Saturday, 29 July 2017

Don't Teach Me, I Love to Learn

Tiga hari ini kami tidak melakukan aktivitas bermain khusus untuk mini project harian. Kakak dan adik belajar bersamaan dengan ummi mengerjakan tugas domestik. Kakak sangat gembira jika dilibatkan dalam aktivitas memasak. Untuk tugas domestik satu ini, ummi sengaja baru melakukannya saat adik terlelap tidur. Karena memasak identik dengan kompor, cipratan air atau minyak panas, benda-benda tajam yang mana cukup riskan jika dilakukan bersama adik yang masih berusia delapan bulan.



Barang apa saja yang ummi pegang saat memasak di dapur, kakak pun ingin memegangnya. Siang itu ummi memarut kelapa untuk mendapatkan santan kental sebagai campuran memasak bubur mutiara. Karena kelapa parut di tukang sayur habis, jadilah ummi membeli kelapa utuh dan memarutnya sendiri. Kebetulan nih, bisa jadi mini project keterampilan hidup kakak. Kakak mengamati apa yang ummi lakukan dengan seksama. Sengaja ummi menahan diri untuk tak lekas bicara. Menantikan suara kakak yang terlebih dulu terlontar. “Kakak boleh coba memarut, mi?” suara kecilnya bertanya. Kalau ummi menuruti keinginan pribadi ummi yang berharap pekerjaan dapur ini segera tuntas supaya bisa beralih ke tugas domestik berikutnya, maka ummi akan menjawab dengan gelengan kepala. Namun karena aktivitas ini adalah rangkaian proses belajar keluarga dan ummi berharap Allah pahamkan kakak dalam proses belajar sederhana ini, maka ummi berhenti memarut dan memberikan parutan kelapa tersebut ke kakak.

Peluang itu langsung kakak tangkap, hap! Dengan sigap dia mempraktikkan apa yang dilihatnya. Memegang parutan dan menggerakkannya ke atas dan ke bawah. “Koq susah ya mi?” tuturnya setelah beberapa saat. Ummi tersenyum meringis, “Mau ummi ajari?” Tawaran ummi disambut dengan anggukan antusias. Ummi arahkan tangan kakak ke parutan, tangan kiri memegang parutan dengan kokoh sedangkan jemari tangan kanan menggenggam kelapa melingkar. Mulailah kakak memarut. Srek…srek…srek…bunyi kelapa diparut perlahan. Kakak menyakinkan diri dan ummi bahwa dia bisa memarut dengan baik. Lalu, muncul pertanyaan, “Mi, koq kelapa yang sudah diparut ini keluarnya ke atas, ngga ke bawah kayak keju?” Ternyata kakak membandingkan parutan kelapa dengan parutan keju yang biasa dia gunakan. Ada kecerdasan logika yang terpantik. Ah, sebuah aktivitas sederhana memang akan kaya makna dan rasa jika kita hadir membersamai proses belajar mereka.

Fitrah bernalar bisa tersemai dalam diskusi atas pertanyaan kakak tadi. Kakak ternyata membandingkan bahwa kalau kelapa diparut, hasil parutannya keluar ke atas, sedangkan kalau keju diparut hasil parutannya keluar ke bawah, ke sisi sebaliknya. Kira-kira mengapa ya? Aha! Perhatikan lubang parutannya dan bandingkan. Ternyata, lubang parutan kelapa jauh lebih kecil dan rapat daripada lubang parutan keju. Ummi jadi penasaran, siapa orang yang berhasil menemukan parutan dengan prinsip kerja seperti ini. Sesi memarut kelapapun diselesaikan oleh ummi. Dan kakak belajar banyak hal dari proses tadi.

Di lain waktu, kakak meminta menu telur dadar. Dan menawarkan diri untuk mengambil telur dari kulkas lalu mengocoknya sendiri di mangkok. “Kakak bisa kan mi, kayak waktu itu?” Bela dia saat ummi menanyakan kesanggupannya. Kakak benar-benar membuktikannya, ummi tinggal membantu menambahkan garam sedikit dan menggorengkannya.

Sesi mengulek juga menjadi sesi favorit kakak di dapur. Baik mengulek sambal atau bumbu, kakak meminta untuk diberi kesempatan melakukannya. Aktivitas ini menguatkan otot-otot tangan kakak dan menstimulasi motorik halusnya. Termasuk bentuk latihan pre-writing skills ngga ya? Hehe

Apa kabar adik?

Adik belum ummi libatkan jika ummi memasak. Adik berpartisipasi di tugas domestik yang tergolong aman saja ya, contohnya menyapu. Waktunya ummi menyapu teras adalah saat yang dinantikan oleh adik. Karena adik akan ikut merangkak di teras dan bereksplorasi ke sepeda kakak atau sepeda om. Dia senang memutar-mutar roda sepeda kakak, menggerakkannya ke depan dan belakang. Mencari pegangan untuk berdiri dan meraba seluruh permukaan sepeda. Ya, indera perabanya masih mendominasi bersamaan dengan perkembangan motorik kasar dan motorik halusnya. Respon adik terhadap suara juga semakin tajam, jika ada suara irama dia dengan cepat akan menggerakkan badan secara teratur. Mungkin ini potensi kecerdasan musik bagi adik.



Anak-anak, belajarlah dimana saja, kapan saja dan dengan siapa saja. Karena sejatinya dunia dan seisinya adalah fasilitas yang Allah hadirkan untuk membersamai proses belajar kalian. Belajarlah sebagai bentuk ibadah seorang hamba Allah…

#kecerdasanmusik
#fitrahbernalar
#motorikkasar
#motorikhalus
#kecerdasanlogika



0 comments:

Post a Comment