Sunday, 29 March 2020

Berlatih Mengelola Emosi dengan Menyadari dan Menganalisanya


Di tahap kepompong ini, selain melatih konsistensi untuk cekatan dalam bidang yang ditekuni dengan menjalankan tantangan 30 hari, peserta juga ditantang untuk berpuasa. Ya, berpuasa dari faktor-faktor pengganggu yang kerap muncul dalam keseharian  diri sehingga menghambat proses belajar kita menuju cekatan.
Di pekan pertama ini, puasa yang ingin saya latihkan pada diri adalah mengelola emosi. Saya menyadari bahwa dahulu saya adalah seorang yang amat sensitif, juga senantiasa mengedepankan asumsi dan prasangka. Jika dibandingkan dengan kondisi saat ini, hal tersebut sudah sangat jauh berkurang. Namun tantangan terkait emosi yang seringkali saya alami adalah mudah terbawa suasana lingkungan (Dan ini juga sudah terkonfirmasi di hasil asesmen Talents Mapping). Selama sepekan ini saya ingin melatih diri untuk banyak bersikap asertif. Selama menjalankan puasa, ada tantangan berupa kondisi badan yang kurang fit. Sekalipun demikian, ada beberapa agenda yang tetap harus dijalankan seperti biasa. Kondisi tidak ideal ini ternyata membuat saya berharap pada lingkungan sekitar untuk memberikan bantuan dan dukungan. Selain itu, saya menemukan ketidak seimbangan karena membuat to do list harian yang begitu banyak dan lupa menyesuaikan bahwa saya menjalankan hari dengan kondisi kurang prima. Sehingga saat target banyak yang tak terpenuhi, emosi menjadi labil dan ingin marah pada orang lain, terutama anak-anak.
Perlahan saya menyadari bahwa Allah sedang mengingatkan saya dengan kondisi tersebut. Ada hal yang memang harus ditunda sejenak dan fokus pada kesembuhan diri. Tidak memaksakan kehendak pada orang lain dan tetap menunaikan hak orang lain sekemampuan diri.
Berikut perolehan badge yang saya akumulasikan dari hari pertama hingga hari kesepuluh :
Di hari pertama hingga ketiga, emosi saya labil dalam durasi yang pendek. Semisal di awal hari saat mendapati rumah berantakan, atau di sore hari saat anak mengeluarkan semua mainan. Puncak kegagalan ada di hari keempat dan kelima, saat itu kondisi badan saya lemah. Ingin rasanya seharian beristirahat di kasur namun tak memungkinkan. Hingga akhirnya di hari Rabu saya memutuskan untuk menghubungi Hausarzt dan saya diminta untuk datang langsung untuk diperiksa. Di hari Rabu saya periksa dan mendapatkan obat penghilang nyeri dan antibiotik. Badan yang perlahan membaik diikuti dengan mood yang juga membaik. Pelan-pelan saya kembali bisa berpikir jernih dan menjalankan komunikasi produktif. Hingga tren kestabilan emosi di hari keenam hingga hari kesepuluh pun terus meningkat. Alhamdulillah.



0 comments:

Post a comment