Skip to main content

Matematika di Taman Bermain



Siang tadi kakak ikut ummi menjemput om di sekolah. Kebetulan sekolahnya bersebelahan dengan Taman Kanak-Kanak. Sembari menunggu om, kami ingin mengunjungi TK dan bermain disana. Ummi pun menemui ustadzah dan meminta izin, alhamdulillah diperbolehkan.  Ummi memasang alarm lima menit di HPnya dan kami siap bermain.

Mainan pertama yang kakak coba adalah perosotan. Dari permainan ini kami belajar garis. Tangga naiknya jika dihubungkan dari bawah ke atas membentuk garis miring, mengurangi kelelahan saat kita menaikinya. Garis lengkung kita temui di perosotannya, tempat kita berseluncur dari atas ke bawah. Bentuknya yang landai, mengurangi kecepatan luncur kita sehingga bisa sampai ke bawah dengan aman. Di bawah perosotan juga ada bak pasir berbentuk segi empat sebagai tempat mendarat kaki kita.

Setelah itu kakak mencoba permainan tangga titian berbentuk setengah lingkaran. Permainan ini menguji keberanian dan keseimbangan anak. Kakak mencoba dengan hati-hati. Saat hampir di tengah, akan sampai di titian yang paling tinggi, kakak ingin kembali ke awal. Tapi setelah ummi yakinkan kalau dia bisa sampai di titian akhir, dia bersedia melanjutkan. Kemudian ada anak-anak lain yang datang. Jadilah kakak justru ingin menjajal kembali.

Disitu kami juga menemui ayunan. Apa yang bisa membuat ayunan bergerak? Tak lain karena adanya ulir yang berbentuk lingkaran, yang mana lingkaran tidak memiliki sisi dan sudut. Ada satu bagian yang lebih besar dan satu bagian lebih kecil. Keduanya disatukan dan berpadu. Bayangkan jika ulirnya berbentuk segi empat, apa bisa bergerak?

Matematika logis ternyata menyenangkan. Bisa dipelajari dengan bermain.


Comments

Popular posts from this blog

Praktik Cooking Class : Bubur Sumsum Lembut

Apa yang pertama kali terbayang saat melihat bubur sumsum? Jika pertanyaan itu menghampiri saya, saya akan menjawab “kondisi sakit”. Saat sakit, biasanya nafsu makan kita berkurang, susah menelan dan lidah terasa pahit. Tak heran jika makanan ini seringkali menjadi asupan bagi orang sakit. Teksturnya yang lembut dan cita rasa optimal selagi hangat tentu memudahkan pemenuhan kebutuhan energi saat kondisi tubuh kurang prima. Saat sehatpun, mengonsumsi bubur ini terasa nikmat, apalagi jika di luar sedang diguyur hujan dan cuaca dingin menyelimuti. Dikutip dari Wikipedia , bubur sumsum adalah sejenis makanan berupa bubur berwarna putih yang dilengkapi dengan kuah air gula merah. Mengapa dinamakan bubur sumsum? Katanya, dinamakan demikian karena penampakannya yang putih menyerupai warna bagian luar sumsum tulang. Bahan utama bubur ini adalah tepung beras.  Tentu tepung beras dengan kualitas baik. Bagaimana kriterianya? Tentu mengikuti SNI, berikut informasi detilnya : N

Menulis Cerita Anak : Pengenalan Anggota Tubuh

CERITA TENTANG PENGENALAN ANGGOTA TUBUH Udara hangat, suara burung berkicau dan air bergemericik, menemani sang mentari menyingsing dari arah timur. “Assalamu’alaykum warahmatullah wabarakatuh…. Selamat pagi anak-anak… Bagaimana kabar hari ini?” ibu guru membuka ruang kelas batita dengan sapaan penuh semangat. Anak-anakpun menjawab dengan antusias, bahkan mereka berlomba-lomba mengeraskan suara, “Wa’alaykumsalam warahmatullah wabarakatuh… Selamat pagi ibu guru… Alhamdulillah….Luar biasa…Allahu Akbar!” Jawaban sapaan berlogat cedal khas anak-anak membahana di seluruh isi ruangan. Ibu guru tersenyum lebar. (Coba, siapa yang bisa peragakan, bagaimana senyum lebar itu?). Jawaban nyaring anak-anak tadi tak ubahnya pasokan energi yang membuat semangatnya menggebu sehari penuh. Pagi ini sang ibu guru akan mengenalkan pada anak-anak mengenai anggota tubuh. Sengaja beliau datang dengan tangan hampa. Tanpa buku, tanpa alat peraga. Rupanya beliau ingin tahu seberapa jauh anak-

Meneladani Visi dan Misi Keluarga Nabi Ibrahim bersama Ustadz Adriano Rusfi

Bagi keluarga kami, salah satu yang membuat betah tinggal di Bandung adalah fasilitas belajar ilmu parenting yang variatif dan ekonomis. Disinilah kami dipertemukan dengan komunitas belajar ilmu pendidikan anak, ragam acara peningkatan kualitas diri dan aneka playdate anak yang menyenangkan dan ramah kantong. Bahkan banyak kegiatan yang bisa diikuti tanpa dipungut biaya, cukup berbekal semangat belajar dan kemauan memperbaiki diri. Nah, di weekend  menjelang Idul Adha kemarin, kami berkesempatan menimba ilmu pendidikan berbasis keluarga dari Ustadz Adriano Rusfi di acara Kopdar Bulanan HebAT ( Home Education based on Akhlaq and Talents) Bandung. HebAT merupakan sebuah komunitas belajar berbasis grup WhatsApp yang mendampingi para orangtua menjalankan FbE (Fitrah based Education) dan CbE (Community based Education) dalam pendidikan anak-anaknya. Tak hanya kopdar bulanan, komunitas ini juga rutin mengadakan beragam aktivitas menarik untuk memfasilitasi kebutuhan belajar anak dan