Tuesday, 17 March 2020

Aliran Rasa dan Selebrasi Kelas Bunda Cekatan Tahap Ulat



Dua bulan sudah saya menjalankan proses belajar di tahap Ulat. Sebelum mengalirkan rasa, saya kembali membaca jurnal demi jurnal yang saya tulis di setiap pekannya.

Poin-poin pembelajaran yang saya serap selama tahap Ulat ini antara lain :

Buatlah peta belajar dengan penuh kesungguhan. Jika tidak, maka kau akan goyah dan hanya mengikuti langkah kebanyakan orang.
Proses mengidentifikasi kebutuhan belajar diri tidaklah mudah. Apalagi jika tantangan yang sedang kita hadapi spesifik dan tidak seperti kebanyakan orang. Di awal pembuatan peta belajar, saat saya menetapkan proyek Mama lernt Deutsch sebagai poin utama, saya sudah menyadari bahwa jalan saya akan berbeda. Namun karena saya menyadari dan yakin bahwa itu adalah kebutuhan genting saya saat ini maka, pasang kacamata kuda dan terus bergerak.

Menjelajah di hutan pengetahuan berbekal peta belajar. Amati keadaan dan pasang strategi untuk memenuhi kebutuhan diri.
Tujuan menjelajah hutan pengetahuan adalah untuk mencari makanan utama, menemukan pengetahuan yang sesuai dengan kebutuhan diri kita. Maka, jika sedari awal kita menyadari bahwa kebutuhan belajar diri kita sangat spesifik dan langka, maka sewajarnya alokasi waktu kita didominasi untuk berbelanja dan memasak masakan kita sendiri agar kita tidak kelaparan. Setelah kenyang dan kebutuhan tercukupi, barulah menjelajah hutan pengetahuan untuk menemukan camilan-camilan pendukung. Nah, di fase ini, godaan untuk menyaksikan Go Live keluarga lain, ajakan untuk masuk ke keluarga lain sungguh sangat besar. Belum lagi amanah yang saya emban sebagai ketua HIMA regional, membuat saya berinteraksi tidak hanya di WAG HIMA regional dan WAG Keluarga tapi juga WAG Ketua HIMA yang mana informasi dari seluruh regional berseliweran dan perlu saya olah mana yang berkaitan dengan peran ketua HIMA, mana yang perlu diteruskan ke HIMA regional dan mana yang tak perlu saya tindak lanjuti. Tak hanya action di WhatsApp, tapi juga di pikiran agar tak berujung monkey mind.

Berbagi pengalaman belajar. Menyusun rekam jejak belajar, mendiskusikan bersama dan membagikannya mewakili keluarga.
Bertemu teman seperjalanan yang memiliki kebutuhan belajar di bidang yang sama, menguatkan langkah untuk terus bergerak. Setiap keluarga berkesempatan berbagi pengalaman. Dengan kearifan lokal berupa keluarga kecil dengan jumlah anggota keluarga yang sedikit, keluarga bahasa berdiskusi secara sistematis dan segala keputusan diambil secara musyawarah mufakat. Menjadi perwakilan keluarga menjadi sebuah amanah tersendiri bahwa saya perlu menyampaikan bukan hanya pengalaman belajar diri sendiri namun juga pengalaman anggota keluarga lain. Karenanya saya membuat sebuah mindmap untuk memudahkan presentasi Go Live.

Melatih empati dengan mendengarkan sepenuh hati dan berupaya meluaskan sudut pandang.
Menjadi ketua HIMA regional dengan member yang berasal dari berbagai negara dengan bermacam kondisi secara tidak langsung merupakan fasilitas yang Allah berikan untuk melembutkan hati saya. Saat orang lain bercerita bahwa ada mahasiswi yang deadliner, di waktu yang sama saya mendapatkan cerita bahwa ada member regional saya yang mengalami kondisi sulit, yaitu sedang menjalani masa orientasi di kampus sebagai mahasiswa S3 – suami sedang pulang ke Indonesia selama sebulan – anak keempatnya harus opname di rumah sakit, secara bersamaan. Laa hawla walaa quwwata illa billah.  Sungguh saya merasa malu jika tak mengoptimalkan potensi diri dan kesempatan yang Allah berikan.
Sebagai ketua HIMA regional, seringkali saya membaca jurnal setiap member regional. Tidak selalu memang, tapi sering. Saya merasa bertanggungjawab untuk mengetahui kondisi terkini para member untuk dapat memberikan feedback dan perhatian yang tepat secara personal. Semisal ada seorang mahasiswi yang belum mengerjakan tugas, jika saya tak mengetahui kondisi beliau maka saya tinggal mengingatkan saja secara tegas. Namun jika saya mengetahui kondisi beliau yang siapa tahu sedang sulit, misalnya sedang menjelang ujian disertasi, atau suami sedang sakit, atau anaknya sedang memerlukan terapi intensif, maka saya bisa berperan sebagai pendengar yang baik untuk meringankan beban yang sedang dirasakannya. Bahkan di pekan kali ini, saya mendengar aliran rasa member yang berupa audio. Sedikit saya tahu kondisi beliau, sungguh bukan hal yang mudah menjalankan multi peran yang sedang diembannya. Keluarga dan kelas Bunda Cekatan menjadi support system beliau untuk senantiasa menjadi ibu terbaik bagi keluarganya. Ah, sungguh mengharukan. Dan saya yakin, dengan bergandengan tangan, kita akan saling menguatkan sekalipun menghadapi tantangan yang berbeda rupa. Ibu, kau bisa menaklukkan tantangan dengan bahagia!

Belajar memposisikan diri. Siap memimpin dan dipimpin. Juga siap mendengarkan dan taat pada nasihat pemimpin.
Mengemban peran amanah terutama di posisi puncak, seringkali mengharuskan kita menjadi pusat perhatian juga pemegang kendali dan keputusan. Secara pribadi, saya merasa perlu menyeimbangkan keterampilan memimpin dan dipimpin dengan seimbang. Selama belajar di kelas Bunda Cekatan ini saya banyak berdiskusi dengan suami dan anak-anak. Tak jarang suami mengingatkan jika saya melanggar gadget hours, seringkali anak-anak jadi alarm alam saat mata saya tertuju pada gawai terus menerus baik itu untuk menulis jurnal, memoderatori diskusi, menyimak update informasi dari pusat atau kebutuhan lainnya. Peringatan itu tanda sayang, menerima nasihat adalah indikator kesediaan untuk dipimpin. Dan kesediaan untuk dipimpin akan melahirkan kepemimpinan yang bijak dan sarat empati.
Terimakasih Institut Ibu Profesional. Kini saya siap menjalankan tahap kepompong. Teruntuk para mahasiswi Bunda Cekatan, terima kasih telah bersedia menjadi teman seperjalanan. Mari tepuk pundak bersama dan merayakan keberhasilan kita sampai di tahap ini. Ibu, engkau hebat!

Wina, 17 Maret 2020
                                                           





0 comments:

Post a Comment