Friday, 23 February 2018

Memahami Modalitas Belajar dan Cara Otak Mengolah Informasi

Memahami gaya belajar anak itu penting, agar bisa dapat memfasilitasi dan menstimulasi dengan tepat. Namun setelahnya, kita tidak perlu melabeli anak dengan sebuah gaya belajar. Karena gaya belajar seseorang juga relatif.

Apa maksudnya?

Ya, awalnya saya menganggap bahwa gaya belajar adalah sebuah karakter paten yang dimiliki seseorang dan tidak berubah-ubah. Namun ternyata, gaya belajar berkaitan erat dengan modalitas belajar seseorang. Modalitas belajar auditori mengakses segala macam bunyi, suara, musik, nada, irama, cerita. Modalitas visual mengakses citra visual, warna, gambar, catatan, tabel diagram, grafik dan peta pikiran. Modalitas kinestetik mengakses segala jenis gerak, aktifitas tubuh, emosi dan koordinasi.

Manusia dilengkapi indra yang berkaitan dengan ketiga modalitas diatas, artinya setiap manusia memiliki ketiga modalitas belajar dengan prosentase yang berbeda-beda. Modalitas belajar dengan prosentase terbesarlah yang paling mudah terlihat. Dengan mengetahui modalitas belajar dan gaya belajar anak-anak (learning styles), maka kita dapat menyesuaikan cara penyampaian kita dalam mendidik mereka sehingga proses belajar berlangsung secara efektif. Jika menyampaikan materi pada beberapa orang dengan gaya belajar yang berbeda-beda maka cara penyampaianpun harus mengena pada 3 modalitas belajar tersebut. Dominasi modalitas belajar bisa berubah seiring usia. Dibawah usia 7 tahun yang dominan bisa jadi kinestetik dan auditori, namun selanjutnya yang berkembang adalah visual. Untuk itu penting untuk selalu menyampaikan informasi secara seimbang dengan menggunakan visual (gambar atau tulisan), auditori (ceramah dan lisan) dan kinestetik (praktik, presentasi). Sehingga anak mendapatkan stimulasi bagi keseluruhan modalitas.

Setelah informasi terserap, bagaimana kita mengolahnya?

Untuk menentukan dominasi otak dan bagaimana informasi diolah, kita menggunakan model yang awalnya dikembangkan oleh Anthony Gregorc, profesor di bidang kurikulum dan pengajaran di Universitas Connecticur. Kajiannya menyimpulkan adanya dua kemungkinan dominasi otak :
 1. Persepsi konkret dan abstrak
2. Kemampuan pengaturan secara sekuensial (linear) dan acak (nonlinear)

Ini dapat dipadukan menjadi empat kombinasi kelompok perilaku yang kita sebut gaya berpikir manusia, yaitu :

Sekuensial Konkret: atur rencana kegiatan secara realistik, mengetahui semua detail yang diperlukan, pecah tugas menjadi beberapa tahap, atur lingkungan yang sesuai dan menghilangkan pengganggu konsentrasi.

Sekuensial Abstrak: berlatih mengubah masalah menjadi situasi teoritis, memperbanyak rujukan, mengupayakan keteraturan, menganalisis orang-orang yang berhubungan.

Acak Konkret: ciptakan ide-ide alternatif dengan memelihara sikap selalu bertanya, siapkan diri untuk memecahkan masalah, periksa waktu, terima kebutuhan untuk berubah, carilah dukungan dari orang lain.

Acak Abstrak: menggunakan kemampuan alamiah untuk bekerja dengan orang lain, emosi mempengaruhi konsentrasi, memanfaatkan asosiasi visual dan verbal, melihat gambaran besar, mencermati penggunaan waktu, menggunakan isyarat visual.

Sekuensial Konkret

Orang dengan tipe ini cenderung teratur dan rapi. Mereka selalu mengerjakan tugas tepat waktu, terencana, dan tidak suka hal-hal yang bersifat mendadak. Mereka tidak senang mengerjakan tugas yang bertumpuk-tumpuk. Biasanya agak perfeksionis sehingga ingin segala sesuatu dikerjakan dengan sempurna dan terencana.

Mereka akan bahagia jika memiliki cara yang mudah dalam mewujudkan ide-ide dan semua berjalan sesuai rencana. Karakter kuat mereka adalah bekerja secara sistematis, langkah demi langkah, suka pada detil, bekerja dengan jadwal, dan berpikir logis.

Yang menjadi tantangan bagi mereka adalah jika bekerja secara berkelompok, berada dalam lingkungan yang tidak teratur, tidak ada petunjuk yang kelas, dan dihadapkan dengan ide-ide abstrak.
Mereka perlu belajar mengenai organisasi, paham detil, membagi tugas dalam beberapa tahap dan tata lingkungan kerja dengan tenang.

Sekuensial Abstrak

Biasanya merupakan pemikir yang cerdas dan punya ide-ide yang brilian. Orang ini senang mengetahui dan berpikir tentang apa yang tidak dipikirkan orang lain. Senang membaca membuatnya senang untuk berdiskusi, bahkan berdebat dengan orang lain. Lebih menyukai belajar secara individu daripada berkelompok. Mereka sering disebut "konseptor ulung" dan jago menganalisa informasi.

Mereka akan bahagia jika bisa mengumpulkan banyak informasi sebelum membuat sebuah keputusan, menganalisa ide-ide, melakukan penelitian, menyediakan ide-ide logis yang berurutan, mencari bukti mengenai sebuah teori.Belajar lebih dengan mengamati daripada melakukannya, hal-hal yang logis, bekerja dengan tenang.

Yang menjadi tantangan bagi mereka adalah jika dituntut untuk bekerja dalam hal sudut pandang yang berbeda, memiliki waktu yang terlalu sedikit dalam menyelesaikan suatu persoalan, mengulangi tugas yang sama berulang, banyak aturan-aturan yang spesifik dan peraturan-peraturan yang lainnya. Mereka juga sulit untuk mengekspresikan emosi dan memahami sebuah percakapan.

Mereka perlu berlatih logika, mengupayakan keteraturan dan menganalisa orang lain. Jika dirasa-rasa orang tipikal sekuensial abstrak terdekat adalah suami saya :)

Acak Abstrak

Segala sesuatu seringkali dihubungkan dengan perasaan dan emosi, sehingga mereka terkenal sangat sensitif. Semua bisa menjadi menyenangkan jika mood-nya sesuai, tapi menjadi buruk jika mereka sudah tidak lagi memiliki emosi positif terhadap sesuatu. Mudah kehilangan konsentrasi, banyak pertimbangan, dan suka mencoret-coret tanpa arti di buku adalah ciri tipe ini. Mereka juga sangat menjaga hubungan dengan orang lain, tidak senang jika mengalami konflik, dan dikenal "perhatian" di antara orang-orang sekitarnya. Selain itu, mereka juga sangat mudah terpancing emosinya. Istilah kerennya "mudah tersentuh". Ekspresi yang spontan itu mungkin karena kesulitan mereka mengungkapkan sesuatu secara verbal kepada orang lain.

Mereka senang mendengarkan orang lain, paham akan perasaan dan emosi, fokus pada tema dan ide, membawa harmoni, berhubungan dengan baik dan mengenali serta menghargai emosi orang lain. Mereka menyukai belajar sendirian, semangat dalam berpartisipasi, juga membuat keputusan berdasar perasaannya.

Yang menjadi tantangan bagi mereka adalah memberikan penjelasan, bekerjasama dengan orang yang diktator, bekerja di lingkungan yang membatasi, berkonsentrasi pada banyak hal sekaligus dan menerima kritik sekalipun positif.




0 comments:

Post a Comment