekolah. Kesempatan kedua adalah di Tag der offenen Tür, yang mana setiap sekolah memiliki tanggalnya masing-masing untuk penyelenggaraannya, dan calon murid beserta orangtua akan melihat proses belajar mengajar, melakukan sesi tanya jawab perihal jadwal, guru, mata pelajaran atau apapun yang menjadi pertanyaan calon murid dan orangtua.

Bagi kami, proses ini adalah sebuah tahapan yang penting. Perlu input yang cukup detail, menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar yang kami ajukan. Dengan demikian, kami punya bahan untuk mempertimbangkan dengan cukup matang sebelum menentukan di sekolah mana si sulung akan didaftarkan. Pendapat si sulung, setelah merasakan atmosfer yang berbeda-beda dari setiap sekolah, juga turut menjadi bahan pertimbangan.

Sayangnya tahun ini, mempertimbangkan protokol kesehatan, sekolah kembali belum mengadakan Tag der offenen Tür seperti tiga tahun lalu. Kami juga berhalangan hadir di Tag der Wiener Schulen awal Oktober lalu karena jadwal lain. Tapi orangtua diperkenankan membuat termin untuk berkunjung ke sekolah dan berkeliling dipandu kepala sekolah. Kami sudah merasa cocok dengan Volksschule tempat si sulung kini belajar, begitu pun dengan pemuda kecil. Ia juga sudah kenal beberapa Nachmittagsbetreuerinnen karena sering ikut menjemput sekolah sang kakak.

Gambar 2. Kindergarten tempat pemuda kecil bermain

Maka kali ini ia kembali masuk ke Volksschule tersebut, sebagai bakal calon murid, bukan "menemani" seperti tiga tahun lalu. Ia melihat sendiri kelas-kelas, Garderobe, Turnsaal, Speiseraum hingga Kinderküche. Saat sedang mengunjungi Turnsaal dan ditawari untuk ikut Turnen anak kelas 1, ia pun mengiyakan. 45 menit kemudian ia keluar sembari tersenyum lebar.

 

Comments

Popular posts from this blog

Menulis Cerita Anak : Pengenalan Anggota Tubuh

CERITA TENTANG PENGENALAN ANGGOTA TUBUH Udara hangat, suara burung berkicau dan air bergemericik, menemani sang mentari menyingsing dari arah timur. “Assalamu’alaykum warahmatullah wabarakatuh…. Selamat pagi anak-anak… Bagaimana kabar hari ini?” ibu guru membuka ruang kelas batita dengan sapaan penuh semangat. Anak-anakpun menjawab dengan antusias, bahkan mereka berlomba-lomba mengeraskan suara, “Wa’alaykumsalam warahmatullah wabarakatuh… Selamat pagi ibu guru… Alhamdulillah….Luar biasa…Allahu Akbar!” Jawaban sapaan berlogat cedal khas anak-anak membahana di seluruh isi ruangan. Ibu guru tersenyum lebar. (Coba, siapa yang bisa peragakan, bagaimana senyum lebar itu?). Jawaban nyaring anak-anak tadi tak ubahnya pasokan energi yang membuat semangatnya menggebu sehari penuh. Pagi ini sang ibu guru akan mengenalkan pada anak-anak mengenai anggota tubuh. Sengaja beliau datang dengan tangan hampa. Tanpa buku, tanpa alat peraga. Rupanya beliau ingin tahu seberapa jauh anak-

Mini Project : Belajar Siklus Air

Mini Project 20 Juli 2016 Belajar Siklus Air Beberapa sore belakangan, hujan selalu menyapa. Allahumma shoyyiban nafi’an Ya Allah, turunkanlah pada kami hujan yang bermanfaat. Salah satu kebiasaan yang Mentari Pagi lakukan saat hujan adalah melihat kamar belakang sambil melapor, “Ngga bocor koq Mi,alhamdulillah kering.” Hihihi..Atap kamar belakang memang ada yang bocor. Sehingga jika hujan turun, terlebih hujan besar, saya selalu mengeceknya, apakah bocor atau tidak. Dan kebiasaan inilah yang damati dan diduplikasi oleh MeGi. Dari sini jadi terpikir untuk mengenalkan siklus air padanya. Alhamdulillah, kemudahan dari Allah. Saat membuka facebook timeline , ada teman yang membagi album foto mba Amalia Kartika. Berisikan ilustrasi menarik mengenai informasi ayat-ayat yang berkaitan dengan air dan hujan. Jadilah ini sebagai salah satu referensi saya saat belajar bersama mengenai siklus air. Untuk aktivitas ini saya menggunakan ilustrasi siklus air untuk stimulasi m

Momen Refleksi Seorang Bunda (menuju) Produktif

Bismillahirrohmanirrohim… Refleksi saya adalah bahwasanya kelas Bunda Produktif ini sangat identik dengan kerja kelompok. Untuk sukses melaluinya, setiap Hexagonia perlu memiliki sikap proaktif, inisiatif, dan project ownership yang tinggi sebagai kunci sukses dalam membangun kota bersama-sama. STOP Proses apa saja yang selama ini tidak bekerja untuk project passion kita? Apa saja yang harus kita “stop” dan tidak dikerjakan lagi, apabila project passion ini akan berlanjut? Alur kerja yang tidak end to end. Analisa pribadi diri : Penyebab bisa tidak terjadi end to end salah satunya adalah karena tsunami informasi yang terjadi di WAG koordinasi Co-Housing . Jika saya amati, dalam satu hari saja bisa beragam bahasan berseliweran. Mulai dari pengumuman jadwal live, umpan bahan diskusi seputar project passion, hingga bahasan tugas jurnal yang perlu dikerjakan berkelompok. Padahal jam daring seorang ibu sangat terbatas dengan jadwal yang berbeda-beda antara satu ibu dengan ibu