Monday, 17 July 2017

Bermain di Posyandu dan Rumah Teman

Hari ini hari yang menyenangkan untuk ummi, kakak dan adik, karena mini project hari ini adalah berjalan-jalan. Setelah Shubuh tadi, ummi mendengar pengumuman bahwa hari ini ada posyandu bayi dan balita di balai RW.  Kami memulai hari dengan pergi ke posyandu. Posyandu yang dijadwalkan dibukan sejak jam 09.00 baru bisa kami datangi pukul 10.15. Kondisi sudah sepi, hanya ada 2 ibu yang memeriksakan balitanya namun ibu-ibu kader posyandu menyambut dengan hangat dan riang.

Dalam perjalanan berangkat tadi, kami membuat kesepakatan mengenai cara timbang kakak. Kakak meminta untuk ditimbang di timbangan injak saja, bukan timbangan gantung seperti balita lainnya. Kelemahan timbangan injak adalah angka berat badan yang ditunjukkan kurang presisi, tidak seperti timbangan gantung. Ummi mencoba menjelaskan pilihan dan konsekuensi pada kakak, dan kakak tetap teguh pada pendiriannya. Baiklah, ummi menyepakatinya. Sesi membuat kesepakatan ini penting untuk menyemai #fitrahbernalar anak, karena anak mulai dihadapkan pada pilihan-pilihan beserta konsekuensinya. Dengan bercerita, melakukan diskusi dan membuat kesepakatan di awal, anak juga menerima tindakan untuk dirinya (ditimbang dan diukur tingginya) dengan lebih rileks. Kondisi rileks ini membuat #fitrahbelajar anak atas sebuah proses menjadi bangkit dengan baik.

Sebelum ditimbang, kakak sempat dirayu untuk ditimbang gantung saja oleh ibu-ibu kader posyandu. Memang ada sebagian anak yang lebih menikmati ditimbang gantung, maka ibu-ibu kader menawarkan hal tersebut padanya. Spontan, kakak menatap ummi. Bagi ummi, pandangan kakak adalah permintaan bantuan. Supaya ummi membantu memberikan penjelasan bahwa kakak lebih nyaman ditimbang dengan timbangan injak. Ummi mencoba menjelaskan dan ibu-ibu kader pun dapat memahami dan menerima dengan sangat pengertian. Alhamdulillah.

Adik ditimbang di timbangan gantung dengan kain seperti gendongan. Disini #fitrahsosialitas adik tersemai. Dia tersenyum gembira saat berinteraksi dengan ibu-ibu kader yang jarang dijumpainya. Rupanya ibu-ibu kader sukses memberikan kenyaman hati pada adik, sehingga adik tak merasa asing meski jarang berjumpa. Ditimbang dan diukur panjang badannya membuat adik merasa kurang nyaman. Ummi mencoba menenangkan dengan terus bersamanya dan mengelus badannya. Saat berada dalam gendongan ummi lagi, adikpun kembali tenang.

Usai ditimbang dan diukur berat badannya, ummi berbincang sejenak dengan bu bidan. Kakak asyik bermain di pojok kids corner yang disediakan ibu-ibu kader posyandu. Sebuah karpet manis dilengkapi mainan masak-masakan membuat kakak anteng menunggu. Adik yang berada dalam gendongan ummi, tak betah terus-terusan berada dalam gendongan. Ummi meletakkan adik di lantai dan tak lama adik sudah merangkak menghampiri kakak dan turut bermain bersama. Merangkak, menjumput mainan, melempar dan memainkannya  merupakan stimulasi #motorikkasar dan #motorikhalus untuk adik.

Di kids corner, kakak bertemu dengan teman sebaya. Mereka saling berkenalan, pun ummi dengan ibu teman kakak tersebut. Meski baru bertemu, mereka langsung bermain akrab. Sependek pengamatan ummi, saat berkenalan dengan teman baru kakak lebih cepat beradaptasi dengan teman perempuan dibandingkan teman laki-laki. Mungkin karena jenis barang yang dimainkan adalah sama. Teman kakak namanya Syakira. Tak lama Syakira pulang terlebih dahulu sedangkan kami masih menunggu data kakak dan adik dimasukkan ke data posyandu dan bidan.  

Pulang dari posyandu, kakak minta untuk berjalan melewati rumah teman kakak. Dan ternyata baru menuju gang tersebut, teman-temannya sudah ada dan menjemputnya untuk bermain bersama. Ada kak Abi, dek Aza, mba Syakira dan mas Dila. Mereka cepat sekali akrab dan kompak bermain apa saja. Ada pasir di sebelah rumah kak Abi. Kakak ikut bermain pasir seperti teman-teman. Menuang dan mengambil pasir ke gelas dan magic com mainan. Adik bermain boneka yang disediakan kak Abi. Dia berlatih #sensori, memegang boneka untuk merasakan teksturnya dan memasukkannya ke dalam mulut. Hari sudah semakin siang dan adik mulai mengantuk. Adik yang semula duduk, menjadi ingin digendong dan menunjukkan #ekspresi protes. Rupanya adik mulai bisa mengekspresikan perasaannya. Ummi meminta kakak untuk berpamitan dan pulang ke rumah. Kesepakatan dimulai dengan penawaran.

Ummi : Kakak, kakak mau main berapa menit lagi?
Kakak : Dua menit lagi, Mi. (Meskipun dua menit adalah waktu yang abstrak untuk kakak)
Ummi : Oke, ummi pasang alarm ya kak. Tapi ummi ngga bawa HP kak.
Kakak : Ngga apa-apa mi. Pakai suara aja.
Ummi : Okeee…..

Lima menit kemudian,
Ummi : Tetetet… tetetet… tetetet… tetetet… tetetet… tetetet… tetetet…alarm berbunyi kak, waktunya pulang
Kakak : Iya, sebentar ya Mi (sembari menuang pasir ke gelas, dengan alasan membereskan)      
Saat ummi menunggu kakak, adzan Dhuhur berkumandang. Kakak masih menuang pasir. Kebiasaan kakak, kakak hampir selalu sholat berjamaah di masjid. Seringkali kakak menangis kalau ketinggalan sholat berjamaah di masjid. Maka, ummi memulai dialog dengan kakak. Mengingatkan bahwa adzan adalah panggilan cinta Allah pada umatNya, bahwa kalau kakak tidak bersegera pulang untuk membersihkan badan, berganti baju dan memakai mukena maka konsekuensinya kakak tidak bisa sholat berjamaah di masjid. Ummi berupaya menyemai #fitrahkeimanan kakak. Dari situ, alhamdulillah kakak tergerak untuk berpamitan pada teman-temannya supaya bisa sholat Dhuhur berjamaah di masjid. Kakak pulang dengan riang gembira, ummi mengucap syukur atas karunia Allah. Alhamdulillah…Allahu Akbar…

#fitrahbernalar
#fitrahbelajar
#fitrahsosialitas
#fitrahkeimanan
#motorikkasar
#motorikhalus
#sensori
#ekspresi

0 comments:

Post a Comment