Skip to main content

Strategi dalam Berbenah, Supaya Tak Menjadi Basa-Basi Tanpa Aksi



Setelah menerima materi pekan ketiga Shokyuu di kelas intensif KonMari, kami diberi tugas kedua berupa mendetilkan apa yang sudah kami tuliskan di tugas pertama. Poin pertama adalah mengenai upaya apa saja yang saya lakukan untuk konsisten dalam menjaga pola pikir. Hmm…saya tertunduk malu. Di hasil asesmen Talents Mapping saya, bakat consistency memiliki warna abu-abu. Namun ini tak bisa menjadi alasan bagi saya untuk tidak menjaga konsistensi. Yang harus saya lakukan adalah mengkolaborasikan bakat-bakat kuat saya supaya bisa konsisten menjaga pola pikir. 

Aha! Bakat discipline dan responsibility  saya tinggi, didukung dengan bakat focus dan futuristic yang cukup kuat. Kolaborasi keempat bakat ini bisa membantu saya dalam menjaga konsistensi, dengan penjabaran sebagai berikut :
  1. Saya perlu membuat perencanaan dengan detil, rapi dan terstruktur dengan bakat discipline  dan futuristic saya
  2. Saya perlu membuat tempelan-tempelan pengingat baik berupa tulisan maupun gambar di tempat yang sering saya lihat untuk mengingatkan dan menjaga focus saya terhadap target yang telah dicanangkan
  3. Target jangka panjang perlu saya bagi menjadi target jangka pendek, target-target besar perlu saya bagi menjadi target-target kecil dan mengapresiasi pencapaian setiap langkah dengan bakat responsibility saya

Visualisasi yang saya harapkan sudah saya jabarkan dengan cukup detil di tugas pertama. Tantangan dalam merealisasikannya adalah mengalokasikan waktu di sela-sela aktivitas yang ada. Di minggu pertama ini, saya belum berhasil membaca buku KonMari hingga tuntas karena ada jadwal training  Talents Mapping Dynamics selama 2 hari. Karena tempatnya di luar kota dan anak-anak tidak memungkinkan untuk dibawa, maka minggu lalu fokus saya adalah meminta restu dari suami, anak-anak dan orangtua untuk mengikuti training tersebut serta mempersiapkan support system sehingga tidak ada pihak yang kepentingannya dikorbankan karena kepentingan saya. 

Solusi yang harus saya lakukan adalah mengalokasikan waktu minimal 30 menit setiap harinya untuk berKonMari. Baik memahami konsepnya secara utuh dengan membaca buku maupun materi yang disampaikan di kelas Shokyuu, maupun berbenah secara KonMari. Ya, cukup 30 menit sehari asalkan istiqomah saya jalankan. Bismillah.

Gambar diambil dari sini

Terkait penyusunan timeline, saya baru menyusunnya saat mengerjakan tugas pertama. Saya rancang target setiap dua minggu sekali untuk mencegah saya meremehkan dan menundanya. Terkait Daily Task, yang sudah mulai saya lakukan adalah memberi tempat untuk setiap barang dan meletakkan barang sesuai tempatnya. Semoga Allah memudahkan langkah berikutnya hingga proses berbenah ini bisa saya lakukan hingga tuntas dan lulus kelas Shokyuu dengan optimal. 


#shokyuuclass
#task2
#konmariindonesia
#konmarimethod
#intensiveclass




Comments

Popular posts from this blog

Praktik Cooking Class : Bubur Sumsum Lembut

Apa yang pertama kali terbayang saat melihat bubur sumsum? Jika pertanyaan itu menghampiri saya, saya akan menjawab “kondisi sakit”. Saat sakit, biasanya nafsu makan kita berkurang, susah menelan dan lidah terasa pahit. Tak heran jika makanan ini seringkali menjadi asupan bagi orang sakit. Teksturnya yang lembut dan cita rasa optimal selagi hangat tentu memudahkan pemenuhan kebutuhan energi saat kondisi tubuh kurang prima. Saat sehatpun, mengonsumsi bubur ini terasa nikmat, apalagi jika di luar sedang diguyur hujan dan cuaca dingin menyelimuti. Dikutip dari Wikipedia , bubur sumsum adalah sejenis makanan berupa bubur berwarna putih yang dilengkapi dengan kuah air gula merah. Mengapa dinamakan bubur sumsum? Katanya, dinamakan demikian karena penampakannya yang putih menyerupai warna bagian luar sumsum tulang. Bahan utama bubur ini adalah tepung beras.  Tentu tepung beras dengan kualitas baik. Bagaimana kriterianya? Tentu mengikuti SNI, berikut informasi detilnya : N

Menulis Cerita Anak : Pengenalan Anggota Tubuh

CERITA TENTANG PENGENALAN ANGGOTA TUBUH Udara hangat, suara burung berkicau dan air bergemericik, menemani sang mentari menyingsing dari arah timur. “Assalamu’alaykum warahmatullah wabarakatuh…. Selamat pagi anak-anak… Bagaimana kabar hari ini?” ibu guru membuka ruang kelas batita dengan sapaan penuh semangat. Anak-anakpun menjawab dengan antusias, bahkan mereka berlomba-lomba mengeraskan suara, “Wa’alaykumsalam warahmatullah wabarakatuh… Selamat pagi ibu guru… Alhamdulillah….Luar biasa…Allahu Akbar!” Jawaban sapaan berlogat cedal khas anak-anak membahana di seluruh isi ruangan. Ibu guru tersenyum lebar. (Coba, siapa yang bisa peragakan, bagaimana senyum lebar itu?). Jawaban nyaring anak-anak tadi tak ubahnya pasokan energi yang membuat semangatnya menggebu sehari penuh. Pagi ini sang ibu guru akan mengenalkan pada anak-anak mengenai anggota tubuh. Sengaja beliau datang dengan tangan hampa. Tanpa buku, tanpa alat peraga. Rupanya beliau ingin tahu seberapa jauh anak-

Meneladani Visi dan Misi Keluarga Nabi Ibrahim bersama Ustadz Adriano Rusfi

Bagi keluarga kami, salah satu yang membuat betah tinggal di Bandung adalah fasilitas belajar ilmu parenting yang variatif dan ekonomis. Disinilah kami dipertemukan dengan komunitas belajar ilmu pendidikan anak, ragam acara peningkatan kualitas diri dan aneka playdate anak yang menyenangkan dan ramah kantong. Bahkan banyak kegiatan yang bisa diikuti tanpa dipungut biaya, cukup berbekal semangat belajar dan kemauan memperbaiki diri. Nah, di weekend  menjelang Idul Adha kemarin, kami berkesempatan menimba ilmu pendidikan berbasis keluarga dari Ustadz Adriano Rusfi di acara Kopdar Bulanan HebAT ( Home Education based on Akhlaq and Talents) Bandung. HebAT merupakan sebuah komunitas belajar berbasis grup WhatsApp yang mendampingi para orangtua menjalankan FbE (Fitrah based Education) dan CbE (Community based Education) dalam pendidikan anak-anaknya. Tak hanya kopdar bulanan, komunitas ini juga rutin mengadakan beragam aktivitas menarik untuk memfasilitasi kebutuhan belajar anak dan