Sunday, 23 July 2017

Mengantarkan Abi ke Bandara

Akhirnya hari ini  tiba. Hari dimana kami sekeluarga terpaut jarak yang tak sedikit dan waktu yang berbeda. Hari keberangkatan abi untuk melanjutkan studi , sedangkan ummi, kakak dan adik menetap di rumah yangti untuk sementara waktu. Sedari jauh-jauh hari, kami menyiapkan diri untuk menyambut hari ini dengan ceria, mengantarkan abi dengan sukacita dan doa penuh semangat. Berjauhan memang suatu hal yang tak mudah, bukan juga kondisi yang ideal. Namun jika itu takdir terbaik kami saat ini, adakah pilihan lain selain menjalani sekemampuan kami?

Sejak jauh-jauh hari, kami sudah memberitahu kakak akan kondisi yang akan kami jalani ini. Kondisi berjauhan dengan abi selama 9 bulan belakangan, dengan pertemuan sekitar setiap 2 bulan sekali, dengan pautan jarak sekitar 300 km cukup menjadi pemanasan bagi kami. Dan sepanjang 9 bulan itu, ummi amati setiap abi kembali ke Bandung, kakak selalu bersedih dan enggan untuk berjauhan dengan abi. Maka, untuk perjalanan kali ini ummi dan abi membuat persiapan ekstra sehingga kakak bisa mengantarkan abi dengan ceria.

Berikut beberapa hal yang menjadi ikhtiar kami :

Pertama, sebulan belakangan abi di rumah. Selama itu pula kakak selalu bersama abi. Melakukan mini project bersama abi, dibacakan buku cerita oleh abi, makan bersama abi, 80% aktivitasnya sehari-hari dilakukannya bersama abi. Ini sebagai upaya memfasilitasi #fitrahseksualitasnya dan memenuhi kebutuhannya atas sosok abi. Membangun imaji positif, merekam jejak penuh makna bersama abi. Harapannya, saat abi berangkat, kakak tidak merasa abi meninggalkannya. Tapi justru terbangun pemahaman bahwa kami sedang berbagi tugas dalam sebuah proyek keluarga yang kami canangkan bersama.

Kedua, walau jarak jauh, hati tetap dekat. Ini jargon yang kakak buat bersama abi. Beberapa hari kemarin abi dan kakak ulang-ulang terus kalimat ini. Hingga terekam dalam pikiran kakak dan hafal di luar kepala. Abi juga menstimulasi #fitrahbernalar kakak, menjelaskan rencana-rencana keluarga dalam bahasa yang sederhana dan mudah dipahami oleh kakak. Dan tadi, saat berpamitan, target kami terlampaui. Meski tak seceria biasanya, kakak mengantarkan abi tanpa tangis. Kakak juga beraktivitas seperti biasa.

Ikhtiar-ikhtiar lainpun akan berjalan seiring perjalanan yang dilalui. Senantiasa bertawakkal pada Allah.

Saat sampai di bandara tadi, hari masih pagi dan suasana masih sepi. Di pinggiran tempat parkir, yangti menggelar tikar besar dan kami pun sarapan disitu. Serasa piknik. Berulang kali terdengar dan terlihat pesawat yang lepas landas. Kakak berteriak kegirangan dan memunculkan beragam pertanyaan. #Fitrahalam terasah dengan mengamati lingkungan sekitar yang lain dari biasanya. Adik pun dengan riang bisa merangkak kesana kemari di atas tikar. Tak terbatas seperti jika dalam gendongan.

Matahari beranjak naik. Usai sarapan, kami bersiap mengantarkan abi ke lokasi check in. Kami berdoa bersama dan mengantar abi. Kakak melihat antrian penumpang yang panjang, barang-barang yang naik ke atas conveyor yang kemudian diwrap hingga tertutup rapat. Setelah abi masuk ke dalam, kami bermain sejenak di bandara. Melihat air mancur dan berkeliling. Juga sempat sejenak bertemu abi di dekat pintu keluar. Kakak tersenyum tanpa menangis. Ini sebuah indikator bagi kami, bahwa kakak memahami dengan baik transfer pemahaman dan pengertian yang kami upayakan selama ini. Bersiap melanjutkan ke tahapan belajar berikutnya.

#fitrahalam
#fitrahbernalar

#fitrahseksualitas

3 comments:

  1. Semangat teteh dan keluarga..
    Barakallah fi kum

    ReplyDelete
  2. Selamat menjalani satu fase kehidupan, mbak..
    Bersyukur, kakak megi bisa melalui ini dengan baik.
    Salam sayang untuk adik bayi.

    ReplyDelete
  3. MasyaAllah Mesa... Bagus banget ya tulisannya.. jadi kangen pengen ketemuan... Hehehehe...

    ReplyDelete