Skip to main content

Tantangan 30 Hari Day 5 : Membacakan Buku Anak berjudul "Ich komme in die Schule"


Hari ini kami memulai sesi membacakan buku lebih awal, yaitu di pagi hari. Tujuannya adalah agar mengumpulkannya tak mepet ke jam deadline, yaitu 23.59 WIB atau jam 17.59 CET.
Alhamdulillah sesi membacakan buku terlaksana di pagi hari. Namun ternyata menuliskan laporannya belum bisa pagi juga, karena ada agenda kelas belajar rutin yang harus diikuti, berlanjut pergi ke toko Turki untuk membeli bahan pangan. Masih mepet lagi deh laporannya. Ndak papa. Semoga besok bisa lebih awal. Hihihi.

Buku yang terpilih hari ini berjudul “Ich komme in die Schule”. Buku ini tentu merupakan buku pilihan Raysa. Buku yang menceritakan bagaimana seorang anak menjalani hari-hari pertamanya sebagai seorang anah sekolah (Volkschule Kind). Dimulai dari persiapan perlengkapan. Lazimnya di sini, seorang anak yang akan masuk sekolah memang menyiapkan tas sekolah lengkap dengan isinya yang antara lain : buku tulis, alat tulis, perlengkapan mewarnai, tempat makan, tempat minum, alat tulis, wadah makan, botol minum dan tas serut untuk perlengkapan olahraga.

Di hari pertama, akan ada acara penyambutan murid baru beserta orangtuanya. Kemudian di kelas, guru berkenalan dengan cara memberikan nametag para murid untuk diletakkan di meja masing-masing untuk memudahkan perkenalan awal. Ada juga Schultuete, sesi istirahat makan camilan, apa saja yang dipelajari di kelas, ruangan apa saja yang ada di sekolah, kegiatan apa saja yang bisa diikuti anak-anak di sekolah juga situasi sekolah di seratus tahun yang lalu, dan kisah tentang beberapa kebiasaan yang berlaku di negara lain. Saya pun bercerita mengenai sekolah yang saya jalani semasa kecil di Indonesia. Ada sistem piket, ada PR, memakai seragam dan sebagainya.
Secara garis besar, bahasa yang digunakan di buku ini cukup sederhana sehingga bisa dimengerti oleh orang yang sedang belajar seperti saya. Dan tema buku ini, saya sesuai dengan si sulung, yang sebentar lagi akan masuk Volksschule.

Badge excellent saya sematkan untuk hari ini. Karena proses berjalan optimal, tanpa distraksi dan cukup memfasilitasi kebutuhan belajar Raysa akan isi buku ini. Dan di momen ini, kami bisa berdua saja karena adik masih belum bangun. :D






Comments

Popular posts from this blog

Praktik Cooking Class : Bubur Sumsum Lembut

Apa yang pertama kali terbayang saat melihat bubur sumsum? Jika pertanyaan itu menghampiri saya, saya akan menjawab “kondisi sakit”. Saat sakit, biasanya nafsu makan kita berkurang, susah menelan dan lidah terasa pahit. Tak heran jika makanan ini seringkali menjadi asupan bagi orang sakit. Teksturnya yang lembut dan cita rasa optimal selagi hangat tentu memudahkan pemenuhan kebutuhan energi saat kondisi tubuh kurang prima. Saat sehatpun, mengonsumsi bubur ini terasa nikmat, apalagi jika di luar sedang diguyur hujan dan cuaca dingin menyelimuti. Dikutip dari Wikipedia , bubur sumsum adalah sejenis makanan berupa bubur berwarna putih yang dilengkapi dengan kuah air gula merah. Mengapa dinamakan bubur sumsum? Katanya, dinamakan demikian karena penampakannya yang putih menyerupai warna bagian luar sumsum tulang. Bahan utama bubur ini adalah tepung beras.  Tentu tepung beras dengan kualitas baik. Bagaimana kriterianya? Tentu mengikuti SNI, berikut informasi detilnya : N

Menulis Cerita Anak : Pengenalan Anggota Tubuh

CERITA TENTANG PENGENALAN ANGGOTA TUBUH Udara hangat, suara burung berkicau dan air bergemericik, menemani sang mentari menyingsing dari arah timur. “Assalamu’alaykum warahmatullah wabarakatuh…. Selamat pagi anak-anak… Bagaimana kabar hari ini?” ibu guru membuka ruang kelas batita dengan sapaan penuh semangat. Anak-anakpun menjawab dengan antusias, bahkan mereka berlomba-lomba mengeraskan suara, “Wa’alaykumsalam warahmatullah wabarakatuh… Selamat pagi ibu guru… Alhamdulillah….Luar biasa…Allahu Akbar!” Jawaban sapaan berlogat cedal khas anak-anak membahana di seluruh isi ruangan. Ibu guru tersenyum lebar. (Coba, siapa yang bisa peragakan, bagaimana senyum lebar itu?). Jawaban nyaring anak-anak tadi tak ubahnya pasokan energi yang membuat semangatnya menggebu sehari penuh. Pagi ini sang ibu guru akan mengenalkan pada anak-anak mengenai anggota tubuh. Sengaja beliau datang dengan tangan hampa. Tanpa buku, tanpa alat peraga. Rupanya beliau ingin tahu seberapa jauh anak-

Meneladani Visi dan Misi Keluarga Nabi Ibrahim bersama Ustadz Adriano Rusfi

Bagi keluarga kami, salah satu yang membuat betah tinggal di Bandung adalah fasilitas belajar ilmu parenting yang variatif dan ekonomis. Disinilah kami dipertemukan dengan komunitas belajar ilmu pendidikan anak, ragam acara peningkatan kualitas diri dan aneka playdate anak yang menyenangkan dan ramah kantong. Bahkan banyak kegiatan yang bisa diikuti tanpa dipungut biaya, cukup berbekal semangat belajar dan kemauan memperbaiki diri. Nah, di weekend  menjelang Idul Adha kemarin, kami berkesempatan menimba ilmu pendidikan berbasis keluarga dari Ustadz Adriano Rusfi di acara Kopdar Bulanan HebAT ( Home Education based on Akhlaq and Talents) Bandung. HebAT merupakan sebuah komunitas belajar berbasis grup WhatsApp yang mendampingi para orangtua menjalankan FbE (Fitrah based Education) dan CbE (Community based Education) dalam pendidikan anak-anaknya. Tak hanya kopdar bulanan, komunitas ini juga rutin mengadakan beragam aktivitas menarik untuk memfasilitasi kebutuhan belajar anak dan