Tuesday, 10 March 2020

Bertemu Buddy dan Belajar Mengasah Empati melalui Buddy System



Petualangan kali ini diawali dengan proses pencarian buddy. Penasaran dengan makna buddy, saya sempat mengulik singkat definisi buddy dengan berselancar di internet. Seorang buddy kurang lebih adalah seorang teman seperjalanan. Pencarian saya juga sampai pada sebuah website yang memaparkan mengenai Buddy System. Berikut alamat websitenya http://www.esnuniwien.com/buddy-system.

Sumber : http://www.esnuniwien.com/buddy-system
Setiap orang membutuhkan buddy! Menarik bukan? Jika di website tersebut dipaparkan bahwa ada dua peran yang ditawarkan oleh Erasmus, yaitu sebagai seorang buddy dan ada peran sebagai seorang yang membutuhkan buddy, maka di tantangan tahap Ulat pekan kedelapan ini kami mendapatkan kesempatan untuk menjalankan kedua peran tersebut. Bagaimana rasanya menjadi seorang buddy dan menjadi seorang yang membutuhkan buddy dalam satu waktu? Hmm…

Proses pencarian buddy

Sebagai seorang dengan bakat relator dan emphaty yang dominan , saya menyukai hubungan pertemanan yang dekat, intensif dan melibatkan emosi. Saat mencari buddy, pikiran saya tertuju pada beberapa orang, yaitu orang-orang yang sudah saya kenal dengan cukup dekat dan sebaliknya.
Saya berjodoh dengan Ita Roihanah. Setelah ini, saya memilih menggunakan panggilan “dia” ketimbang “beliau” karena keakraban yang sudah terjalin lama diantara kami.
Apakah dia teman dekat saya? Ya.
Apakah dia cukup mengenal saya? Ya.
Apakah saya cukup mengenalnya? Ya.
Kami berteman akrab di masa sekolah. Ita adalah teman sebangku saya semasa SMA. Kami juga kuliah di kampus yang sama sekalipun saat itu jarang bertemu. Pertemuan offline terakhir kami adalah saat saya masih berdomisili di Bandung, saat kami sedang sama-sama mengandung. Saya merasa, kami cukup mengenal karakter diri satu sama lain, sekalipun tentu banyak perubahan signifikan masing-masing dari kami. Ita dengan beragam aktivitas, peran dan karyanya, banyak menginspirasi dan memotivasi diri saya untuk terus bergerak dan menebar kebermanfaatan.

Saling mengalirkan rasa seputar perkuliahan Bunda Cekatan

Karena keterbatasan alokasi waktu yang dimiliki masing-masing, kami berdua baru mulai saling mengalirkan rasa di hari Sabtu lalu. Tantangan perbedaan zona waktu dan jam online yang signifikan membuat kami mencoba menjalankan sesi saling mengalirkan rasa ini dengan optimal. Dimulai dari saya yang mengalirkan rasa di hari Sabtu dengan cakupan : hal-hal yang saya rasakan sepanjang proses belajar di kelas Bunda Cekatan, membagikan ulang peta belajar diri beserta targetnya, juga tautan dua belas jurnal yang saya tulis sepanjang kelas Bunda Cekatan untuk memudahkan buddy mengenal diri saya secara utuh.
Di hari Minggu, sesi balasan pun dimulai. Ita mengirimkan Voice Note berisikan overview kelas Bunda Cekatan juga beberapa video seputar aksi yang dia jalankan selama kelas Bunda Cekatan. Berikut rangkuman yang saya susun dari aliran rasa Ita mengenai overview Bunda Cekatan :
Ita mengidentifikasi diri sebagai seorang yang membutuhkan wadah untuk bertumbuh. Untuk berkembang menjadi pribadi yang lebih baik, dia perlu terjun ke dalam sebuah forum belajar. Dan baginya, kelas Bunda Cekatan adalah jawaban dari kebutuhan tersebut. Kelas Bunda Cekatan menempa dirinya untuk belajar secara terstruktur. Dan sebagai orang yang merasa tidak terlalu terstruktur (sekalipun saya merasa dia tuh sistematis banget!), dia seperti diajak belajar di luar zona nyaman. Dalam pengerjaan jurnal, dia menitikberatkan konten. Target awal yang dicanangkan sejak awal mengikuti kelas Bunda Cekatan adalah benar-benar bisa mengidentifikasi diri dengan melibatkan suami dalam keseluruhan prosesnya.
Berikut peta belajar yang disusun di tahap Telur lalu
Peta Belajar Ita Roihanah
Dalam peta belajarnya, Ita meletakkan tiga prioritas utama dalam proses belajar, yaitu :
  • Reading skills, kaitannya dalam proses menyerap ilmu
  • Writing skills, kaitannya dalam proses refleksi
  • Teaching skills, kaitannya dalam menjalankan peran sebagai dosen dan public speaker


Sedangkan untuk menunjang ketiganya, disertakannya dua poin pendukung yaitu :
  • Time management, kaitannya dengan menjaga keseimbangan peran dalam menjalankan aneka peran diri
  • English, kaitannya dengan kebutuhannya menguasai IELTS

Oh ya, kami juga bertemu di keluarga Bahasa. Dia ingin mengembangkan keterampilannya berbahasa terutama untuk IELTS sebagai bekal untuk melanjutkan studi lanjut doktoralnya. Untuk target dalam bahasa Inggris ini, dia berencana untuk mendaftarkan diri ke sebuah forum belajar online.
Terkait dengan rencananya tersebut, saya mendukung karena merasakan hal serupa. Sebuah lingkungan belajar intensif dan rutin sangat mendukung perkembangan keterampilan berbahasa seseorang. Mengikuti kursus bahasa yang intensif dengan standar kelulusan tinggi dan difasilitasi oleh seorang guru yang kompeten sangat membantu saya mengembangkan keterampilan bahasa Jerman selama setahun belakangan ini. Serta memunculkan rasa percaya diri untuk hadir di forum-forum speaking yang sebelumnya saya lirik pun tidak karena minder.
Salah satu poin overview yang juga menjadi benang merah kami berdua adalah kami sama-sama mengamati proses belajar di kelas Bunda Cekatan ini sebagai sebuah proyek percontohan. Kalau Ita mengamati setiap tahapan prosesnya secara detail hingga mencatat runut setiap materi yang tersampaikan hingga mendapatkan big picture pola belajar dari bu Septi. Sedangkan saya yang memutuskan membuat peta belajar yang sangat spesifik, menjadikan proyek yang dijalankan selama kelas Bunda Cekatan sebagai role model proyek-proyek ke depan, sehingga berusaha menjalankan setiap tahapan seoptimal mungkin.                     
Ita juga memiliki sebuah proyek yang dikerjakan bersama teman, berjudul Bride Talk yang mana berfokus pada lima hal, yaitu :
  • Spiritual
  • Intelectual
  • Health
  • Financial
  • Social
Dan ternyata apa yang dijalankan di  proyek Bride Talk selaras dengan apa yang dikerjakan di Bunda Cekatan. Sehingga Bunda Cekatan dirasakan sebagai ajang untuk menata diri secara keseluruhan.

Setelah mendengarkan aliran rasanya, bekal apa yang saya berikan padanya untuk mendampinginya di tahap Kepompong?

Saya menuliskan sebuat surat untuknya.










0 comments:

Post a comment